PEMALANG, JurnalPost.com – Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan bagian penting dalam mendukung pelayanan rumah sakit yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. Tenaga kesehatan maupun petugas administrasi menghadapi risiko kerja yang berbeda sehingga upaya pencegahan perlu disesuaikan dengan aktivitas dan kondisi lingkungan masing-masing.
Pada Unit Rekam Medis, penggunaan komputer dalam waktu lama membuat ergonomi dan kesehatan mata perlu mendapat perhatian. Sementara itu, perawat yang terlibat langsung dalam pelayanan pasien perlu memahami potensi bahaya kerja serta membangun kebiasaan yang mendukung keselamatan.
Kedua aspek tersebut saling melengkapi. Ergonomi membantu menyesuaikan pekerjaan, peralatan, dan lingkungan dengan kebutuhan pekerja. Adapun budaya keselamatan mendorong seluruh petugas untuk mengenali risiko, mengikuti prosedur, berkomunikasi, serta melaporkan insiden dan kondisi tidak aman.
Penerapan keduanya dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja rumah sakit yang lebih sehat dan aman.
Ergonomi dan Pencegahan Computer Vision Syndrome pada Petugas Rekam Medis
Petugas rekam medis menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari pencatatan, pengolahan, penelusuran, hingga pengelolaan informasi kesehatan pasien. Pekerjaan yang melibatkan penggunaan komputer secara berulang dan dalam durasi panjang perlu didukung oleh fasilitas serta kebiasaan kerja yang ergonomis.
Salah satu keluhan yang perlu dikenali adalah Computer Vision Syndrome (CVS), yaitu kumpulan keluhan pada mata dan penglihatan yang berkaitan dengan penggunaan komputer atau perangkat digital.
Keluhan yang dapat muncul antara lain mata lelah, mata kering, pandangan kabur, dan ketidaknyamanan ketika melihat layar. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan durasi penggunaan komputer, kebiasaan beristirahat, jarak pandang, posisi monitor, serta pencahayaan.
Meski demikian, keluhan visual tidak dapat langsung dipastikan sebagai CVS tanpa mempertimbangkan kondisi dan faktor penyebab lainnya.
Ergonomi kerja tidak hanya berkaitan dengan posisi duduk, tetapi juga mencakup penempatan monitor, penggunaan keyboard dan mouse, kesesuaian meja dan kursi, serta pengaturan pencahayaan.
Postur yang kurang sesuai dan kebiasaan mempertahankan posisi yang sama dalam waktu lama juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada leher, bahu, punggung, dan bagian tubuh lainnya.

Praktik Ergonomi yang Perlu Diperhatikan
Beberapa praktik ergonomi sederhana yang dapat diterapkan oleh petugas rekam medis meliputi:
Posisi duduk dan postur tubuh. Pastikan punggung mendapat penopang yang baik dan kaki tidak menggantung saat bekerja.
Posisi dan jarak pandang monitor. Tempatkan layar pada posisi yang nyaman dilihat tanpa harus terus-menerus menunduk atau menengadah.
Penggunaan keyboard dan mouse. Letakkan perangkat agar mudah dijangkau sehingga tangan tidak perlu terlalu menekuk atau menjangkau terlalu jauh.
Pengaturan pencahayaan. Perhatikan kondisi cahaya ruangan dan kurangi silau yang berasal dari lampu maupun pantulan pada layar.
Durasi kerja dan istirahat. Imbangi penggunaan komputer dengan jeda yang sesuai, perubahan posisi tubuh, serta relaksasi sederhana.
Budaya Keselamatan dan Perilaku Kerja Aman pada Perawat
Dalam pelayanan rumah sakit, perawat perlu memahami berbagai potensi bahaya yang berkaitan dengan pajanan biologis, penggunaan benda tajam, bahan kimia, serta aktivitas fisik.
Pengetahuan mengenai bahaya dan upaya pencegahannya perlu didukung oleh budaya keselamatan yang menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Budaya keselamatan tercermin melalui kebiasaan mengikuti standar operasional prosedur (SOP), menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai risiko, berkomunikasi mengenai potensi bahaya, serta melaporkan insiden dan kondisi tidak aman melalui mekanisme resmi.
Perilaku berisiko perlu diidentifikasi secara objektif dengan orientasi pada perbaikan sistem kerja, bukan untuk menyalahkan individu.
Pengetahuan K3 membantu perawat mengenali bahaya dan menentukan tindakan pencegahan yang sesuai. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi pengenalan bahaya di lingkungan rumah sakit, pemilihan dan penggunaan APD sesuai risiko, serta penerapan kebersihan tangan berdasarkan prosedur pencegahan dan pengendalian infeksi.
Selain itu, penanganan dan pembuangan benda tajam harus mengikuti prosedur yang berlaku. Pelaporan insiden, pajanan, maupun kondisi tidak aman juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan kerja yang lebih aman.
Penerapan K3 tidak hanya bergantung pada pengetahuan individu. Beban kerja, ketersediaan fasilitas, akses terhadap APD, dukungan pimpinan, komunikasi antarp petugas, dan kebijakan organisasi juga dapat memengaruhi praktik keselamatan.
Oleh karena itu, penilaian dan perbaikan perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan kerja serta dukungan sistem secara menyeluruh.
Program Edukasi di RSU Comal Baru
Dua rancangan kegiatan magang di RSU Comal Baru mengangkat edukasi sebagai salah satu upaya untuk mendukung pembentukan kebiasaan kerja yang lebih baik.
Pada Unit Rekam Medis, program “SEHAT KERJA REKAM MEDIS” dirancang untuk memperkuat penerapan ergonomi melalui identifikasi kondisi awal, penyusunan materi edukasi, pembuatan poster, sosialisasi, dan evaluasi sederhana.
Pesan utama program tersebut meliputi pengaturan posisi duduk, penyesuaian posisi monitor, penggunaan keyboard dan mouse secara nyaman, perhatian terhadap pencahayaan dan sumber silau, serta kebiasaan mengubah posisi tubuh dan memanfaatkan jeda kerja.
Pesan-pesan tersebut diharapkan menjadi pengingat visual yang mudah dipahami dan diterapkan sesuai kondisi tempat kerja.
Sementara itu, bagi perawat, program “PERAWAT PEDULI K3” dirancang dalam bentuk sosialisasi dan pembagian leaflet untuk mendukung budaya keselamatan serta perilaku kerja aman.
Tahapan kegiatan direncanakan meliputi koordinasi dengan pembimbing dan unit terkait, identifikasi kebutuhan edukasi, penyusunan dan validasi materi, pelaksanaan sosialisasi, serta evaluasi.
Materi akhir perlu disesuaikan dengan hasil identifikasi awal, kemudian ditinjau dan disetujui oleh pihak rumah sakit sebelum digunakan.
Identifikasi kebutuhan menjadi langkah penting agar materi edukasi tidak didasarkan pada asumsi mengenai kondisi ergonomi, keluhan petugas, tingkat pengetahuan, maupun perilaku perawat.
Pengamatan juga perlu dilakukan sesuai izin dan kondisi lapangan, tidak mengganggu pelayanan, tidak mengakses dokumen rahasia tanpa izin, serta tidak mengumpulkan identitas maupun data pasien.
Evaluasi dan Keberlanjutan Program
Evaluasi program ergonomi direncanakan untuk menilai keterlaksanaan kegiatan, pemahaman petugas terhadap materi, serta penerapan praktik ergonomi sederhana setelah sosialisasi.
Luaran pendukung dapat berupa lembar observasi risiko ergonomi, materi edukasi singkat, checklist atau pengingat praktik, serta rekomendasi tindak lanjut bagi Unit Rekam Medis.
Pada program PERAWAT PEDULI K3, evaluasi direncanakan berfokus pada proses pelaksanaan, jangkauan peserta, distribusi media, dan umpan balik yang diperbolehkan.
Indikator awal dapat mencakup persetujuan kegiatan, tersedianya leaflet yang telah ditelaah, terlaksananya sesi sosialisasi, pencatatan jumlah peserta dan leaflet, serta tersedianya ringkasan evaluasi dan rekomendasi.
Evaluasi pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan hanya dilakukan apabila instrumen dan metodenya telah memperoleh persetujuan. Hasilnya disampaikan secara agregat dan tidak digunakan untuk memberikan penilaian negatif terhadap individu.
Seluruh kegiatan tetap perlu menyesuaikan kondisi nyata di lapangan, persetujuan pihak terkait, SOP, kebijakan resmi rumah sakit, serta kelancaran pelayanan.
Keberlanjutan program diharapkan tidak berhenti pada tersedianya poster atau leaflet, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan media edukasi sebagai pengingat dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Membangun Lingkungan Kerja yang Sehat dan Aman
Lingkungan kerja rumah sakit yang sehat dan aman membutuhkan keterlibatan petugas, pimpinan, dan organisasi.
Bagi petugas rekam medis, pengaturan tempat kerja, pencahayaan, postur tubuh, dan kebiasaan beristirahat merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, bagi perawat, pengenalan bahaya, penggunaan APD sesuai risiko, kebersihan tangan, penanganan benda tajam, kepatuhan terhadap SOP, serta pelaporan kondisi tidak aman menjadi bagian dari praktik kerja yang bertanggung jawab.
Melalui program SEHAT KERJA REKAM MEDIS dan PERAWAT PEDULI K3, edukasi direncanakan sebagai salah satu kontribusi untuk meningkatkan kesadaran dan mendukung perbaikan kebiasaan kerja.
Upaya ini perlu berjalan seiring dengan penyediaan fasilitas yang sesuai, prosedur yang jelas, komunikasi yang efektif, serta dukungan organisasi.
Dengan pendekatan tersebut, rumah sakit dapat terus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih nyaman, sehat, dan aman bagi seluruh petugas sekaligus mendukung pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda