Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

  2. Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

  3. Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  4. Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

  5. Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

  1. Beranda
  2. Pendidikan
  3. Beskalan dan Remo Suarakan Kesetaraan dari Panggung Inklusif di Malang

Beskalan dan Remo Suarakan Kesetaraan dari Panggung Inklusif di Malang

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
03 September 2026, 12.55 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Penampilan seni tradisional
Penampilan seni tradisional dalam kegiatan Merenda Budaya dalam Gerak: Panggung Disabilitas yang Inklusif di Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, Minggu (30/8/2026). Kegiatan ini menghadirkan ruang inklusif bagi anak-anak untuk mengekspresikan kemampuan seni sekaligus mengenalkan budaya Jawa Timur.

MALANG, JurnalPost.com – Tari Beskalan dan Tari Remo menjadi bagian dari cerita tentang keberagaman dan kesetaraan dalam kegiatan “Merenda Budaya dalam Gerak: Panggung Disabilitas yang Inklusif” yang digelar di Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Minggu, 30 Agustus 2026.

Dua tarian tradisional khas Jawa Timur tersebut dibawakan secara terpisah oleh penari yang berbeda. Masing-masing tampil dengan karakter, ekspresi, serta kemampuan yang menjadi kekuatan tersendiri di atas panggung.

IKLAN

Tari Beskalan menjadi salah satu penampilan yang mencuri perhatian penonton. Mengenakan busana tari tradisional, sang penari mengikuti alunan musik melalui rangkaian gerak yang telah dipelajari sebelumnya.

vitaly gariev wAgfqXpYqug unsplash
Baca Juga

Komunikasi Gender di Lingkungan Mahasiswa: Stereotip, Interaksi Akademik, dan Negosiasi Identitas

Tidak sekadar mengejar keseragaman gerakan, penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana seorang anak dapat menerjemahkan seni melalui ekspresi dan kemampuannya sendiri. Setiap gerakan menghadirkan warna tersendiri sehingga karakter Beskalan tetap terasa hidup di atas panggung.

Suasana berbeda hadir ketika Tari Remo dipentaskan. Karakter tari yang lebih dinamis memberikan ruang bagi penari untuk menunjukkan semangat, keberanian, dan ekspresinya.

Gerakan langkah kaki, tubuh, hingga ekspresi yang mengikuti irama menjadi bagian dari pertunjukan yang kemudian memperoleh apresiasi dari para penonton.

Meski membawakan jenis tarian yang berbeda, kedua penampilan tersebut membawa pesan yang sama, yakni setiap anak memiliki kemampuan dan caranya masing-masing dalam mengekspresikan seni.

Relawan Kota Malang
Baca Juga

Rawat Diri agar Tetap Peduli: Relawan Kota Malang Ikuti Psikoedukasi “Bangkit Hati”

Tari Beskalan dan Remo
Seorang penari membawakan tari tradisional dalam kegiatan Merenda Budaya dalam Gerak: Panggung Disabilitas yang Inklusif di Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang, Minggu (30/8/2026). Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang seni yang inklusif sekaligus mengenalkan budaya Jawa Timur.

Panggung dalam kegiatan tersebut tidak dirancang untuk menyeragamkan kemampuan para penari. Sebaliknya, ruang pertunjukan diberikan agar setiap anak dapat menampilkan kemampuan terbaiknya sekaligus memperoleh kesempatan yang setara untuk diapresiasi masyarakat.

IKLAN

Dosen Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus penyelenggara kegiatan Merenda Budaya dalam Gerak, Delora Jantung Amelia, M.Pd., mengatakan penampilan Beskalan dan Remo menjadi gambaran bahwa seni tradisi dapat tumbuh dalam ruang yang inklusif.

“Kami ingin masyarakat menikmati mereka sebagai penari. Ada yang membawakan Beskalan, ada pula yang membawakan Remo. Mereka tampil dengan karakter dan kemampuannya masing-masing. Bagi kami, yang terpenting adalah keberanian untuk tampil, menikmati proses berkesenian, dan memperoleh apresiasi yang sama di ruang publik,” ungkap Delora.

Menurutnya, keberadaan panggung inklusif memberikan kesempatan kepada anak untuk tidak hanya belajar seni, tetapi juga menunjukkan hasil proses tersebut secara langsung kepada masyarakat.

Normalisasi Pelecehan Seksual
Baca Juga

Normalisasi Pelecehan Seksual: Psikologi di Balik Misogini dan Budaya Seksisme

Kehadiran Tari Beskalan dan Tari Remo sekaligus membawa misi pelestarian budaya lokal. Anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan, tetapi turut mengambil peran dalam mengenalkan serta menjaga keberlanjutan seni tradisi Jawa Timur.

Melalui pengalaman tampil secara langsung, proses pengenalan budaya tidak berhenti pada pembelajaran teori atau latihan. Mereka memperoleh ruang untuk berinteraksi dengan musik, kostum, gerakan, penonton, dan suasana pertunjukan yang sesungguhnya.

Semangat tersebut sejalan dengan konsep Merenda Budaya dalam Gerak, yang dirancang sebagai ruang pertunjukan seni dengan menghargai keberagaman kemampuan setiap anak.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa inklusivitas dalam seni tidak selalu berarti menciptakan bentuk pertunjukan yang berbeda. Kesetaraan justru dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk berada di atas panggung dan mendapatkan apresiasi sebagai seorang penampil.

Beskalan hadir dengan kelembutan dan pesonanya, sedangkan Remo membawa energi serta semangatnya. Dua penari dengan dua karakter berbeda dipertemukan dalam satu pesan yang sama: setiap anak berhak mendapatkan ruang untuk berkarya, mengekspresikan dirinya, dan mencintai budaya yang menjadi bagian dari lingkungannya.

Dari panggung kecil di Bumiayu, Malang, seni tradisi pun berbicara tentang sesuatu yang lebih besar—bahwa keberagaman bukan batas dalam berkesenian, melainkan kekuatan yang layak mendapatkan ruang dan apresiasi yang setara.

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/beskalan-dan-remo-suarakan-kesetaraan-dari-panggung-inklusif-di-malang/97551/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 02 November 2026, 11.26 WITA

  • #Disabilitas
  • #Kesetaraan
  • #Kota Malang
  • #Panggung Inklusif
  • #Seni Tradisi
  • #Tari Beskalan
  • #Tari Remo

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso

Tinggalkan Buku Kas Manual, Pelaku UMKM Manggarsari Kini Kelola Keuangan Lewat Ponsel

Awali Hari dengan Salat Subuh Berjamaah dan Senam Pagi, MAN 1 Bulukumba Tanamkan Semangat Sehat Lahir dan Batin

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

Mengurangi Risiko Penggunaan Plastik Kresek Hitam pada Pedagang Kuliner Lokal

Kejujuran Perlu Ekosistem: Membangun Budaya Integritas dari Lingkungan Kampus

Peran Teknologi Pangan dalam Meningkatkan Keamanan Pangan di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Birokrasi Seharusnya Memudahkan, Bukan Justru Menambah Beban Masyarakat dalam Mengurus Pelayanan Publik
  2. 2

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

  3. 3

    Maraknya Penipuan Belanja Online, Siapa yang Bertanggung Jawab Melindungi Konsumen?

  4. 4

    Flu Sedang Naik: Kapan Cukup Istirahat di Rumah, Kapan Harus ke Dokter?

  5. 5

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.