SURABAYA, JurnalPost.com - Jalan Tunjungan menjadi salah satu destinasi wisata malam yang menarik perhatian masyarakat Surabaya maupun wisatawan dari luar daerah. Gemerlap lampu hias berbentuk daun yang menggantung di sepanjang jalan, lalu lalang kendaraan, serta keramaian anak muda yang menikmati suasana malam menciptakan daya tarik tersendiri di kawasan bersejarah tersebut.
Ketika malam tiba, kawasan ini berubah menjadi ruang berkumpul yang dipenuhi pengunjung. Sebagian memilih bersantai di bangku pedestrian, berjalan kaki menikmati suasana kota, hingga berburu kuliner yang dijajakan para pedagang di sekitar kawasan.
Jalan Tunjungan kini tidak hanya berfungsi sebagai salah satu jalur utama di pusat Kota Surabaya. Melalui penataan yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya, kawasan tersebut berkembang menjadi ruang publik yang memadukan nilai sejarah, fasilitas perkotaan, aktivitas wisata, dan peluang usaha bagi masyarakat.
Salah satu daya tarik Jalan Tunjungan adalah lokasinya yang berdekatan dengan Hotel Majapahit, bangunan bersejarah yang menjadi saksi peristiwa penyobekan bendera Belanda pada 19 September 1945.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan rakyat Surabaya. Keberadaan Hotel Majapahit sekaligus menambah nilai historis kawasan Tunjungan yang hingga kini tetap menjadi salah satu ikon Kota Pahlawan.
Pengunjung dapat menikmati wisata sejarah di sekitar Hotel Majapahit pada sore hari, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan santai, menikmati kuliner, atau sekadar menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga di Jalan Tunjungan saat malam tiba.
Keramaian Wisatawan Membawa Peluang bagi Pelaku UMKM
Ramainya aktivitas wisata malam di Jalan Tunjungan turut memberikan peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbagai pedagang memanfaatkan keramaian pengunjung untuk menawarkan produk mereka.
Mulai dari kopi keliling, makanan seperti sate dan gulai, hingga aneka aksesori, bunga segar, kerajinan tangan, serta produk fesyen lokal dapat dijumpai di sekitar kawasan tersebut.
Salah seorang pedagang aksesori bernama Nanda, yang telah berjualan di kawasan Tunjungan selama kurang lebih dua tahun, mengaku merasakan perubahan suasana setelah kawasan tersebut semakin tertata dan ramai dikunjungi masyarakat.
“Sekarang jauh lebih rame dan tertib, Mbak. Kalau dulu sepi. Sekarang semenjak ada lampu-lampu dan tempat duduk ini, anak-anak muda betah nongkrong,” ujar Nanda.
Menurutnya, keberadaan fasilitas pedestrian dan penerangan yang menarik membuat pengunjung semakin nyaman menghabiskan waktu di Jalan Tunjungan, terutama pada akhir pekan.
Hal serupa disampaikan Fia, salah seorang penjual bunga segar atau fresh flower di kawasan tersebut. Ia mengaku terbantu dengan ramainya pengunjung yang berasal dari berbagai kalangan.
“Enak, Kak, di sini. Pembelinya campur, ada turis yang habis dari Hotel Majapahit, ada pekerja kantoran juga. Kita dikasih tempat, cuma harus jaga kebersihan dan tidak boleh pakai tenda permanen,” jelas Fia.
Bagi para pedagang, keberadaan kawasan wisata yang ramai tidak hanya membuka kesempatan meningkatkan penjualan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan produk lokal kepada pengunjung dari berbagai daerah.
Penataan Parkir untuk Menjaga Kenyamanan Pengunjung
Selain menghadirkan fasilitas pedestrian, penataan kawasan Jalan Tunjungan juga mencakup pengaturan lalu lintas dan parkir kendaraan.
Di sepanjang sisi jalan yang diberlakukan larangan parkir, kendaraan roda dua maupun roda empat tidak diperbolehkan berhenti atau memarkirkan kendaraan sembarangan di bahu jalan.
Aturan tersebut bertujuan menjaga ketertiban kawasan, mengurangi hambatan arus lalu lintas, serta memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki yang ingin menikmati suasana wisata malam.
Dengan kondisi jalan yang lebih tertata, pengunjung dapat menikmati deretan bangunan bersejarah, cahaya lampu kota, dan aktivitas perdagangan yang menjadi bagian dari kehidupan malam di pusat Surabaya.
Keberadaan Jalan Tunjungan memperlihatkan bagaimana kawasan bersejarah dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan identitasnya.
Perpaduan antara sejarah, wisata kuliner, aktivitas anak muda, dan geliat UMKM menjadikan Jalan Tunjungan lebih dari sekadar jalan di tengah kota. Kawasan ini telah menjadi ruang pertemuan masyarakat sekaligus salah satu wajah pariwisata malam Surabaya.
Di tengah perkembangan Kota Pahlawan yang semakin modern, Jalan Tunjungan tetap mempertahankan pesonanya sebagai tempat untuk menikmati suasana perkotaan, mengenal sejarah, serta merasakan kehidupan masyarakat Surabaya dari dekat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda