Singaraja, JurnalPost.com — Perubahan cara pandang generasi muda terhadap keluarga, pernikahan, dan keputusan memiliki anak menjadi salah satu dinamika sosial yang semakin mendapat perhatian. Di tengah berkembangnya fenomena childfree, kesiapan generasi muda untuk menjalankan peran sebagai orang tua dinilai penting, terutama dalam kaitannya dengan keberlanjutan regenerasi masyarakat Bali.
Fenomena tersebut menjadi perhatian tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Melalui penelitian bertajuk “JAGA KRAMA BALI: Analisis Kesiapan Pengasuhan Anak Generasi Z dalam Fenomena Childfree sebagai Tantangan Regenerasi Sosial Budaya di Bali”, tim mengkaji tingkat kesiapan Generasi Z Bali dalam menjalankan peran pengasuhan anak.
Penelitian melibatkan sebanyak 400 responden Generasi Z Bali berusia 18 hingga 26 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parenting readiness atau kesiapan pengasuhan anak pada kelompok responden secara umum berada dalam kategori sedang.
Temuan tersebut kemudian diperdalam melalui penggalian informasi terhadap enam informan. Hasilnya menunjukkan bahwa kesiapan seseorang untuk menjadi orang tua tidak ditentukan oleh satu faktor saja, melainkan dipengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Beberapa faktor yang ditemukan berkaitan dengan kesiapan pengasuhan antara lain kondisi ekonomi, psikologis, pendidikan dan pekerjaan, pengetahuan mengenai pola pengasuhan, kesiapan pasangan, pengalaman dalam keluarga, akses terhadap informasi, serta orientasi terhadap keturunan.
Selain itu, nilai adat dan agama hingga pemahaman mengenai kesehatan reproduksi juga menjadi bagian dari pertimbangan Generasi Z dalam mempersiapkan diri membangun keluarga.
Childfree Bukan Variabel Utama Penelitian
Dalam penelitian JAGA KRAMA BALI, fenomena childfree ditempatkan sebagai konteks perubahan orientasi generasi muda dalam membentuk keluarga, bukan sebagai variabel yang diuji secara langsung.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat kesiapan pengasuhan yang rendah tidak serta-merta menunjukkan seseorang akan memilih hidup tanpa anak. Sebaliknya, keinginan seseorang untuk memiliki anak juga belum tentu berarti individu tersebut telah siap untuk segera menjalankan peran sebagai orang tua.
Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan Generasi Z dalam membangun keluarga merupakan proses yang kompleks dan dinamis. Pertimbangan ekonomi, mental, pendidikan, karier hingga lingkungan keluarga dapat memengaruhi kapan seseorang merasa siap untuk memiliki dan mengasuh anak.
Karena itu, keputusan mengenai pembentukan keluarga tidak dapat hanya dilihat berdasarkan keinginan memiliki anak atau tidak memiliki anak, tetapi perlu dipahami melalui berbagai kondisi yang melatarbelakanginya.
Regenerasi Bali Berkaitan dengan Adat dan Budaya
Dalam konteks masyarakat Bali, persoalan regenerasi dinilai memiliki dimensi yang lebih luas. Kehadiran generasi penerus tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan sebuah keluarga, tetapi juga berhubungan dengan keberlanjutan kehidupan adat, tradisi, dan budaya masyarakat.

Pandangan dari BKKBN Provinsi Bali serta Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali turut memperkuat temuan penelitian tersebut. Kesiapan generasi muda dalam membangun keluarga dinilai bukan hanya mencakup kemampuan ekonomi dan psikologis, tetapi juga kesiapan untuk menjalankan tanggung jawab sosial dan budaya.
Penelitian JAGA KRAMA BALI juga menemukan bahwa parenting readiness memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi Generasi Z Bali mengenai keberlanjutan regenerasi sosial budaya serta sistem keluarga.
Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin baik kesiapan generasi muda dalam memahami dan menjalankan pengasuhan, semakin besar pula kesadaran mengenai pentingnya keberlanjutan keluarga serta kehidupan sosial budaya di Bali.
Jadi Masukan Penguatan Regenerasi Sosial Budaya
Melalui penelitian JAGA KRAMA BALI, tim PKM-RSH Undiksha berharap hasil penelitian dapat memberikan perspektif baru dalam memahami kesiapan Generasi Z menghadapi kehidupan keluarga.
Hasil penelitian juga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi berbagai pihak dalam merancang program pendidikan keluarga, kesehatan reproduksi, penguatan kesiapan psikologis, hingga literasi pengasuhan bagi generasi muda.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar pembahasan mengenai fenomena childfree tidak berhenti pada perdebatan mengenai pilihan memiliki atau tidak memiliki anak, tetapi juga diarahkan pada kesiapan generasi muda ketika memutuskan untuk membangun keluarga.
Tim JAGA KRAMA BALI turut menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) atas dukungan terhadap pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa.
Dukungan melalui program tersebut memungkinkan mahasiswa melakukan penelitian sosial yang berkaitan langsung dengan dinamika dan persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Melalui riset ini, kesiapan pengasuhan diharapkan dapat dipahami sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan generasi, keluarga, serta nilai-nilai sosial budaya masyarakat Bali.
JAGA KRAMA BALI — Menjaga Generasi, Merawat Tradisi.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda