Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  2. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  5. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Kerja Sampingan sebagai Gaya Hidup: Membaca Minat Gen Z pada Dunia Barista Lewat Kacamata Kalcer

Kerja Sampingan sebagai Gaya Hidup: Membaca Minat Gen Z pada Dunia Barista Lewat Kacamata Kalcer

A
Penulis: An Nisa Dira Rasisa | Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
15 Oktober 2026, 17.50 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
10 menit baca
Cinematic Barista Crafting Latte Art
Ilustrasi seorang barista muda sedang meracik kopi di sebuah kafe. Profesi barista semakin diminati Generasi Z sebagai pekerjaan sampingan untuk memperoleh penghasilan, mengembangkan keterampilan, dan menjadi bagian dari budaya kalcer. Sumber: Ilustrasi AI/JurnalPost.com.

JurnalPost.com - Coba perhatikan lowongan kerja paruh waktu yang beredar di sekitar kita. Di antara berbagai pilihan pekerjaan, posisi barista menjadi salah satu yang cukup menarik perhatian anak muda, khususnya Generasi Z atau Gen Z. Tidak sedikit mahasiswa maupun pekerja muda yang memilih bekerja di kafe untuk mengisi waktu luang sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.

Namun, pernahkah kita bertanya mengapa pekerjaan barista begitu menarik bagi Gen Z?

IKLAN

Jika dilihat dari segi penghasilan, menjadi barista bukan selalu pilihan pekerjaan yang paling menjanjikan. Terutama di kafe berskala kecil, upah yang ditawarkan terkadang tidak sebanding dengan berbagai tanggung jawab yang harus dijalankan.

Cozy Café Study Session
Baca Juga

Nugas di Coffee Shop: Produktif atau Sekadar Mencari Suasana?

Seorang barista bukan hanya bertugas meracik kopi. Mereka juga harus melayani pelanggan, menjaga kebersihan tempat kerja, menyiapkan kebutuhan operasional, hingga melakukan persiapan pembukaan dan penutupan kafe.

Pekerjaan ini juga menuntut ketahanan fisik karena barista sering kali harus berdiri selama berjam-jam dan menghadapi berbagai karakter pelanggan.

Meski demikian, daya tarik pekerjaan ini tetap terlihat di kalangan anak muda. Bahkan, kita dapat menjumpai barista yang memiliki penampilan modis, menggunakan aksesori bermerek, atau membawa perangkat elektronik keluaran terbaru.

Tentu, penampilan tersebut tidak dapat dijadikan ukuran kondisi ekonomi seseorang. Namun, fenomena ini menarik ketika dikaitkan dengan cara Gen Z membangun identitas melalui pekerjaan, gaya hidup, dan media sosial.

Pensive Study Session by the Window
Baca Juga

Menjadi Diri Sendiri atau Mengikuti Tren? Krisis Identitas Anak Muda di Era FOMO

Ada kemungkinan bahwa bagi sebagian anak muda, pekerjaan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup yang ingin mereka tampilkan.

Pergeseran tersebut berkaitan dengan dua fenomena yang cukup dekat dengan kehidupan Gen Z, yaitu budaya kalcer dan fear of missing out (FOMO).

Barista dan Budaya Kalcer di Kalangan Gen Z

Istilah kalcer, yang berasal dari kata bahasa Inggris culture, belakangan populer digunakan anak muda untuk menggambarkan gaya hidup, selera, dan budaya yang dianggap menarik atau keren.

Istilah ini sering dikaitkan dengan pilihan musik, gaya berpakaian, tempat nongkrong, hingga kebiasaan mengonsumsi kopi.

FoMO ke JoMO
Baca Juga

Dari FoMO ke JoMO: Belajar Menikmati Hidup Tanpa Harus Mengikuti Orang Lain

Dalam budaya tersebut, kafe tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membeli minuman.

Kafe berkembang menjadi ruang sosial tempat anak muda berkumpul, bekerja, belajar, membangun relasi, sekaligus menunjukkan identitas diri.

Pilihan tempat nongkrong, jenis kopi yang diminum, hingga penampilan ketika berada di kafe dapat menjadi bagian dari cara seseorang mengekspresikan seleranya.

Fenomena ini membuat profesi barista memiliki daya tarik tersendiri.

Barista tidak selalu dilihat hanya sebagai pekerja yang menyiapkan pesanan pelanggan. Dalam gambaran budaya populer, mereka kerap diasosiasikan dengan sosok yang memahami kopi, memiliki selera musik tertentu, berpenampilan menarik, dan akrab dengan suasana kafe yang estetik.

Citra tersebut kemudian membentuk persepsi bahwa bekerja sebagai barista bukan sekadar menjalankan pekerjaan pelayanan, melainkan juga menjadi bagian dari lingkungan sosial yang dianggap menarik.

Bagi sebagian Gen Z, bekerja di kafe dapat memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pekerjaan paruh waktu lainnya.

Mereka memiliki kesempatan mengenal berbagai jenis kopi, berinteraksi dengan banyak orang, serta merasakan langsung lingkungan kerja yang sebelumnya mungkin hanya mereka nikmati sebagai pelanggan.

Namun, di sinilah muncul pertanyaan lain. Apakah ketertarikan terhadap pekerjaan barista benar-benar berasal dari minat pada dunia kopi dan pelayanan, atau justru karena citra pekerjaan tersebut dianggap sesuai dengan gaya hidup yang sedang populer?

Ketika FOMO Ikut Memengaruhi Pilihan Pekerjaan

Gen Z tumbuh di tengah perkembangan media sosial yang memungkinkan mereka melihat aktivitas orang lain hampir setiap saat.

Melalui Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital, anak muda dapat dengan mudah menemukan konten mengenai kehidupan sehari-hari seseorang.

Mulai dari rekomendasi kafe baru, tren minuman kopi dan matcha, gaya berpakaian, hingga video bertema a day in my life as a barista.

Konten semacam ini sering menampilkan sisi menarik dari pekerjaan barista.

Aktivitas meracik kopi, menata minuman, berinteraksi dengan pelanggan, dan bekerja di ruangan yang nyaman dapat terlihat menyenangkan ketika dikemas melalui video singkat.

Tidak mengherankan jika sebagian penonton kemudian tertarik membayangkan dirinya menjalani pengalaman serupa.

Terlebih lagi ketika teman sebaya mulai bekerja di kafe dan membagikan pengalaman tersebut melalui media sosial.

Keinginan untuk mencoba pengalaman yang sama dapat muncul karena rasa penasaran, ketertarikan terhadap pekerjaan, atau dorongan agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan pertemanan.

Dalam situasi inilah FOMO dapat memengaruhi keputusan seseorang.

FOMO menggambarkan kekhawatiran ketika seseorang merasa kehilangan pengalaman menarik yang sedang dinikmati orang lain.

Bagi sebagian anak muda, dorongan tersebut mungkin tidak hanya berkaitan dengan kegiatan hiburan, tetapi juga pilihan pekerjaan.

Menjadi barista dapat dipandang sebagai kesempatan memperoleh pengalaman baru sekaligus memiliki cerita yang menarik untuk dibagikan melalui media sosial.

Pekerjaan kemudian memiliki fungsi tambahan sebagai bagian dari identitas digital.

Seseorang tidak hanya bekerja untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang dapat ditampilkan dalam unggahan, foto, atau video.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa tidak semua Gen Z yang memilih menjadi barista didorong oleh FOMO.

Ada yang benar-benar tertarik mempelajari kopi, ingin mengembangkan keterampilan pelayanan, atau membutuhkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Karena itu, FOMO sebaiknya dipahami sebagai salah satu kemungkinan faktor yang memengaruhi pilihan pekerjaan, bukan alasan yang berlaku bagi seluruh anak muda.

Kafe sebagai Panggung untuk Menunjukkan Identitas

Salah satu hal yang membedakan pekerjaan barista dengan sejumlah pekerjaan lainnya adalah tingkat interaksinya dengan publik.

Barista bekerja di ruang yang dapat dilihat langsung oleh pelanggan.

Mereka menyapa pengunjung, menerima pesanan, meracik minuman, dan melayani berbagai kebutuhan pelanggan sepanjang jam operasional.

Aktivitas tersebut membuat keterampilan kerja barista mudah diamati.

Kemampuan membuat latte art, mengoperasikan mesin kopi, atau menangani pesanan dalam jumlah banyak dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Dalam budaya media sosial, aktivitas tersebut juga mudah diubah menjadi konten visual.

Proses menuangkan susu ke dalam espresso, misalnya, dapat dikemas menjadi video singkat yang menarik perhatian.

Begitu pula dengan suasana bekerja di balik meja bar, interaksi dengan pelanggan, atau aktivitas persiapan sebelum kafe dibuka.

Bagi sebagian Gen Z yang terbiasa mengekspresikan diri melalui konten digital, pekerjaan semacam ini dapat memberikan ruang untuk membangun citra dan identitas personal.

IKLAN

Namun, ada perbedaan antara pekerjaan yang terlihat menarik di media sosial dan pekerjaan yang benar-benar dijalankan setiap hari.

Konten digital sering kali hanya menampilkan bagian tertentu dari sebuah aktivitas.

Pelanggan mungkin melihat barista yang tersenyum sambil menyajikan kopi, tetapi tidak selalu mengetahui kelelahan setelah berdiri berjam-jam atau tekanan ketika harus melayani banyak pesanan dalam waktu bersamaan.

Di sinilah pentingnya memahami pekerjaan secara lebih utuh, bukan hanya melalui penampilan luarnya.

Antara Kebutuhan Ekonomi dan Keinginan Mengikuti Tren

Di balik citra pekerjaan barista yang dianggap menarik, terdapat alasan ekonomi yang tidak dapat diabaikan.

Bagi mahasiswa, bekerja paruh waktu dapat menjadi pilihan untuk memperoleh uang tambahan tanpa sepenuhnya meninggalkan kegiatan perkuliahan.

Kebutuhan sehari-hari, transportasi, makanan, perlengkapan kuliah, dan berbagai pengeluaran lainnya membuat sebagian mahasiswa perlu mencari sumber penghasilan sendiri.

Pekerjaan di kafe menjadi salah satu pilihan karena beberapa tempat menyediakan sistem kerja bergilir atau jadwal yang dapat disesuaikan dengan kesepakatan.

Namun, fleksibilitas tersebut tidak selalu tersedia di setiap tempat kerja.

Mahasiswa tetap perlu mempertimbangkan apakah jadwal pekerjaan dapat berjalan seimbang dengan kegiatan akademik.

Selain memperoleh penghasilan, bekerja sebagai barista juga dapat memberikan pengalaman yang bermanfaat.

Seseorang dapat belajar menghadapi pelanggan dengan karakter berbeda, membangun komunikasi yang baik, mengatur waktu, bekerja dalam tim, dan menjaga sikap profesional ketika menghadapi tekanan.

Keterampilan tersebut dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja yang lebih luas.

Karena itu, minat Gen Z terhadap profesi barista tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bentuk mengikuti tren semata.

Bekerja di kafe dapat menjadi pengalaman yang bernilai selama seseorang memahami tujuan dan tanggung jawab pekerjaannya.

Persoalan muncul ketika ketertarikan terhadap citra pekerjaan jauh lebih besar dibandingkan pemahaman mengenai kondisi kerja yang sebenarnya.

Ketika Romantisasi Pekerjaan Menutupi Realitas

Media sosial memiliki kemampuan membuat berbagai aktivitas terlihat menarik, termasuk pekerjaan yang sebenarnya memiliki tantangan cukup berat.

Fenomena ini dapat disebut sebagai romantisasi pekerjaan, yaitu ketika sisi menyenangkan dari suatu profesi lebih sering ditampilkan dibandingkan kesulitan yang menyertainya.

Dalam konteks barista, romantisasi tersebut dapat terlihat melalui konten yang menggambarkan pekerjaan sebagai aktivitas menyenangkan di tengah suasana kafe yang nyaman.

Padahal, pekerjaan barista juga menuntut disiplin, ketahanan fisik, kemampuan komunikasi, dan tanggung jawab terhadap operasional tempat kerja.

Seorang barista harus mampu menghadapi pelanggan yang beragam, bekerja ketika kondisi kafe ramai, serta menyelesaikan tugas sesuai standar pelayanan.

Belum lagi apabila pekerjaan tersebut harus dijalankan bersamaan dengan tanggung jawab kuliah atau pekerjaan utama lainnya.

Jika seseorang memilih menjadi barista hanya karena tertarik pada citra yang ditampilkan media sosial, bukan tidak mungkin ia akan mengalami kekecewaan setelah menghadapi kenyataan di lapangan.

Dalam situasi tertentu, citra pekerjaan yang dianggap keren juga berpotensi dimanfaatkan untuk menarik pelamar tanpa memberikan perhatian yang cukup terhadap kesejahteraan pekerja.

Ajakan bekerja sambil mengejar passion, misalnya, dapat terdengar menarik bagi anak muda yang ingin memperoleh pengalaman.

Namun, semangat dan kecintaan terhadap pekerjaan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan hak pekerja.

Upah yang layak sesuai ketentuan yang berlaku, pembagian tugas yang jelas, waktu kerja yang manusiawi, serta kepastian hubungan kerja tetap menjadi hal penting.

Seseorang boleh mencintai pekerjaannya, tetapi kecintaan tersebut tidak berarti ia harus menerima kondisi kerja yang merugikan dirinya.

Pengalaman memang berharga, tetapi pengalaman tidak seharusnya selalu dibayar dengan kelelahan berlebihan dan pengabaian terhadap hak pekerja.

Memilih Pekerjaan karena Kebutuhan atau Takut Tertinggal?

Fenomena meningkatnya ketertarikan anak muda terhadap pekerjaan barista dapat dibaca sebagai bagian dari perubahan cara Gen Z memaknai pekerjaan.

Bagi sebagian anak muda, pekerjaan bukan hanya kewajiban untuk memperoleh penghasilan.

Pekerjaan juga dapat menjadi ruang bersosialisasi, belajar keterampilan baru, membangun pengalaman, dan menunjukkan identitas diri.

Hal tersebut tidak selalu negatif.

Justru ketika seseorang mampu menggabungkan kebutuhan ekonomi dengan minat pribadi, pekerjaan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Namun, persoalan muncul ketika keputusan bekerja lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan sosial atau keinginan mengikuti sesuatu yang sedang populer.

Menjadi barista hanya karena pekerjaan tersebut terlihat keren di media sosial tentu berbeda dengan memilihnya setelah memahami tanggung jawab dan kondisi kerja yang akan dihadapi.

Karena itu, sebelum memutuskan mengambil pekerjaan paruh waktu, anak muda perlu mengenali alasan di balik pilihannya.

Apakah pekerjaan tersebut benar-benar dibutuhkan untuk menambah penghasilan? Apakah ada keterampilan yang ingin dipelajari? Atau justru muncul keinginan bekerja karena melihat orang lain memiliki pengalaman serupa?

Selain memahami motivasi pribadi, calon pekerja juga perlu mencari informasi mengenai tempat kerja yang dituju.

Besaran upah, pembagian jadwal, tanggung jawab pekerjaan, status hubungan kerja, serta kesempatan beristirahat merupakan hal-hal yang sebaiknya dipastikan sejak awal.

Berbicara dengan orang yang sudah memiliki pengalaman sebagai barista juga dapat membantu memberikan gambaran yang lebih realistis.

Pada akhirnya, dunia barista memang menawarkan pengalaman yang menarik bagi Gen Z. Di dalamnya terdapat peluang memperoleh penghasilan, membangun relasi, mengembangkan keterampilan, dan mengenal budaya kopi yang semakin berkembang.

Namun, pekerjaan tetaplah pekerjaan, dengan tanggung jawab dan tantangan yang tidak selalu terlihat dalam unggahan media sosial.

Bekerja sebagai barista tidak menjadi masalah hanya karena profesi tersebut dianggap kalcer. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah keputusan tersebut lahir dari kebutuhan dan minat yang disadari, atau hanya keinginan untuk tidak tertinggal dari tren.

Sebab, pekerjaan yang terlihat keren belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Sebaliknya, pekerjaan yang tidak populer juga dapat memberikan pengalaman dan masa depan yang jauh lebih berarti.

Bagi Gen Z, tantangan sebenarnya bukan sekadar menemukan pekerjaan yang sesuai dengan gaya hidup, melainkan memahami bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh seberapa menarik tampilannya di media sosial.

Nilainya terletak pada pengalaman, keterampilan, kesejahteraan, dan kesempatan berkembang yang benar-benar diperoleh dari pekerjaan tersebut.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/kerja-sampingan-sebagai-gaya-hidup-membaca-minat-gen-z-pada-dunia-barista-lewat-kacamata-kalcer/98194/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.37 WITA

  • #Barista
  • #Budaya Kalcer
  • #FoMO
  • #Gen Z
  • #Kopi
  • #Pekerjaan Paruh Waktu
  • #gaya hidup
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

UMKM Bojonegoro Manfaatkan BRImo dan QRIS BRI untuk Permudah Transaksi, Berhasil Kumpulkan Tabungan Puluhan Juta

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Pilihan Editor

  1. 1 Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian
  2. 2

    Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

  3. 3

    Perpres Ojol: Benarkah Pengemudi Sudah Mendapat Perlindungan yang Adil?

  4. 4

    Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  5. 5

    PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.