Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Ekonomi
  3. Manufaktur Tetap Kontributor Utama tetapi Menghadapi Tekanan

Manufaktur Tetap Kontributor Utama tetapi Menghadapi Tekanan

Penulis:
  • Alfian Dwi Ardianto, Andrian Pratama, Dimas Agung Kurniawan, Fadiyah Syafiqah Maulidah, Maria Rena Rosalinda, dan Tia Meishanda,
  • Dosen Pengampu: Dr. Rahmah Farahdita Soeyatno, S.P., M.Si.

Afiliasi: Universitas Pamulang

Editor: Rafi Adinata
03 Oktober 2026, 12.28 WITA
Pilih Simpan sebagai PDF pada dialog cetak.
Manufaktur
Aktivitas di fasilitas manufaktur modern dengan dukungan mesin otomatis dan teknologi produksi. Pembaruan modal, permesinan, dan adopsi teknologi menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga produktivitas serta daya saing industri pengolahan di tengah tekanan PMI manufaktur.

Tumbuh 5,32% pada triwulan II 2026, sektor industri pengolahan nonmigas justru dibayangi PMI yang kembali ke zona kontraksi. Pembaruan modal dan teknologi produksi dinilai menjadi kunci menjaga daya saing.

JAKARTA — Sektor industri pengolahan nonmigas kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Pada triwulan II 2026, sektor ini tumbuh 5,32% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan menyumbang 18,50% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau setara sekitar Rp1.212 triliun.

Dengan kontribusi sebesar itu, manufaktur nonmigas menjadi salah satu penyumbang utama pertumbuhan ekonomi nasional, dengan andil sekitar 0,90% terhadap pertumbuhan PDB secara keseluruhan.

Capaian tersebut sekilas menggambarkan optimisme karena pertumbuhan manufaktur nonmigas bahkan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Namun, di balik angka yang solid, muncul sinyal pelemahan yang perlu diperhatikan.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 tercatat di level 49,8, berada di bawah ambang batas 50 yang memisahkan fase ekspansi dan kontraksi. Angka itu turun dari 50,2 pada Juli dan mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas produksi serta penyerapan tenaga kerja pada periode terkini.

Paradoks Pertumbuhan dan Kontraksi

Sekilas, pertumbuhan manufaktur sebesar 5,32% dan PMI yang berada di zona kontraksi terlihat saling bertentangan. Padahal, kedua indikator tersebut mengukur kondisi ekonomi dari perspektif dan periode yang berbeda.

Pertumbuhan 5,32% secara tahunan merupakan data Badan Pusat Statistik (BPS) berbasis nilai tambah yang merekam output riil pada periode April hingga Juni 2026. Data tersebut bersifat lagging indicator atau menggambarkan kondisi yang telah terjadi.

Sebaliknya, PMI S&P Global merupakan survei bulanan terhadap sekitar 400 manajer pembelian mengenai sejumlah indikator, seperti pesanan baru, produksi, persediaan, dan ketenagakerjaan. Karena itu, PMI sering digunakan sebagai leading indicator atau sinyal dini untuk membaca arah aktivitas usaha.

Kontraksi pada Agustus juga terjadi setelah triwulan II berakhir sehingga tidak otomatis meniadakan capaian pertumbuhan pada periode sebelumnya.

Meski demikian, fluktuasi PMI tetap patut dicermati. Indeks tersebut sempat turun ke level 46,9 pada Juni, kemudian naik menjadi 50,2 pada Juli, sebelum kembali turun ke 49,8 pada Agustus. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juli tercatat sebesar 53,10 dan masih berada di zona ekspansif.

Pertumbuhan industri juga belum berlangsung secara merata. Kinerja manufaktur antara lain ditopang oleh subsektor berbasis permintaan domestik. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,51%, sedangkan industri kimia dan farmasi mencatat pertumbuhan 4,99%.

Di sisi lain, penurunan produksi dan tenaga kerja pada Agustus dipengaruhi persaingan yang semakin ketat, lemahnya permintaan, serta kenaikan biaya dan harga. Kondisi tersebut juga beriringan dengan pertumbuhan impor barang konsumsi sebesar 27,15% serta kontribusi negatif net ekspor sebesar 0,78%.

Karena itu, kinerja manufaktur tidak cukup hanya dibaca melalui angka agregat, tetapi juga perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing subsektor.

Peran Modal dalam Menentukan Output

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori mengenai peran modal (capital) dalam perekonomian. Model pertumbuhan Solow-Swan menjelaskan bahwa akumulasi stok modal berupa mesin, pabrik, peralatan, dan teknologi dapat meningkatkan produktivitas serta output per pekerja.

Sementara itu, pendekatan Kaldorian melihat manufaktur sebagai mesin pertumbuhan karena memiliki karakteristik increasing returns to scale, yakni peningkatan skala produksi yang dapat mendorong efisiensi dan produktivitas lebih tinggi.

Sebuah studi empiris di Ekuador menemukan bahwa peningkatan 1% produksi manufaktur berkaitan dengan peningkatan PDB sebesar 0,483% dalam jangka pendek dan 0,695% dalam jangka panjang.

Dalam konteks Indonesia, pertumbuhan manufaktur sebesar 5,32% dapat dibaca sebagai salah satu hasil dari akumulasi investasi pada tahun-tahun sebelumnya. Investasi sektor manufaktur meningkat dari Rp186,79 triliun pada 2014 menjadi Rp721,3 triliun pada 2024, atau sekitar 42,1% dari total investasi nasional.

Seorang narasumber dari perusahaan permesinan dan fabrikasi juga menyebutkan bahwa klien perusahaan masih terus melakukan investasi pada permesinan dan berbagai peralatan produksi.

Meski demikian, akumulasi modal menghadapi prinsip diminishing returns, yakni tambahan modal pada titik tertentu menghasilkan tambahan output yang semakin kecil. Karena itu, kemajuan teknologi menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan produktivitas dalam jangka panjang.

Keterbatasan tersebut antara lain tercermin dari tingkat utilisasi industri yang berada di kisaran 64,8%. Pelemahan PMI juga dinilai tidak semata-mata disebabkan oleh guncangan permintaan, tetapi dapat berkaitan dengan belum optimalnya pembaruan modal dan teknologi produksi.

Mesin yang telah berusia tua, sering mengalami kerusakan, dan membutuhkan biaya perawatan tinggi dapat meningkatkan biaya produksi. Dampaknya, produk menjadi lebih sulit bersaing dari sisi harga maupun produktivitas.

Pada saat bersamaan, suku bunga yang tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian permintaan dapat membuat pelaku usaha menunda investasi. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan lingkaran masalah karena investasi yang tertunda dapat menghambat pembaruan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.

Risiko terhadap PDB dan Lapangan Kerja

Apabila kontraksi aktivitas manufaktur berlangsung lebih lama, kontribusi sektor ini terhadap PDB pada triwulan III 2026 berpotensi mengalami perlambatan.

Pertumbuhan industri pengolahan secara keseluruhan tercatat turun dari 5,04% pada triwulan I menjadi 4,52% pada triwulan II 2026. Pelemahan yang berlanjut dapat berdampak terhadap perekonomian melalui sejumlah jalur.

Pertama, melalui ketenagakerjaan dan konsumsi rumah tangga. Penahanan perekrutan tenaga kerja hingga kemungkinan pemutusan hubungan kerja dapat menekan daya beli masyarakat. Dampak tersebut menjadi penting karena sektor manufaktur menyerap sekitar 19,96 juta tenaga kerja.

Kedua, tekanan dapat merambat ke rantai pasok. Pelaku usaha kecil, seperti bengkel fabrikasi, pemasok material, dan berbagai usaha pendukung industri, berpotensi menjadi kelompok yang lebih awal merasakan dampak ketika produksi manufaktur menurun.

Ketiga, terdapat dampak terhadap fiskal. Penurunan produksi dan profitabilitas perusahaan dapat menekan penerimaan pajak. Pada saat yang sama, pemerintah berpotensi menghadapi kebutuhan belanja yang lebih besar untuk menjaga perlindungan sosial apabila terjadi pelemahan pasar tenaga kerja.

Dalam jangka panjang, kegagalan memodernisasi modal dan teknologi dapat menurunkan daya saing industri, mengurangi minat investasi, dan menahan pertumbuhan output per kapita.

Tanpa inovasi yang berkelanjutan, manufaktur juga menghadapi risiko premature deindustrialization, yakni kondisi ketika peran industri dalam perekonomian melemah sebelum suatu negara mencapai tingkat pendapatan yang tinggi. Ketergantungan terhadap teknologi impor juga dapat menjadi tantangan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Jalan Keluar: Insentif, Pembiayaan, dan Inovasi

Pelaku usaha dan pembuat kebijakan menghadapi tantangan untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus merespons sinyal pelemahan dalam jangka pendek.

Insentif fiskal seperti super tax deduction, penyusutan dipercepat, tax allowance, tax holiday, serta keringanan bea masuk dapat digunakan untuk menekan biaya investasi. Dukungan pembiayaan melalui kredit dengan biaya yang lebih kompetitif juga dapat membantu mendorong capital deepening atau peningkatan modal per pekerja.

Penguatan industri permesinan domestik tidak kalah penting. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor mesin yang nilainya mencapai sekitar US$36,6 miliar.

Dari sisi permintaan, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), program hilirisasi, serta berbagai proyek strategis nasional dapat menjadi sumber permintaan bagi industri domestik apabila dilaksanakan secara efektif.

Seluruh kebijakan tersebut juga perlu ditopang oleh penguatan riset dan alih teknologi melalui program Making Indonesia 4.0, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perbaikan efisiensi logistik.

Insentif dan kemudahan pembiayaan pada dasarnya dapat berfungsi sebagai kebijakan kontra-siklus dengan membantu menjaga margin usaha, mencegah credit crunch sektoral, serta mengurangi kecenderungan pelaku usaha mengambil sikap wait-and-see.

Namun, efektivitas kebijakan tersebut tetap bergantung pada ketepatan sasaran, kredibilitas fiskal, serta koordinasi kebijakan moneter dan fiskal.

Riset dan inovasi juga menjadi salah satu syarat penting untuk memperkuat produktivitas, tetapi bukan satu-satunya solusi. Belanja riset dan pengembangan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara industri seperti Korea Selatan. Selain itu, biaya adopsi teknologi masih tinggi, sedangkan kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan lembaga penelitian belum sepenuhnya optimal.

Manfaat investasi riset baru akan terasa jika pengembangan teknologi benar-benar dapat diterapkan pada proses produksi, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Dengan sekitar 80% pertumbuhan masih ditopang oleh pasar domestik, industri pengolahan nonmigas tetap memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia.

Namun, mempertahankan posisinya sebagai kontributor utama membutuhkan pola pertumbuhan yang semakin digerakkan oleh produktivitas, inovasi, pembaruan teknologi, dan efisiensi, bukan semata-mata melalui penambahan kapasitas produksi.

Dengan fondasi tersebut, struktur industri nasional diharapkan lebih kompetitif dan memiliki ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan permintaan maupun guncangan ekonomi global.

Data dan referensi: BPS, S&P Global, Kementerian Investasi/BKPM, Kementerian Perindustrian, wawancara narasumber, dan kajian literatur.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/manufaktur-tetap-kontributor-utama-tetapi-menghadapi-tekanan/97971/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 01.21 WITA

  • #Ekonomi Nasional
  • #Pertumbuhan Ekonomi
  • #daya saing
  • #industri pengolahan nonmigas
  • #manufaktur
  • #pmi manufaktur
  • #teknologi produksi

Artikel Terkait

PMK 37 Tahun 2025 Bukan Pajak Baru, Ini yang Perlu Dipahami Pedagang Online

Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis

Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.