MALANG, JurnalPost.com – Tari Beskalan dan Tari Remo menjadi bagian dari cerita tentang keberagaman dan kesetaraan dalam kegiatan “Merenda Budaya dalam Gerak: Panggung Disabilitas yang Inklusif” yang digelar di Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Minggu, 30 Agustus 2026.
Dua tarian tradisional khas Jawa Timur tersebut dibawakan secara terpisah oleh penari yang berbeda. Masing-masing tampil dengan karakter, ekspresi, serta kemampuan yang menjadi kekuatan tersendiri di atas panggung.
Tari Beskalan menjadi salah satu penampilan yang mencuri perhatian penonton. Mengenakan busana tari tradisional, sang penari mengikuti alunan musik melalui rangkaian gerak yang telah dipelajari sebelumnya.
Tidak sekadar mengejar keseragaman gerakan, penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana seorang anak dapat menerjemahkan seni melalui ekspresi dan kemampuannya sendiri. Setiap gerakan menghadirkan warna tersendiri sehingga karakter Beskalan tetap terasa hidup di atas panggung.
Suasana berbeda hadir ketika Tari Remo dipentaskan. Karakter tari yang lebih dinamis memberikan ruang bagi penari untuk menunjukkan semangat, keberanian, dan ekspresinya.
Gerakan langkah kaki, tubuh, hingga ekspresi yang mengikuti irama menjadi bagian dari pertunjukan yang kemudian memperoleh apresiasi dari para penonton.
Meski membawakan jenis tarian yang berbeda, kedua penampilan tersebut membawa pesan yang sama, yakni setiap anak memiliki kemampuan dan caranya masing-masing dalam mengekspresikan seni.

Panggung dalam kegiatan tersebut tidak dirancang untuk menyeragamkan kemampuan para penari. Sebaliknya, ruang pertunjukan diberikan agar setiap anak dapat menampilkan kemampuan terbaiknya sekaligus memperoleh kesempatan yang setara untuk diapresiasi masyarakat.
Dosen Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus penyelenggara kegiatan Merenda Budaya dalam Gerak, Delora Jantung Amelia, M.Pd., mengatakan penampilan Beskalan dan Remo menjadi gambaran bahwa seni tradisi dapat tumbuh dalam ruang yang inklusif.
“Kami ingin masyarakat menikmati mereka sebagai penari. Ada yang membawakan Beskalan, ada pula yang membawakan Remo. Mereka tampil dengan karakter dan kemampuannya masing-masing. Bagi kami, yang terpenting adalah keberanian untuk tampil, menikmati proses berkesenian, dan memperoleh apresiasi yang sama di ruang publik,” ungkap Delora.
Menurutnya, keberadaan panggung inklusif memberikan kesempatan kepada anak untuk tidak hanya belajar seni, tetapi juga menunjukkan hasil proses tersebut secara langsung kepada masyarakat.
Kehadiran Tari Beskalan dan Tari Remo sekaligus membawa misi pelestarian budaya lokal. Anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan, tetapi turut mengambil peran dalam mengenalkan serta menjaga keberlanjutan seni tradisi Jawa Timur.
Melalui pengalaman tampil secara langsung, proses pengenalan budaya tidak berhenti pada pembelajaran teori atau latihan. Mereka memperoleh ruang untuk berinteraksi dengan musik, kostum, gerakan, penonton, dan suasana pertunjukan yang sesungguhnya.
Semangat tersebut sejalan dengan konsep Merenda Budaya dalam Gerak, yang dirancang sebagai ruang pertunjukan seni dengan menghargai keberagaman kemampuan setiap anak.
Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa inklusivitas dalam seni tidak selalu berarti menciptakan bentuk pertunjukan yang berbeda. Kesetaraan justru dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berada di atas panggung dan mendapatkan apresiasi sebagai seorang penampil.
Beskalan hadir dengan kelembutan dan pesonanya, sedangkan Remo membawa energi serta semangatnya. Dua penari dengan dua karakter berbeda dipertemukan dalam satu pesan yang sama: setiap anak berhak mendapatkan ruang untuk berkarya, mengekspresikan dirinya, dan mencintai budaya yang menjadi bagian dari lingkungannya.
Dari panggung kecil di Bumiayu, Malang, seni tradisi pun berbicara tentang sesuatu yang lebih besar—bahwa keberagaman bukan batas dalam berkesenian, melainkan kekuatan yang layak mendapatkan ruang dan apresiasi yang setara.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda