Penulis adalah Praktisi pendidikan di pesantren. Mahasiswa magister Manajemen Pendidikan Islam STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau
JurnalPost.com — Ketika muncul kasus kenakalan remaja, menurunnya prestasi belajar, atau perilaku peserta didik yang dianggap semakin jauh dari nilai-nilai kesopanan, sekolah hampir selalu menjadi pihak pertama yang disorot. Guru dipertanyakan, sistem pembelajaran dikritik, bahkan kualitas pendidikan dinilai gagal hanya berdasarkan perilaku sejumlah peserta didik.
Padahal, persoalan pendidikan tidak sesederhana menunjuk siapa yang harus disalahkan. Ada persoalan lebih mendasar yang kerap luput dari perhatian, yakni ketidakseimbangan tanggung jawab antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial dalam membentuk karakter anak.
Di sinilah paradoks mutu pendidikan masa kini terlihat. Sekolah dituntut menghasilkan generasi yang cerdas, disiplin, berintegritas, dan berakhlak baik. Namun, nilai-nilai yang ditanamkan guru di ruang kelas tidak selalu mendapatkan penguatan ketika peserta didik kembali ke rumah atau berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Akibatnya, pendidikan seolah berjalan dalam dua arah yang berbeda. Guru berupaya membangun kebiasaan positif, sementara anak menghadapi berbagai pengaruh di luar sekolah yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai tersebut.
Mutu Pendidikan Bukan Sekadar Nilai Akademik
Selama ini, keberhasilan pendidikan masih sering diukur melalui angka. Nilai rapor, hasil ujian, peringkat sekolah, hingga jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi menjadi indikator yang paling mudah dilihat.
Namun, dalam perspektif manajemen mutu pendidikan, kualitas pendidikan memiliki makna yang jauh lebih luas.
Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter, kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab sosial, serta kesadaran moral.
Guru memegang peranan penting dalam proses tersebut. Di ruang kelas, mereka bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga memberikan keteladanan melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
Konsep qudwah hasanah atau keteladanan yang baik menjadi relevan dalam konteks ini. Peserta didik tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan guru, tetapi juga dari bagaimana guru bersikap, mengambil keputusan, menghargai orang lain, dan menjalankan tanggung jawabnya.
Persoalannya, pendidikan karakter tidak dapat diselesaikan hanya melalui beberapa jam pembelajaran di sekolah.
Nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat membutuhkan pembiasaan yang konsisten. Tanpa dukungan dari lingkungan terdekat, proses pembentukan karakter akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.
Ketika Sekolah Mengajarkan Nilai, Lingkungan Justru Memberikan Contoh Berbeda
Perkembangan teknologi digital semakin memperumit tantangan pendidikan karakter.
Anak-anak dan remaja kini tumbuh dalam lingkungan yang memungkinkan mereka mengakses informasi, hiburan, dan berbagai bentuk interaksi sosial hampir tanpa batas.
Media sosial, layanan video, permainan daring, serta beragam platform digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Semua itu dapat memberikan manfaat bagi pembelajaran, tetapi juga menghadirkan risiko ketika digunakan tanpa pendampingan yang memadai.
Seorang guru mungkin mengajarkan pentingnya berbicara dengan santun. Namun, di luar sekolah, peserta didik bisa saja terbiasa menyaksikan perilaku saling menghina, perundungan, atau komunikasi agresif yang dianggap lumrah di ruang digital.
Demikian pula ketika sekolah menanamkan nilai kejujuran, tetapi anak justru menemukan contoh ketidakjujuran dalam interaksi sosial di lingkungan terdekatnya.
Perbedaan antara nilai yang diajarkan dan perilaku yang disaksikan inilah yang dapat menimbulkan kebingungan dalam pembentukan karakter.
Anak pada akhirnya tidak hanya dipengaruhi oleh nasihat, melainkan juga oleh kebiasaan yang terus-menerus mereka lihat.
Karena itu, persoalan karakter peserta didik tidak cukup dijawab dengan menambah aturan sekolah atau memperketat hukuman. Perlu ada keselarasan antara pendidikan formal dan pengalaman sosial anak di luar kelas.
Orang Tua Tidak Bisa Menyerahkan Seluruh Tanggung Jawab kepada Guru
Salah satu persoalan dalam ekosistem pendidikan adalah munculnya anggapan bahwa sekolah menjadi pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab atas perkembangan anak.
Ketika peserta didik menunjukkan perilaku bermasalah, sebagian orang tua mungkin langsung mempertanyakan kemampuan guru dalam mendidik. Padahal, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kebiasaan dan karakter anak.
Pendidikan karakter seharusnya tidak berhenti ketika bel pulang sekolah berbunyi.
Jika guru menanamkan kedisiplinan, orang tua perlu memperkuatnya melalui kebiasaan di rumah. Ketika sekolah mengajarkan tanggung jawab, keluarga juga perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar menjalankan kewajibannya.
Begitu pula dalam penggunaan perangkat digital. Anak memerlukan pendampingan untuk memahami batasan, memilih konten yang sesuai, serta menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Namun, penting pula dipahami bahwa tidak semua keluarga memiliki kondisi yang sama. Kesibukan bekerja, tekanan ekonomi, keterbatasan literasi digital, hingga persoalan komunikasi dalam keluarga dapat memengaruhi kemampuan orang tua mendampingi anak.
Karena itu, kritik terhadap kurangnya keterlibatan keluarga tidak seharusnya berubah menjadi upaya memindahkan kesalahan dari guru kepada orang tua.
Yang dibutuhkan justru kerja sama agar kedua lingkungan pendidikan tersebut saling mendukung.
Sekolah dan Keluarga Harus Membangun Kemitraan Nyata
Dalam manajemen mutu pendidikan, perbaikan kualitas tidak cukup dilakukan melalui perubahan kurikulum, peningkatan fasilitas, atau penguatan kompetensi guru semata.
Diperlukan pendekatan sistemik yang menempatkan seluruh pihak sebagai bagian dari proses pendidikan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat kemitraan sekolah dan orang tua atau parenting partnership.
Kemitraan ini tidak seharusnya berhenti pada rapat komite, pembagian rapor, atau pemanggilan orang tua ketika peserta didik melakukan pelanggaran.
Sekolah perlu membangun komunikasi dua arah secara berkala mengenai perkembangan karakter, kebutuhan belajar, dan tantangan sosial yang dihadapi peserta didik.
Program edukasi pengasuhan, literasi digital keluarga, serta pendampingan psikososial dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi tersebut.
Di sisi lain, orang tua perlu memiliki kesadaran bahwa keterlibatan mereka merupakan bagian penting dari keberhasilan pendidikan.
Komunikasi dengan anak, pengawasan penggunaan teknologi, penerapan aturan yang proporsional, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari memiliki peranan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sekolah.
Pemerintah dan pemangku kebijakan pendidikan juga perlu mendukung kerja sama tersebut melalui program yang memperkuat kapasitas keluarga, meningkatkan akses pendampingan, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Berhenti Mencari Kambing Hitam, Mulai Memperbaiki Ekosistem Pendidikan
Menyalahkan guru setiap kali muncul persoalan perilaku peserta didik bukanlah penyelesaian yang memadai.
Guru tetap harus menjalankan tanggung jawab profesionalnya, termasuk memberikan pembelajaran berkualitas, membangun lingkungan sekolah yang aman, dan menjadi teladan bagi peserta didik. Akan tetapi, tanggung jawab tersebut tidak berarti seluruh persoalan pendidikan dapat dibebankan kepada mereka.
Pendidikan merupakan proses panjang yang berlangsung melalui interaksi antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan lingkungan digital.
Sekolah dapat diibaratkan sebagai tempat menanam benih pengetahuan dan karakter. Namun, keluarga dan lingkungan sosial turut menentukan apakah benih tersebut mendapatkan ruang untuk tumbuh dengan baik.
Tanpa kesinambungan nilai dan keteladanan, berbagai program peningkatan mutu pendidikan berisiko hanya menghasilkan perubahan administratif tanpa memberikan dampak yang mendalam terhadap perkembangan peserta didik.
Sudah saatnya pembicaraan mengenai kualitas pendidikan bergeser dari kebiasaan mencari pihak yang bersalah menuju upaya membangun tanggung jawab bersama.
Sebab, mutu pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya terlihat ketika seorang anak mampu menjawab soal ujian dengan benar, tetapi juga ketika ia mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan yang berkualitas tidak mungkin dibangun oleh guru seorang diri. Keberhasilannya membutuhkan keselarasan antara keteladanan di sekolah, pengasuhan dalam keluarga, dan pengaruh lingkungan sosial yang mendukung.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda