MALANG, JurnalPost.com – Mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer) Malang yang tengah menjalankan program pengabdian masyarakat berhasil mengubah lahan kosong di lingkungan SDN 3 Pandanlandung, Kabupaten Malang, menjadi green corner atau sudut hijau yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran sekaligus area budidaya sayuran bagi siswa.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari program bertajuk “Gerak Hijau: Optimalisasi Lahan Kosong Melalui Penanaman dan Green Corner untuk Sekolah Berkelanjutan”. Program ini diarahkan untuk mengoptimalkan lahan sekolah yang sebelumnya belum dimanfaatkan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Program Gerak Hijau dilaksanakan oleh mahasiswa dari berbagai program studi Hukum di Universitas Merdeka Malang, mulai dari Teknik Mesin, Psikologi, Teknik Industri, Manajemen, Ilmu Komunikasi, hingga Administrasi Bisnis.
Ketua Tim Pengabdian Gerak Hijau Unmer Malang, Arya Panca Wiguna, mengatakan pelaksanaan program turut melibatkan pemerintah desa serta pihak sekolah sebagai mitra.
“Kami melibatkan pihak Desa Pandanlandung dan pihak SDN 3 Pandanlandung sebagai mitra dalam menjalankan program ini,” ujar Arya.
Melalui pendekatan edukatif dan pemanfaatan lahan secara tepat guna, mahasiswa Kelompok 20 mengubah lahan berukuran sekitar 6 x 8 meter yang sebelumnya belum terawat menjadi kawasan hijau yang lebih tertata.
Sebelum program dilaksanakan, kondisi lahan dinilai belum optimal. Permukaan tanah tidak rata, terdapat sejumlah sampah, termasuk sisa pembakaran, serta belum terdapat penataan yang memungkinkan area tersebut digunakan sebagai tempat pembelajaran bagi siswa.
Setelah melalui proses penataan, lahan tersebut kini berubah menjadi green corner yang dapat digunakan oleh siswa SDN 3 Pandanlandung untuk mengenal berbagai kegiatan berkaitan dengan tanaman, lingkungan, dan budidaya sayuran.
Menurut Arya, pembangunan green corner tidak semata-mata bertujuan memperindah lingkungan sekolah. Area tersebut juga dirancang sebagai media pembelajaran interaktif bagi siswa.
“Program ini bukan hanya ditujukan untuk mempercantik lahan saja, namun juga digunakan sebagai media edukasi interaktif bagi siswa dan siswi terkait kegiatan menanam, ketahanan pangan, dan cinta lingkungan,” kata Arya.
Dibangun Bertahap Selama Sebulan
Proses pembangunan green corner dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Kegiatan dimulai dengan survei lokasi dan penyusunan perencanaan program sebelum memasuki tahap pelaksanaan.
Mahasiswa kemudian melakukan pembersihan area, penggemburan tanah, pemasangan rumput Jepang, penataan bebatuan, hingga tahap akhir berupa pengecatan serta pemasangan papan nama green corner.
Setelah pembangunan selesai, tim juga melakukan evaluasi untuk memastikan kawasan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dan memiliki peluang untuk terus dikembangkan oleh pihak sekolah.
Tak berhenti pada pembangunan fisik, mahasiswa juga memberikan kegiatan sosialisasi kepada siswa mengenai cara menanam dan pentingnya menjaga lingkungan.
Sosialisasi dilakukan sebelum para siswa diajak melakukan praktik penanaman secara langsung. Kegiatan tersebut diikuti secara bergantian oleh siswa mulai dari kelas I hingga kelas VI.
Dalam praktiknya, para siswa diajak menanam sejumlah bibit sayuran, antara lain selada air dan pakcoy. Melalui aktivitas tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam proses bercocok tanam.
Mahasiswa berharap kegiatan tersebut dapat membantu siswa memahami bahwa lahan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan secara produktif, termasuk untuk memenuhi kebutuhan tanaman pangan dalam skala sederhana.
Selain itu, pengalaman menanam sejak dini diharapkan mampu membentuk kebiasaan positif dalam menjaga lingkungan.

Sekolah Berkomitmen Melanjutkan Perawatan
Kehadiran green corner mendapat respons positif dari pihak SDN 3 Pandanlandung. Salah seorang guru, Pak Han, mengatakan area hijau tersebut membuat suasana sekolah menjadi lebih menarik sekaligus menyediakan ruang tambahan yang dapat dimanfaatkan oleh siswa.
“Saya merasa adanya green corner ini membuat sekolah lebih berwarna. Sekolah ini jadi punya taman yang bisa digunakan oleh anak-anak,” ujar Pak Han.
Pihak sekolah juga menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan perawatan green corner secara mandiri setelah program pengabdian mahasiswa selesai.
Perawatan tersebut mencakup pemeliharaan tanaman, kebersihan kawasan, hingga melanjutkan budidaya berbagai jenis sayuran yang telah ditanam.
Keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam program Gerak Hijau. Mahasiswa berharap green corner tidak hanya menjadi proyek sementara selama kegiatan pengabdian berlangsung, tetapi dapat terus digunakan sebagai bagian dari pembelajaran siswa di sekolah.
Ke depan, area tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi sarana edukasi lingkungan yang memungkinkan siswa mengenal proses menanam, merawat tanaman, memahami pentingnya ketahanan pangan, serta membangun rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Program Gerak Hijau juga menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan sekolah tidak harus membutuhkan kawasan yang luas. Dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat, lahan kosong berukuran terbatas pun dapat dikembangkan menjadi ruang edukatif dan produktif.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, guru, dan siswa, green corner SDN 3 Pandanlandung diharapkan terus berkembang sekaligus menjadi salah satu contoh sederhana penerapan pendidikan lingkungan berkelanjutan di lingkungan sekolah. (rrf)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda