Dibuat oleh Muhammad Yudha Wiratama Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
JurnalPost.com - Beberapa tahun terakhir, budaya minum kopi seperti berubah menjadi ritual wajib, terutama bagi Gen Z. Ke mana pun kaki melangkah, selalu ada coffee shop yang siap disinggahi. Entah di gang kecil, di ruko-ruko dekat kampus, di mall besar, atau di sudut kota yang tidak pernah kita perhatikan sebelumnya, tiba-tiba berdiri sebuah kedai kopi dengan lampu temaram, playlist indie, dan aroma biji kopi yang menyerang hidung begitu pintu dibuka. Di dalamnya, pemandangan yang muncul hampir selalu sama gelas iced coffee, laptop terbuka, earphone terpasang, tatapan serius, serta orang-orang yang entah benar-benar produktif atau sekadar ingin terlihat sibuk di depan layar.
Kini kopi bukan lagi sekadar minuman pahit yang dulunya identik dengan bapak-bapak di pagi hari. Kopi sudah menjelma menjadi simbol gaya hidup. Hari tanpa kopi terasa seperti pagi tanpa matahari hidup, tapi hambar. Banyak anak muda bahkan merasa belum mulai kalau belum meminum seteguk kafein. Ada yang bercanda bahwa kopi adalah tombol on untuk otak. Tanpa kopi, logika berhenti bekerja, kalimat tidak nyambung, dan semangat terasa seperti baterai HP lima persen yang bertahan hanya karena mode hemat daya. Anehnya, walaupun sudah meneguk kopi berkali-kali, hasil kerja kadang tetap tidak selesai. Tapi, setidaknya perasaan yang muncul lebih ringan, dan mood lebih tertata. Itu sudah cukup untuk membuat hati merasa aman.
Di sisi lain, budaya ngopi juga berhubungan erat dengan urusan eksistensi. Kopi kini bukan hanya soal rasa, tapi juga tampilan. Segelas latte yang diletakkan di atas meja kayu dengan pencahayaan yang pas bisa jadi bahan konten Instagram atau TikTok. Foto dari angle atas, sedikit efek dramatis iphone, ditambah caption yang entah bernada healing atau setengah galau. Sesekali terselip kalimat-kalimat ala quote seperti, “Hidup itu seperti kopi, pahit tapi bikin melek,” padahal yang pahit sebenarnya bukan kopinya, melainkan realita hidup yang datang bertubi-tubi. Namun begitulah, media sosial memberi panggung, dan kopi adalah salah satu properti favorit Gen Z dalam kehidupan digitalnya.
Di luar semua estetika itu, ada hal menarik lainnya. Gen Z perlahan-lahan menumbuhkan rasa penasaran yang lebih dalam terhadap kopi itu sendiri. Yang dulunya cuma mengenal kopi sachet dan kopi tubruk, sekarang mulai bisa membedakan apa itu latte, cappuccino, flat white, atau americano. Beberapa bahkan sudah membahas notes rasa ada yang bilang kopinya punya aroma floral, ada yang merasa aftertaste-nya manis, meskipun mulutnya masih kaget setiap kali meneguk karena rasa pahit tetap mendominasi. Tidak sedikit juga yang mencoba meracik kopi di rumah.
Namun, alasan yang paling kuat mengapa kopi begitu lekat dengan Gen Z sebenarnya cukup sederhana. Hidup di era sekarang melelahkan. Dunia berjalan terlalu cepat, informasi datang tanpa jeda, notifikasi muncul tanpa henti, dan ekspektasi sosial terasa seperti beban yang menggantung di pundak setiap hari. Di tengah ritme hidup yang serba ngebut, kopi menjadi semacam ruang berhenti. Satu tegukan kafein terasa seperti permisi kecil kepada dunia “Tunggu sebentar, aku menarik napas dulu.” Coffee shop menjadi tempat pelarian yang paling utama. Di sana, orang bisa duduk diam, menenangkan kepala, mengatur ulang napas, atau sekadar memandangi lampu gantung sambil memikirkan bagaimana besok harus bertahan lagi.
Ngopi sendirian menciptakan semacam ketenangan. Ada momen ketika seseorang duduk di pojokan, membuka laptop, tetapi sebenarnya tidak mengerjakan apa-apa. Itu bukan malas, tapi bentuk healing yang tidak terucap. Sementara itu, ngopi bersama teman menciptakan kondisi yang berbeda. Tiba-tiba meja kopi berubah menjadi ruang curhat, ruang rapat, ruang bercanda, bahkan ruang diskusi masa depan walaupun masa depan itu masih sering terdengar samar. Kopi bisa memfasilitasi keheningan, tapi kopi juga bisa menjadi alasan untuk saling bertemu. Ia menjadi medium sosial yang cocok untuk introvert, pas untuk ekstrovert.
Pada akhirnya, posisi kopi dalam kehidupan Gen Z adalah gabungan dari banyak hal. Ia adalah simbol gaya hidup, identitas diri, pelarian emosional, hobi baru yang intelektual, dan alat bertahan hidup di tengah tekanan dunia modern. Kopi menjadi semacam perantara yang menjembatani logika dan perasaan. Ia menemani lelah, menemani semangat, bahkan menemani momen hampa yang tidak tahu harus bagaimana. Kopi mungkin tidak menyelesaikan masalah, tetapi mampu memberi jeda agar pemilik masalah tidak runtuh begitu saja.
Apa pun bentuknya kopi susu, kopi tubruk, espresso, kopi literan, atau kopi sachet tiga ribuan kopi terbaik adalah yang membuat kepala lebih ringan dan hati lebih lega. Jadi, selama perjalanan hidup ini masih penuh kejutan dan kepadatan, tidak ada salahnya sesekali berhenti dan menyeruput hari pelan-pelan. Karena hidup sudah cukup rumit, tidak perlu juga menyeruputnya dalam kondisi tergesa-gesa. Santai saja. Ngopi dulu. Biar waras.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda