Penulis adalah Mahasiswa Program Magister Pendidikan Fisika, Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Padang
JurnalPost.com - Dalam dunia penelitian, angket, tes, dan lembar observasi merupakan instrumen yang sering digunakan untuk mengumpulkan data. Mahasiswa maupun peneliti memanfaatkan instrumen tersebut untuk mengukur berbagai aspek, mulai dari motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar, hingga persepsi peserta didik terhadap proses pembelajaran.
Namun, terdapat satu pertanyaan penting yang sering terlupakan sebelum instrumen disebarkan kepada responden, yaitu apakah alat ukur tersebut benar-benar mampu mengukur sesuatu yang ingin diteliti?
Instrumen yang disusun tanpa melalui pemeriksaan kualitas berpotensi menghasilkan data yang kurang tepat. Akibatnya, kesimpulan penelitian dapat menjadi kurang akurat dan tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Oleh karena itu, pengujian kualitas instrumen, terutama validitas dan reliabilitas, bukan sekadar formalitas dalam metodologi penelitian, melainkan bagian penting untuk memastikan mutu dan keterpercayaan data yang dikumpulkan.
Validitas: Memastikan Instrumen Mengukur Hal yang Tepat
Validitas berkaitan dengan sejauh mana bukti dan teori mendukung interpretasi hasil pengukuran untuk tujuan tertentu.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa ingin meneliti kemampuan berpikir kritis siswa. Apabila pertanyaan yang disusun hanya meminta siswa menghafal definisi, instrumen tersebut belum tentu mampu menggambarkan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan memberikan alasan secara logis.
Dengan demikian, penyusunan instrumen perlu memperhatikan kesesuaian antara tujuan penelitian, indikator yang diukur, serta bentuk pertanyaan yang digunakan.
Penelitian Setiawan, Wagiran, dan Alsamiri (2024) mengenai instrumen evaluasi proses pembelajaran di perguruan tinggi menunjukkan pentingnya pemeriksaan validitas isi dan konstruk.
Penelitian yang melibatkan 1.200 mahasiswa tersebut menggunakan teknik Aiken's V melalui penilaian enam ahli serta Confirmatory Factor Analysis (CFA).
Hasil penelitian melaporkan rata-rata nilai Aiken's V sebesar 0,752.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan instrumen perlu memperhatikan kesesuaian isi dengan indikator yang hendak diukur sekaligus struktur konstruk yang menjadi dasar pengukuran.
Dengan kata lain, instrumen yang baik tidak cukup hanya memiliki pertanyaan yang terlihat relevan, tetapi juga harus didukung oleh bukti yang menunjukkan kesesuaiannya dengan tujuan penelitian.
Reliabilitas: Mengukur Secara Konsisten
Selain validitas, reliabilitas menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan instrumen penelitian.
Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi hasil pengukuran. Instrumen yang reliabel diharapkan dapat memberikan hasil yang relatif konsisten ketika digunakan dalam kondisi pengukuran yang sebanding.
Salah satu teknik statistik yang sering digunakan untuk menilai konsistensi internal suatu skala adalah Cronbach's Alpha.
Meskipun demikian, nilai Cronbach's Alpha tidak boleh dipahami sebagai satu-satunya bukti bahwa suatu instrumen telah memenuhi persyaratan kualitas pengukuran.
Taber (2018), melalui artikelnya dalam jurnal Research in Science Education, mengingatkan bahwa Cronbach's Alpha sering dilaporkan dalam penelitian tanpa disertai penjelasan yang memadai mengenai alasan pemilihan statistik maupun interpretasi hasilnya.
Nilai Alpha yang tinggi tidak secara otomatis membuktikan bahwa instrumen telah mengukur konstruk yang tepat. Nilai tersebut juga tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh butir pertanyaan hanya mengukur satu dimensi.
Oleh sebab itu, peneliti perlu memahami makna statistik yang digunakan agar hasil pengujian tidak sekadar menjadi angka pelengkap dalam laporan penelitian.
Perangkat Statistik Membantu Memeriksa Kualitas Setiap Butir
Pengujian kualitas instrumen dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan analisis statistik. Setiap pendekatan memiliki karakteristik, asumsi, dan kriteria penilaian yang perlu dipahami oleh peneliti.
Tarigan dan rekan-rekan (2022), misalnya, melakukan penelitian dengan membandingkan penggunaan perangkat lunak SPSS 22.0 dan Rasch Model.
Penelitian tersebut melibatkan 40 butir soal yang diujicobakan kepada 40 mahasiswa.
Hasil analisis menggunakan SPSS menunjukkan sebanyak 20 butir dinyatakan valid, sedangkan analisis menggunakan Rasch Model menunjukkan 17 butir memenuhi kriteria validitas yang digunakan dalam penelitian tersebut.
Nilai reliabilitas yang dilaporkan masing-masing sebesar 0,828 untuk analisis SPSS dan 0,69 untuk analisis Rasch Model.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa metode analisis yang dipilih dapat memengaruhi evaluasi kualitas instrumen.
Karena itu, peneliti tidak cukup hanya mengandalkan perangkat lunak statistik, tetapi juga perlu memahami konsep, asumsi, dan karakteristik setiap pendekatan yang digunakan.
Selain untuk mengevaluasi instrumen tes, Rasch Model juga dapat dimanfaatkan dalam pengujian kualitas kuesioner.
Loh, Jamil, dan Ng (2022) melakukan penelitian terhadap 24 butir kuesioner evaluasi program dengan melibatkan 1.891 peserta.
Penelitian tersebut melaporkan nilai person reliability sebesar 0,87 dan item reliability sebesar 0,96.
Meskipun hasil reliabilitas menunjukkan nilai yang baik, penelitian tersebut masih menemukan satu butir yang tidak sesuai sehingga memerlukan perbaikan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa nilai reliabilitas yang tinggi tidak menghilangkan kebutuhan untuk memeriksa kualitas setiap butir secara lebih mendalam.
Pendekatan pengujian yang lebih terpadu dapat ditemukan dalam penelitian Sofyan dan rekan-rekan (2026) mengenai pengembangan instrumen evaluasi produk pembelajaran berbasis multimedia.
Penelitian tersebut menggabungkan teori tes klasik, Structural Equation Modeling (SEM), dan Rasch Model dengan melibatkan 257 responden.
Hasil penelitian melaporkan nilai Aiken's V sebesar 0,89, Cronbach's Alpha sebesar 0,93, Comparative Fit Index (CFI) sebesar 0,96, Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) sebesar 0,054, serta Item Reliability sebesar 0,96.
Penggunaan berbagai teknik analisis tersebut memberikan bukti yang lebih luas mengenai kualitas instrumen, baik dari aspek kesesuaian isi, struktur konstruk, konsistensi internal, maupun karakteristik setiap butir.
Jangan Terjebak pada Angka Statistik
Berdasarkan berbagai penelitian tersebut, terdapat satu hal penting yang perlu dipahami, yaitu kualitas instrumen tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu angka statistik.
Validitas dan reliabilitas memiliki fungsi yang berbeda, meskipun keduanya saling berkaitan dalam proses pengembangan instrumen.
Suatu instrumen dapat menunjukkan konsistensi internal yang baik, tetapi belum tentu mampu mengukur konstruk yang dimaksud secara tepat.
Sebaliknya, instrumen yang memiliki kesesuaian isi dengan tujuan penelitian tetap memerlukan pemeriksaan reliabilitas untuk mengetahui konsistensi hasil pengukurannya.
Oleh karena itu, sebelum menyebarkan angket atau melaksanakan tes, peneliti sebaiknya melakukan sejumlah tahapan secara sistematis.
Tahapan tersebut dimulai dengan menyusun kisi-kisi instrumen berdasarkan variabel dan indikator penelitian, meminta penilaian dari ahli, melakukan uji coba terbatas, serta menganalisis hasilnya menggunakan teknik statistik yang sesuai.
Apabila ditemukan butir pertanyaan yang bermasalah, peneliti perlu melakukan penelaahan dan perbaikan berdasarkan bukti statistik serta pertimbangan teori.
Butir yang menunjukkan hasil kurang baik tidak seharusnya langsung dihapus secara otomatis tanpa mempertimbangkan relevansinya terhadap konstruk yang sedang diukur.
Pemahaman terhadap proses ini menjadi penting, terutama bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, tesis, disertasi, maupun penelitian ilmiah lainnya.
Pengujian instrumen bukan hanya dilakukan untuk memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab ilmiah dalam menghasilkan data yang dapat dipercaya.
Pada akhirnya, kualitas penelitian tidak hanya ditentukan oleh banyaknya responden atau rumitnya teknik analisis data yang digunakan.
Penelitian yang baik justru dimulai dari penggunaan alat ukur yang tepat.
Data yang dapat dipercaya lahir dari instrumen yang dirancang secara cermat, diuji melalui prosedur yang sesuai, dan dipertanggungjawabkan berdasarkan kaidah ilmiah.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Media Pembelajaran Fisika, yaitu Ibu Prof. Dr. Desnita, M.Si. dan Bapak Dr. Hamdi, M.Si., yang telah memberikan arahan serta bimbingan dalam proses penyusunan artikel ilmiah populer ini.
Biodata Penulis
Nama: Betria Putri Syarita
Instansi: Program Magister Pendidikan Fisika, Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Padang
Email: betriaputrisyarita@gmail.com
Daftar Pustaka
Loh, S. L., Jamil, N. A., & Ng, K. T. (2022). Establishing the validity and reliability of a program evaluation questionnaire using Rasch Measurement Model. Dinamika Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 14(2), 149–157. https://doi.org/10.30595/dinamika.v14i2.14786
Setiawan, R., Wagiran, & Alsamiri, Y. (2024). Construction of an instrument for evaluating the teaching process in higher education: Content and construct validity. REID (Research and Evaluation in Education), 10(1), 50–63. https://doi.org/10.21831/reid.v10i1.63483
Sofyan, Kurniati, E., Widana, I. W., Sabariah, & Binti Muhammad, M. (2026). Development and validation of multimedia-based learning product instruments: SEM and Rasch model approaches. Indonesian Journal of Educational Development, 7(1), 82–95. https://doi.org/10.59672/ijed.v7i1.6343
Taber, K. S. (2018). The use of Cronbach's alpha when developing and reporting research instruments in science education. Research in Science Education, 48, 1273–1296. https://doi.org/10.1007/s11165-016-9602-2
Tarigan, E. F., Nilmarito, S., Islamiyah, K., Darmana, A., & Suyanti, R. D. (2022). Analisis instrumen tes menggunakan Rasch Model dan Software SPSS 22.0. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 16(2), 92–96. https://doi.org/10.15294/jipk.v16i2.30530
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda