JurnalPost.com - Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor menjadi salah satu tantangan lingkungan yang semakin terasa di kawasan perkotaan, termasuk Yogyakarta. Pada jam-jam sibuk, kepadatan lalu lintas tidak hanya menyebabkan kemacetan, tetapi juga meningkatkan jumlah emisi gas buang yang dilepaskan ke udara.
Emisi kendaraan bermotor dapat mengandung berbagai polutan, seperti karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC), hingga partikulat. Jika jumlah kendaraan terus meningkat tanpa diimbangi pengendalian emisi yang memadai, kualitas udara perkotaan berpotensi semakin tertekan.
Persoalan tersebut juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Yogyakarta. Pada September 2026, pemerintah kota menyelenggarakan layanan uji emisi kendaraan secara gratis sebagai bagian dari upaya mengendalikan pencemaran udara dan menjaga kualitas lingkungan.
Mahasiswa Biologi Bisa Ikut Mengambil Peran
Persoalan kualitas udara tidak hanya dapat dilihat sebagai tanggung jawab pemerintah. Kalangan akademik, termasuk mahasiswa, juga memiliki ruang untuk terlibat dalam upaya menjaga lingkungan.
Bagi mahasiswa Biologi, ilmu yang dipelajari di ruang perkuliahan dapat diterapkan melalui kegiatan sederhana yang berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan.
Salah satunya adalah melakukan pengamatan terhadap kualitas udara di beberapa lokasi dengan tingkat kepadatan kendaraan yang berbeda. Hasil pengamatan tersebut dapat digunakan untuk memahami hubungan antara aktivitas lalu lintas dan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Mahasiswa juga dapat berperan melalui edukasi kepada masyarakat mengenai dampak polusi udara terhadap kesehatan manusia maupun keseimbangan lingkungan.
Kampanye mengenai penggunaan transportasi umum, berjalan kaki untuk perjalanan jarak dekat, bersepeda, serta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi apabila memungkinkan juga dapat menjadi langkah sederhana yang memiliki dampak positif jika dilakukan secara konsisten.
Penghijauan sebagai Upaya Pendukung
Kontribusi mahasiswa Biologi juga dapat dilakukan melalui kegiatan penghijauan, baik di lingkungan kampus maupun di kawasan permukiman.
Tumbuhan mempunyai kemampuan menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis. Vegetasi tertentu juga dapat membantu menangkap sebagian partikulat yang berada di udara.
Karena itu, kegiatan seperti penanaman pohon, pembuatan taman hijau, serta pemeliharaan vegetasi di sekitar jalan dapat menjadi salah satu bentuk tindakan nyata dalam menjaga kualitas lingkungan.
Namun, penghijauan tidak boleh dipandang sebagai satu-satunya solusi.
Keberadaan pohon dan ruang hijau tetap perlu disertai dengan pengurangan sumber pencemaran. Tumbuhan tidak dapat sepenuhnya menggantikan upaya pengendalian emisi kendaraan bermotor.
Jika jumlah kendaraan dan emisinya terus meningkat, manfaat penghijauan akan terbatas dalam mengatasi sumber utama pencemaran udara.
Perubahan Kebiasaan Juga Penting
Menjaga kualitas udara membutuhkan perubahan yang berlangsung dari berbagai arah.
Pemerintah dapat memperkuat kebijakan pengendalian emisi, menyediakan transportasi publik yang nyaman, serta memperluas pengawasan terhadap kendaraan yang tidak memenuhi standar emisi.
Masyarakat dapat ikut berkontribusi dengan mempertimbangkan cara bepergian yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, mahasiswa dapat menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dan masyarakat melalui penelitian sederhana, edukasi, kampanye lingkungan, serta kegiatan penghijauan.
Sebagai mahasiswa Biologi, saya melihat bahwa persoalan polusi udara seharusnya tidak hanya dipahami melalui angka pencemaran atau kepadatan kendaraan. Masalah ini juga berkaitan dengan pilihan dan kebiasaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat.
Semakin banyak masyarakat yang sadar terhadap dampak penggunaan kendaraan bermotor, semakin besar pula peluang untuk menekan pencemaran udara di perkotaan.
Upaya tersebut sejalan dengan langkah Pemerintah Kota Yogyakarta yang mendorong pengendalian emisi kendaraan serta penggunaan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Pada akhirnya, kualitas udara Yogyakarta tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh bagaimana masyarakat menggunakan ruang kota dan memilih cara untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Jalanan mungkin akan tetap ramai. Namun, bukan berarti kualitas udara harus selalu menjadi harga yang dibayar dari meningkatnya mobilitas masyarakat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda