Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  2. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  3. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  4. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  5. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Pop Culture dalam Segelas Matcha

Pop Culture dalam Segelas Matcha

Foto profil Rafi Adinata
Editor: Rafi Adinata
25 September 2026, 10.58 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Macha
Matcha berkembang dari tradisi minum teh Jepang menjadi bagian dari budaya populer dan gaya hidup modern. Foto: Ilustrasi

Penulis ; Keisha Tiana Danakusuma (Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara)
Meike Kurniawati (Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara)

IKLAN

JurnalPost.com - Bagi individu yang gemar mengikuti perkembangan tren, istilah pop culture atau budaya populer tentu bukan sesuatu yang asing. Budaya populer hadir melalui berbagai hal yang diterima, dibicarakan, dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat dalam periode tertentu. Kehadirannya dapat mewarnai kehidupan sehari-hari, meskipun sebuah tren terkadang hanya bertahan dalam waktu tertentu sebelum kemudian digantikan tren baru.

Pop culture dapat muncul dalam bentuk nilai, kebiasaan, produk, maupun tren yang berkembang di tengah generasi tertentu. Sesuatu dapat menjadi bagian dari budaya populer ketika mulai ramai diperbincangkan, viral di media sosial, hingga mendapat perhatian luas dari media massa.

Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam berbagai bidang, mulai dari musik, film, hiburan, fesyen, media sosial, makanan dan minuman, hingga berbagai kecenderungan sosial yang memengaruhi gaya hidup serta cara manusia berinteraksi. Di Indonesia, budaya populer juga terus berkembang seiring cepatnya arus informasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Salah satu fenomena yang belakangan semakin mudah ditemukan adalah matcha. Minuman dengan warna hijau khas tersebut hadir dalam berbagai bentuk kreasi, mulai dari matcha latte, es krim, kue, hingga beragam makanan penutup. Matcha juga kerap menghiasi berbagai unggahan di media sosial dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.

Namun, di balik popularitasnya sebagai bagian dari budaya populer masa kini, matcha memiliki perjalanan sejarah yang jauh lebih panjang serta hubungan yang erat dengan kebudayaan Jepang.

Bukan Sekadar Minuman

Menurut Japan Matcha Association, perkembangan matcha tidak dapat dilepaskan dari masuknya budaya minum teh dari Tiongkok ke Jepang sekitar 800 tahun lalu. Pada masa awal perkembangannya, teh dikenal sebagai minuman yang digunakan dalam konteks kesehatan dan dikonsumsi oleh lingkungan tertentu sebelum semakin dikenal luas di Jepang.

Seiring waktu, cara mengonsumsi teh berkembang dan kemudian menjadi bagian dari kebudayaan Jepang melalui praktik chanoyu atau upacara minum teh.

Dalam konteks tersebut, teh bukan lagi sekadar minuman untuk menghilangkan rasa haus. Proses penyajian, suasana, peralatan yang digunakan, hingga hubungan antara tuan rumah dan tamu memiliki makna tersendiri.

Japan National Tourism Organization menjelaskan bahwa chanoyu merupakan praktik budaya yang memiliki tata cara khusus dalam mempersiapkan dan menyajikan teh kepada tamu.

Matcha kemudian menjadi salah satu unsur penting di dalam tradisi tersebut. Kehadirannya berkaitan dengan pengalaman budaya yang menekankan perhatian terhadap proses, kesederhanaan, ketenangan, dan interaksi antara orang yang menyajikan teh dengan mereka yang menikmatinya.

Dengan demikian, jauh sebelum dikenal sebagai minuman yang populer di berbagai kafe, matcha telah memiliki tempat tersendiri dalam sejarah serta tradisi masyarakat Jepang.

Dari Upacara Teh ke Menu Kafe

Perjalanan matcha kemudian mengalami perubahan seiring perkembangan zaman dan meningkatnya pertukaran budaya antarnegara.

Matcha mulai diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas dan tidak lagi hanya ditemui dalam konteks upacara tradisional. Cara penyajiannya pun semakin beragam.

IKLAN

Di berbagai negara, matcha dapat ditemukan sebagai bahan utama maupun campuran dalam berbagai produk. Matcha dicampurkan dengan susu untuk menjadi matcha latte, digunakan sebagai bahan kue, cokelat, es krim, hingga berbagai makanan penutup.

Perubahan tersebut membuat matcha semakin dekat dengan pola konsumsi masyarakat modern.

Kafe dan industri makanan-minuman juga memiliki peran dalam memperluas popularitas matcha. Tampilan warna hijau yang khas membuat produk berbahan matcha relatif mudah dikenali sekaligus menarik secara visual.

Di tengah perkembangan media sosial yang sangat mengandalkan unsur visual, karakteristik tersebut turut membuat matcha sering muncul dalam konten makanan, gaya hidup, hingga rekomendasi tempat nongkrong.

Pada titik tersebut, matcha bukan lagi semata-mata sebuah produk minuman. Ia mulai menjadi bagian dari pengalaman sosial dan gaya hidup.

Seseorang dapat memesan matcha karena menyukai rasanya, tertarik mencoba tren baru, mengikuti rekomendasi di media sosial, atau bahkan karena ingin membagikan pengalaman tersebut melalui unggahan digital.

Ketika Tradisi Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

Perjalanan matcha dari tradisi Jepang menuju berbagai kafe di banyak negara menunjukkan bagaimana sebuah produk budaya dapat berkembang menjadi bagian dari pop culture.

Oxford Research Encyclopedia of Food Studies mencatat bahwa perkembangan matcha pada abad ke-21 telah menjadi fenomena global. Matcha semakin banyak ditemukan di luar konteks tradisional Jepang dan dikonsumsi dengan cara yang terus berkembang.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya tidak selalu berada dalam kondisi yang tetap. Ketika berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya, sebuah produk budaya dapat memperoleh makna dan fungsi baru.

Dalam budaya Jepang, matcha memiliki kaitan dengan sejarah serta tradisi minum teh. Sementara dalam kehidupan modern, matcha dapat hadir sebagai minuman sehari-hari, produk kuliner, konten media sosial, bahkan bagian dari identitas gaya hidup seseorang.

Menariknya, perkembangan tersebut tidak serta-merta menghilangkan sisi tradisional matcha.

Tradisi dan budaya populer justru dapat berjalan berdampingan. Upacara minum teh tetap menjadi bagian dari kebudayaan Jepang, sementara pada saat yang sama matcha berkembang dalam berbagai bentuk modern yang dapat diterima oleh masyarakat dari latar belakang berbeda.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana budaya dapat beradaptasi tanpa harus sepenuhnya kehilangan akar sejarahnya.

Pada akhirnya, barangkali inilah yang membuat perjalanan matcha menarik untuk diperhatikan. Sebuah minuman dengan sejarah panjang dapat terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

Dari semangkuk teh dalam tradisi Jepang hingga segelas matcha latte yang dinikmati di kafe masa kini, matcha memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu harus tinggal di masa lalu. Dalam bentuk yang berbeda, tradisi dapat menemukan ruang baru untuk tetap hadir dan menjadi bagian dari kehidupan generasi masa kini.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/pop-culture-dalam-segelas-matcha/97854/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.54 WITA

  • #Kuliner
  • #budaya populer
  • #gaya hidup
  • #matcha
  • #media sosial
  • #pop culture
  • #tradisi jepang
  • #upacara minum teh

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Mahasiswa Edukasi Gizi 102 Anak di Palembang, Hasil Tes Meningkat

Pilihan Editor

  1. 1 Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia
  2. 2

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

  3. 3

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  4. 4

    Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

  5. 5

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.