Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Berani Berkata "Tidak": Mengapa Asertivitas Penting bagi Remaja Masa Kini

Foto profil Hasbi
Editor: Hasbi
18 Agustus 2026, 12.58 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Berani Berkata tidak
Ilustrasi keberanian berkata “tidak” sebagai bentuk ketegasan menjaga batas diri, menolak tekanan negatif, dan memilih jalan yang lebih baik bagi diri sendiri.
JurnalPost.com - Pernahkah Anda melihat seorang anak yang selalu diam saat diejek teman-temannya? Atau remaja yang terus-menerus menuruti permintaan orang lain meski dirinya sendiri merasa tidak nyaman? Fenomena ini lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari daripada yang kita kira. Di sekolah, di lingkungan bermain, bahkan di dunia maya, banyak anak dan remaja mengalami perundungan oleh teman sebaya atau yang dikenal dengan istilah peer victimization. Peer victimization bukan sekadar "ejek-ejekan biasa" yang akan hilang seiring waktu. Kondisi ini merupakan salah satu masalah sosial serius yang sering dialami anak usia sekolah, dan dampaknya bisa mempengaruhi perkembangan emosional serta sosial mereka dalam jangka panjang. Anak yang menjadi korban perundungan teman sebaya cenderung tumbuh dengan kepercayaan diri rendah, sulit mengungkapkan pendapat, dan merasa tidak berdaya saat menghadapi tekanan sosial. Kondisi inilah yang pada akhirnya membuat mereka semakin rentan menjadi korban berulang, karena rendahnya asertivitas membuat mereka sulit membela diri secara sehat. Ketika Anak Kehilangan "Suara"nya Asertivitas adalah kemampuan seseorang untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhannya secara jujur dan terbuka, tanpa harus menyakiti orang lain maupun mengorbankan hak dirinya sendiri. Sederhananya, asertivitas adalah kemampuan berkata "tidak" saat memang tidak menginginkan sesuatu, atau berani menyuarakan ketidaknyamanan tanpa harus marah-marah maupun justru memendam semuanya sendirian. Sayangnya, tidak semua anak tumbuh dengan kemampuan ini secara alami. Sebagian anak justru berkembang dengan pola pasif—selalu mengalah dan menghindar dari konflik—atau sebaliknya, agresif—melawan dengan cara yang justru memperkeruh keadaan. Kedua pola ini sama-sama membuat anak rentan terjebak dalam lingkaran perundungan: anak yang pasif mudah dijadikan sasaran karena dianggap "aman" untuk diganggu, sementara anak yang agresif justru berisiko memicu konflik yang lebih besar. Di sinilah pentingnya asertivitas ditanamkan sejak dini. Anak yang asertif memiliki kemampuan untuk menetapkan batasan yang sehat, mengomunikasikan perasaannya dengan jelas, dan merespons perlakuan tidak menyenangkan dengan cara yang tegas namun tetap terkendali. Kemampuan ini menjadi salah satu benteng pertahanan diri yang penting di tengah dinamika pergaulan anak dan remaja masa kini, yang tidak hanya terjadi di dunia nyata tetapi juga meluas ke ranah digital. Mengapa Ini Penting bagi Remaja Masa Kini Fenomena asertivitas dan peer victimization sesungguhnya relevan sepanjang masa tumbuh kembang, termasuk pada masa remaja. Justru masa remaja adalah periode ketika tekanan sosial semakin kompleks: pertemanan yang lebih luas, media sosial yang membuka ruang perundungan siber (cyberbullying), serta tekanan untuk diterima kelompok (peer pressure) yang kian menguat. Remaja yang tidak memiliki keterampilan asertif berisiko lebih besar mengalami berbagai bentuk perundungan, baik secara langsung maupun daring, dan sering kali merasa terjebak antara memilih diam atau bereaksi berlebihan. Kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan mental mereka, mulai dari menurunnya rasa percaya diri hingga kesulitan menjalin hubungan sosial yang sehat di kemudian hari. Oleh karena itu, membangun asertivitas bukan hanya tugas anak usia sekolah dasar semata, melainkan juga kebutuhan mendesak bagi remaja masa kini—sebuah keterampilan hidup yang perlu terus diasah seiring bertambahnya kompleksitas interaksi sosial yang mereka hadapi. Tips Praktis Meningkatkan Asertivitas bagi Remaja Bagi remaja, orang tua, guru, maupun siapa saja yang ingin membantu remaja di sekitarnya membangun sikap asertif, berikut beberapa langkah sederhana yang dapat mulai dipraktikkan:
  1. Kenali dan terima perasaan sendiri Sebelum bisa mengungkapkan sesuatu dengan tegas, remaja perlu belajar mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan—apakah kesal, tidak nyaman, atau keberatan. Menyadari perasaan sendiri adalah langkah awal sebelum berani menyuarakannya kepada orang lain.
  2. Gunakan kalimat "Saya" saat menyampaikan pendapat Alih-alih menyalahkan orang lain ("Kamu selalu menyebalkan!"), latih remaja untuk menyampaikan perasaannya dengan kalimat yang berfokus pada diri sendiri, misalnya "Saya merasa tidak nyaman ketika hal itu terjadi." Cara ini membuat pesan tersampaikan tanpa memicu konflik yang lebih besar.
  3. Berlatih mengatakan "tidak" dengan sopan namun tegas Banyak remaja merasa tidak enak untuk menolak permintaan teman, meski hal itu bertentangan dengan keinginannya. Latihan sederhana seperti berkata "Terima kasih, tapi kali ini aku tidak mau" perlu dibiasakan agar terasa alami saat situasi sebenarnya terjadi.
  4. Jaga bahasa tubuh yang tegas namun tidak agresif Asertivitas tidak hanya soal kata-kata, tetapi juga bahasa tubuh: berdiri tegak, melakukan kontak mata, dan berbicara dengan nada suara yang stabil. Sikap tubuh yang tenang namun percaya diri membantu pesan tersampaikan dengan lebih meyakinkan.
  5. Belajar dari situasi lewat simulasi atau bermain peran Seperti yang terbukti efektif dalam program pelatihan berbasis permainan, remaja juga dapat berlatih menghadapi situasi sosial yang menantang lewat simulasi atau bermain peran bersama teman, keluarga, atau konselor sekolah, sebelum benar-benar menghadapinya di dunia nyata.
  6. Cari dukungan dari orang dewasa yang dipercaya Asertivitas tidak berarti harus menghadapi semua masalah sendirian. Remaja perlu diyakinkan bahwa meminta bantuan kepada orang tua, guru, atau konselor saat menghadapi perundungan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari sikap tegas dalam melindungi diri.
  7. Apresiasi setiap keberanian kecil Perubahan sikap tidak terjadi secara instan. Setiap kali remaja berhasil menyampaikan pendapatnya atau menolak sesuatu dengan tegas, hal ini layak diapresiasi—baik oleh diri sendiri maupun orang di sekitarnya—agar keberanian tersebut terus tumbuh.
Membangun generasi remaja yang asertif membutuhkan keterlibatan semua pihak—orang tua, sekolah, komunitas, hingga masyarakat luas—untuk terus menciptakan ruang yang aman bagi anak dan remaja belajar mengenali serta menyuarakan diri mereka. Sebab pada akhirnya, remaja yang mampu berkata "tidak" dengan tegas dan percaya diri bukan hanya lebih terlindungi dari perundungan, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat secara emosional dan sosial. Denrich Suryadi, Stevanie Regina, Ezra Manora Glorya Simalango, Bijanca Aufina Diefa – Dosen & Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/berani-berkata-tidak-mengapa-asertivitas-penting-bagi-remaja-masa-kini/97304/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.47 WITA

  • #Opini Mahasiswa
  • #Universitas Tarumanagara

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Penelitian di Cilacap Ungkap 93,94 Persen Pasien Gangguan Jiwa Patuh Minum Obat, Dukungan Keluarga Jadi Perhatian

Pilihan Editor

  1. 1 Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan
  2. 2

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  3. 3

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

  4. 4

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  5. 5

    Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.