Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Jago Ngetik, Giliran Ngomong Malah Nge-lag: Ada Apa dengan Public Speaking Gen Z?

Jago Ngetik, Giliran Ngomong Malah Nge-lag: Ada Apa dengan Public Speaking Gen Z?

S
Penulis: Septia Conita Fala
16 Oktober 2026, 11.15 WITA Editor: Alvin Pradana
8 menit baca
Student Presenting Social Media Research
Seorang mahasiswi sedang melakukan presentasi di depan kelas. Rasa gugup saat berbicara di depan umum menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan kemampuan public speaking. Sumber: Ilustrasi AI/JurnalPost.

JurnalPost.com - Punya banyak ide di kepala, lancar berpendapat lewat chat, tetapi mendadak kehilangan kata-kata saat harus berbicara di depan umum. Jangan-jangan, masalahnya bukan karena tidak bisa ngomong, melainkan terlalu takut untuk memulai.

Pernah nggak sih, kamu sudah menyusun jawaban di kepala, bahkan sampai membayangkan bagaimana cara menyampaikannya, tetapi begitu diberi kesempatan bicara, semuanya malah buyar? Mulut terasa kaku, jantung berdegup lebih cepat, dan ujung-ujungnya memilih diam. Padahal, setelah kesempatan itu lewat, baru terpikir berbagai jawaban yang sebenarnya bisa disampaikan.

IKLAN

Situasi seperti ini mungkin terdengar familier, terutama bagi mahasiswa yang sering berhadapan dengan presentasi, diskusi kelas, atau kegiatan organisasi. Menariknya, sebagian dari kita justru bisa sangat ekspresif ketika berkomunikasi lewat chat. Bisa bercanda, berdebat, bahkan menyampaikan pendapat panjang lebar. Namun, ketika harus berbicara langsung di depan banyak orang, mendadak seperti kehilangan kemampuan berbahasa.

Public Speaking
Baca Juga

Public Speaking: Skill Wajib Mahasiswa Biar Makin Pede di Kehidupan Sehari-hari

Lalu, sebenarnya kenapa berbicara di depan umum terasa sesulit itu?

Terlalu Sibuk Memikirkan Penilaian Orang Lain

Menurut saya, salah satu hal yang membuat public speaking terasa menakutkan bukan semata-mata karena kita tidak pandai berbicara, melainkan karena terlalu memikirkan respons orang lain.

Sebelum mulai bicara, pikiran kita sudah dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau salah ngomong? Bagaimana kalau pendapat kita dianggap aneh? Bagaimana kalau ada yang menertawakan cara kita berbicara? Bahkan, terkadang kita lebih dulu membayangkan kegagalan sebelum benar-benar mencoba.

Akhirnya, diam terasa menjadi pilihan paling aman.

Ilustrasi seorang mahasiswa berlatih
Baca Juga

Public Speaking: Mengapa Keberanian Berbicara Lebih Penting daripada Keinginan untuk Tampil Sempurna?

Padahal, kebiasaan ini bisa membuat kita melewatkan banyak kesempatan. Ada ide yang sebenarnya menarik, tetapi tidak pernah disampaikan. Ada pertanyaan yang ingin diajukan, tetapi akhirnya dipendam. Ada kesempatan untuk menunjukkan kemampuan diri, tetapi dilewatkan hanya karena takut terlihat tidak sempurna.

Rasa takut tersebut bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan. Penelitian Lintner dan Belovecová (2024) membahas kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa dan faktor-faktor yang berkaitan dengannya. Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan dalam situasi berbicara di hadapan orang lain merupakan persoalan yang relevan untuk diperhatikan dalam lingkungan akademik.

Namun, belum tentu orang lain memperhatikan kesalahan kita sebesar yang kita bayangkan. Terkadang, justru kita sendiri yang terlalu keras menilai diri sendiri.

Nyaman di Balik Layar, Canggung Saat Bertatap Muka

Kehidupan digital membuat komunikasi terasa lebih praktis. Kita bisa menyusun pesan terlebih dahulu, menghapus bagian yang kurang cocok, lalu mengirimkannya ketika sudah merasa yakin. Ada waktu untuk berpikir sebelum memberikan respons.

Cozy Café Study Session
Baca Juga

Nugas di Coffee Shop: Produktif atau Sekadar Mencari Suasana?

Berbeda dengan komunikasi langsung. Ketika berbicara, kita harus merangkai kalimat secara spontan, memperhatikan lawan bicara, sekaligus menyesuaikan respons dengan situasi. Semuanya terjadi dalam waktu nyata.

Bagi sebagian orang, kondisi ini terasa jauh lebih menantang dibandingkan mengetik pesan yang bisa diperiksa berkali-kali sebelum dikirim.

Bukan berarti media sosial membuat Gen Z tidak mampu berbicara. Anggapan seperti itu tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Namun, kebiasaan berkomunikasi melalui layar bisa membuat sebagian orang merasa lebih nyaman mengekspresikan diri lewat tulisan daripada berbicara secara langsung.

Apalagi, dalam percakapan digital, kita memiliki kesempatan untuk memilih kata, menggunakan emoji, atau menunda balasan ketika belum menemukan jawaban yang tepat. Sementara dalam komunikasi tatap muka, jeda yang terlalu lama terkadang justru membuat seseorang semakin gugup.

Di sinilah public speaking menjadi keterampilan yang penting untuk dipelajari. Kita bukan hanya belajar menyusun kata-kata, tetapi juga membiasakan diri menyampaikan pikiran tanpa terlalu bergantung pada kesempatan untuk mengedit setiap kalimat.

Public Speaking Bukan Lomba Siapa yang Paling Percaya Diri

Ada anggapan bahwa orang yang jago public speaking pasti ekstrovert, banyak bicara, dan selalu percaya diri. Padahal, kemampuan berbicara di depan umum tidak sesederhana itu.

Orang yang pendiam pun bisa menjadi pembicara yang baik. Sebaliknya, orang yang terbiasa berbicara belum tentu mampu menyampaikan gagasannya secara jelas dan terstruktur.

Menurut saya, inti dari public speaking bukan tentang siapa yang paling lantang atau paling menarik perhatian. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menyampaikan pesan agar bisa dipahami oleh orang lain.

Kita juga tidak harus menghilangkan rasa gugup sepenuhnya. Ada orang yang masih merasa gugup sebelum presentasi, tetapi tetap mampu menyampaikan materinya dengan baik.

Artinya, percaya diri bukan selalu tentang tidak merasa takut, melainkan tentang keberanian untuk tetap mencoba meskipun rasa takut itu masih ada.

Penelitian Gallego dan rekan-rekannya (2022) turut membahas kecemasan berbicara di depan umum melalui berbagai aspek, termasuk pengalaman subjektif, perilaku, dan respons fisiologis. Ini menunjukkan bahwa rasa gugup saat berbicara tidak hanya berkaitan dengan pikiran, tetapi juga dapat terlihat melalui respons tubuh.

IKLAN

Jadi, kalau tangan mulai dingin atau suara sedikit bergetar saat presentasi, bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan berbicara. Bisa jadi, tubuh sedang merespons situasi yang dianggap menegangkan.

Mulai dari Berani Bicara, Bukan Menunggu Sempurna

Lalu, bagaimana cara mulai melatih kemampuan berbicara di depan umum?

Kita tidak harus langsung menjadi pembicara yang tampil di hadapan ratusan orang. Ada banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, mulai berani menyampaikan pendapat saat diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan ketika ada materi yang belum dipahami, atau mencoba menjelaskan suatu topik tanpa terus-menerus membaca catatan.

Kita juga bisa berlatih berbicara sendiri di depan cermin atau merekam suara saat menjelaskan sesuatu. Dari situ, kita dapat mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki, mulai dari kejelasan ucapan, penggunaan intonasi, hingga cara menyusun penjelasan agar lebih mudah dipahami.

National Communication Association (2014) membahas pentingnya pendekatan pembelajaran yang membantu mahasiswa menghadapi ketakutan ketika berbicara di depan umum. Sementara itu, kajian meta-analisis Allen, Hunter, dan Donohue (1989) menelaah efektivitas berbagai teknik dalam menangani kecemasan berbicara di depan umum.

Kedua referensi tersebut memperkuat pemahaman bahwa kecemasan berbicara bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja tanpa upaya perbaikan. Keterampilan komunikasi dapat dikembangkan melalui proses belajar dan latihan yang sesuai.

Yang tidak kalah penting, jangan menjadikan satu kesalahan sebagai alasan untuk berhenti mencoba.

Salah menyebutkan kata, kehilangan alur pembicaraan, atau merasa gugup saat presentasi merupakan pengalaman yang bisa terjadi kepada siapa saja. Kita tidak harus langsung hebat pada percobaan pertama.

Semakin sering berlatih, semakin banyak kesempatan untuk mengenali kekurangan dan memperbaikinya. Prosesnya mungkin tidak selalu mudah, tetapi kemampuan berbicara dapat berkembang apabila terus diasah.

Jangan Sampai Ide Bagus Berhenti di Kepala

Pada akhirnya, public speaking bukan sekadar keterampilan untuk mendapatkan nilai bagus saat presentasi. Kemampuan ini juga berkaitan dengan cara kita menyampaikan gagasan, membangun hubungan dengan orang lain, dan memanfaatkan kesempatan yang datang.

Dalam kehidupan perkuliahan, misalnya, kemampuan berbicara dapat membantu mahasiswa menyampaikan pendapat saat diskusi, menjelaskan hasil tugas kelompok, hingga berpartisipasi dalam kegiatan organisasi.

Begitu pula ketika memasuki dunia kerja. Kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas menjadi salah satu bekal penting untuk berkomunikasi dengan rekan kerja, mengikuti wawancara, ataupun mempresentasikan suatu pekerjaan.

Kita boleh menjadi orang yang pendiam. Kita boleh merasa gugup. Kita juga boleh membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun kata-kata. Semua itu bukan alasan untuk menganggap diri sendiri tidak mampu.

Namun, akan sangat disayangkan jika kita terus memilih diam hanya karena takut melakukan kesalahan. Sebab, orang lain tidak akan pernah mengetahui gagasan yang kita miliki jika kita tidak pernah mencoba menyampaikannya.

Jadi, kalau selama ini kamu merasa jago mengetik tetapi mendadak nge-lag saat harus berbicara, mungkin sudah waktunya memberi diri sendiri kesempatan untuk mencoba.

Tidak perlu menunggu sampai rasa percaya diri datang sepenuhnya. Mulailah dari satu pertanyaan, satu pendapat, atau satu percakapan sederhana.

Mic boleh bikin gugup, suara boleh bergetar, tetapi jangan sampai rasa takut membuat ide bagus cuma jadi penghuni kepala.

Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa sempurna kita berbicara, melainkan seberapa berani kita memberi suara pada apa yang kita pikirkan.


Referensi

Allen, M., Hunter, J. E., & Donohue, W. A. (1989). Meta-analysis of self-report data on the effectiveness of public speaking anxiety treatment techniques. Communication Education, 38(1), 54–76. DOI: 10.1080/03634528909378740.

Gallego, A., McHugh, L., Villatte, M., & Lappalainen, R. (2022). Measuring Public Speaking Anxiety: Self-report, Behavioral, and Physiological.

Lintner, T., & Belovecová, B. (2024). Demographic predictors of public speaking anxiety among university students. Current Psychology, 43, 25215–25223. DOI: 10.1007/s12144-024-06216-w.

National Communication Association. (2014). Instructor's Corner #1: Teaching Students to Face Their Fears Eases Public Speaking Anxiety.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/jago-ngetik-giliran-ngomong-malah-nge-lag-ada-apa-dengan-public-speaking-gen-z/98216/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.38 WITA

  • #Gen Z
  • #Mahasiswa
  • #Public Speaking
  • #kecemasan sosial
  • #keterampilan
  • #komunikasi
  • #tips berbicara

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

Pilihan Editor

  1. 1 Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel
  2. 2

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  3. 3

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

  4. 4

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  5. 5

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.