Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Featured
  3. Sejenak Menjauh, Perlahan Pulih: Kisah Me Time di Pelukan Alam

Sejenak Menjauh, Perlahan Pulih: Kisah Me Time di Pelukan Alam

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
23 Mei 2026, 01.50 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
12 menit baca
Pulau
Di Pohon Sejuta Umat, Pulau Banda Besar, bentangan laut yang tenang berpadu dengan rimbunnya pepohonan menghadirkan suasana teduh dan hening, menjadi ruang sederhana untuk berhenti sejenak. Foto: Dokumentasi Pribadi Zaidan, Sabtu (05/07/2025).

Marsella Queen Al Maudy

Oleh: Marsella Queen Al Maudy

IKLAN

JurnalPost.com - Langkah kaki terasa sedikit lebih lambat malam itu. Jalanan menuju The Ruum by Sapa Seduh dipenuhi lampu-lampu temaram yang memantul di aspal basah sisa hujan sore. Udara membawa aroma kopi yang samar, seolah menjadi pengantar sebelum percakapan benar-benar dimulai. Di tempat itulah, janji temu yang sempat tertunda akhirnya menemukan waktunya. Kami duduk berhadapan, saya, Sandy (22), Brian (21), dan Safira (21), di sudut ruang yang tidak terlalu ramai, membiarkan malam menjadi saksi obrolan tentang satu hal sederhana: jeda.

km tilongkabila dan masyarakat pelabuhan
Baca Juga

KM Tilongkabila dan Masyarakat Pelabuhan: Kisah Perjalanan, Perjuangan Hidup, dan Harapan di Setiap Dermaga

Percakapan mengalir tanpa tergesa. Di sela suara mesin kopi dan bisik-bisik pengunjung lain, dimulailah cerita tentang bagaimana “menjauh sejenak” bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Bukan untuk lari dari kehidupan, tetapi untuk kembali dengan versi diri yang lebih utuh. Ada lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan, ada riuh yang kadang terlalu penuh untuk ditampung sendiri. Di situlah, alam dalam berbagai bentuknya mulai menjadi tujuan.

Namun, tidak semua cerita bisa dijangkau dalam satu ruang yang sama. Jarak membawa kisah lain untuk tetap hadir, meski melalui layar. Beberapa hari setelah pertemuan itu, saya terhubung dengan Zaidan (22) melalui panggilan virtual. Layar Zoom menjadi jembatan antara Yogyakarta dan Bandar Lampung, menghadirkan wajah yang berbeda, tetapi dengan keresahan yang serupa. Suaranya kadang terpotong jaringan, namun justru di sela-sela jeda itulah, ceritanya terasa semakin nyata, tentang perjalanan-perjalanan sunyi yang ia pilih, tentang laut, danau, hingga bentangan Bukit Barisan yang menjadi ruang pelarian.

Di luar percakapan itu, bayangan tentang alam perlahan mengambil bentuk yang lebih luas. Jika gunung kerap menjadi simbol utama pelarian, kini lanskapnya melebar, seperti laut yang tak bertepi, ombak yang datang dan pergi seperti napas, danau yang tenang seperti cermin bagi pikiran, hingga perbukitan yang memeluk sunyi tanpa banyak suara. Di setiap tempat itu, waktu seolah berjalan dengan cara berbeda, lebih pelan, lebih lapang, memberi ruang bagi pikiran untuk tidak selalu terburu-buru. Alam tidak menawarkan jawaban, tetapi menghadirkan jeda yang cukup untuk memahami pertanyaan-pertanyaan dalam diri. Ada rasa lega yang datang tanpa disadari, saat manusia berhenti sejenak dari tuntutan untuk terus bergerak. Di sanalah, perlahan seseorang mulai menemukan kembali dirinya yang sempat tertinggal.

Pulau Di Pohon Sejuta Umat, Pulau Banda Besar, bentangan laut yang tenang berpadu dengan rimbunnya pepohonan menghadirkan suasana teduh dan hening, menjadi ruang sederhana untuk berhenti sejenak. Foto: Dokumentasi Pribadi Zaidan, Sabtu (05/07/2025).

foto mang venus
Baca Juga

Siapa MING VENUS? DJ Asal Surabaya yang Punya 101 Ribu Followers TikTok

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan akan me time semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda. Data dari laporan kesehatan mental global oleh Word Health Organization (2022) menunjukkan bahwa tingkat stres dan kecemasan meningkat signifikan pascapandemi, mendorong individu mencari cara alami untuk memulihkan diri. Penulis dan pendaki bernama Fiersa Besari dalam beberapa tulisannya (sekitar 2018-2021) juga kerap menyinggung bagaimana alam bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, tetapi ruang untuk berdamai. Ia menggambarkan bahwa di tengah sunyi alam, manusia justru menemukan suara dirinya yang paling jujur, sesuatu yang hilang di tengah hiruk-pikuk kota.

Fenomena Di Gunung Sindoro, hamparan bebatuan diselimuti kabut tebal menghadirkan suasana sunyi dan tenang, menjadi ruang refleksi bagi siapa pun yang datang untuk sejenak menjauh dari riuhnya kehidupan. Foto: Dokumentasi Pribadi Sandy, Minggu (13/07/2025).

Mungkin benar, ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata ketika seseorang benar-benar berada di tengah alam. Waktu terasa melambat, seolah dunia memberi izin untuk berhenti tanpa rasa bersalah. Langit yang terbuka lebar merentangkan ruang bagi pikiran yang selama ini sempit oleh rutinitas, sementara udara perlahan menyentuh kulit dan menenangkan detak yang sempat berlari terlalu cepat. Alam, dalam segala bentuknya, menerima manusia dalam wujudnya yang paling jujur.

Ketika Gen Z Butuh Jeda

Amaia
Baca Juga

Sempat Ragu Pilih Matematika atau Ekonomi, Amaia Berhasil Raih Medali Perunggu OSN 2026

Bagi generasi Z, hidup sejalan dalam tempo yang nyaris tanpa jeda. Tuntutan akademik, pekerjaan, relasi sosial, hingga tekanan dari media sosial menciptakan ritme yang melelahkan. Di tengah itu semua, istilah me time bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan. Menariknya, pilihan untuk beristirahat tidak selalu jatuh pada ruang-ruang modern, seperti kafe estetik atau kamar yang nyaman. Sebagian justru memilih kembali ke alam, ke tempat di mana sinyal melemah, tetapi kesadaran diri justru menguat.

Fenomena ini bukan hanya milik satu dua orang. Ada banyak yang merasakan hal serupa, kelelahan yang tidak selalu bisa dijelaskan, dan kebutuhan untuk diam tanpa distraksi. Banyak dari mereka akhirnya mencari ruang yang benar-benar sunyi, tempat di mana mereka tidak harus merespons apa pun, tidak harus menjelaskan diri kepada siapa pun.

Sandy (22 Tahun), Menemukan Diri di Ketinggian

Bagi Sandy (22), me time bukan hal asing. Ia terbiasa meluangkan waktu, baik di kafe maupun di rumah. Namun, ada satu tempat yang selalu menjadi “jawaban terakhir” ketika hidup terasa terlalu penuh, yaitu gunung. “Untuk di alam, saya selalu menyempatkan dalam satu bulan sekali ke gunung. Kadang bisa dua kali, tergantung waktu,” ujarnya.

Gunung, bagi Sandy (22), bukan sekadar destinasi. Ia adalah ruang jeda yang menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh tempat lain, kesunyian yang jujur. Di sana, aktivitasnya sederhana. Secangkir kopi, sebatang rokok, dan buku catatan. Ia menulis, tentang keluh kesah, tentang rencana, tentang hal-hal yang selama ini tertahan di kepala. Tidak ada yang tergesa. Tidak ada yang menuntut. “Suara angin dan gesekan pohon itu bikin pikiran jadi rileks,” katanya singkat.

Di sela waktu yang berjalan tanpa target itu, Sandy (22) mulai merasakan perubahan kecil yang perlahan mengendap. Pikiran yang semula penuh seperti diberi ruang untuk bernapas, satu per satu menjadi lebih tertata. Ia tidak selalu menemukan jawaban saat itu juga, tetapi cukup untuk memahami apa yang sebenarnya ia rasakan. Duduk dalam diam, memandangi kabut yang turun perlahan, memberinya jarak dari riuh yang biasanya sulit dihindari. Ada ketenangan yang datang secara alami, bukan dipaksakan, melainkan tumbuh dari proses yang sederhana.

gunung Sandy (22), melangkah di jalur hutan Gunung Lawu dengan membawa carrier, menapaki perjalanan sunyi yang ia pilih sebagai cara untuk menjauh sejenak. Foto: Dokumentasi Pribadi Sandy, Minggu (11/05/2025).

Lebih dari itu, Sandy (22) menemukan sesuatu yang sering hilang di keseharian, yaitu kejelasan. Setelah kembali, ia merasa lebih mampu menyusun rencana dan mencari solusi dari masalah yang sebelumnya terasa buntu.

Suara Lain: Brian (21 Tahun) dan Safira (21 Tahun)

Pengalaman serupa juga datang dari Brian (21). Meski tidak selalu rutin, ia memastikan setidaknya sebulan sekali ada waktu untuk “kabur sebentar dari rutinitas”. Baginya, perbedaan antara alam dan ruang lain terasa sangat jelas. “Kalau di kafe atau kamar, rasanya masih berisik. Alam itu beda banget vibenya,” ujarnya.

IKLAN

duduk Brian (21), duduk di atas batu dengan menghadap hamparan hijau Gunung Prau, menikmati ketenangan yang perlahan melepas beban pikirannya. Foto: Dokumentasi Pribadi Brian, Minggu (15/06/2025)

Pengalaman paling berkesannya justru terjadi saat ia mendaki sendirian, lalu bertemu orang-orang baru di perjalanan. Dari yang awalnya ingin sendiri, ia justru pulang dengan cerita dan relasi baru. Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah saat berjalan dini hari di tengah hutan. Gelap, dingin, dan sunyi, namun justru menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan. “Kaya semua beban di pundak itu lepas pelan-pelan,” ujarnya.

Sementara itu, Safira (21) melihat me time sebagai cara sederhana untuk kembali merasa ringan. Ia memilih gunung karena suasananya yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Baginya, alam menghadirkan ketenangan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. “Lebih bebas, nggak ngerasa ditunggu,” katanya singkat. Ia juga menyukai udara sejuk, suasana yang masih alami, serta keramahan penduduk lokal yang membuatnya merasa nyaman berlama-lama.

sahifa Safira (21), berdiri menghadap kamera dengan latar matahari terbit di Gunung Sumbing, mengabadikan momen sederhana di tengah alam sebagai bagian dari waktu jeda yang ia gunakan untuk menenangkan diri dari padatnya rutinitas. Foto: Dokumentasi Pribadi Safira, Senin (01/07/2024)

Ke Mana Air Membawa Pulang: Zaidan (22 Tahun)

Jika Sandy (22), Brian (21), dan Safira (21) menemukan jeda di ketinggian, Zaidan (22) justru mencarinya di bentangan air yang tak terbatas. Baginya, laut bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang pulang yang selalu menawarkan ketenangan dengan cara yang berbeda setiap kali dikunjungi.

Ia tidak memiliki jadwal pasti, tetapi setidaknya sebulan sekali, Zaidan (22) menyempatkan diri untuk pergi. Kadang ke pantai, kadang menyusuri perbukitan, duduk di pinggir danau, atau sekadar berkendara jauh tanpa tujuan yang benar-benar direncanakan. Namun, laut selalu memiliki tempat tersendiri dalam perjalanannya. “Alam itu dinamis. Hari ini sama besok bisa beda rasanya. Itu yang bikin aku selalu pengin balik lagi,” ujarnya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia berada di wilayah timur Indonesia, tepatnya di perairan Banda Neira. Pagi itu, laut masih tenang. Airnya jernih, memperlihatkan kehidupan bawah laut yang bergerak perlahan. Ia berenang tidak jauh dari bibir pantai, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dinginnya air yang menyegarkan. Ikan-ikan kecil berenang di sekitarnya, sesekali terlihat ikan badut yang bersembunyi di antara anemon laut.

menyelam Zaidan (22), berenang di perairan Dermaga Lonthoir, Pulau Banda Besar, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam jernihnya air laut sebagai bagian dari waktu jeda yang ia gunakan untuk menemukan kembali ketenangan dalam dirinya. Foto: Dokumentasi Pribadi Zaidan, Minggu (06/07/2025).

Di momen seperti itulah, Zaidan (22) merasa benar-benar sendiri, tetapi bukan dalam arti kesepian. Justru di tengah sunyi itu, ia menemukan ruang untuk berbicara dengan dirinya sendiri. Ia menyebutnya sebagai “pengakuan dosa dengan alam”, sebuah proses refleksi yang mengalir begitu saja, tanpa tekanan, tanpa tuntutan. “Kalau di alam, terutama laut, rasanya lebih jujur sama diri sendiri,” katanya.

Bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga perjalanan menuju ke sana. Ia pernah menempuh perjalanan berjam-jam menuju Pantai Krui yang berada di Provinsi Lampung, melewati jalur Bukit Barisan yang masih dihuni satwa liar, sepeti gajah dan monyet. Menurutnya, bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Ada rasa takut, kagum, sekaligus takjub yang bercampur menjadi satu. Namun, justru dari situlah ia belajar bahwa kesunyian di alam tidak selalu menakutkan.

Bagi Zaidan (22), me time bukan sekadar soal ke mana tujuan akhirnya, tetapi bagaimana proses menuju ke sana. Ia justru lebih mudah menceritakan perjalanan daripada di titik lokasi. Di sepanjang jalan itulah, ia merasa benar-benar hadir, merasakan, memikirkan, dan perlahan memahami dirinya sendiri. Setelahnya, ada ketenangan yang sulit dijelaskan, tetapi terasa nyata. “Kayak ada yang beres di dalam diri,” ujarnya singkat.

Ia juga melihat fenomena ini semakin dekat dengan generasinya. Banyak anak muda mulai mencari alam sebagai ruang untuk berhenti sejenak. Meski tak jarang dibalut dengan kebutuhan eksistensi di media sosial, Zaidan (22) percaya bahwa di balik itu, tetap ada kebutuhan yang lebih dalam: keinginan untuk menemukan diri sendiri.

Ruang yang Tidak Menghakimi

Alam tidak pernah menuntut apa pun. Ia tidak meminta kita untuk menjadi produktif, tidak juga mengharuskan kita tampil sempurna. Di sana, suara menjadi lebih jernih, angin yang berdersir, ranting yang patah, langkah kaki di tanah basah, hamparan laut biru, air danau yang memantulkan cahaya. Semua terasa lebih pelan, namun justru lebih hidup. Dan mungkin, di situlah letak keistimewaannya. Alam memberi ruang bahagia manusia untuk berhenti sejenak tanpa merasa bersalah.

Dari keempat cerita tersebut, ada benang merah yang terasa jelas, me time bukan sekadar waktu sendiri, tetapi waktu untuk kembali. Kembali pada diri sendiri, kembali pada pikiran yang lebih jernih, dan kembali pada perasaan yang lebih utuh. Perubahan yang mereka rasakan bukan sesuatu yang instan, tetapi cukup untuk membuat langkah berikutnya terasa lebih ringan.

Gen Z dan Tekanan yang Tak Terlihat

Generasi Z hidup dalam dunia yang terus bergerak. Informasi datang tanpa henti, standar sosial terbentuk dari layar, dan perbandingan terjadi hampir setiap saat. Dalam kondisi seperti ini, kelelahan mental menjadi sesuatu yang umum, meski sering kali tidak disadari.

Brian (21) bahkan menyebut bahwa me time di alam bisa menjadi cara untuk menjaga kesehatan mental tetap stabil. Sebuah jeda yang, jika diabaikan, bisa berujung pada hal-hal yang lebih serius. Safira (21) menambahkan dengan nada ringan, “Psikologi mahal, jadi sekalian olahraga juga.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan realitas yang cukup dalam. Pada akhirnya, semua kembali pada satu hal, yaitu kebutuhan untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengisi ulang. Bukan untuk lari, tetapi untuk menemukan arah kembali. Sandy (22), dengan catatan kecilnya di gunung. Brian (21), dengan langkahnya di hutan dini hari. Lalu, Safira (21) dengan kesederhanaanya menikmati udara segar. Dan Zaidan (22), dengan laut yang ia datangi berulang kali, sebagai tempat ia berenang, mendengar deburan ombak, dan merefleksikan diri tanpa gangguan apa pun.

Mereka mungkin berjalan ke tempat yang sama, alam. Namun, yang mereka temukan di sana adalah sesuatu yang jauh lebih personal. Ada yang menemukan ketenangan, ada yang menemukan keberanian, dan ada pula yang perlahan memahami dirinya sendiri. Dan saya, yang mendengarkan cerita mereka, mulai memahami satu hal: kadang untuk pulih, kita memang perlu menjauh terlebih dahulu.

Marsella Queen Al Maudy, Mahasiswa program studi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta.

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/sejenak-menjauh-perlahan-pulih-kisah-me-time-di-pelukan-alam/93504/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #Pelukan Alam

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ronald Dewa Rilis 'Salah Mencinta', Kisah Cinta Tulus yang Berakhir Luka

Masih 16 Tahun, Firsya Rahma Mardiana Bikin Bangga! Siswi SMAN 3 Ciamis Ini Borong 3 Medali Nasional

Jalan Terpanjang, Ingatan Terpendek? Wajah Baru Djamin Ginting di Layar Lebar

Bermodal Cermin hingga Terbang ke Thailand, Perjalanan Cikibul Bangun Karier sebagai Kreator Gaming TikTok

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Pilihan Editor

  1. 1 Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi
  2. 2

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  3. 3

    Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  4. 4

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  5. 5

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.