Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  2. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  5. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Ketika Kasta Tak Lagi Harus Berarti Tinggi dan Rendah: Menjaga Warisan Bali di Tengah Perubahan Zaman

Ketika Kasta Tak Lagi Harus Berarti Tinggi dan Rendah: Menjaga Warisan Bali di Tengah Perubahan Zaman

A
Penulis: Agung Mahisa Gangga Dewi
22 September 2026, 13.37 WITA Editor: Gilang Pamungkas
5 menit baca
1000559968
Gambar tersebut meneceritakan tentang tarian tradisional Bali yang menceritakan kisah pewayangan, foto ini sangat dekat dengan tradisi yang akan dibahas dalam artikel ini. Foto: Pinterest
“Kalau kasta sudah dianggap tidak relevan, apakah berarti kita juga harus membuang sejarah yang ada di baliknya?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin terdengar mengusik. Di Bali, pembicaraan mengenai kasta atau wangsa hampir selalu membawa kita pada perdebatan yang panjang. Ada yang menganggapnya sebagai bagian dari identitas dan warisan leluhur yang perlu dipertahankan. Di sisi lain, ada pula yang melihatnya sebagai sistem sosial yang sudah tidak sesuai dengan semangat kesetaraan masyarakat masa kini.

Perdebatan tersebut sebenarnya tidak mengherankan. Bali bukan hanya tentang pantai, pura, upacara, atau pariwisata. Bali juga memiliki sistem sosial dan kebudayaan yang terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang. Salah satunya adalah keberadaan wangsa yang dalam perkembangannya sering disebut sebagai sistem kasta.

Masalahnya, ketika kata “kasta” disebut, yang sering muncul justru bayangan tentang siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Gelar tertentu dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi, sementara orang dari kelompok tertentu dapat mengalami perlakuan berbeda. Pada titik inilah kritik terhadap kasta menjadi masuk akal. Tidak seharusnya kelahiran seseorang menentukan nilai dirinya sebagai manusia.

Namun, apakah kritik terhadap sistem kasta berarti kita harus menghapus seluruh warisan budaya yang berkaitan dengannya? Mungkin jawabannya tidak sesederhana “dipertahankan” atau “dihapus”.

Antara Kasta, Wangsa, dan Identitas

Salah satu hal yang sering terlupakan dalam perdebatan tentang kasta adalah bahwa identitas wangsa juga berkaitan dengan sejarah keluarga. Bagi sebagian masyarakat Bali, mengetahui asal-usul keluarga bukan sekadar persoalan status sosial. Di dalamnya terdapat cerita tentang leluhur, hubungan kekerabatan, tradisi, tempat asal, hingga kewajiban adat yang diwariskan antargenerasi.

Bayangkan jika generasi muda Bali tidak lagi mengetahui siapa leluhurnya, dari mana keluarganya berasal, tradisi apa yang pernah dijalankan, dan mengapa keluarganya memiliki hubungan tertentu dengan suatu lingkungan adat. Lama-kelamaan, bagian dari sejarah tersebut bisa saja hilang.

Di sinilah kita perlu membedakan antara melestarikan identitas budaya dan mempertahankan hierarki sosial. Mengetahui bahwa seseorang berasal dari wangsa tertentu tidak harus berarti bahwa orang tersebut lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, seseorang juga tidak seharusnya dianggap lebih rendah hanya karena berasal dari wangsa yang berbeda. Identitas dapat menjadi sesuatu yang memperkenalkan seseorang kepada sejarahnya, bukan alat untuk menentukan harga dirinya.

Ada Nilai yang Layak Dipertahankan

Jika kita melihat lebih jauh, kehidupan sosial tradisional Bali memiliki nilai yang cukup kuat dalam hal penghormatan terhadap leluhur, tanggung jawab keluarga, gotong royong, serta keberlanjutan adat. Nilai-nilai tersebut sebenarnya masih relevan sampai sekarang.

Misalnya, kesadaran terhadap leluhur dapat mendorong seseorang untuk memahami sejarah keluarganya. Pengetahuan mengenai kewajiban adat dapat membuat generasi muda tidak sekadar menjalankan upacara karena “sudah dari dulu”, tetapi memahami alasan dan makna di baliknya.

Begitu pula dengan pembagian peran dalam masyarakat adat. Dalam konteks masa lalu, masyarakat membutuhkan keteraturan agar kehidupan bersama dapat berjalan. Setiap orang memiliki tanggung jawab tertentu dalam lingkungan sosialnya.

Namun, masyarakat berubah. Cara kita memahami tanggung jawab dan kedudukan sosial juga seharusnya ikut berkembang.

Pembagian peran tidak harus diterjemahkan menjadi pembagian derajat manusia.

Seseorang dapat memiliki peran berbeda dalam masyarakat tanpa berarti memiliki nilai kemanusiaan yang berbeda. 

Jangan Sampai Budaya Dipertahankan dengan Cara yang Justru Menjauhi Maknanya 

Di sinilah tantangan terbesar dalam melestarikan budaya. Sering kali kita berpikir bahwa menjaga budaya berarti mempertahankan semua hal yang diwariskan leluhur persis seperti bentuknya dahulu. Padahal, kebudayaan pada dasarnya selalu mengalami perubahan. Bahasa berubah, cara berpakaian berubah, teknologi berubah, bahkan cara masyarakat menjalankan tradisi juga mengalami penyesuaian.

Karena itu, mempertahankan budaya tidak harus berarti mempertahankan semua praktik sosial tanpa kritik. Jika suatu praktik dalam sistem kasta menimbulkan perlakuan yang merendahkan atau membatasi seseorang hanya karena garis keturunannya, praktik tersebut layak dipertanyakan. Akan tetapi, mempertanyakan praktik diskriminatif tidak sama dengan menolak seluruh sejarah dan identitas budaya yang ada di belakangnya.

Justru, di sinilah generasi muda Bali memiliki pekerjaan yang tidak mudah: memilah warisan.

Mana yang merupakan nilai? Mana yang merupakan konteks sejarah? Mana yang masih relevan? Dan mana yang perlu ditinggalkan karena sudah bertentangan dengan kehidupan masyarakat saat ini?

Kasta yang Dimaknai Ulang

Mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat persoalan ini hanya dalam dua pilihan: mempertahankan kasta sepenuhnya atau menghapusnya sepenuhnya.

Ada pilihan lain, yaitu memaknai ulang.

Wangsa dapat tetap menjadi bagian dari identitas budaya. Silsilah keluarga tetap dapat dipelajari. Hubungan dengan leluhur tetap dapat dijaga. Tradisi dan kewajiban adat tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tetapi semua itu dapat berjalan berdampingan dengan prinsip bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang setara.

Dengan cara pandang tersebut, seorang anak muda Bali tidak harus memilih antara menjadi modern atau menjadi tradisional. Ia dapat mengenal sejarah leluhurnya sekaligus memiliki pandangan kritis terhadap praktik sosial yang sudah tidak sesuai dengan zamannya.

Sebab, budaya yang hanya bisa bertahan jika tidak boleh dipertanyakan mungkin justru akan semakin jauh dari generasi mudanya.

Sebaliknya, budaya yang mampu berdialog dengan perubahan memiliki kesempatan untuk tetap hidup.

Pada akhirnya, persoalan kasta di Bali bukan sekadar pertanyaan tentang siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat Bali menentukan bagian mana dari warisan leluhur yang ingin dibawa menuju masa depan.

Mungkin yang perlu kita pertahankan bukanlah “tinggi dan rendahnya manusia berdasarkan kelahiran”, melainkan cerita, identitas, nilai, tanggung jawab, dan penghormatan kepada leluhur yang pernah membentuk masyarakat Bali.

Karena melestarikan budaya bukan berarti menyimpan masa lalu di dalam kaca agar tidak berubah. Melestarikan budaya berarti membuat warisan itu tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi berikutnya.

Dan mungkin, masa depan budaya Bali bukan terletak pada mempertahankan semuanya seperti dahulu, melainkan pada keberanian untuk bertanya: apa yang benar-benar layak kita wariskan?
1000559970
Ini adalah foto barong, sebuah icon dari tradisi Bali.Foto: Pinterest

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/ketika-kasta-tak-lagi-harus-berarti-tinggi-dan-rendah-menjaga-warisan-bali-di-tengah-perubahan-zaman/97795/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.46 WITA

  • #Bali
  • #budaya bali
  • #kasta bali
  • #kesetaraan sosial
  • #masyarakat bali
  • #sejarah keluarga
  • #tradisi
  • #tradisi leluhur
  • #wangsa

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Beli Mainan Anak di Bojonegoro Kini Bisa Bayar Pakai QRIS BRI

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Pilihan Editor

  1. 1 Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?
  2. 2

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  3. 3

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  4. 4

    Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

  5. 5

    Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.