Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Dari Tempe ke Bioreaktor: Menjemput Kedaulatan Pangan lewat Fermentasi Presisi

Dari Tempe ke Bioreaktor: Menjemput Kedaulatan Pangan lewat Fermentasi Presisi

Penulis:
  • Arra Ariyanti, Fitria Ramadhani Novianty, Nabila septiani, Nurhilalliah, Reza aulia, Zahra khairunisa, zaidan alif

Dosen Pengampu: Dr. RAHMAH FARAHDITA SOEYATNO S.P, M.Si

Afiliasi: Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang

Editor: Rafi Adinata
07 Oktober 2026, 22.10 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
From Tempe Tradition to Biotech Futures

Teknologi produksi pangan tanpa bergantung pada lahan luas mulai mendapat perhatian dunia. Indonesia punya peluang besar, tetapi perlu memastikan tidak hanya menjadi pasar teknologi.

JAKARTA — Indonesia bukanlah bangsa yang asing dengan fermentasi. Tempe, tape, oncom hingga kecap telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat sekaligus menunjukkan bagaimana mikroorganisme dapat mengubah bahan sederhana menjadi pangan yang bernilai gizi dan ekonomi.

IKLAN

Kini, prinsip yang telah dikenal selama berabad-abad tersebut berkembang jauh melalui teknologi yang disebut precision fermentation atau fermentasi presisi.

Teknologi ini mulai dipandang sebagai salah satu inovasi yang berpotensi mengubah cara dunia memproduksi pangan. Bagi Indonesia, fermentasi presisi bukan hanya persoalan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menyangkut peluang memperkuat kemandirian dan kedaulatan pangan.

Dari Fermentasi Tradisional ke Bioreaktor

Fermentasi presisi memanfaatkan mikroorganisme seperti ragi, jamur maupun bakteri yang telah dipilih atau direkayasa untuk menghasilkan molekul tertentu.

Mikroorganisme tersebut dapat diprogram untuk menghasilkan protein, lemak, enzim, vitamin, hingga berbagai komponen pangan lainnya. Produksi dilakukan dalam tangki fermentasi atau bioreaktor dengan kondisi yang dikontrol secara ketat.

Berbeda dengan produksi pangan konvensional yang sangat bergantung pada lahan, cuaca dan musim, proses fermentasi presisi dapat berlangsung di fasilitas produksi yang relatif terkendali.

Karakter tersebut membuat teknologi ini menarik di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan peternakan.

Produksi melalui fermentasi presisi juga berpotensi menekan kebutuhan lahan dan air untuk sejumlah produk sekaligus membuka alternatif sumber bahan pangan yang sebelumnya bergantung pada peternakan atau komoditas pertanian tertentu.

Fermentasi Presisi Mulai Menjadi Sorotan Dunia

Perhatian terhadap teknologi ini semakin besar setelah fermentasi presisi masuk dalam jajaran teknologi yang menjadi sorotan Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) pada 2026.

Perkembangan tersebut memberi gambaran bahwa arah inovasi pangan global semakin bergerak menuju penggunaan bioteknologi untuk menghasilkan protein dan bahan pangan secara lebih efisien.

Momentum tersebut menjadi relevan bagi Indonesia karena isu kedaulatan pangan juga mendapat tempat penting dalam arah kebijakan ekonomi nasional.

Dalam kerangka RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,8–6,5 persen, sementara inflasi ditargetkan berada pada rentang 1,5–3,5 persen.

Kedaulatan pangan turut ditempatkan sebagai salah satu fokus kebijakan fiskal.

Kondisi tersebut semestinya membuka ruang bagi pemerintah untuk melihat ketahanan pangan tidak hanya melalui perluasan produksi pertanian konvensional, tetapi juga melalui pengembangan teknologi pangan masa depan.

Target Makroekonomi dan Peluang Teknologi Pangan

IndikatorAngka/KeteranganKonteks
Pertumbuhan ekonomi RAPBN 20275,8–6,5%Target pemerintah
Inflasi RAPBN 20271,5–3,5%Target pemerintah
Fokus kebijakan fiskal8 fokus utamaKedaulatan pangan menjadi salah satunya
Posisi fermentasi presisiTop 10 teknologiSorotan teknologi WEF 2026
Peningkatan hasil melalui pertanian presisiSekitar 17,2%Disertai efisiensi biaya input dalam sejumlah kajian

Sumber: Nota Keuangan RAPBN 2027 dan WEF 2026.

Kedaulatan pangan sendiri tidak semata-mata berarti tersedianya makanan dalam jumlah cukup.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan kemampuan suatu negara mengendalikan sumber, teknologi dan kebijakan pangannya tanpa ketergantungan berlebihan terhadap pihak luar.

Dalam konteks inilah fermentasi presisi menjadi menarik.

Sejumlah bahan pangan dan sumber protein yang saat ini masih bergantung pada impor pada masa mendatang berpeluang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan kemampuan bioteknologi.

Namun peluang itu hanya dapat dimanfaatkan apabila Indonesia ikut menguasai teknologinya.

Dua Sisi Kemajuan Teknologi

Perkembangan teknologi hampir selalu membawa dua konsekuensi sekaligus.

Di satu sisi, teknologi mampu meningkatkan produktivitas, memangkas biaya, melahirkan industri baru dan menciptakan jenis pekerjaan yang sebelumnya tidak ada.

Di sisi lain, inovasi juga dapat mengubah struktur pekerjaan dan memaksa sebagian tenaga kerja beradaptasi.

Ekonom Joseph Schumpeter menggambarkan proses tersebut sebagai creative destruction atau penghancuran kreatif: teknologi baru menciptakan aktivitas ekonomi baru sekaligus menggeser sebagian pola produksi lama.

Hal serupa kemungkinan terjadi apabila industri fermentasi presisi berkembang luas.

Permintaan terhadap insinyur bioproses, ahli mikrobiologi, teknisi fermentasi, spesialis bioinformatika, analis mutu pangan hingga tenaga regulasi dan keamanan pangan berpotensi meningkat.

Industri ini juga berkaitan erat dengan digitalisasi sehingga membutuhkan tenaga di bidang analisis data, Internet of Things (IoT), otomatisasi hingga pemasaran digital.

Namun transisi tersebut perlu dikelola.

Petani maupun peternak kecil dapat menghadapi tekanan apabila teknologi baru berkembang tanpa kebijakan yang melibatkan sektor produksi konvensional.

Tanpa program peningkatan keterampilan dan model kemitraan yang jelas, modernisasi justru berpotensi memperbesar kesenjangan.

Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan

Pengembangan fermentasi presisi di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.

Pertama adalah regulasi dan kehalalan.

Produk pangan yang melibatkan mikroorganisme hasil rekayasa maupun proses bioteknologi memerlukan mekanisme penilaian keamanan pangan yang jelas.

Dalam konteks Indonesia yang memiliki populasi Muslim besar, kepastian mengenai status halal juga menjadi faktor penting bagi penerimaan masyarakat.

Kemampuan laboratorium pengujian, sistem sertifikasi serta pelacakan proses produksi karena itu perlu dipersiapkan sejak dini.

Tantangan kedua adalah biaya produksi dan kebutuhan energi.

IKLAN

Fasilitas fermentasi berskala industri memerlukan investasi yang tidak kecil. Bioreaktor, sistem pemurnian, kontrol suhu, sterilisasi hingga pasokan energi harus mampu beroperasi secara konsisten.

Skala produksi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah produk fermentasi presisi mampu bersaing secara ekonomi dengan pangan konvensional.

Ketiga adalah kemandirian teknologi.

Indonesia perlu menghindari kondisi ketika ketergantungan terhadap impor bahan pangan hanya berubah bentuk menjadi ketergantungan terhadap paten, mesin maupun galur mikroba dari luar negeri.

Pengembangan mikroorganisme lokal, teknologi bioproses dan kepemilikan kekayaan intelektual menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

Tantangan berikutnya menyangkut kesiapan sumber daya manusia.

Perguruan tinggi perlu memperkuat pendidikan di bidang bioteknologi pangan, rekayasa bioproses dan bioinformatika.

Pada saat bersamaan, program pelatihan ulang atau reskilling bagi tenaga kerja sektor pertanian dan pangan perlu dipersiapkan agar transformasi teknologi tidak meninggalkan pekerja lama.

Bukan untuk Menggantikan Pertanian Rakyat

Fermentasi presisi sebaiknya tidak ditempatkan sebagai lawan dari pertanian konvensional.

Pertanian rakyat tetap memiliki posisi strategis dalam sistem pangan Indonesia sekaligus menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat.

Teknologi fermentasi presisi justru lebih tepat ditempatkan sebagai pelengkap.

Teknologi ini dapat menjadi lapisan tambahan dalam sistem ketahanan pangan, khususnya untuk bahan tertentu yang produksi domestiknya terbatas atau sangat rentan terhadap perubahan iklim dan gejolak rantai pasok global.

Petani juga tetap dapat masuk ke dalam ekosistem baru tersebut.

Mereka dapat menjadi pemasok bahan baku fermentasi, bagian dari skema kemitraan industri, hingga pelaku usaha yang mengembangkan produk turunan bernilai tambah.

Di sektor budidaya sendiri, penggunaan teknologi pertanian presisi menunjukkan potensi peningkatan produktivitas.

Sejumlah kajian mencatat peningkatan hasil sekitar 17,2 persen dengan penggunaan input yang lebih efisien pada penerapan teknologi tertentu.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak otomatis dapat dirasakan semua petani.

Biaya teknologi, keterbatasan akses informasi, pembiayaan serta minimnya pelatihan masih menjadi hambatan utama, khususnya bagi petani skala kecil.

Pemerintah, Kampus, Industri dan Petani Harus Bergerak Bersama

Fermentasi presisi membutuhkan ekosistem yang tidak dapat dibangun satu pihak saja.

Setidaknya diperlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga riset, industri serta petani.

Pemerintah berperan membangun regulasi, memberikan kepastian investasi dan menyediakan insentif riset.

Perguruan tinggi serta lembaga penelitian dapat mengembangkan galur mikroba lokal, teknologi bioproses dan sumber daya manusia.

Industri dibutuhkan untuk membawa hasil penelitian menuju skala komersial.

Sementara itu, petani dan pelaku usaha pangan harus ditempatkan sebagai mitra dalam rantai nilai, bukan sekadar pihak yang menerima dampak teknologi.

Model kerja sama antara perguruan tinggi dan industri yang telah berkembang di sejumlah sektor pertanian dapat menjadi pijakan awal untuk membangun ekosistem bioteknologi pangan nasional.

Dalam kerangka kebijakan fiskal, dukungan pemerintah dapat difokuskan pada setidaknya tiga sektor, yakni riset dan pengembangan bioproses, kepastian regulasi serta kehalalan, dan pembangunan fasilitas produksi maupun laboratorium pendukung.

Tanpa investasi pada tiga bidang tersebut, Indonesia berisiko hanya menjadi konsumen produk dan teknologi fermentasi presisi yang dikembangkan negara lain.

Dari Tempe Menuju Teknologi Pangan Masa Depan

Indonesia sebenarnya memiliki modal budaya yang kuat.

Masyarakat telah mengenal fermentasi sejak lama melalui berbagai produk seperti tempe, tape, oncom dan kecap.

Namun sejarah panjang fermentasi tidak otomatis membuat Indonesia unggul dalam teknologi bioproses modern.

Keunggulan baru akan terbentuk apabila pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kemampuan riset, penguasaan galur mikroba, paten, fasilitas produksi dan industri yang kompetitif.

Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan tekanan perubahan iklim, fermentasi presisi menawarkan peluang untuk membangun sumber pangan yang lebih beragam.

Tetapi teknologi ini bukan jalan pintas.

Indonesia tetap membutuhkan pertanian yang kuat, petani yang sejahtera serta sistem distribusi pangan yang efisien.

Fermentasi presisi dapat menjadi salah satu instrumen tambahan dalam strategi tersebut.

Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi pangan akan berkembang, melainkan apakah Indonesia akan ikut menguasai dan memproduksinya atau hanya menjadi pasar ketika produk tersebut masuk dalam skala besar.

Kedaulatan pangan pada akhirnya tidak hanya dibangun di sawah dan ladang.

Pada masa depan, sebagian juga mungkin lahir dari laboratorium, bioreaktor dan fasilitas produksi yang dikembangkan oleh ilmuwan serta industri dalam negeri.

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/dari-tempe-ke-bioreaktor-menjemput-kedaulatan-pangan-lewat-fermentasi-presisi/98058/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.24 WITA

  • #Bioteknologi
  • #Ekonomi Nasional
  • #bioreaktor
  • #fermentasi presisi
  • #inovasi pangan
  • #kedaulatan pangan
  • #pertanian indonesia

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.