JAKARTA, JurnalPost.com – Daging ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi rumah tangga di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Selain mudah diperoleh, harganya relatif terjangkau dibandingkan sejumlah jenis daging lainnya.
Namun, kondisi perdagangan daging ayam menunjukkan persoalan yang berbeda antara tingkat konsumen dan peternak. Di sejumlah pasar tradisional, kenaikan harga ayam membuat masyarakat lebih selektif dalam berbelanja. Sebaliknya, di tingkat peternak, harga ayam hidup justru mengalami penurunan hingga berada di bawah biaya produksi akibat kelebihan pasokan.
Perbedaan kondisi tersebut memperlihatkan adanya ketidakseimbangan dalam rantai pasok daging ayam, mulai dari produksi, distribusi, hingga penjualan kepada konsumen.
Harga Menjadi Pertimbangan Utama Konsumen
Berdasarkan hasil pengamatan di sejumlah pasar tradisional Jabodetabek, harga menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli daging ayam.
Di Pasar Lembang, harga daging ayam berkisar antara Rp40.000 hingga Rp55.000 per kilogram. Sementara itu, di Pasar Sipon, ayam dijual dengan harga Rp38.000 hingga Rp45.000 per ekor.
Kondisi serupa terjadi di Pasar Cigudeg. Kenaikan harga ayam dari Rp40.000 menjadi Rp45.000 per kilogram menyebabkan sebagian konsumen mengurangi jumlah pembelian.
Di Pasar Ciputat, harga ayam bervariasi berdasarkan ukuran. Ayam berukuran kecil dijual Rp40.000–Rp43.000 per ekor, ukuran sedang Rp75.000, dan ukuran besar mencapai Rp85.000 per ekor. Bahkan, pada periode Lebaran, harga ayam sempat mencapai Rp100.000 per ekor.

Dalam praktik perdagangan, harga acuan pemerintah sebesar Rp40.700 per kilogram belum sepenuhnya menjadi patokan pedagang karena harga jual juga dipengaruhi biaya pembelian, ukuran ayam, dan kondisi pasokan.
Kenaikan harga yang cukup tajam juga ditemukan di Pasar Ceger, Pondok Aren. Berdasarkan data pengamatan, harga ayam meningkat dari kisaran Rp35.000–Rp40.000 menjadi Rp60.000 per ekor.
Kondisi tersebut dilaporkan berdampak terhadap penurunan omzet pedagang hingga sekitar 50 persen. Salah satu penyebabnya adalah gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem yang membuat pedagang harus mencari pemasok alternatif dengan harga pembelian lebih tinggi.
Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasokan, biaya distribusi, dan karakteristik pasar dapat memengaruhi pembentukan harga ayam di tingkat konsumen.
Konsumen Beralih ke Ikan dan Telur Saat Harga Ayam Naik
Perubahan harga ayam turut memengaruhi perilaku konsumen dalam menentukan pilihan bahan pangan.
Di Pasar Lembang dan Pasar Sipon, konsumen cenderung membandingkan harga antarpedagang sebelum melakukan pembelian. Kebiasaan serupa ditemukan di Pasar Cigudeg, ketika konsumen lebih memilih ayam seharga Rp40.000 dibandingkan Rp42.000 apabila kualitas yang ditawarkan relatif sama.
Sementara itu, di Pasar Ciputat, selisih harga ayam kecil antarpedagang dapat mencapai Rp4.000 hingga Rp5.000 untuk produk dengan kualitas serupa.
Selain membandingkan harga, konsumen juga memiliki kecenderungan mengganti ayam dengan sumber protein lain ketika terjadi kenaikan harga yang cukup besar.
Di Pasar Sipon, ikan mujair dengan harga Rp30.000–Rp35.000 per kilogram dan telur ayam Rp24.000–Rp25.000 per kilogram menjadi alternatif. Adapun di Pasar Ciputat, ikan nila seharga Rp35.000 per kilogram dan telur ayam Rp25.000–Rp26.000 per kilogram turut menjadi pilihan konsumen.
Dalam ilmu ekonomi, kondisi tersebut berkaitan dengan keberadaan barang substitusi, yaitu produk yang dapat menggantikan fungsi produk lain dalam memenuhi kebutuhan konsumen.
Ketika harga ayam meningkat, sebagian masyarakat memilih ikan atau telur untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga. Namun, berdasarkan pengamatan di Pasar Sipon, konsumen dapat kembali membeli ayam setelah harga dinilai lebih stabil.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa respons konsumen terhadap perubahan harga dapat berbeda, bergantung pada besarnya kenaikan harga, daya beli, dan ketersediaan bahan pangan pengganti.
Kenaikan harga yang relatif kecil mungkin masih dapat diterima sebagian konsumen. Sebaliknya, kenaikan yang tajam berpotensi mendorong pengurangan pembelian atau peralihan ke komoditas lain. Meski demikian, besarnya elastisitas permintaan belum dapat ditentukan tanpa penghitungan kuantitatif lebih lanjut.
Pendapatan Rumah Tangga dan Harga Bahan Pendamping Memengaruhi Pembelian
Selain harga ayam itu sendiri, tingkat pendapatan menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan konsumen membeli daging ayam.
Sebagai ilustrasi, apabila sebuah rumah tangga memiliki pendapatan Rp2.000.000 per bulan dan membeli seekor ayam kecil seharga Rp40.000 setiap hari, pengeluaran untuk ayam akan mencapai Rp1.200.000 per bulan atau sekitar 60 persen dari total pendapatan.
Sebaliknya, apabila pembelian dilakukan setiap tiga hari sekali, pengeluaran diperkirakan sebesar Rp400.000 per bulan atau sekitar 20 persen dari pendapatan.
Perhitungan tersebut merupakan ilustrasi sederhana dengan asumsi harga tetap dan pembelian satu ekor ayam setiap transaksi. Pengeluaran aktual dapat berbeda sesuai jumlah anggota keluarga, kebutuhan konsumsi, dan pola belanja.
Data pengamatan di Pasar Cigudeg memperlihatkan adanya konsumen yang membeli ayam sekitar 1–2 kilogram dalam satu kali transaksi.
Di sisi lain, harga barang pelengkap atau komplementer juga dapat memengaruhi keputusan pembelian.
Di Pasar Cigudeg, misalnya, kenaikan harga minyak goreng dari Rp17.000 menjadi Rp20.000 per liter membuat sebagian konsumen mempertimbangkan kembali pengeluaran untuk membeli ayam.
Kondisi serupa terjadi ketika harga cabai meningkat. Di Pasar Ceger, harga cabai rawit dilaporkan naik dari Rp60.000 menjadi Rp100.000 per kilogram pada Desember 2025. Sementara itu, di Pasar Ciputat, harga cabai mencapai Rp80.000 per kilogram.
Kenaikan harga bahan pelengkap tersebut menambah biaya pengolahan makanan rumah tangga. Akibatnya, konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga ayam, tetapi juga keseluruhan biaya yang dibutuhkan untuk menyiapkan makanan.
Permintaan Meningkat pada Akhir Pekan dan Hari Besar
Permintaan daging ayam di pasar tradisional tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Selain dipengaruhi harga dan pendapatan, jumlah pembelian juga berkaitan dengan waktu, kebiasaan konsumsi, serta perayaan hari besar.
Berdasarkan pengamatan, pedagang di Pasar Lembang mampu menjual sekitar 30–50 ekor ayam per hari. Di Pasar Sipon, jumlah penjualan berkisar 70–100 ekor per hari dan dapat meningkat menjadi 100–300 ekor ketika permintaan sedang tinggi.
Di Pasar Ciputat, volume penjualan antarlapak menunjukkan perbedaan cukup besar. Sebagian pedagang menjual sekitar 60 ekor per hari, sedangkan pedagang lainnya mampu mencapai 300 ekor.
Pada periode Natal, Tahun Baru, dan Lebaran, penjualan di lapak tertentu bahkan dilaporkan dapat mencapai 800–1.000 ekor ayam.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut memberikan tambahan permintaan sekitar 30 ekor ayam per hari pada salah satu aktivitas perdagangan yang diamati di Pasar Ciputat.
Peningkatan permintaan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas konsumsi rumah tangga, perayaan keagamaan, dan kebutuhan program penyediaan makanan dapat memengaruhi volume perdagangan ayam.
Meski demikian, peningkatan permintaan tidak selalu diikuti kenaikan harga yang sama di setiap pasar. Kondisi tersebut bergantung pada kemampuan pedagang memperoleh pasokan dan tingkat persaingan yang terjadi.
Persaingan Pedagang Mendorong Perbedaan Harga dan Pelayanan
Pasar tradisional memiliki karakteristik persaingan yang cukup tinggi karena banyak pedagang menawarkan produk dengan fungsi dan kualitas relatif serupa.
Berdasarkan data lapangan, jumlah pedagang ayam di Pasar Lembang, Pasar Sipon, dan Pasar Cigudeg berkisar antara 20–30 orang. Sementara itu, di Pasar Ciputat, jumlahnya diperkirakan mencapai 25–40 pedagang atau lebih.
Banyaknya pedagang memberikan kesempatan kepada konsumen untuk membandingkan harga, kualitas, kesegaran, ukuran, kebersihan, dan pelayanan sebelum membeli.
Persaingan tersebut berpotensi membatasi kenaikan harga yang terlalu tinggi karena konsumen dapat berpindah ke pedagang lain.
Selain bersaing melalui harga, pedagang juga menawarkan variasi produk sesuai kebutuhan konsumen.
Di Pasar Lembang, bagian ayam yang banyak diminati meliputi dada, paha, dan sayap. Sementara itu, sebagian ibu rumah tangga di Pasar Ciputat lebih memilih ayam kecil utuh karena dinilai sesuai dengan kebutuhan konsumsi harian.
Di Pasar Ceger, pedagang juga menerapkan pembedaan harga berdasarkan bagian ayam, seperti ayam utuh, fillet dada, hati, dan ampela.
Dari sisi jumlah pelanggan, salah satu lapak di Pasar Ciputat dengan kapasitas penjualan sekitar 60 ekor ayam per hari melayani 40–50 pelanggan. Pada periode Natal, Tahun Baru, dan Lebaran, jumlah pelanggan dilaporkan dapat meningkat hingga sekitar 400 orang.
Perbedaan karakteristik pelanggan, jumlah pedagang, serta pola konsumsi tersebut menunjukkan bahwa struktur pasar memiliki peran dalam pembentukan harga dan volume penjualan daging ayam.
Harga Ayam Hidup di Tingkat Peternak Justru di Bawah Biaya Produksi
Di tengah kenaikan harga ayam yang dialami sebagian konsumen, kondisi berbeda terjadi pada tingkat peternak.
Peternak ayam pedaging di Jabodetabek dan Banten dilaporkan menghadapi tekanan akibat harga jual ayam hidup yang berada di bawah harga pokok produksi (HPP).
Berdasarkan data Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), gambaran harga dan potensi kerugian peternak adalah sebagai berikut.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Harga ayam hidup di tingkat kandang | Rp15.000–Rp16.000/kg |
| Harga Pokok Produksi (HPP) | Rp21.000–Rp22.000/kg |
| Selisih harga jual dan HPP | Rp5.000–Rp7.000/kg |
| Estimasi kerugian ayam berbobot 2 kg | Rp10.000–Rp14.000/ekor |
Sumber: Permindo. Kerugian dihitung berdasarkan selisih harga jual dan HPP.
Ketua Umum Permindo, Kusnan, menyampaikan bahwa peternak menghadapi tekanan dari dua sisi, yakni penurunan harga jual ayam hidup dan kenaikan biaya produksi.
Harga pakan di tingkat pabrik dilaporkan berada pada kisaran Rp8.800–Rp9.400 per kilogram, dengan kenaikan sekitar Rp800 per kilogram sepanjang periode 2026 yang dilaporkan.
Sementara itu, harga anak ayam umur sehari atau day-old chick (DOC) berkisar antara Rp5.000 hingga Rp6.000 per ekor.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan harga ayam di tingkat konsumen tidak secara otomatis meningkatkan pendapatan peternak.
Perbedaan harga antara tingkat kandang dan pasar eceran juga perlu dianalisis dengan mempertimbangkan biaya pemotongan, penyusutan bobot, transportasi, penyimpanan, distribusi, serta margin pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.

Selain itu, harga ayam hidup dan daging ayam eceran tidak dapat dibandingkan secara langsung tanpa memperhitungkan perbedaan bentuk dan bobot produk.
Kebutuhan Daging Ayam Meningkat Menjelang Idulfitri 2026
Peningkatan konsumsi ayam menjelang hari besar keagamaan juga tercermin dalam data kebutuhan pangan pemerintah.
Menjelang Idulfitri 2026, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat kebutuhan daging ayam meningkat sebesar 10,77 persen, dari 10.904 ton menjadi 12.078 ton.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada pekan kedua Maret 2026, harga ayam potong mengalami kenaikan sekitar 1,24 persen atau Rp546 menjadi Rp44.680 per kilogram. Kenaikan tersebut masih berada di bawah batas fluktuasi lima persen yang digunakan dalam pemantauan terkait.
Di wilayah Tangerang, harga ayam broiler selama Ramadan 2026 dilaporkan berkisar antara Rp35.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, Pemprov DKI Jakarta menjalankan sejumlah langkah, antara lain pemantauan bersama Satgas Pangan Kepolisian, penyaluran pangan bersubsidi, serta pelaksanaan program pangan keliling.
Program tersebut melibatkan sejumlah badan usaha milik daerah (BUMD), termasuk PT Food Station Tjipinang Jaya, Perumda Dharma Jaya, dan Perumda Pasar Jaya.
Upaya stabilisasi diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama ketika permintaan meningkat selama periode hari besar.
Banten Berpotensi Memperkuat Pasokan Ayam Jabodetabek
Dari sisi produksi dan distribusi, Provinsi Banten memiliki potensi untuk memperkuat penyediaan ayam dan telur bagi wilayah Jabodetabek.
Banten dilaporkan memiliki 14 pabrik pakan ternak yang dapat mendukung kegiatan usaha peternakan di wilayah tersebut.
Gubernur Banten, Andra Soni, juga menyampaikan bahwa program Bantuan Usaha Ekonomi Produktif diarahkan untuk mendukung pengembangan usaha masyarakat, termasuk sektor peternakan ayam pedaging.
Keberadaan industri pakan dan dukungan pengembangan usaha dapat menjadi faktor pendukung peningkatan kapasitas produksi.
Namun, peningkatan produksi perlu disertai perencanaan yang mempertimbangkan kebutuhan pasar. Tanpa keseimbangan antara permintaan dan pasokan, pertumbuhan produksi justru berpotensi menekan harga jual di tingkat peternak.
Oleh karena itu, penguatan sektor peternakan tidak hanya membutuhkan peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pengelolaan distribusi, akses pasar, dan informasi harga yang lebih baik.
Pentingnya Keseimbangan Pasokan dan Permintaan
Gambaran perdagangan daging ayam di sejumlah pasar tradisional Jabodetabek menunjukkan bahwa harga, pendapatan, preferensi konsumen, dan ketersediaan barang pengganti memiliki keterkaitan dengan keputusan pembelian.
Di tingkat konsumen, kenaikan harga dapat mendorong pengurangan jumlah pembelian maupun peralihan ke sumber protein alternatif seperti ikan dan telur.
Sementara itu, di tingkat peternak, kelebihan pasokan dan tingginya biaya produksi dapat menyebabkan kerugian meskipun harga ayam di pasar eceran relatif tinggi.
Perbedaan kondisi antara hulu dan hilir tersebut menjadi salah satu persoalan penting dalam pengelolaan rantai pasok pangan.
Diperlukan koordinasi yang lebih baik antara peternak, distributor, pedagang, dan pemerintah untuk menjaga keseimbangan produksi serta kebutuhan pasar.
Penguatan sistem informasi harga, pengawasan distribusi, efisiensi rantai pasok, dan perencanaan produksi berdasarkan perkiraan permintaan dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kondisi perdagangan ayam.
Dengan demikian, stabilitas harga tidak hanya ditujukan untuk menjaga keterjangkauan pangan bagi konsumen, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha peternak rakyat sebagai bagian penting dari sistem penyediaan protein hewani.
Sumber Data dan Informasi
Data Pengamatan Lapangan. Dokumen 13 Poin Permintaan Daging Ayam, mencakup pengamatan di Pasar Lembang, Pasar Sipon, Pasar Cigudeg, Pasar Ciputat, dan Pasar Ceger. Data meliputi harga ayam, volume penjualan, jumlah pelanggan, persaingan pedagang, barang substitusi dan komplementer, serta karakteristik konsumen.
Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Data kebutuhan daging ayam menjelang Idulfitri 2026, pemantauan harga pada pekan kedua Maret 2026, serta kebijakan stabilisasi pasokan dan harga pangan.
Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo). Keterangan Ketua Umum Permindo, Kusnan, mengenai harga ayam hidup di tingkat peternak, harga pokok produksi, biaya pakan, dan harga anak ayam umur sehari (DOC).
Pemerintah Provinsi Banten. Informasi mengenai keberadaan industri pakan ternak dan program Bantuan Usaha Ekonomi Produktif yang disampaikan Gubernur Banten, Andra Soni.
Pemantauan Harga Daging Ayam Broiler di Tangerang Selama Ramadan 2026. Data tercantum dalam kompilasi riset DeepSeek. Sumber primer dan tanggal publikasi belum dicantumkan dalam dokumen asal.
Delgado dkk. (2016). Kajian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi permintaan daging ayam, sebagaimana disebutkan dalam rangkuman SciSpace. Informasi bibliografi lengkap masih perlu dilengkapi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda