Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Ketika AI Bisa Menjawab, Guru Harus Mengajarkan Apa?

Ketika AI Bisa Menjawab, Guru Harus Mengajarkan Apa?

F
Penulis: FAIQ PUTRA
24 September 2026, 22.37 WITA Editor: Rafi Adinata
5 menit baca
Ketika AI bisa menjawab
Ilustrasi menggambarkan penggunaan kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran serta pentingnya menjaga proses berpikir dan pemahaman siswa.

JurnalPost.com - Semasa SMP, saya belum mengenal kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saya belum mengetahui apa fungsinya, apalagi bagaimana cara menggunakannya. Sampai suatu ketika, seorang teman memperkenalkan teknologi itu kepada saya.

Ia menggunakan AI untuk hampir semua tugas sekolah. Bahkan ketika ujian dilakukan secara daring, soal-soal ujian pun dimasukkan ke AI untuk mendapatkan jawaban. Hasilnya, ia berhasil memperoleh nilai tinggi di kelas.

IKLAN

Sejak saat itu, saya mulai bertanya-tanya: sebenarnya nilai yang diperoleh seorang siswa sedang mengukur apa? Apakah kemampuan memahami pelajaran, kemampuan mencari jawaban, atau sekadar kemampuan menemukan cara tercepat untuk mendapatkan nilai?

Saya kira cerita semacam ini bukan lagi kejadian yang langka.

Dalam survei terhadap 1.501 pelajar berusia 15–21 tahun dari jenjang SMA hingga perguruan tinggi, sebanyak 86,21 persen responden mengaku menggunakan bantuan AI untuk menyelesaikan tugas setidaknya sekali dalam sebulan. Survei Tirto dan Jakpat tersebut bahkan pernah dikutip Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada Desember 2024 dengan pembulatan menjadi 87 persen.

Angka itu menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari keseharian banyak pelajar. Menggunakan AI untuk mengerjakan tugas bukan lagi sesuatu yang asing.

Persoalannya, ketika AI digunakan semata-mata sebagai jalan pintas untuk memperoleh jawaban, ada satu hal penting yang berisiko hilang: proses berpikir.

Saya tidak berpikir bahwa anak-anak harus dijauhkan dari AI. Justru sebaliknya, mereka perlu belajar mengenal dan menggunakannya. Teknologi ini akan semakin dekat dengan kehidupan mereka, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja.

Masalah sebenarnya bukan pada keberadaan AI, tetapi pada bagaimana AI digunakan.

Di sinilah guru memiliki peran yang semakin penting.

Orang tua tentu tetap memiliki tanggung jawab dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Namun, guru adalah orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan proses belajar siswa. Guru melihat bagaimana siswa mengerjakan tugas, berdiskusi, menjawab pertanyaan, memahami materi, hingga menghadapi ujian.

Jika AI mulai mengubah cara anak belajar, maka ruang kelas seharusnya menjadi salah satu tempat pertama untuk membicarakan perubahan tersebut.

Mendampingi penggunaan AI juga tidak selalu berarti melarangnya.

Larangan total mungkin terdengar seperti solusi paling mudah. Namun, di tengah teknologi yang dapat diakses melalui telepon genggam maupun komputer, larangan justru berpotensi membuat siswa tetap menggunakan AI secara diam-diam tanpa memahami batasannya.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah aturan yang jelas.

AI dapat digunakan untuk mencari ide, membantu memahami konsep yang sulit, membandingkan informasi, atau memeriksa kembali pekerjaan yang telah dibuat. Namun, ketika siswa sedang diuji untuk mengetahui kemampuan dasarnya, AI seharusnya tidak mengambil alih proses tersebut.

Dari sini, cara guru melakukan penilaian mungkin juga perlu berubah.

IKLAN

Tidak semua tugas harus berakhir dalam bentuk lembar jawaban yang kemudian dikumpulkan. Siswa dapat diminta mempresentasikan hasil pekerjaannya, berdiskusi langsung, mengerjakan sebagian tugas di kelas, atau menjelaskan kembali jawabannya menggunakan bahasa sendiri.

Dengan cara seperti itu, guru tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga dapat mengetahui sejauh mana siswa benar-benar memahami materi yang dipelajarinya.

Siswa juga perlu dibiasakan bersikap terbuka mengenai penggunaan AI. Mereka dapat menjelaskan bagian mana yang dikerjakan sendiri dan bagian mana yang menggunakan bantuan teknologi.

Keterbukaan semacam ini penting karena AI tidak selalu harus diperlakukan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa siswa tetap menjadi pihak yang berpikir, sementara AI hanya menjadi alat bantu.

Pada saat yang sama, keberadaan AI juga seharusnya membuat kita mengevaluasi kembali bentuk tugas yang diberikan kepada siswa.

Jika sebuah soal dapat diselesaikan AI dalam hitungan detik tanpa membutuhkan pemahaman berarti dari siswa, mungkin persoalannya tidak hanya terletak pada siswa yang menggunakan AI. Kita juga perlu bertanya apakah bentuk tugas tersebut masih efektif untuk mengukur kemampuan belajar.

Guru tentu tidak dapat menghadapi perubahan ini sendirian.

Mereka membutuhkan pelatihan, panduan penggunaan AI yang jelas, serta dukungan dari sekolah maupun pemerintah. Jangan sampai guru diminta mengawasi penggunaan AI oleh siswa, sementara mereka sendiri tidak pernah mendapatkan bekal yang cukup untuk memahami teknologi tersebut.

Guru perlu mengetahui bukan hanya cara kerja AI, tetapi juga keterbatasannya. AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi keliru. AI juga tidak selalu memahami konteks seperti manusia. Karena itu, kemampuan memeriksa informasi, mempertanyakan jawaban, dan berpikir kritis menjadi semakin penting.

Di sinilah pendidikan memiliki tantangan baru.

AI mungkin mampu menjawab banyak pertanyaan, tetapi pendidikan tidak hanya tentang mendapatkan jawaban.

Pendidikan juga mengajarkan bagaimana seseorang sampai pada sebuah jawaban, bagaimana mempertahankan pendapatnya, bagaimana mengakui kesalahan, bagaimana membedakan informasi yang benar dan keliru, serta bagaimana menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata.

AI tidak akan kembali ke masa lalu. Teknologi ini justru akan semakin dekat dengan kehidupan belajar anak-anak.

Karena itu, pertanyaan yang kita ajukan mungkin tidak lagi sekadar, “Bagaimana supaya siswa tidak menggunakan AI?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana supaya siswa tetap belajar ketika AI bisa mengerjakan begitu banyak hal?”

Guru dapat menjadi salah satu orang yang membantu siswa menemukan jawabannya. Namun, untuk menjalankan peran tersebut, guru juga perlu diberikan ruang, aturan, pengetahuan, dan kemampuan untuk menghadapi perubahan teknologi.

Sebab pada akhirnya, yang perlu dikhawatirkan bukan ketika AI mampu menghasilkan jawaban yang benar.

Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah ketika nilai siswa terlihat tinggi, sementara kita tidak lagi mengetahui apakah mereka benar-benar memahami apa yang mereka kerjakan.


ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/ketika-ai-bisa-menjawab-guru-harus-mengajarkan-apa/97845/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.38 WITA

  • #AI
  • #Bagaimana
  • #Bisa
  • #Guru
  • #Harus
  • #Jawaban
  • #Ketika
  • #Menggunakan
  • #Menjawab
  • #Siswa
  • #Tidak
  • #pendidikan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.