Dunia pendidikan terus bergerak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Cara guru mengajar, cara peserta didik memperoleh informasi, hingga cara sekolah mengelola pembelajaran ikut berubah. Kehadiran teknologi digital dan kecerdasan buatan membuat akses terhadap pengetahuan menjadi semakin terbuka. Dalam waktu singkat, peserta didik dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber yang sebelumnya sulit dijangkau.
Perubahan tersebut, bagaimanapun, juga memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah pendidikan cukup diarahkan untuk menghasilkan manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi? Ataukah pendidikan juga memiliki tujuan yang lebih luas, yakni membentuk manusia yang memiliki nilai, karakter, dan kesadaran mengenai kehidupannya?
Pertanyaan semacam itu membawa pembahasan kembali pada filsafat pendidikan. Pendidikan pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar dan mengajar. Di dalamnya terdapat pandangan mengenai manusia, pengetahuan, nilai, masyarakat, hingga tujuan hidup yang hendak dicapai. Karena itu, setiap perubahan dalam dunia pendidikan perlu dipahami bersama dengan landasan pemikiran yang menyertainya.
Dalam konteks tersebut, buku Filsafat Pendidikan: Dasar Teoritis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern karya Dr. Teguh Triwiyanto, M.Pd. dapat menjadi salah satu bacaan untuk memahami hubungan antara filsafat dan pendidikan. Buku yang diterbitkan PT Bumi Aksara pada Juli 2026 ini merupakan cetakan pertama, terdiri atas 254 halaman, dan memiliki ISBN 978-623-506-170-2.
Secara umum, buku ini membahas filsafat pendidikan mulai dari konsep dasar hingga penerapannya dalam praktik pendidikan modern. Pembahasan diawali dengan uraian mengenai hakikat pendidikan. Penulis menjelaskan pengertian pendidikan dari sisi etimologis, terminologis, dan filosofis, kemudian menghubungkannya dengan fungsi dan tujuan pendidikan serta kedudukan pendidikan sebagai bagian dari sistem sosial dan budaya.
Pembahasan kemudian berlanjut pada hubungan antara filsafat pendidikan dan teori pendidikan. Penulis menguraikan perbedaan antara keduanya sekaligus menunjukkan bagaimana pemikiran filosofis dapat memengaruhi praktik pendidikan.
Salah satu bagian penting dalam buku ini adalah pembahasan mengenai tiga dasar utama filsafat, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ontologi berkaitan dengan hakikat manusia, dunia, serta realitas pendidikan. Epistemologi membahas sumber, proses, dan cara manusia memperoleh pengetahuan. Sementara itu, aksiologi berbicara mengenai nilai, etika, dan moral yang mendasari proses pendidikan.
Melalui tiga bidang tersebut, pembaca diajak memahami bahwa pendidikan selalu berhadapan dengan pertanyaan mendasar: apa yang dianggap benar, bagaimana pengetahuan diperoleh, dan nilai apa yang hendak dibangun melalui proses pendidikan.
Beragam Aliran dan Tokoh Pendidikan
Cakupan pembahasan buku ini cukup luas. Penulis menguraikan berbagai aliran filsafat pendidikan, mulai dari idealisme, realisme, pragmatisme atau progresivisme, eksistensialisme, positivisme, hingga Marxisme dan kritisisme.
Sejumlah tokoh juga diperkenalkan untuk membantu pembaca memahami perkembangan pemikiran pendidikan. Di antaranya adalah Plato, Aristoteles, John Dewey, Maria Montessori, Paulo Freire, dan Ki Hadjar Dewantara.
Kehadiran berbagai tokoh tersebut membuat pembahasan tidak berhenti pada konsep abstrak. Pembaca dapat melihat bagaimana gagasan filosofis berkembang dan kemudian memengaruhi cara manusia memahami proses belajar, posisi guru, peran peserta didik, hingga hubungan pendidikan dengan masyarakat.
Buku ini selanjutnya membawa pembaca pada persoalan filsafat pendidikan kontemporer. Penulis membahas postmodernisme, multikulturalisme dalam pendidikan, pendidikan kritis, serta pendidikan humanis dan pembebasan.
Pembahasan kemudian meluas ke teori belajar dan perkembangannya, teori perkembangan peserta didik, teori kurikulum, teori manajemen dan organisasi pendidikan, serta teori sosial pendidikan.
Susunan tersebut membantu pembaca memahami bahwa filsafat pendidikan tidak berdiri sendiri. Pemikiran filosofis memiliki hubungan dengan berbagai bidang yang selama ini sering dipelajari secara terpisah dalam ilmu pendidikan.
Ki Hadjar Dewantara dan Konteks Pendidikan Indonesia
Salah satu bagian menarik adalah ketika pembahasan filsafat pendidikan dikaitkan dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mendapatkan perhatian khusus, terutama berkaitan dengan peran pendidik.
Prinsip “Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” menunjukkan bahwa guru memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran. Guru diharapkan mampu menjadi teladan, penggerak, sekaligus pendamping dalam perkembangan peserta didik.
Pembahasan mengenai pendidikan Indonesia juga tidak berhenti pada pemikiran tokoh. Dalam bagian mengenai implikasi filsafat terhadap praktik pendidikan, buku ini turut membahas landasan filosofis kurikulum Indonesia, penerapan teori pendidikan dalam pembelajaran, serta tantangan pendidikan abad ke-21.
Digitalisasi dan globalisasi menjadi bagian penting dari tantangan tersebut. Perubahan masyarakat menuntut sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik memahami cara menggunakan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab.
Pendidikan di Tengah Perkembangan AI
Perubahan teknologi mendapatkan perhatian cukup besar pada bagian akhir buku. Salah satu pembahasannya berkaitan dengan pendidikan pada era Society 5.0.
Dalam masyarakat yang semakin terhubung dengan teknologi, sekolah dituntut mempersiapkan peserta didik agar mampu beradaptasi tanpa kehilangan dimensi kemanusiaannya. Keterampilan yang dianggap penting tidak hanya berupa kemampuan teknis, tetapi juga berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, adaptasi terhadap teknologi, serta pemahaman mengenai etika dan nilai.
Pembahasan mengenai kecerdasan buatan atau AI menjadi bagian yang relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini. Teknologi AI dapat membantu proses pembelajaran, pekerjaan administratif, hingga analisis terhadap capaian belajar peserta didik.
Namun, pemanfaatan AI juga menghadirkan persoalan baru. Ketergantungan terhadap teknologi, penggunaan dan perlindungan data, hubungan antara guru dengan peserta didik, serta perubahan peran tenaga pendidik menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Buku ini tidak menempatkan teknologi sebagai tujuan pendidikan, melainkan sebagai alat yang perlu digunakan dengan pertimbangan pedagogis dan kemanusiaan.
Pandangan tersebut menjadi penting ketika informasi semakin mudah diperoleh melalui mesin pencari maupun AI generatif. Dalam kondisi seperti itu, peran guru tidak otomatis kehilangan relevansinya. Guru tetap memiliki fungsi dalam membimbing peserta didik memahami informasi, membentuk karakter, serta menilai bagaimana pengetahuan sebaiknya digunakan.
Guru sebagai Philosopher-Practitioner
Salah satu gagasan yang menarik adalah konsep pendidik sebagai philosopher-practitioner. Guru tidak hanya dituntut mampu menjalankan kegiatan pembelajaran secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan merefleksikan apa yang dilakukannya.
Seorang pendidik perlu mempertanyakan tujuan pembelajaran, nilai yang ingin dibangun, metode yang digunakan, dan dampak pendidikan terhadap perkembangan peserta didik.
Dengan cara pandang tersebut, mengajar tidak sekadar menjadi kegiatan menyampaikan materi. Guru juga menjadi seseorang yang terus memikirkan alasan di balik keputusan-keputusan pendidikan yang diambilnya.
Gagasan ini menjadi relevan ketika dunia pendidikan semakin dipenuhi teknologi. Semakin banyak alat yang dapat digunakan dalam pembelajaran, semakin penting pula kemampuan guru menentukan alat mana yang tepat dan untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan.
Mudah Diikuti Pembaca Pemula
Meski membahas banyak tema filsafat dan teori pendidikan, buku ini menggunakan bahasa yang relatif mudah diikuti. Pembaca yang baru mulai mengenal filsafat pendidikan masih dapat memahami alur pembahasan karena materi disusun dari konsep dasar menuju persoalan yang lebih khusus.
Kelebihan lainnya terletak pada upaya penulis menghubungkan filsafat dengan praktik pendidikan modern. Pembaca tidak hanya diperkenalkan pada nama tokoh atau aliran pemikiran, tetapi juga diajak melihat kaitannya dengan pembelajaran, kurikulum, pengelolaan pendidikan, hingga perkembangan teknologi.
Dengan pendekatan tersebut, filsafat tidak tampil sebagai pembahasan yang terlalu jauh dari kehidupan sekolah.
Meski demikian, terdapat beberapa hal yang masih dapat dikembangkan. Perkembangan teknologi, terutama AI generatif, berlangsung sangat cepat. Persoalan seperti etika penggunaan AI dalam tugas akademik, perlindungan data peserta didik, perubahan relasi antara guru dan murid, serta kemungkinan perubahan pekerjaan di sektor pendidikan membutuhkan pembahasan yang semakin mendalam.
Hal tersebut tentu juga menunjukkan bahwa diskusi mengenai filsafat pendidikan tidak pernah benar-benar selesai. Perubahan teknologi justru menghadirkan pertanyaan filosofis baru yang perlu terus dibicarakan.
Pendidikan Tidak Sekadar Menguasai Teknologi
Secara keseluruhan, Filsafat Pendidikan: Dasar Teoritis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern memberikan gambaran yang cukup luas mengenai hubungan filsafat dan pendidikan.
Pembaca diajak memahami hakikat pendidikan, berbagai aliran dan tokoh filsafat, teori belajar dan perkembangan peserta didik, kurikulum, manajemen pendidikan, hingga persoalan pendidikan Indonesia dalam menghadapi perubahan masyarakat dan teknologi.
Buku ini dapat menjadi tambahan bacaan bagi mahasiswa bidang pendidikan, calon guru, guru, maupun pembaca yang ingin memahami alasan pendidikan selalu berkaitan dengan pertanyaan mengenai manusia, pengetahuan, nilai, dan kehidupan.
Perkembangan teknologi memang membuat pendidikan berubah. Informasi menjadi semakin mudah diperoleh, proses pembelajaran semakin fleksibel, dan kecerdasan buatan membuka berbagai kemungkinan baru. Namun, tujuan pendidikan tetap membutuhkan landasan filosofis.
Pengetahuan dan keterampilan penting untuk dikuasai, tetapi pendidikan juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan tersebut, bagaimana ia berhubungan dengan orang lain, serta nilai apa yang menjadi dasar tindakannya.
Pada akhirnya, buku Filsafat Pendidikan: Dasar Teoritis dan Aplikasinya dalam Praktik Pendidikan Modern mengajak pembaca melihat pendidikan lebih jauh daripada kegiatan belajar di dalam kelas.
Pendidikan berkaitan dengan manusia dan kehidupannya. Karena itu, ketika zaman berubah dan teknologi semakin maju, pertanyaan mengenai tujuan pendidikan tetap perlu diajukan.
Buku ini memberikan landasan yang cukup luas untuk memikirkan kembali pertanyaan tersebut melalui sudut pandang filsafat pendidikan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda