Perbedaan karakter bisnis perbankan dan asuransi tercermin dalam struktur laporan keuangan, sumber pendapatan, serta risiko yang dihadapi AMAR dan AHAP sepanjang 2024.
Jakarta, JurnalPost.com – Laporan keuangan kerap dipandang sebagai kumpulan angka mengenai aset, pendapatan, beban, dan laba perusahaan. Padahal, jika dibaca lebih jauh, laporan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana sebuah perusahaan menjalankan bisnis sekaligus mengelola risiko yang melekat pada aktivitasnya.
Hal itu terlihat dalam perbandingan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) dan PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP). Keduanya sama-sama berada dalam sektor jasa keuangan, tetapi bergerak dengan model bisnis yang berbeda.
AMAR menjalankan kegiatan usaha perbankan, sedangkan AHAP bergerak di bidang asuransi umum. Perbedaan tersebut kemudian tercermin dalam struktur laporan keuangan dan profil risiko masing-masing perusahaan.
Perbandingan Komponen Laporan Keuangan AMAR dan AHAP
| Komponen | AMAR – Bank Amar | AHAP – Asuransi Harta Aman Pratama |
|---|---|---|
| Laporan posisi keuangan | Kas, giro, penempatan pada bank, surat berharga, kredit, aset tetap, dan aset lainnya. | Kas dan bank, piutang premi, piutang reasuransi, investasi, aset reasuransi, aset tetap, dan aset lainnya. |
| Laporan laba rugi | Pendapatan bunga, beban bunga, pendapatan operasional, CKPN, dan laba bersih. | Pendapatan premi, beban klaim, hasil underwriting, hasil investasi, beban usaha, dan laba/rugi. |
| Laporan arus kas | Aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan yang berkaitan dengan kredit, simpanan, bunga, serta investasi. | Penerimaan premi, pembayaran klaim, investasi, dan kegiatan operasional. |
| Laporan perubahan ekuitas | Modal saham, tambahan modal disetor, saldo laba, dan penghasilan komprehensif lain. | Modal saham, saldo laba, dan komponen ekuitas lainnya. |
Sumber: Diolah dari laporan keuangan AMAR dan AHAP periode 2024.
AMAR dan Aktivitas Perbankan
Sebagai bank, aktivitas utama AMAR berkaitan dengan penghimpunan dan penyaluran dana. Karakter tersebut tercermin dalam komponen aset perusahaan yang mencakup kas, giro, penempatan pada bank, surat berharga, kredit, aset tetap, serta aset lainnya.
Berdasarkan data keuangan 2024 dalam laporan yang menjadi bahan perbandingan, total aset AMAR mencapai sekitar Rp4,87 triliun. Kredit bersih tercatat sekitar Rp2,55 triliun, sedangkan pendapatan bunga bersih mencapai sekitar Rp1,16 triliun.
AMAR juga membukukan pendapatan operasional lainnya sekitar Rp510,81 miliar. Namun, pada periode yang sama, perusahaan mencatat beban kerugian penurunan nilai sekitar Rp832,83 miliar.
Pos tersebut berkaitan dengan risiko penurunan kualitas aset dan menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan dalam membaca kondisi keuangan bank.
Dari sisi rasio, Loan to Deposit Ratio (LDR) AMAR tercatat sebesar 267,68 persen. Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 4.367,48 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 169,26 persen.
Ketiga rasio tersebut memberikan gambaran mengenai aspek penyaluran kredit, likuiditas, dan pendanaan perusahaan. Namun, masing-masing rasio memiliki dasar perhitungan berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung.
AHAP Bertumpu pada Premi dan Underwriting
Berbeda dengan AMAR, aktivitas AHAP sebagai perusahaan asuransi umum lebih banyak berkaitan dengan premi, klaim, underwriting, dan investasi.
Pada 2024, AHAP mencatat premi bruto sebesar Rp756,83 miliar, sementara pendapatan premi neto mencapai Rp274,31 miliar. Pada periode yang sama, beban klaim tercatat sebesar Rp159,87 miliar.
Dari kegiatan underwriting, perusahaan menghasilkan Rp114,73 miliar. AHAP juga mencatat hasil investasi sebesar Rp11,14 miliar dan laba sebelum pajak sebesar Rp5,82 miliar.
Dari sisi kemampuan permodalan berbasis risiko, rasio solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) AHAP tercatat sebesar 256 persen. Sementara itu, rasio kecukupan investasi berada pada angka 133 persen.
Indikator tersebut menjadi bagian penting dalam menilai kemampuan perusahaan asuransi dalam memenuhi kewajibannya dan mempertahankan kondisi keuangan yang memadai.
Sumber Pendapatan Menentukan Struktur Keuangan
Perbedaan model bisnis kedua perusahaan terlihat jelas ketika sumber pendapatannya dibandingkan.
AMAR memperoleh pendapatan terutama dari kegiatan perbankan, khususnya pendapatan bunga dan pendapatan operasional lainnya. Sementara itu, AHAP memperoleh pendapatan dari premi asuransi, hasil underwriting, dan investasi.
Perbedaan juga terlihat pada struktur aset dan liabilitas. Aset AMAR banyak berkaitan dengan kredit, surat berharga, dan penempatan dana, sedangkan liabilitasnya antara lain berkaitan dengan dana pihak ketiga.
Pada AHAP, aset perusahaan berkaitan dengan investasi, piutang premi, piutang reasuransi, dan aset reasuransi. Adapun liabilitasnya banyak berkaitan dengan kewajiban yang berasal dari kontrak asuransi.
Dengan demikian, angka dalam laporan keuangan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan usaha yang menghasilkan angka tersebut.
Struktur keuangan bank akan mencerminkan aktivitas penghimpunan dan penyaluran dana, sedangkan perusahaan asuransi akan lebih banyak memperlihatkan pengaruh aktivitas premi, klaim, underwriting, reasuransi, dan investasi.
Risiko Kredit dan Risiko Asuransi
Perbedaan kegiatan usaha juga membuat sumber risiko kedua perusahaan tidak sama.
Pada AMAR, risiko kredit menjadi salah satu risiko yang berkaitan langsung dengan aktivitas penyaluran dana. Ketika nasabah tidak mampu memenuhi kewajibannya, kualitas kredit dapat menurun dan meningkatkan potensi kredit bermasalah serta kebutuhan pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).
AMAR juga menghadapi risiko likuiditas karena harus mempertahankan kemampuan memenuhi penarikan dana nasabah dan kebutuhan operasional.
Perubahan suku bunga dapat memengaruhi pendapatan dan beban bunga maupun nilai instrumen keuangan. Selain itu, aktivitas perbankan juga menghadapi risiko operasional yang dapat berasal dari gangguan sistem, keamanan siber, kesalahan proses, dan kecurangan atau fraud.
Sementara itu, risiko AHAP lebih berkaitan dengan kegiatan asuransi. Klaim yang lebih besar atau lebih banyak dari perkiraan dapat meningkatkan beban klaim dan memengaruhi hasil perusahaan.
Risiko underwriting juga muncul ketika premi yang ditetapkan tidak sebanding dengan tingkat risiko yang ditanggung. Dalam kondisi tersebut, premi yang diterima dapat tidak mencukupi untuk menutup klaim dan biaya yang timbul.
Di sisi lain, perubahan kondisi pasar dan suku bunga dapat memengaruhi nilai serta hasil investasi. AHAP juga perlu memastikan ketersediaan aset likuid untuk memenuhi kewajiban pembayaran klaim ketika jatuh tempo.
Membaca Laporan Keuangan secara Kontekstual
Perbandingan AMAR dan AHAP memperlihatkan bahwa membaca laporan keuangan tidak cukup hanya dengan melihat besarnya angka aset, pendapatan, atau laba.
Setiap angka perlu dipahami dalam konteks kegiatan usaha perusahaan.
Pada AMAR, kredit, bunga, simpanan, dan likuiditas menjadi bagian penting dalam memahami aktivitas perusahaan. Sementara pada AHAP, premi, klaim, underwriting, reasuransi, dan investasi menjadi komponen yang lebih mencerminkan kegiatan bisnisnya.
Perbedaan tersebut juga menunjukkan bahwa risiko keuangan tidak selalu berasal dari sumber yang sama.
Pada AMAR, risiko kredit berkaitan dengan kemampuan nasabah memenuhi kewajiban pinjamannya. Sementara pada AHAP, risiko asuransi berkaitan dengan kemampuan perusahaan mengelola klaim dan menentukan premi berdasarkan tingkat risiko yang ditanggung.
Karena itu, penggunaan indikator keuangan perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing industri. Rasio keuangan perbankan tidak selalu dapat digunakan untuk menilai perusahaan asuransi, begitu pula sebaliknya.
Kesimpulan
Laporan keuangan AMAR dan AHAP memberikan gambaran mengenai dua karakter bisnis yang berbeda dalam industri jasa keuangan.
AMAR beroperasi dengan model bisnis perbankan yang berkaitan dengan kredit, bunga, simpanan, dan likuiditas. Sementara AHAP menjalankan bisnis asuransi umum yang berkaitan dengan premi, klaim, underwriting, reasuransi, dan investasi.
Perbedaan tersebut menjadi alasan mengapa laporan keuangan kedua perusahaan perlu dibaca berdasarkan karakteristik bisnis masing-masing.
Dengan pendekatan tersebut, angka-angka keuangan tidak hanya menjadi catatan administratif, tetapi juga dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana perusahaan menjalankan kegiatan usaha dan mengelola risiko sepanjang periode 2024.
Sumber data: Laporan dan presentasi PT Bank Amar Indonesia Tbk, laporan keuangan audited AMAR 2024, serta Annual Report 2024 PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda