JurnalPost.com - Suasana di tengah pengungsian korban gempa bumi di Dusun Waso, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) berubah lebih ceria. Tawa anak-anak terdengar di sela-sela kehidupan mereka yang masih dibayangi pengalaman gempa bumi dahsyat yang mengguncang Flores pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
Kehadiran seorang pendidik sekaligus psikolog yang akrab disapa Bunda Heni pada akhir Agustus membawa warna tersendiri bagi puluhan anak usia sekolah, sekitar 5–12 tahun, yang hingga kini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian Dusun Waso.
Bunda Heni merupakan Kepala RA Taman Buah Hati Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur. Ia berlatar belakang pendidikan Sarjana Psikologi dan dipercaya sebagai Koordinator Muslimat Jamaah Muslimin Wilayah Itasel.
Ia datang ke Dusun Waso atas amanat Pembina Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Korwil Jawa Timur, Abdul Karim, dengan dukungan Pembina UAR NTT Jawir Zulfikar. Kehadirannya untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan relawan UAR, khususnya dalam bidang pendidikan dan trauma healing bagi anak-anak terdampak gempa.

Bagi Bunda Heni, perjalanan ke lokasi bencana bukan sekadar melaksanakan tugas sosial. Ia datang dengan niat ikhlas mengharap ridlo Allah Subhanahu wa Ta'ala membantu pemulihan kondisi mental penyintas terutama anak-anak.
Ia juga membawa sejumlah bantuan berupa bahan ajar IQRA serta mushaf Al-Qur'an untuk digunakan anak-anak di pengungsian. Selain itu, Bunda Heni menyerahkan titipan donasi uang dari PD IGRA Sidoarjo sebesar Rp 5 juta kepada Posko Relawan UAR Dusun Waso untuk mendukung operasional misi kemanusiaan.
Mengaji di Musala Darurat
Tidak banyak waktu yang dihabiskan Bunda Heni untuk beradaptasi. Setibanya di Dusun Waso, ia langsung bergabung bersama anak-anak di musala darurat yang didirikan para relawan bersama warga setempat.
Setiap sore selepas shalat Ashar dan setelah shalat Isya, puluhan anak laki-laki dan perempuan berkumpul untuk belajar mengaji sekaligus mengikuti kegiatan pembelajaran dan pendampingan.
Kegiatan tersebut tidak hanya berisi pelajaran agama. Anak-anak juga diajak berkisah, bermain, belajar kedisiplinan, membangun kebiasaan baik (mengucapkan salam), serta mendapatkan pendampingan sosial dan emosional.
Sebelum kedatangan Bunda Heni, kegiatan mengaji dan shalat berjamaah telah berjalan. Relawan UAR, Ihsan Annuha, yang telah berada di lokasi sejak 16 Agustus bersama relawan UAR Korwil NTT lainnya, secara rutin membimbing anak-anak di pengungsian.
Kehadiran Bunda Heni membuat suasana belajar semakin hangat. Anak-anak terlihat senang dan riang. Mereka tidak hanya mengikuti pelajaran, tetapi mulai berani bercerita tentang pengalaman yang mereka alami ketika gempa mengguncang wilayah mereka.
Sebagian anak mencurahkan rasa takut, kegelisahan, dan berbagai pengalaman yang mereka rasakan selama berada di tengah situasi bencana.
Dengan latar belakang psikologi dan pengalaman sebagai pendidik, Bunda Heni mendengarkan cerita anak-anak dengan sabar. Ia juga membuka ruang bagi para orang tua untuk menyampaikan keluh kesah serta kondisi yang mereka rasakan setelah bencana.
Pendekatan sederhana dan penuh kasih sayang itu membuat anak-anak merasa nyaman. Kehadiran Bunda Heni di tengah mereka tidak lagi terasa seperti kehadiran seorang guru, tetapi juga seperti seorang ibu yang bersedia mendengarkan cerita mereka.
“Anak-anak banyak yang minta dilayani, meski hanya memotong kuku mereka,” kata Bunda Heni.
Permintaan sederhana itu menjadi gambaran bagaimana anak-anak membutuhkan perhatian, kedekatan, dan rasa aman setelah mengalami peristiwa yang mengguncang kehidupan mereka.
Trauma Healing dengan Kisah Nabi Muhammad
Dalam kegiatan trauma healing, Bunda Heni menggunakan pendekatan yang dekat dengan dunia anak sekaligus nilai-nilai keagamaan. Ia memulai kegiatan dengan berkisah tentang kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
“Kami memulai dengan berkisah tentang kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai utusan Allah di bumi untuk semua umat manusia. Ini kami maksudkan supaya anak-anak lebih mengenal siapa Nabi Muhammad itu,” ujarnya.
Selain bercerita, Bunda Heni juga mengajarkan tata cara shalat yang benar sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Anak-anak diajak mempraktikkan wudhu dengan benar sebagai bagian penting sebelum melaksanakan shalat.
Tidak berhenti pada tata cara ibadah, anak-anak juga diajarkan bagaimana memperlakukan Al-Qur'an dengan baik dan penuh penghormatan.
“Kami juga mengajarkan anak-anak bagaimana meletakkan Al-Qur'an dengan benar, sesuai kaidah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menghormati Al-Qur'an, yang akan menjadi pembela di akhirat jika sering dibaca, dihayati dan diamalkan isinya,” tuturnya.
Bahagia Bersama Anak-Anak
Hampir sepekan berada di pengungsian korban gempa, ia metasa bahagia dapat terjun langsung dan membersamai anak-anak yang sedang menghadapi masa sulit setelah bencana.
“Masya Allah, bahagia sekali kita bisa merasakan kedekatan dengan terjun langsung membersamai anak-anak. Prinsip saya, sentuh mereka dengan hati, pasti akan sampai ke hati dan kita dapatkan hati mereka,” ungkap Bunda Heni.
Pendekatan itulah yang kemudian membuat anak-anak perlahan membuka diri. Mereka tidak hanya datang untuk belajar mengaji atau mengikuti permainan, tetapi juga mencari sosok yang mau mendengarkan, menemani, dan memberikan perhatian.
Mengembalikan Keceriaan Anak
Bagi Bunda Heni, pendampingan anak-anak korban bencana bukan hanya tentang memberikan pelajaran dan pendampingan ibadah. Yang tidak kalah penting adalah membantu mereka mendapatkan kembali rasa aman, kepercayaan diri, dan keceriaan yang sempat hilang akibat bencana.
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu meninggalkan pengalaman yang tidak mudah dilupakan. Guncangan kuat dan kekhawatiran terhadap potensi tsunami membuat sebagian masyarakat, termasuk anak-anak, mengalami ketakutan.
Karena itu, kegiatan belajar, mengaji, bermain, bercerita, dan berinteraksi bersama anak-anak menjadi bagian penting dari upaya pemulihan di pengungsian.
Bunda Heni bersyukur dapat mengambil bagian dalam pelayanan tersebut. Ilmu psikologi dan pengalaman mendidik anak yang dimilikinya kini dipadukan dengan kegiatan kemanusiaan bersama relawan UAR NTT.
“Semoga dengan pendampingan ini kondisi psikologis anak-anak dapat berangsur pulih. Mereka tidak lagi terus-menerus merasa takut akibat pengalaman gempa yang mereka alami,” harapnya.
Di tengah keterbatasan kehidupan di tenda pengungsian, kehadiran Bunda Heni bersama relawan UAR menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan pangan, tempat tinggal, dan kebutuhan fisik lainnya. Anak-anak juga membutuhkan ruang untuk tersenyum, bermain, belajar, bercerita, dan kembali merasakan bahwa dunia mereka tetap aman. [Al Mujahid]
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda