MANGGARAI TIMUR, JurnalPost.com – Sebanyak 1.331 jiwa dari 345 Kepala Keluarga (KK) di Desa Deno, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di sejumlah posko pengungsian darurat setelah gempa bumi tektonik mengguncang wilayah tersebut sejak Sabtu (15/8/2026).
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat bencana tersebut. Namun, sejumlah warga mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Bea Muring.
Karena pertimbangan keamanan dan kekhawatiran terhadap gempa susulan, proses perawatan terhadap sejumlah pasien dilakukan di area luar ruangan menggunakan tenda darurat.
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada permukiman warga. Sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga tidak memungkinkan untuk ditempati.
Kondisi tersebut membuat banyak warga memilih membangun tenda secara swadaya di sekitar halaman rumah dengan memanfaatkan material yang tersedia, seperti terpal, kayu, dan bambu. Selain karena rumah mengalami kerusakan, langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Cuaca Buruk Tambah Kesulitan Pengungsi
Situasi di lokasi pengungsian semakin sulit karena cuaca buruk dilaporkan melanda kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir. Bayi dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi kondisi pengungsian dengan fasilitas terbatas.
Warga juga mengeluhkan bantuan yang diterima hingga saat ini masih belum mencukupi kebutuhan seluruh pengungsi.
Menurut keterangan warga, bantuan darurat dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur yang telah diterima berupa sekitar 300 kilogram beras dan dua papan telur atau sekitar 60 butir.
Dengan jumlah pengungsi mencapai 345 KK, warga berharap pasokan logistik dan fasilitas pengungsian dapat segera ditambah, terutama tenda siap pakai yang lebih layak menghadapi kondisi cuaca.
Warga Masih Trauma Gempa Susulan
Selain persoalan tempat tinggal dan kebutuhan pokok, trauma akibat gempa masih dirasakan masyarakat. Gempa susulan yang disebut masih terjadi membuat sebagian warga belum berani kembali masuk ke rumah.
Nikolaus Adimus, salah seorang warga Desa Deno yang terdampak gempa, mengaku masih diliputi rasa takut.
“Kami takut dan trauma, makanya kami tidak berani tinggal di dalam rumah. Kami takut karena hampir setiap malam, walaupun sudah ada di posko pengungsian, gempa susulan terus mengguncang,” ujar Nikolaus saat ditemui di lokasi pengungsian.
Kondisi serupa disampaikan Nardo, warga Desa Deno lainnya. Menurutnya, keterbatasan aktivitas masyarakat mulai berdampak terhadap ketersediaan pangan.

“Beberapa hari kami di posko pengungsian, kami makan seadanya saja. Kondisi geografis kebun warga rata-rata berada di bantaran bukit. Kami takut dan tidak berani ke kebun karena khawatir guncangan gempa susulan bisa menyebabkan material batu jatuh dari bukit,” kata Nardo.
Kekhawatiran terhadap potensi longsoran batu membuat sebagian warga memilih tidak mendatangi kebun yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Warga Harapkan Bantuan Segera Disalurkan
Warga Desa Deno berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bersama lembaga kemanusiaan dan pihak terkait lainnya, dapat segera memperkuat penanganan pengungsi.
Sejumlah kebutuhan yang dinilai paling mendesak saat ini meliputi tenda siap pakai atau shelter, makanan siap saji, kebutuhan bayi dan anak, obat-obatan, serta kebutuhan pokok.
Pasokan bahan pangan seperti beras, mi instan, minyak goreng, telur, susu, dan makanan kaleng juga sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan ratusan keluarga yang masih berada di pengungsian.
Warga berharap bantuan dapat segera menjangkau seluruh titik pengungsian agar kebutuhan dasar masyarakat terdampak gempa dapat terpenuhi selama mereka belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Penulis: Savio Darman
Laporan dari Desa Deno, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Bisa dihubungi melalui WhatsApp: 081236427252.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda