Gowa, JurnalPost.com — Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Syekh Yusuf Al Makassari (USY Al Makassari) Gowa menggelar kuliah umum bertema “Urban Waste and Sanitation Chemistry: Memahami Transformasi Limbah dan Risiko Pencemaran di Lingkungan Perkotaan”, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom dan menghadirkan dua pemateri yang membahas persoalan pengelolaan sampah, sanitasi, hingga pentingnya kolaborasi antara masyarakat, perguruan tinggi, dan pemerintah.
Kuliah umum dibuka langsung oleh Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa. Dalam sambutannya, rektor menekankan bahwa Program Studi Teknik Lingkungan memiliki peran penting dalam merespons berbagai persoalan lingkungan yang berkembang di tengah masyarakat.
“Prodi Teknik Lingkungan memiliki kepekaan yang tinggi dalam melihat fenomena lingkungan yang terjadi. Kuliah umum ini menjadi salah satu bentuk kepekaan yang dimaksudkan,” ujarnya.
Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Sumber
Pemateri pertama, Basri Mahmud, S.KM., M.Kes., Ph.D., C.EIA, menyoroti pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai langsung dari sumbernya.
Menurutnya, sampah rumah tangga yang masih memiliki nilai ekonomis perlu dipilah sejak awal agar tidak langsung bercampur dengan sampah lainnya. Pemilahan tersebut tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Basri menjelaskan, pengelolaan sampah di Kota Makassar perlu dilakukan melalui pendekatan lima pilar.
Pilar pertama adalah pemetaan, yang bertujuan membangun data dasar atau baseline mengenai kondisi persampahan. Data tersebut diperlukan agar pengelolaan sampah dapat dilakukan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Pilar kedua adalah edukasi dan perubahan perilaku, terutama untuk meningkatkan literasi serta kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah.
Pilar ketiga berupa sistem pengolahan, yang mencakup penanganan sampah organik, anorganik, dan residu secara terpisah.
Selanjutnya adalah ekonomi sirkular, yakni upaya mengubah aktivitas pengelolaan lingkungan menjadi kegiatan yang memiliki nilai ekonomi, termasuk melalui pengembangan bank sampah.
Pilar kelima adalah monitoring terpadu. Pemantauan secara berkala diperlukan sebagai bahan evaluasi terhadap program pengelolaan sampah, salah satunya melalui pemanfaatan dashboard data.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat pengelolaan sampah lebih terukur, terintegrasi, dan memberi dampak langsung kepada masyarakat.
Kampus Perlu Menjadi Contoh Pengelolaan Sampah
Pemateri kedua, Dr. Nururrahmah, M.Si., menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai contoh dalam penerapan pengelolaan sampah yang baik.
Menurutnya, universitas tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga dapat menjadi ruang uji penerapan berbagai metode pengelolaan lingkungan.
Ketika perguruan tinggi mampu menerapkan sistem pengelolaan sampah yang efektif, hasil dan pengalaman tersebut dapat menjadi sumber informasi bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kampus juga dinilai memiliki posisi strategis karena mampu mempertemukan aspek akademik, penelitian, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat dalam satu ekosistem.
Melalui peran tersebut, solusi yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti sebagai kajian akademik, tetapi dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat.
Pengelolaan Sampah Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Kuliah umum tersebut juga menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab individu maupun pemerintah.
Pengelolaan sampah memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari masyarakat, kampus, pelaku usaha, hingga pemerintah.
Masyarakat memiliki peran penting dalam memilah sampah dari sumbernya. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian, inovasi, serta edukasi. Sementara itu, pemerintah memiliki kewenangan dalam membangun regulasi, infrastruktur, serta sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi.
Kolaborasi antarunsur tersebut menjadi penting karena permasalahan sampah di kawasan perkotaan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya aktivitas ekonomi.
Tanpa sistem pengelolaan yang baik, sampah dapat menimbulkan berbagai risiko pencemaran, mulai dari pencemaran tanah dan air hingga menurunnya kualitas lingkungan permukiman.
Melalui kuliah umum yang diselenggarakan Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa tersebut, mahasiswa dan peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai pengelolaan sampah dan sanitasi perkotaan.
Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong peserta untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda