Bogor, JurnalPost.com – Pembina Utama Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR), Imaam Yakhsyallah Mansur, mengingatkan para relawan untuk senantiasa memiliki kepekaan terhadap kondisi masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Menurutnya, membantu sesama yang tertimpa musibah tidak seharusnya menunggu adanya permintaan.
Pesan tersebut disampaikan Imaam Yakhsyallah saat memberikan tausiyah dan arahan kepada empat personel UAR yang akan diberangkatkan menuju lokasi bencana gempa bumi di Dusun Waso, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ahad (13/9/2026).
“Dalam menolong seseorang jangan sampai menunggu mereka minta tolong,” kata Imaam Yakhsyallah di Masjid At Taqwa Shuffah Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, usai salat Subuh.
Ia menjelaskan, tidak semua orang yang sedang mengalami kesulitan mampu atau bersedia menyampaikan kebutuhannya. Karena itu, kepekaan sosial diperlukan agar seseorang dapat mengetahui dan merasakan kondisi saudaranya yang membutuhkan bantuan.
Imaam Yakhsyallah mengaitkan kepedulian tersebut dengan nilai ukhuwah di antara sesama orang beriman. Ia merujuk Surah Al-Hujurat ayat 10 yang menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara dan memiliki kewajiban untuk menjaga serta memperbaiki hubungan di antara mereka.
Ia juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW mengenai pentingnya mencintai saudara sebagaimana seseorang mencintai sesuatu untuk dirinya sendiri.
“Orang-orang di Nusa Tenggara Timur itu sedang merasakan kesedihan. Kita harus juga merasakan sedih. Wujudnya adalah mengirim personel di samping bantuan lain yang telah dikirimkan ke sana sebagai wujud keimanan,” ujarnya.
Menurutnya, rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama tidak cukup hanya diwujudkan melalui perasaan maupun ucapan. Kepedulian perlu diikuti tindakan nyata dengan berusaha memberikan pertolongan sesuai kebutuhan masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Kehadiran relawan UAR di tengah masyarakat terdampak bencana di NTT, lanjutnya, menjadi salah satu bentuk pengamalan nilai ukhuwah dan solidaritas kemanusiaan.
Empat Personel Diberangkatkan ke Dusun Waso
Sejalan dengan arahan tersebut, UAR kembali menambah kekuatan relawan yang bertugas di Dusun Waso, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Empat personel, yakni Mughiroh, Arifin, Sugiarti, dan Novie Avianti, diberangkatkan melalui jalur udara pada Ahad pagi menuju NTT.
Mereka akan diperbantukan dalam berbagai pelayanan kemanusiaan, antara lain layanan medis, dukungan psikososial, kegiatan belajar, serta pendampingan terhadap anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.
Pengurus Pusat UAR, Muhammad Tri Habibie, mengatakan empat relawan tersebut direncanakan menjalankan tugas kemanusiaan selama kurang lebih empat pekan.
“Keempat personel akan melaksanakan tugas kemanusiaan di lokasi bencana selama kurang lebih empat pekan atau bisa bertambah tergantung keputusan pimpinan UAR,” ujar Habibie saat mengantar keberangkatan para relawan di Bandara Soekarno-Hatta, Ahad (13/9/2026).
Keberangkatan empat personel tersebut menambah kekuatan tim UAR yang sebelumnya telah berjumlah 10 orang dan masih menjalankan misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak di Dusun Waso.
UAR menyebut telah berada di lokasi bencana sejak hari kedua pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores Utara. Jumlah dan kapasitas relawan terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan kondisi di lapangan.
Relawan Diminta Tetap Terkoordinasi
Selain menekankan pentingnya kepekaan terhadap masyarakat terdampak, Imaam Yakhsyallah juga meminta para relawan menjaga ketertiban dan koordinasi selama menjalankan tugas kemanusiaan.

Seluruh kegiatan relawan di NTT diminta tidak berjalan sendiri-sendiri dan tetap berada dalam koordinasi pimpinan UAR, baik yang berada di lokasi bencana maupun di tingkat pusat.
“Ketertiban juga sangat penting dilaksanakan. Apa yang dilakukan para relawan di lokasi bencana mohon jangan sampai lepas kontrol dari pusat. Tetap menjaga ketertiban,” katanya.
Ia berharap seluruh personel dapat menjalankan tugas kemanusiaan sesuai ketentuan serta arahan organisasi selama berada di daerah terdampak.
“Alhamdulillah para ikhwan dan akhwat bisa berangkat. Mudah-mudahan semua relawan dapat melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pimpinan,” ujarnya.
Misi kemanusiaan UAR di Dusun Waso membawa semangat Taqwa, Tanggap, Tangguh. Ketakwaan menjadi landasan pengabdian, sikap tanggap diterapkan dalam merespons kebutuhan masyarakat terdampak, sementara ketangguhan diperlukan untuk menjalankan tugas di tengah berbagai keterbatasan di lokasi bencana.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda