BATU, JurnalPost.com – Desa Oro-Oro Ombo di Kota Batu, Jawa Timur, menjadi salah satu contoh pengembangan potensi lokal untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Desa yang pada 2008 masih berstatus tertinggal tersebut berhasil bertransformasi menjadi desa mandiri melalui pengelolaan aset, pengembangan pariwisata, serta pemberdayaan usaha masyarakat.
Perjalanan pembangunan Desa Oro-Oro Ombo menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, dalam kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 2026.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari secara langsung bagaimana pemerintah desa mengelola potensi wisata, pendapatan, aset, serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Kegiatan diawali dengan pemutaran video profil Desa Oro-Oro Ombo yang memperkenalkan sejumlah potensi unggulan. Di antaranya Perpustakaan Lentera Pustaka yang meraih Juara III Perpustakaan Terbaik Tingkat Desa/Kelurahan Kota Batu pada 2025, Kampung Edukasi Jamur, Air Terjun Coban Rais, Rest Area Jalibar, dan Kampung Wisata De Berran.
Beragam potensi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi desa tidak hanya bergantung pada wisata alam, tetapi juga mencakup pendidikan, pertanian, kuliner, serta pemanfaatan aset desa.
Perjalanan Oro-Oro Ombo dari Desa Tertinggal Menjadi Mandiri
Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko, menjelaskan bahwa perubahan status desa tidak terjadi dalam waktu singkat. Berbagai program pembangunan dan penguatan ekonomi dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada 2008, Oro-Oro Ombo masih termasuk kategori desa tertinggal. Setelah melalui berbagai proses pembangunan, desa tersebut berhasil mencapai status desa mandiri pada 2021.
Perkembangan itu berlanjut pada 2022 ketika Oro-Oro Ombo berhasil menempati peringkat pertama Indeks Desa Membangun (IDM) tingkat nasional.
Meski demikian, perjalanan menuju kemandirian tidak terlepas dari berbagai tantangan. Desa sempat mengalami penurunan penilaian akibat sejumlah persoalan, termasuk kebakaran hutan dan permasalahan sosial.
Pemerintah desa kemudian melakukan sejumlah pembenahan untuk memperbaiki kondisi dan mempertahankan capaian pembangunan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengoptimalkan Pendapatan Asli Desa (PADes) untuk mendukung kebutuhan pembangunan dan pengadaan aset strategis.
Dana tersebut antara lain dimanfaatkan untuk membeli tanah yang memiliki sumber mata air. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan masyarakat dalam jangka panjang.
Bagi pemerintah desa, kemandirian tidak semata-mata diukur dari besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan mengelola sumber daya agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kerja Sama Pariwisata Buka Peluang Ekonomi Masyarakat
Sektor pariwisata menjadi salah satu penggerak kegiatan ekonomi Desa Oro-Oro Ombo. Pengembangannya dilakukan melalui kerja sama pemanfaatan aset desa dengan sejumlah perusahaan.
Salah satunya adalah kerja sama dengan PT Mutiara Indah Sejahtera yang berkaitan dengan pengembangan kawasan wisata Batu Night Spectacular (BNS).
Desa juga menjalin kerja sama dengan PT Sinar Internasional Persada serta PT Jaya Giri Panderman atau Santerra Group dalam pemanfaatan aset untuk mendukung kegiatan pariwisata.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi aset desa, memperluas peluang usaha, dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Keterlibatan warga menjadi perhatian karena tidak seluruh masyarakat menggantungkan penghidupan pada sektor pariwisata.
Sebagian penduduk masih bekerja sebagai peternak sapi perah dan petani. Sementara itu, kegiatan pertanian menghadapi tantangan tersendiri karena sebagian lahan bergantung pada curah hujan.
Untuk memperluas sumber pendapatan, desa turut mengembangkan konsep agrowisata melalui kegiatan petik jeruk, sayuran, dan bunga.
Kegiatan tersebut memberikan alternatif pengalaman wisata sekaligus membuka peluang bagi petani untuk memperoleh tambahan penghasilan dari sektor pariwisata.
BUMDes Panderman Kembangkan Berbagai Unit Usaha
Selain melalui kerja sama dengan pihak swasta, penguatan ekonomi desa dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panderman.
BUMDes tersebut mulai dirintis pada 2014 dan memperoleh legalitas melalui notaris pada 2016. Setelah menjalani restrukturisasi pada 2022, pengelolaannya diarahkan pada pengembangan unit usaha yang memiliki potensi ekonomi.
Sejumlah usaha yang dikembangkan meliputi penyediaan alat tulis kantor (ATK), jasa fotokopi, kuliner, wisata, hingga peternakan ayam petelur.
Unit usaha tersebut antara lain Rawon Subuh Makmur, Rest Area Jalibar, Cafe Husgendam, Kedai Kopi Panderman, dan usaha Ikan Asapan.
Dalam perkembangannya, pengelola BUMDes juga melakukan evaluasi terhadap sistem operasional usaha.
Salah satu perubahan diterapkan pada unit ATK dan fotokopi. BUMDes tidak lagi menanggung seluruh biaya operasional, melainkan menggunakan mekanisme bagi hasil dengan pengelola masing-masing unit usaha.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki efisiensi pengelolaan dan menjaga keberlanjutan usaha desa.
Rest Area Jalibar Jadi Tempat Usaha dan Penataan Pedagang
Dalam rangkaian KKL, mahasiswa Akuntansi UIN Sunan Ampel Surabaya juga mengunjungi Rest Area Jalibar untuk melihat langsung aktivitas salah satu unit usaha desa.
Kawasan ini dikembangkan bukan hanya sebagai tempat singgah wisatawan, tetapi juga sebagai lokasi usaha yang lebih tertata bagi pedagang.
Sebelumnya, sejumlah pedagang menjalankan aktivitas usaha di pinggir jalan. Melalui pengembangan rest area, pemerintah desa berupaya menyediakan tempat berjualan yang lebih terorganisasi.
Rest Area Jalibar dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti area parkir, pendopo, toilet, dan musala.
Selain menyediakan tempat usaha kuliner, kawasan tersebut juga memiliki kebun stroberi yang masih dalam tahap pengembangan.
Ke depan, kebun tersebut direncanakan menjadi bagian dari atraksi wisata petik stroberi yang berpotensi menambah kegiatan ekonomi di kawasan rest area.
Mahasiswa UINSA Pelajari Pengelolaan Keuangan dan Aset Desa
Bagi mahasiswa Program Studi Akuntansi UIN Sunan Ampel Surabaya, kegiatan KKL ini memberikan kesempatan untuk melihat penerapan ilmu akuntansi dalam pengelolaan pemerintahan dan usaha desa.
Mahasiswa memperoleh gambaran mengenai pentingnya pencatatan keuangan, pengelolaan anggaran, pengawasan aset, dan evaluasi kinerja unit usaha.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah penggunaan sistem transaksi nontunai atau cashless dalam kegiatan usaha.
Sistem pembayaran tersebut dinilai dapat membantu proses pencatatan arus kas, memudahkan pemantauan transaksi, dan mendukung transparansi pengelolaan keuangan.
Pembelajaran ini memperlihatkan bahwa tata kelola keuangan yang baik memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan usaha, termasuk usaha yang dikelola oleh BUMDes.
Melalui kunjungan lapangan, mahasiswa juga memahami keterkaitan antara pengelolaan keuangan, kerja sama investasi, pemanfaatan aset, serta pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan ekonomi desa.
Pengalaman Desa Oro-Oro Ombo menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan alam atau banyaknya destinasi wisata.
Diperlukan perencanaan yang matang, pengelolaan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan, kemitraan yang tepat, serta keterlibatan masyarakat agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas.
Bagi mahasiswa Akuntansi UINSA, kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa ilmu akuntansi tidak hanya diterapkan dalam dunia perusahaan, tetapi juga memiliki kontribusi penting bagi pengelolaan usaha masyarakat dan pembangunan desa.
Perjalanan Oro-Oro Ombo dari desa tertinggal menjadi desa mandiri memberikan gambaran mengenai pentingnya pengelolaan potensi lokal secara terencana untuk membangun ekonomi desa yang berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda