JurnalPost.com - Punya banyak ide di kepala, lancar berpendapat lewat chat, tetapi mendadak kehilangan kata-kata saat harus berbicara di depan umum. Jangan-jangan, masalahnya bukan karena tidak bisa ngomong, melainkan terlalu takut untuk memulai.
Pernah nggak sih, kamu sudah menyusun jawaban di kepala, bahkan sampai membayangkan bagaimana cara menyampaikannya, tetapi begitu diberi kesempatan bicara, semuanya malah buyar? Mulut terasa kaku, jantung berdegup lebih cepat, dan ujung-ujungnya memilih diam. Padahal, setelah kesempatan itu lewat, baru terpikir berbagai jawaban yang sebenarnya bisa disampaikan.
Situasi seperti ini mungkin terdengar familier, terutama bagi mahasiswa yang sering berhadapan dengan presentasi, diskusi kelas, atau kegiatan organisasi. Menariknya, sebagian dari kita justru bisa sangat ekspresif ketika berkomunikasi lewat chat. Bisa bercanda, berdebat, bahkan menyampaikan pendapat panjang lebar. Namun, ketika harus berbicara langsung di depan banyak orang, mendadak seperti kehilangan kemampuan berbahasa.
Lalu, sebenarnya kenapa berbicara di depan umum terasa sesulit itu?
Terlalu Sibuk Memikirkan Penilaian Orang Lain
Menurut saya, salah satu hal yang membuat public speaking terasa menakutkan bukan semata-mata karena kita tidak pandai berbicara, melainkan karena terlalu memikirkan respons orang lain.
Sebelum mulai bicara, pikiran kita sudah dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana kalau salah ngomong? Bagaimana kalau pendapat kita dianggap aneh? Bagaimana kalau ada yang menertawakan cara kita berbicara? Bahkan, terkadang kita lebih dulu membayangkan kegagalan sebelum benar-benar mencoba.
Akhirnya, diam terasa menjadi pilihan paling aman.
Padahal, kebiasaan ini bisa membuat kita melewatkan banyak kesempatan. Ada ide yang sebenarnya menarik, tetapi tidak pernah disampaikan. Ada pertanyaan yang ingin diajukan, tetapi akhirnya dipendam. Ada kesempatan untuk menunjukkan kemampuan diri, tetapi dilewatkan hanya karena takut terlihat tidak sempurna.
Rasa takut tersebut bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan. Penelitian Lintner dan Belovecová (2024) membahas kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa dan faktor-faktor yang berkaitan dengannya. Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan dalam situasi berbicara di hadapan orang lain merupakan persoalan yang relevan untuk diperhatikan dalam lingkungan akademik.
Namun, belum tentu orang lain memperhatikan kesalahan kita sebesar yang kita bayangkan. Terkadang, justru kita sendiri yang terlalu keras menilai diri sendiri.
Nyaman di Balik Layar, Canggung Saat Bertatap Muka
Kehidupan digital membuat komunikasi terasa lebih praktis. Kita bisa menyusun pesan terlebih dahulu, menghapus bagian yang kurang cocok, lalu mengirimkannya ketika sudah merasa yakin. Ada waktu untuk berpikir sebelum memberikan respons.
Berbeda dengan komunikasi langsung. Ketika berbicara, kita harus merangkai kalimat secara spontan, memperhatikan lawan bicara, sekaligus menyesuaikan respons dengan situasi. Semuanya terjadi dalam waktu nyata.
Bagi sebagian orang, kondisi ini terasa jauh lebih menantang dibandingkan mengetik pesan yang bisa diperiksa berkali-kali sebelum dikirim.
Bukan berarti media sosial membuat Gen Z tidak mampu berbicara. Anggapan seperti itu tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Namun, kebiasaan berkomunikasi melalui layar bisa membuat sebagian orang merasa lebih nyaman mengekspresikan diri lewat tulisan daripada berbicara secara langsung.
Apalagi, dalam percakapan digital, kita memiliki kesempatan untuk memilih kata, menggunakan emoji, atau menunda balasan ketika belum menemukan jawaban yang tepat. Sementara dalam komunikasi tatap muka, jeda yang terlalu lama terkadang justru membuat seseorang semakin gugup.
Di sinilah public speaking menjadi keterampilan yang penting untuk dipelajari. Kita bukan hanya belajar menyusun kata-kata, tetapi juga membiasakan diri menyampaikan pikiran tanpa terlalu bergantung pada kesempatan untuk mengedit setiap kalimat.
Public Speaking Bukan Lomba Siapa yang Paling Percaya Diri
Ada anggapan bahwa orang yang jago public speaking pasti ekstrovert, banyak bicara, dan selalu percaya diri. Padahal, kemampuan berbicara di depan umum tidak sesederhana itu.
Orang yang pendiam pun bisa menjadi pembicara yang baik. Sebaliknya, orang yang terbiasa berbicara belum tentu mampu menyampaikan gagasannya secara jelas dan terstruktur.
Menurut saya, inti dari public speaking bukan tentang siapa yang paling lantang atau paling menarik perhatian. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menyampaikan pesan agar bisa dipahami oleh orang lain.
Kita juga tidak harus menghilangkan rasa gugup sepenuhnya. Ada orang yang masih merasa gugup sebelum presentasi, tetapi tetap mampu menyampaikan materinya dengan baik.
Artinya, percaya diri bukan selalu tentang tidak merasa takut, melainkan tentang keberanian untuk tetap mencoba meskipun rasa takut itu masih ada.
Penelitian Gallego dan rekan-rekannya (2022) turut membahas kecemasan berbicara di depan umum melalui berbagai aspek, termasuk pengalaman subjektif, perilaku, dan respons fisiologis. Ini menunjukkan bahwa rasa gugup saat berbicara tidak hanya berkaitan dengan pikiran, tetapi juga dapat terlihat melalui respons tubuh.
Jadi, kalau tangan mulai dingin atau suara sedikit bergetar saat presentasi, bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan berbicara. Bisa jadi, tubuh sedang merespons situasi yang dianggap menegangkan.
Mulai dari Berani Bicara, Bukan Menunggu Sempurna
Lalu, bagaimana cara mulai melatih kemampuan berbicara di depan umum?
Kita tidak harus langsung menjadi pembicara yang tampil di hadapan ratusan orang. Ada banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, mulai berani menyampaikan pendapat saat diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan ketika ada materi yang belum dipahami, atau mencoba menjelaskan suatu topik tanpa terus-menerus membaca catatan.
Kita juga bisa berlatih berbicara sendiri di depan cermin atau merekam suara saat menjelaskan sesuatu. Dari situ, kita dapat mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki, mulai dari kejelasan ucapan, penggunaan intonasi, hingga cara menyusun penjelasan agar lebih mudah dipahami.
National Communication Association (2014) membahas pentingnya pendekatan pembelajaran yang membantu mahasiswa menghadapi ketakutan ketika berbicara di depan umum. Sementara itu, kajian meta-analisis Allen, Hunter, dan Donohue (1989) menelaah efektivitas berbagai teknik dalam menangani kecemasan berbicara di depan umum.
Kedua referensi tersebut memperkuat pemahaman bahwa kecemasan berbicara bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja tanpa upaya perbaikan. Keterampilan komunikasi dapat dikembangkan melalui proses belajar dan latihan yang sesuai.
Yang tidak kalah penting, jangan menjadikan satu kesalahan sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
Salah menyebutkan kata, kehilangan alur pembicaraan, atau merasa gugup saat presentasi merupakan pengalaman yang bisa terjadi kepada siapa saja. Kita tidak harus langsung hebat pada percobaan pertama.
Semakin sering berlatih, semakin banyak kesempatan untuk mengenali kekurangan dan memperbaikinya. Prosesnya mungkin tidak selalu mudah, tetapi kemampuan berbicara dapat berkembang apabila terus diasah.
Jangan Sampai Ide Bagus Berhenti di Kepala
Pada akhirnya, public speaking bukan sekadar keterampilan untuk mendapatkan nilai bagus saat presentasi. Kemampuan ini juga berkaitan dengan cara kita menyampaikan gagasan, membangun hubungan dengan orang lain, dan memanfaatkan kesempatan yang datang.
Dalam kehidupan perkuliahan, misalnya, kemampuan berbicara dapat membantu mahasiswa menyampaikan pendapat saat diskusi, menjelaskan hasil tugas kelompok, hingga berpartisipasi dalam kegiatan organisasi.
Begitu pula ketika memasuki dunia kerja. Kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas menjadi salah satu bekal penting untuk berkomunikasi dengan rekan kerja, mengikuti wawancara, ataupun mempresentasikan suatu pekerjaan.
Kita boleh menjadi orang yang pendiam. Kita boleh merasa gugup. Kita juga boleh membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun kata-kata. Semua itu bukan alasan untuk menganggap diri sendiri tidak mampu.
Namun, akan sangat disayangkan jika kita terus memilih diam hanya karena takut melakukan kesalahan. Sebab, orang lain tidak akan pernah mengetahui gagasan yang kita miliki jika kita tidak pernah mencoba menyampaikannya.
Jadi, kalau selama ini kamu merasa jago mengetik tetapi mendadak nge-lag saat harus berbicara, mungkin sudah waktunya memberi diri sendiri kesempatan untuk mencoba.
Tidak perlu menunggu sampai rasa percaya diri datang sepenuhnya. Mulailah dari satu pertanyaan, satu pendapat, atau satu percakapan sederhana.
Mic boleh bikin gugup, suara boleh bergetar, tetapi jangan sampai rasa takut membuat ide bagus cuma jadi penghuni kepala.
Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa sempurna kita berbicara, melainkan seberapa berani kita memberi suara pada apa yang kita pikirkan.
Referensi
Allen, M., Hunter, J. E., & Donohue, W. A. (1989). Meta-analysis of self-report data on the effectiveness of public speaking anxiety treatment techniques. Communication Education, 38(1), 54–76. DOI: 10.1080/03634528909378740.
Gallego, A., McHugh, L., Villatte, M., & Lappalainen, R. (2022). Measuring Public Speaking Anxiety: Self-report, Behavioral, and Physiological.
Lintner, T., & Belovecová, B. (2024). Demographic predictors of public speaking anxiety among university students. Current Psychology, 43, 25215–25223. DOI: 10.1007/s12144-024-06216-w.
National Communication Association. (2014). Instructor's Corner #1: Teaching Students to Face Their Fears Eases Public Speaking Anxiety.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda