Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  2. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  5. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Tidak Harus Selalu Kuat: Menjaga Kesehatan Mental lewat Psikologi Positif tanpa Terjebak Toxic Positivity

Tidak Harus Selalu Kuat: Menjaga Kesehatan Mental lewat Psikologi Positif tanpa Terjebak Toxic Positivity

M
Penulis: Masitoh Afiya Slamet
25 Oktober 2026, 01.38 WITA Editor: Danang Purnama
6 menit baca
Masitoh Afiya Slamet
Memberi ruang untuk berhenti sejenak dan mengenali perasaan sendiri.

Ketika Lelah Menjadi Hal yang Biasa

Di tengah tuntutan untuk terus produktif, tampil baik-baik saja, dan tidak tertinggal dari orang lain, kelelahan emosional sering dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Seseorang bisa tetap bekerja, kuliah, mengurus keluarga, dan aktif di media sosial, tetapi di saat yang sama merasa cemas, sulit tidur, kehilangan energi, atau kewalahan menghadapi hal-hal kecil.

Isu ini dekat dengan kehidupan masyarakat. Survei Katadata Insight Center pada April–Mei 2025 terhadap 1.212 responden menemukan bahwa pengalaman yang banyak dirasakan antara lain emosi yang tidak stabil, kecemasan, kesulitan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi.

IKLAN

Survei persepsi tersebut bukan alat untuk mendiagnosis gangguan mental, tetapi memberi gambaran bahwa tekanan psikologis merupakan pengalaman yang layak dibicarakan secara terbuka.

FoMO ke JoMO
Baca Juga

Dari FoMO ke JoMO: Belajar Menikmati Hidup Tanpa Harus Mengikuti Orang Lain

Di ruang digital, kita juga kerap melihat pesan seperti “harus bersyukur”, “ambil sisi positifnya”, atau “semua terjadi karena alasan tertentu”. Pesan itu bisa menguatkan, tetapi dapat terasa menyakitkan apabila disampaikan untuk menutup ruang bagi kesedihan.

Tidak setiap masalah selesai dengan berpikir positif, dan tidak setiap orang siap menemukan hikmah ketika sedang terluka.

Psikologi Positif Bukan Berarti Harus Bahagia Terus

Psikologi positif mempelajari kondisi dan proses yang membantu individu serta komunitas berkembang, seperti harapan, kekuatan karakter, hubungan yang mendukung, makna hidup, dan kesejahteraan.

Pendekatan ini bukan ajakan untuk menyangkal kesulitan atau mengganti semua pikiran negatif dengan kalimat optimistis. Emosi yang tidak nyaman juga memiliki fungsi: takut dapat memberi sinyal bahaya, sedih dapat menandai kehilangan, dan marah dapat menunjukkan adanya batas yang terasa dilanggar.

Emotional Vulnerability
Baca Juga

Emotional Vulnerability: Ketika Menunjukkan Kelemahan Justru Menjadi Jalan Menuju Mental yang Lebih Kuat

Karena itu, penting membedakan optimisme yang realistis dari toxic positivity. Optimisme realistis mengakui masalah sambil mencari kemungkinan langkah berikutnya.

Sebaliknya, toxic positivity muncul ketika tuntutan untuk selalu positif membuat seseorang merasa tidak boleh mengeluh, menangis, atau meminta bantuan. Dukungan yang sehat bukan memaksa orang segera bahagia, melainkan menemani mereka memahami apa yang sedang dialami.

Laporan World Mental Health Report dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh berbagai faktor personal, keluarga, komunitas, sosial, dan struktural.

Artinya, kesejahteraan tidak hanya menjadi tanggung jawab individu. Lingkungan belajar dan kerja, kondisi ekonomi, hubungan sosial, serta akses terhadap pertolongan juga ikut menentukan.

perjalanan hidup
Baca Juga

Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana, Masihkah Kita Bisa Menemukan Sesuatu yang Baik?

Self-Compassion: Berbicara kepada Diri Sendiri dengan Lebih Ramah

Salah satu gagasan yang relevan dalam psikologi positif adalah self-compassion atau welas asih terhadap diri sendiri.

Belajar
Menulis jurnal dapat menjadi sarana refleksi untuk mengenali emosi dan kebutuhan

Ketika gagal mencapai target, seseorang mungkin berkata, “Aku memang tidak becus.”

Self-compassion mengajak kita mengganti serangan terhadap diri dengan respons yang lebih seimbang: “Aku kecewa karena hasilnya belum sesuai harapan, tetapi satu kegagalan tidak merangkum seluruh kemampuanku. Apa yang bisa kupelajari dan apa yang kubutuhkan sekarang?”

Self-compassion bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Sikap ini membantu seseorang mengakui kesalahan tanpa memperlakukan dirinya sebagai musuh.

Tinjauan ilmiah tentang self-compassion dan penggunaan media sosial menemukan kemungkinan peran protektif terhadap sebagian dampak negatif, termasuk perbandingan sosial dan ketidakpuasan terhadap penampilan, meskipun bukti dan mekanismenya masih beragam.

Kajian sistematis terbaru juga membahas hubungan self-compassion dengan kesehatan mental dan mekanisme perubahan psikologis.

Kebiasaan Kecil yang Dapat Mendukung Kesejahteraan

Psikologi positif dapat diterapkan melalui langkah sederhana dan realistis, tanpa menjadikannya daftar kewajiban baru.

1. Beri nama pada perasaan

Luangkan waktu untuk bertanya: apa yang sedang kurasakan, kapan perasaan itu muncul, dan apa yang mungkin kubutuhkan? Tidak perlu langsung memperbaiki semuanya.

2. Catat hal yang bermakna

Setiap hari, tulis satu hal yang disyukuri atau satu kejadian kecil yang terasa berarti. Praktik syukur bukan berarti mengabaikan kesulitan; keduanya dapat hadir bersamaan.

3. Bangun hubungan yang aman

IKLAN

Hubungi orang yang dapat mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Dukungan sosial tidak selalu berupa nasihat; kadang-kadang, didengarkan dengan sungguh-sungguh sudah sangat membantu.

4. Atur batas dengan media sosial

Kurangi akun yang memicu perbandingan diri, ambil jeda dari layar, dan pilih sumber informasi yang bertanggung jawab. Media sosial bisa menjadi sumber edukasi, tetapi tidak menggantikan penilaian profesional.

5. Rawat kebutuhan dasar

Usahakan tidur teratur, makan cukup, bergerak sesuai kemampuan, dan menyisihkan waktu untuk beristirahat. Mulailah dari perubahan kecil yang memungkinkan, bukan target sempurna.

6. Minta bantuan ketika diperlukan

Jika kecemasan, kesedihan, gangguan tidur, atau kesulitan menjalani aktivitas berlangsung menetap atau terasa berat, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, dokter, atau layanan kesehatan yang tersedia.

Mendukung Tanpa Menghakimi

Ketika seseorang bercerita sedang tidak baik-baik saja, kita tidak harus langsung memberikan solusi.

Kalimat sederhana seperti “Terima kasih sudah cerita”, “Kamu ingin didengarkan atau ingin kita mencari solusi bersama?”, atau “Aku mungkin belum sepenuhnya memahami, tetapi aku mau mendengarkan” dapat membuka ruang yang lebih aman.

Hindari membandingkan penderitaan, mengecilkan masalah, atau memaksa seseorang segera bersyukur.

Di sekolah, kampus, tempat kerja, dan keluarga, percakapan tentang kesehatan mental sebaiknya disertai tindakan nyata: beban yang masuk akal, kesempatan beristirahat, aturan anti-perundungan, akses bantuan, serta sikap yang tidak mempermalukan orang ketika meminta pertolongan.

Pesan positif akan lebih bermakna ketika didukung oleh lingkungan yang peduli.

Kuat Bukan Berarti Tidak Pernah Rapuh

Kesehatan mental bukan keadaan ketika seseorang selalu tenang, bahagia, dan mampu menghadapi semua hal sendirian.

Kesehatan mental juga berkaitan dengan kemampuan mengenali emosi, menjalani kehidupan sehari-hari, membangun relasi, beradaptasi, serta mencari dukungan ketika diperlukan.

Psikologi positif mengingatkan kita untuk melihat kekuatan dan harapan, tetapi tidak meminta kita menutup mata terhadap rasa sakit.

Mungkin kita tidak selalu bisa mengubah keadaan dalam satu hari. Namun, kita dapat mulai dengan berhenti menyalahkan diri karena lelah, mengakui kebutuhan sendiri, dan memperlakukan orang lain dengan empati.

Kita boleh bersyukur sekaligus sedih, berusaha sekaligus beristirahat, dan berharap sekaligus meminta bantuan.

Tidak harus selalu kuat untuk tetap bertumbuh.


Biodata Singkat Penulis

Masitoh Afiya Slamet merupakan mahasiswa Program Magister Psikologi (S2) yang memiliki minat pada isu kesehatan mental, pendampingan emosional, kesejahteraan psikologis, serta penerapan psikologi dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan pendidikan.

Daftar Pustaka

Anthes, L. S., & Dreisoerner, A. (2026). Self-compassion and mental health: A systematic review and transactional model on mechanisms of change. Mindfulness, 17, 684–730.

Neff, K. D. (2023). Self-compassion: Theory, method, research, and intervention. Annual Review of Psychology, 74, 193–218.

Petrovic, J., Mettler, J., Cho, S., & Heath, N. L. (2024). The effects of loving-kindness interventions on positive and negative mental health outcomes: A systematic review and meta-analysis. Clinical Psychology Review, 110, Article 102433.

van Agteren, J., Iasiello, M., Lo, L., Bartholomaeus, J., Kopsaftis, Z., Carey, M., & Kyrios, M. (2021). A systematic review and meta-analysis of psychological interventions to improve mental wellbeing. Nature Human Behaviour, 5, 631–652.

Wang, J. (2025). The mechanisms underlying the relationship between self-compassion and psychological outcomes in adult populations: A systematic review. Stress and Health, 41(4), Article e70090.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/tidak-harus-selalu-kuat-menjaga-kesehatan-mental-lewat-psikologi-positif-tanpa-terjebak-toxic-positivity/98335/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.36 WITA

  • #Kesehatan Mental
  • #emosi
  • #kesejahteraan psikologis
  • #psikologi positif
  • #self-compassion
  • #stres
  • #toxic positivity

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

Pilihan Editor

  1. 1 Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han
  2. 2

    HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

  4. 4

    Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  5. 5

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.