BOYOLALI, JurnalPost.com — Tim dosen Politeknik Negeri Semarang (Polines) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif (PMK) di Desa Sampetan, Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut diwujudkan melalui penerapan teknologi penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya berbasis Internet of Things (IoT) dengan melibatkan Karang Taruna "ARSIS" Desa Sampetan sebagai mitra kegiatan.
Program ini berangkat dari kondisi penerangan jalan desa yang masih terbatas. Sebagian lampu penerangan jalan masih bergantung pada pasokan listrik konvensional sehingga berisiko mengalami pemadaman ketika terjadi gangguan jaringan listrik.
Selain menambah biaya operasional desa, sistem penerangan yang ada juga belum dilengkapi teknologi pemantauan secara langsung. Akibatnya, kerusakan atau gangguan pada lampu sering kali baru diketahui setelah adanya laporan dari warga.
Desa Sampetan berada di Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali, dengan jarak sekitar 56 kilometer dari kampus Polines di Semarang dan waktu tempuh kurang lebih satu jam melalui jalan tol.
Menurut tim pengabdian, wilayah tersebut memiliki potensi energi matahari yang dapat dimanfaatkan secara lebih optimal, khususnya untuk memenuhi kebutuhan penerangan jalan.
Penggunaan tenaga surya diharapkan dapat menjaga ketersediaan penerangan tanpa menambah ketergantungan pada jaringan listrik konvensional maupun beban tagihan listrik desa.

Edukasi Energi Terbarukan bagi Warga dan Karang Taruna
Selain keterbatasan infrastruktur penerangan, persoalan lain yang dihadapi adalah masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai energi surya dan pemanfaatan teknologi IoT.
Karena itu, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berfokus pada pemasangan perangkat, tetapi juga memberikan edukasi mengenai cara kerja, pengoperasian, dan perawatan sistem penerangan jalan tenaga surya.
Anggota Karang Taruna "ARSIS" menjadi mitra utama dalam kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan pendampingan agar memiliki kemampuan untuk mengelola dan memantau perangkat secara mandiri.
Dari sisi pendidikan, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Polines yang terlibat dalam pemasangan dan pemantauan sistem.
Pengalaman di lapangan diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap materi perkuliahan, terutama yang berkaitan dengan rangkaian elektronika, teknologi IoT, dan pengembangan energi terbarukan.
Rangkaian kegiatan meliputi survei lokasi, sosialisasi, pelatihan pengoperasian sistem, hingga pemasangan perangkat bersama masyarakat di jalan desa.

Dalam sesi sosialisasi, tim menjelaskan prinsip kerja panel surya yang mengubah energi matahari menjadi energi listrik untuk disimpan dalam baterai dan digunakan sebagai sumber penerangan pada malam hari.
Warga juga diperkenalkan dengan teknologi pemantauan jarak jauh yang memungkinkan kondisi sistem penerangan diketahui melalui perangkat digital.
Lampu Jalan Memanfaatkan Energi Surya dan Pemantauan IoT
Sistem PJU yang diterapkan terdiri atas beberapa komponen utama, yaitu panel surya, baterai, inverter, dan lampu LED.
Panel surya berfungsi mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik yang kemudian digunakan untuk mengisi baterai.
Energi yang tersimpan selanjutnya dialirkan melalui inverter untuk mengubah listrik arus searah menjadi arus bolak-balik bertegangan 220 volt sebagai sumber daya lampu penerangan.
Sistem ini menggunakan baterai dengan tegangan 24 volt dan dirancang agar dapat beroperasi tanpa bergantung pada jaringan listrik konvensional.
Teknologi IoT diterapkan melalui perangkat pengumpul data yang terhubung dengan jaringan Wi-Fi.

Perangkat tersebut mengirimkan informasi mengenai tegangan panel surya, tegangan baterai, kapasitas baterai, dan beban listrik ke platform pemantauan berbasis cloud dengan interval sekitar lima menit.
Melalui sistem tersebut, pengelola dapat memantau kondisi penerangan dari telepon pintar maupun komputer tanpa harus mendatangi lokasi pemasangan.
Platform pemantauan juga menyediakan riwayat data dan peringatan gangguan sehingga kondisi sistem dapat dievaluasi secara lebih mudah.
Selain memiliki kemampuan pemantauan jarak jauh, lampu dirancang untuk menyala secara otomatis pada malam hari berdasarkan pembacaan sensor.
Dengan mekanisme tersebut, warga tidak perlu menyalakan dan mematikan lampu secara manual. Energi yang tersimpan di dalam baterai dapat digunakan ketika penerangan diperlukan.
Pemantauan Selama 31 Hari Catat 8.549 Data
Setelah pemasangan, tim melakukan pemantauan kinerja sistem selama 31 hari, mulai 2 Oktober hingga 1 November 2026.
Hasil pemantauan mencatat sebanyak 8.549 data yang menggambarkan kondisi operasional perangkat selama periode tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan, keluaran listrik pada malam hari tercatat aktif dengan durasi rata-rata sekitar delapan jam setiap malam.
Meski demikian, tim menemukan sejumlah kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Pada beberapa malam, khususnya periode 23–29 Oktober 2026, kapasitas baterai terpantau habis lebih awal.
Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi tim untuk meninjau kembali kesesuaian kapasitas baterai dan panel surya dengan kebutuhan energi lampu.
Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi dasar penyempurnaan sistem sehingga kinerja penerangan jalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Libatkan Dosen dan Mahasiswa Polines
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim dosen Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang yang terdiri atas Dr. Ir. Eko Supriyanto, S.T., M.T., IPM., Tulus Pramuji, B.Eng., M.T., dan Tri Raharjo Yudantoro, S.Kom., M.Kom.
Selain dosen, sejumlah mahasiswa turut dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan, mulai dari persiapan perangkat, pemasangan, hingga pemantauan sistem.
Program tersebut mendapat dukungan pendanaan melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat Kompetitif (PMK) Polines Tahun 2026.
Melalui kegiatan ini, tim berharap pemanfaatan energi surya dapat membantu mengurangi ketergantungan desa terhadap listrik konvensional untuk kebutuhan penerangan jalan.
Di sisi lain, penerapan teknologi IoT diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memantau dan mengelola perangkat secara lebih efektif.
Pengelolaan sistem selanjutnya direncanakan dilakukan oleh tim teknis lokal dari Karang Taruna dengan pendampingan berkala dari Polines.
Dorong Pengembangan Desa Cerdas di Sampetan
Program pengabdian ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan infrastruktur penerangan jalan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan teknologi tepat guna kepada masyarakat.
Selain penerapan perangkat di lapangan, kegiatan tersebut ditargetkan menghasilkan luaran berupa teknologi tepat guna, hak cipta, publikasi ilmiah, dan video dokumentasi kegiatan.
Ke depan, sistem penerangan jalan tenaga surya berbasis IoT ini berpeluang dikembangkan melalui penambahan titik pemasangan PJU serta integrasi dengan layanan desa lainnya.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat mendukung penerapan konsep desa cerdas (smart village) yang mengoptimalkan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kehidupan masyarakat.
Melalui keterlibatan aktif warga, Karang Taruna, dosen, dan mahasiswa, kegiatan ini menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghadirkan solusi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan desa.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, penerangan jalan tenaga surya berbasis IoT di Desa Sampetan diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya energi terbarukan dan transformasi digital di lingkungan perdesaan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda