Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Tinggal di Daerah Rawan Polusi? Ini 5 Jenis Tanaman Hias Penjernih Udara Secara Alami

Tinggal di Daerah Rawan Polusi? Ini 5 Jenis Tanaman Hias Penjernih Udara Secara Alami

Penulis:
  • Sena Puspita1,
  • Fahriza Metiara2,
  • Nyimas Syakira Wanashittah3,
  • Siti Nuzula Qur'ania Sari4,
  • Arinda Putri5,
  • Putri Maharani6,
  • Tara Rhamadanti7

Afiliasi: Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya

Editor: Gilang Pamungkas
02 Oktober 2026, 20.25 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
5 tanaman hias yang mampu menetralisir polusi udara dalam ruangan (indoor)
5 tanaman hias yang mampu menetralisir polusi udara dalam ruangan (indoor)

Artikel ini disusun untuk memenuhi Ujian Tengah Semester mata kuliah Filsafat dan Logika, Universitas Sriwijaya.

Polusi udara menjadi salah satu persoalan lingkungan yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Permasalahan ini dapat memburuk seiring meningkatnya kejadian kebakaran lahan, termasuk yang terjadi di wilayah Kota Palembang. Berdasarkan data hingga 17 September 2026, tercatat sebanyak 406 kejadian kebakaran lahan dengan luas area terdampak sekitar 254,23 hektare.

Dampak kebakaran lahan tidak hanya berupa kerusakan pada area yang terbakar. Asap yang dihasilkan dapat terbawa menuju kawasan permukiman dan perkotaan sehingga memengaruhi kualitas udara. Konsentrasi partikel debu halus atau PM2.5 di Palembang bahkan sempat mencapai 681,6 µg/m³, sebuah tingkat paparan yang berisiko tinggi terhadap kesehatan.

Memburuknya kualitas udara akibat asap dan berbagai sumber polutan juga berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan pada sistem pernapasan. Paparan polusi dapat menyebabkan keluhan seperti batuk, sesak napas, serta iritasi pada hidung dan tenggorokan. Kondisi ini menjadi semakin penting diperhatikan ketika kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA di Palembang tercatat mencapai 12.589 kasus dalam periode 1–21 September 2026.

Besarnya dampak kesehatan akibat polusi udara membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan sekaligus melakukan langkah-langkah pencegahan secara mandiri. Saat kualitas udara berada pada kategori buruk berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), masyarakat biasanya dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan membatasi paparan langsung terhadap udara tercemar.

Meski demikian, berada di dalam rumah bukan berarti seseorang sepenuhnya terbebas dari paparan polutan. Udara dalam ruangan juga dapat mengandung berbagai senyawa yang berasal dari cat, furnitur, bahan pembersih, asap kendaraan dari luar, maupun aktivitas rumah tangga. Karena itu, kualitas udara di dalam rumah juga perlu mendapatkan perhatian.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan sebagai pelengkap dalam menjaga lingkungan dalam ruangan adalah memanfaatkan tanaman hias. Sejumlah tanaman diketahui memiliki kemampuan menyerap atau berinteraksi dengan beberapa senyawa pencemar dalam kondisi penelitian tertentu. Pemanfaatan tanaman untuk membantu mengurangi zat pencemar lingkungan dikenal dengan konsep fitoremediasi.

Keterangan foto: Program Pendidikan Kesehatan Lingkungan, Universitas Sriwijaya (Kelas A).

Penelitian mengenai tanaman dan kualitas udara dalam ruangan telah dilakukan sejak beberapa dekade lalu. Salah satu penelitian yang banyak dikenal adalah NASA Clean Air Study. Studi tersebut menguji kemampuan beberapa tanaman dalam mengurangi senyawa organik volatil seperti formaldehida, benzena, dan beberapa bahan kimia lainnya dalam ruang percobaan tertutup.

Namun, penggunaan tanaman hias sebaiknya dipandang sebagai salah satu langkah pendukung, bukan pengganti ventilasi yang baik, pengendalian sumber polusi, maupun penggunaan alat penyaring udara ketika diperlukan. Selain memberikan sentuhan hijau pada interior rumah, tanaman juga dapat meningkatkan kenyamanan dan kualitas visual lingkungan tempat tinggal.

Program Pendidikan Kesehatan Lingkungan (kelas A)
Program Pendidikan Kesehatan Lingkungan, Universitas Sriwijaya (kelas A)Foto: dokumentasi pribadi

Berikut lima jenis tanaman hias yang dapat dipertimbangkan untuk ditempatkan di dalam rumah.

1. Lidah Mertua (Sansevieria)

Lidah mertua merupakan tanaman hias yang mudah dikenali melalui bentuk daunnya yang keras, panjang, tegak, dan memiliki corak khas. Tanaman ini cukup populer karena perawatannya relatif mudah serta mampu bertahan pada kondisi pencahayaan yang tidak terlalu tinggi.

Dalam berbagai penelitian terkait tanaman indoor, lidah mertua termasuk tanaman yang dikaji karena kemampuannya berinteraksi dengan sejumlah senyawa di udara, termasuk formaldehida, benzena, dan xilena dalam kondisi eksperimen tertentu.

Tanaman ini juga menggunakan mekanisme metabolisme yang dikenal sebagai Crassulacean Acid Metabolism atau CAM, yang memungkinkan pertukaran gas berlangsung dengan pola berbeda dibandingkan banyak tanaman lainnya. Karakteristik tersebut membuat lidah mertua cukup populer sebagai tanaman penghias kamar tidur maupun ruang keluarga.

2. Sirih Gading (Golden Pothos)

Sirih gading merupakan tanaman merambat dengan daun berbentuk hati yang dikenal mudah tumbuh. Tanaman ini dapat ditanam menggunakan media tanah maupun dikembangkan dalam air sehingga banyak dipilih sebagai dekorasi untuk ruang tamu, ruang kerja, maupun area semi-terbuka.

Sirih gading juga termasuk tanaman yang banyak diteliti terkait kemampuannya mengurangi beberapa senyawa organik volatil dalam kondisi laboratorium, termasuk formaldehida.

Karena perawatannya relatif sederhana, sirih gading dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan tanaman indoor tanpa membutuhkan perawatan terlalu kompleks. Tanaman ini dapat ditempatkan di area rumah yang memperoleh cahaya tidak langsung dengan sirkulasi udara yang memadai.

3. Lili Paris (Spider Plant)

Lili Paris atau Spider Plant memiliki ciri khas berupa daun panjang dan ramping yang tumbuh menjuntai. Bentuknya yang menarik membuat tanaman ini sering ditempatkan dalam pot gantung ataupun diletakkan di atas rak.

Tanaman dengan nama ilmiah Chlorophytum comosum ini telah menjadi objek sejumlah penelitian mengenai fitoremediasi udara dalam ruangan. Penelitian Gawrońska dan Bakera pada 2015, misalnya, membahas potensi tanaman tersebut dalam membantu menangkap partikulat dari udara.

Keunggulan lainnya adalah Lili Paris secara umum dikenal relatif aman bagi kucing dan anjing. Meski demikian, pemilik hewan peliharaan tetap perlu memastikan tanaman tidak dikonsumsi secara berlebihan.

4. Palem Kuning (Areca Palm)

Palem Kuning memiliki bentuk daun yang rimbun sehingga dapat menghadirkan suasana tropis di dalam ruangan. Tanaman ini banyak digunakan untuk menghiasi ruang keluarga, ruang kerja, maupun area dengan ukuran cukup luas.

Selain nilai estetikanya, Palem Kuning juga sering dibahas dalam penelitian mengenai tanaman indoor karena interaksinya dengan sejumlah senyawa organik volatil. Tanaman ini melakukan proses transpirasi yang melepaskan uap air melalui daun sehingga turut berkontribusi terhadap kelembapan di lingkungan sekitarnya.

Untuk memperoleh pertumbuhan optimal, Palem Kuning sebaiknya ditempatkan pada area dengan pencahayaan yang cukup namun tidak terkena sinar matahari langsung secara berlebihan. Kondisi media tanam juga perlu dijaga agar tidak terlalu kering ataupun terlalu basah.

5. Peace Lily (Spathiphyllum)

Peace Lily dikenal melalui daun hijau yang lebar dan bunga berwarna putih yang memberikan kesan elegan. Tanaman ini sering digunakan sebagai penghias ruang tamu, ruang kerja, dan berbagai area dalam ruangan lainnya.

Dalam sejumlah penelitian mengenai tanaman indoor, Peace Lily termasuk tanaman yang diuji terhadap beberapa senyawa organik volatil, seperti benzena, formaldehida, dan senyawa lainnya.

Tanaman ini menyukai kondisi lingkungan yang relatif teduh dan media tanam dengan kelembapan terjaga. Namun, masyarakat yang memiliki hewan peliharaan perlu lebih berhati-hati karena Peace Lily dapat menyebabkan iritasi apabila dikonsumsi oleh kucing atau anjing.

Langkah Kecil untuk Menciptakan Lingkungan Rumah yang Lebih Sehat

Menempatkan beberapa tanaman hias di dalam rumah tentu tidak dapat menyelesaikan persoalan polusi udara secara keseluruhan. Krisis kualitas udara pada tingkat kota membutuhkan pengendalian sumber pencemar, pencegahan kebakaran lahan, kebijakan lingkungan, serta keterlibatan berbagai pihak.

Di tingkat rumah tangga, tanaman hias dapat menjadi salah satu elemen pendukung untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman. Namun, penggunaannya tetap perlu dikombinasikan dengan langkah yang lebih utama, seperti menjaga ventilasi, mengurangi sumber asap di dalam rumah, membersihkan debu secara rutin, serta membatasi masuknya udara luar ketika tingkat pencemaran sedang tinggi.

Tanaman juga memerlukan perawatan agar tetap sehat. Permukaan daun sebaiknya dibersihkan secara berkala dari debu yang menempel. Selain menjaga penampilannya, pembersihan daun membantu mempertahankan fungsi fisiologis tanaman agar tidak terganggu oleh penumpukan debu.

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan polusi maupun kabut asap, upaya mitigasi kesehatan perlu dilakukan secara menyeluruh. Paparan polutan dalam jangka panjang dapat memberikan dampak terhadap sistem pernapasan sehingga pencegahan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan keluarga.

Lidah Mertua, Sirih Gading, Lili Paris, Palem Kuning, dan Peace Lily dapat menjadi pilihan tanaman penghias rumah sekaligus bagian dari pendekatan berbasis alam dalam menjaga lingkungan dalam ruangan. Meski kemampuannya sebagai pembersih udara dalam kondisi rumah nyata tidak dapat menggantikan ventilasi maupun teknologi filtrasi, keberadaan tanaman tetap memberikan manfaat dari sisi estetika, kenyamanan, dan kualitas lingkungan tempat tinggal.

Pada akhirnya, menghadapi persoalan polusi udara membutuhkan kombinasi antara kebijakan publik dan tindakan individu. Mengendalikan sumber pencemaran menjadi langkah utama, sementara menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan rumah dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan kesehatan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Dela Cruz, M., Christensen, J. H., Thomsen, J. D., & Müller, R. (2014). Can ornamental potted plants remove volatile organic compounds from indoor air? A review. Environmental Science and Pollution Research, 21(24), 13909–13928.

Gawrońska, H., & Bakera, B. (2015). Phytoremediation of particulate matter from indoor air by Chlorophytum comosum L. plants. Air Quality, Atmosphere & Health, 8(3), 265–272.

Jhanji, S., & Dhatt, U. K. (2021). Phytoremediation of indoor air pollutants: Harnessing the potential of plants beyond aesthetics. Journal of Horticultural Sciences, 16(2), 131–143.

Kim, K. J., Kil, M. J., Song, J. S., Yoo, E. H., Son, K. C., & Kays, S. J. (2008). Efficiency of volatile formaldehyde removal by indoor plants: Contribution of aerial plant parts versus the root zone. Journal of the American Society for Horticultural Science, 133(4), 521–526.

Portal Resmi Pemerintah Kota Palembang. (2026, 17 September). ISPU Palembang tembus 302, karhutla capai 406 kejadian. Pemerintah Kota Palembang.

Wolverton, B. C., Johnson, A., & Bounds, K. (1989). Interior landscape plants for indoor air pollution abatement. National Aeronautics and Space Administration.


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/tinggal-di-daerah-rawan-polusi-ini-5-jenis-tanaman-hias-penjernih-udara-secara-alami/97960/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.46 WITA

  • #Kesehatan Lingkungan
  • #Tanaman
  • #fitoremediasi
  • #kebakaran lahan
  • #kesehatan pernapasan
  • #kualitas udara
  • #observasi tanaman
  • #pencemaran udara
  • #penjernih udara
  • #polusi udara
  • #tanaman hias

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.