TANGERANG, JurnalPost.com — Di tengah derasnya arus informasi dan aktivitas media sosial, tekanan untuk selalu terhubung, mengikuti tren, hingga membandingkan kehidupan pribadi dengan orang lain menjadi persoalan yang semakin dekat dengan generasi muda. Kebiasaan tersebut tidak hanya memengaruhi cara seseorang memandang dirinya, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental dan kualitas tidur.
Berangkat dari persoalan tersebut, Daniela Elvaretha Angelia, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH), menggagas kampanye kesehatan mental bertajuk LOOPY (Limiting Online Overload, Protecting Your Well-being) yang berlangsung pada 5–19 Oktober 2026.
Mengusung slogan “Break the Loop. Live Beyond the Feed,” kampanye ini mengajak masyarakat, khususnya remaja dan dewasa muda, untuk lebih memahami pengaruh penggunaan media sosial terhadap kondisi psikologis sekaligus membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
LOOPY menyoroti sejumlah fenomena yang kerap dialami pengguna media sosial, mulai dari fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal informasi dan pengalaman, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain (social comparison), hingga tekanan untuk memenuhi standar penampilan, pencapaian, dan gaya hidup yang ditampilkan di ruang digital.
Paparan konten secara terus-menerus, terutama ketika disertai kebiasaan membandingkan diri secara negatif, dapat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan. Penggunaan media sosial yang berlebihan, khususnya menjelang waktu istirahat, juga berpotensi mengganggu pola tidur.
Melalui LOOPY, masyarakat diajak memahami bahwa persoalannya bukan sekadar berapa lama seseorang menggunakan media sosial, melainkan juga bagaimana aktivitas digital tersebut memengaruhi pikiran, emosi, dan kehidupan sehari-hari.
Hadirkan Diskusi Kesehatan Mental Bersama Profesional
Untuk memperluas pemahaman masyarakat, LOOPY menghadirkan rangkaian kegiatan edukatif yang diselenggarakan secara daring maupun luring.
Salah satu programnya adalah LOOPY TALKS, sebuah diskusi interaktif melalui Instagram Live yang menghadirkan dokter spesialis kedokteran jiwa (Sp.KJ).
Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai hubungan antara penggunaan media sosial, tekanan digital, kecemasan, dan gangguan pola tidur.
Selain LOOPY TALKS, kampanye ini menyelenggarakan webinar BEYOND THE FEED dengan menghadirkan dokter spesialis kedokteran jiwa yang berafiliasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).
Webinar tersebut membahas berbagai persoalan psikologis yang berkaitan dengan kehidupan digital, termasuk FOMO, social comparison, dan tekanan sosial yang muncul akibat paparan konten media sosial.

Melalui pemaparan materi dan diskusi edukatif, peserta diajak mengenali tanda-tanda tekanan digital sekaligus memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan kehidupan di luar layar.
Jangkau 12 Perguruan Tinggi di Berbagai Kota
Tidak hanya mengandalkan kegiatan berbasis internet, LOOPY juga menjangkau mahasiswa secara langsung melalui program LOOPY GOES TO CAMPUS.
Program ini menyasar 12 perguruan tinggi yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, meliputi Tangerang, Jakarta, Bogor, Surabaya, Semarang, Salatiga, Yogyakarta, dan Surakarta.
Melalui penyebaran poster edukasi dan aktivitas interaktif, mahasiswa diajak mengevaluasi kebiasaan mereka dalam menggunakan media sosial.
Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memperkenalkan pentingnya literasi kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi, terutama ketika mahasiswa menghadapi tuntutan akademik, kehidupan sosial, serta berbagai ekspektasi yang muncul di dunia digital.
Jangkauan lintas daerah ini memungkinkan pesan kampanye LOOPY diperkenalkan kepada mahasiswa dengan latar belakang dan lingkungan akademik yang beragam.
Sementara itu, untuk menjangkau kelompok usia yang lebih muda, LOOPY menyelenggarakan LOOPY GOES TO SCHOOL di UPH College.
Program tersebut memberikan edukasi kepada siswa sekolah menengah atas mengenai kecemasan, tekanan sosial di media digital, dan pentingnya menjaga pola tidur.
Edukasi sejak usia sekolah menjadi bagian dari pendekatan LOOPY untuk mendorong remaja lebih sadar terhadap kebiasaan digital yang mereka bangun sehari-hari.
LOOPY LETTERS Jadi Ruang Berbagi Pengalaman secara Anonim
Di lingkungan Fakultas Kedokteran UPH, kampanye ini juga menghadirkan program LOOPY LETTERS.
Melalui program tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menuliskan pengalaman, perasaan, maupun tekanan yang mereka alami berkaitan dengan penggunaan media sosial secara anonim.
Pendekatan ini memberikan ruang ekspresi bagi mahasiswa yang mungkin belum nyaman membicarakan pengalaman pribadinya secara terbuka.
Di sisi lain, LOOPY turut memanfaatkan platform digital sebagai sarana penyebaran informasi melalui LOOPY ALERT, yakni konten edukasi berbentuk video pendek yang dipublikasikan melalui TikTok.
Pemanfaatan TikTok menjadi salah satu cara untuk menyampaikan pesan kesehatan mental melalui media yang dekat dengan keseharian remaja dan dewasa muda.
Kampanye ini juga menjalin kolaborasi dengan media radio untuk memperluas penyebaran informasi tentang tekanan digital dan pentingnya membangun kebiasaan bermedia sosial secara lebih seimbang.
LOOPY LAND Ajak Masyarakat Mengenali Tekanan Digital
Salah satu kegiatan utama dalam rangkaian kampanye tersebut adalah LOOPY LAND yang diselenggarakan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Kantor Kelurahan Panunggangan Barat, Tangerang.
Berbeda dari kegiatan edukasi yang hanya berfokus pada penyampaian materi, LOOPY LAND menggabungkan sejumlah pendekatan, mulai dari edukasi kesehatan mental, aktivitas fisik, diskusi bersama psikolog, hingga lokakarya reflektif.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bagaimana tekanan digital dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk cara berpikir, perasaan, serta respons terhadap situasi sosial.
Dalam sesi diskusi dan aktivitas reflektif, peserta didorong untuk mengenali hal-hal yang memicu tekanan psikologis serta mengeksplorasi langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan interaktif tersebut diharapkan membantu masyarakat memahami bahwa menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar.
Mengenali kebiasaan penggunaan gawai, membatasi paparan konten yang memicu perbandingan diri secara negatif, dan menyediakan waktu untuk beristirahat dari aktivitas digital merupakan sejumlah langkah yang dapat dipertimbangkan untuk membangun hubungan lebih sehat dengan teknologi.
Kehadiran psikolog dalam kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk memperoleh perspektif profesional mengenai tekanan psikologis yang berkaitan dengan penggunaan media sosial.
Mengingatkan Pentingnya Kehidupan di Luar Layar
Melalui berbagai program yang berlangsung selama dua pekan, LOOPY berupaya membawa isu kesehatan mental lebih dekat dengan masyarakat.
Kampanye ini tidak menempatkan media sosial sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif. Sebaliknya, LOOPY mendorong pengguna untuk lebih menyadari pola penggunaan teknologi dan dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan generasi muda yang semakin terhubung dengan ruang digital, baik untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, maupun mencari hiburan.
Dengan melibatkan mahasiswa, siswa sekolah, dokter spesialis kedokteran jiwa, psikolog, media, serta masyarakat umum, LOOPY berupaya membangun ruang percakapan yang lebih terbuka mengenai kecemasan, tekanan sosial, dan kebiasaan digital.
Melalui slogan “Break the Loop. Live Beyond the Feed,” LOOPY mengingatkan bahwa aktivitas di media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan.
Pada akhirnya, membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi bukan berarti harus sepenuhnya meninggalkan media sosial, melainkan memahami kapan perlu terhubung dan kapan saatnya memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda