Penulis ; Keisha Tiana Danakusuma (Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara)
Meike Kurniawati (Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara)
JurnalPost.com - Bagi individu yang gemar mengikuti perkembangan tren, istilah pop culture atau budaya populer tentu bukan sesuatu yang asing. Budaya populer hadir melalui berbagai hal yang diterima, dibicarakan, dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat dalam periode tertentu. Kehadirannya dapat mewarnai kehidupan sehari-hari, meskipun sebuah tren terkadang hanya bertahan dalam waktu tertentu sebelum kemudian digantikan tren baru.
Pop culture dapat muncul dalam bentuk nilai, kebiasaan, produk, maupun tren yang berkembang di tengah generasi tertentu. Sesuatu dapat menjadi bagian dari budaya populer ketika mulai ramai diperbincangkan, viral di media sosial, hingga mendapat perhatian luas dari media massa.
Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam berbagai bidang, mulai dari musik, film, hiburan, fesyen, media sosial, makanan dan minuman, hingga berbagai kecenderungan sosial yang memengaruhi gaya hidup serta cara manusia berinteraksi. Di Indonesia, budaya populer juga terus berkembang seiring cepatnya arus informasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Salah satu fenomena yang belakangan semakin mudah ditemukan adalah matcha. Minuman dengan warna hijau khas tersebut hadir dalam berbagai bentuk kreasi, mulai dari matcha latte, es krim, kue, hingga beragam makanan penutup. Matcha juga kerap menghiasi berbagai unggahan di media sosial dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban.
Namun, di balik popularitasnya sebagai bagian dari budaya populer masa kini, matcha memiliki perjalanan sejarah yang jauh lebih panjang serta hubungan yang erat dengan kebudayaan Jepang.
Bukan Sekadar Minuman
Menurut Japan Matcha Association, perkembangan matcha tidak dapat dilepaskan dari masuknya budaya minum teh dari Tiongkok ke Jepang sekitar 800 tahun lalu. Pada masa awal perkembangannya, teh dikenal sebagai minuman yang digunakan dalam konteks kesehatan dan dikonsumsi oleh lingkungan tertentu sebelum semakin dikenal luas di Jepang.
Seiring waktu, cara mengonsumsi teh berkembang dan kemudian menjadi bagian dari kebudayaan Jepang melalui praktik chanoyu atau upacara minum teh.
Dalam konteks tersebut, teh bukan lagi sekadar minuman untuk menghilangkan rasa haus. Proses penyajian, suasana, peralatan yang digunakan, hingga hubungan antara tuan rumah dan tamu memiliki makna tersendiri.
Japan National Tourism Organization menjelaskan bahwa chanoyu merupakan praktik budaya yang memiliki tata cara khusus dalam mempersiapkan dan menyajikan teh kepada tamu.
Matcha kemudian menjadi salah satu unsur penting di dalam tradisi tersebut. Kehadirannya berkaitan dengan pengalaman budaya yang menekankan perhatian terhadap proses, kesederhanaan, ketenangan, dan interaksi antara orang yang menyajikan teh dengan mereka yang menikmatinya.
Dengan demikian, jauh sebelum dikenal sebagai minuman yang populer di berbagai kafe, matcha telah memiliki tempat tersendiri dalam sejarah serta tradisi masyarakat Jepang.
Dari Upacara Teh ke Menu Kafe
Perjalanan matcha kemudian mengalami perubahan seiring perkembangan zaman dan meningkatnya pertukaran budaya antarnegara.
Matcha mulai diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas dan tidak lagi hanya ditemui dalam konteks upacara tradisional. Cara penyajiannya pun semakin beragam.
Di berbagai negara, matcha dapat ditemukan sebagai bahan utama maupun campuran dalam berbagai produk. Matcha dicampurkan dengan susu untuk menjadi matcha latte, digunakan sebagai bahan kue, cokelat, es krim, hingga berbagai makanan penutup.
Perubahan tersebut membuat matcha semakin dekat dengan pola konsumsi masyarakat modern.
Kafe dan industri makanan-minuman juga memiliki peran dalam memperluas popularitas matcha. Tampilan warna hijau yang khas membuat produk berbahan matcha relatif mudah dikenali sekaligus menarik secara visual.
Di tengah perkembangan media sosial yang sangat mengandalkan unsur visual, karakteristik tersebut turut membuat matcha sering muncul dalam konten makanan, gaya hidup, hingga rekomendasi tempat nongkrong.
Pada titik tersebut, matcha bukan lagi semata-mata sebuah produk minuman. Ia mulai menjadi bagian dari pengalaman sosial dan gaya hidup.
Seseorang dapat memesan matcha karena menyukai rasanya, tertarik mencoba tren baru, mengikuti rekomendasi di media sosial, atau bahkan karena ingin membagikan pengalaman tersebut melalui unggahan digital.
Ketika Tradisi Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Perjalanan matcha dari tradisi Jepang menuju berbagai kafe di banyak negara menunjukkan bagaimana sebuah produk budaya dapat berkembang menjadi bagian dari pop culture.
Oxford Research Encyclopedia of Food Studies mencatat bahwa perkembangan matcha pada abad ke-21 telah menjadi fenomena global. Matcha semakin banyak ditemukan di luar konteks tradisional Jepang dan dikonsumsi dengan cara yang terus berkembang.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya tidak selalu berada dalam kondisi yang tetap. Ketika berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya, sebuah produk budaya dapat memperoleh makna dan fungsi baru.
Dalam budaya Jepang, matcha memiliki kaitan dengan sejarah serta tradisi minum teh. Sementara dalam kehidupan modern, matcha dapat hadir sebagai minuman sehari-hari, produk kuliner, konten media sosial, bahkan bagian dari identitas gaya hidup seseorang.
Menariknya, perkembangan tersebut tidak serta-merta menghilangkan sisi tradisional matcha.
Tradisi dan budaya populer justru dapat berjalan berdampingan. Upacara minum teh tetap menjadi bagian dari kebudayaan Jepang, sementara pada saat yang sama matcha berkembang dalam berbagai bentuk modern yang dapat diterima oleh masyarakat dari latar belakang berbeda.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana budaya dapat beradaptasi tanpa harus sepenuhnya kehilangan akar sejarahnya.
Pada akhirnya, barangkali inilah yang membuat perjalanan matcha menarik untuk diperhatikan. Sebuah minuman dengan sejarah panjang dapat terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
Dari semangkuk teh dalam tradisi Jepang hingga segelas matcha latte yang dinikmati di kafe masa kini, matcha memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu harus tinggal di masa lalu. Dalam bentuk yang berbeda, tradisi dapat menemukan ruang baru untuk tetap hadir dan menjadi bagian dari kehidupan generasi masa kini.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda