Oleh Zihan Ratu Az Zahra
JurnalPost.com - Di sebuah panti pijat sederhana yang terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sujono yang akrab disapa Mas Jhon dengan terampil memijat otot-otot yang tegang dari para pelanggannya. Jari-jarinya bergerak dengan gerakan yang sangat terlatih, menemukan titik-titik tegang dan titik-titik tekanan dengan ketepatan yang sering kali mengejutkan para pelanggan baru. Di usianya yang ke-42, Jhon adalah salah satu dari sekian banyak pemijat tunanetra yang berhasil mengubah keterbatasannya menjadi sebuah keahlian. “Banyak orang meremehkan pemijat tunanetra, dan lebih memilih tempat pijat refleksi yang mewah,” kata Jhon. “Namun yang tidak mereka ketahui adalah bahwa kami memahami lebih banyak tentang tulang, jaringan sel, dan prinsip-prinsip medis.”
Tidak seperti kebanyakan pemijat tradisional yang belajar melalui pengalaman melalui turun-temurun dari tempatnya bekerja, keahlian Jhon berasal dari pendidikan formal. Pada tahun 1996, di usia 14 tahun, ia bergabung dengan Panti Sosial Bina Netra di Temanggung, Jawa Tengah. Lembaga yang didanai pemerintah ini memberinya pelatihan komprehensif selama empat tahun, yang tidak hanya mencakup teknik memijat tetapi juga keterampilan hidup. “Semuanya disediakan mulai dari makanan, seragam, hingga perlengkapan mandi,” kenangnya. “Itu adalah berkah bagi orang seperti saya yang berasal dari Banjarnegara.”
Tetapi Jhon tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2003, ia mengikuti pelatihan refleksi khusus di bawah program Gereja Katedral Jakarta. Kemudian, ia mengembangkan keahliannya dengan belajar pijat kecantikan dan terapi bekam. “Jika saya tidak berinovasi, saya akan tertinggal,” jelasnya, dengan semangat kewirausahaan yang mematahkan stereotip umum tentang tunanetra. Saat ini, John memasang tarif Rp 70.000 per jam di tempatnya dan Rp 100.000 untuk panggilan ke rumah, belum termasuk transportasi. Kliennya berasal dari seluruh Jabodetabek, mulai dari Bekasi hingga Bogor, termasuk pegawai balai kota. Meski pendapatan hariannya tidak menentu, biasanya ia bisa melayani dua sampai tiga klien setiap harinya.
Namun tantangan tetap ada. “Pemasaran itu sulit,” Jhon mengakui. “Dukungan pemerintah sangat minim untuk usaha kecil seperti kami.” Dia juga terkadang menghadapi situasi yang tidak nyaman, seperti berurusan dengan klien yang nakal, yang ditanganinya dengan tegas dan profesional.
Terlepas dari rintangan-rintangan ini, Jhon mempertahankan standar yang tinggi dan pola pikir yang terus berkembang. “Saya tidak pernah merasa puas ketika klien mengatakan bahwa mereka puas,” katanya. “Itu berarti saya harus terus berkembang, berinovasi dan bertumbuh.” Istrinya, yang mengelola biro jasa dari rumah, dan lingkungannya yang selalu memberikan dukungan penuh kepadanya. Namun, Jhon memiliki pesan untuk pemerintah dan masyarakat “Disabilitas bukanlah halangan untuk menjadi warga negara yang produktif dan setara. Bantulah kami untuk berinovasi dan maju, tapi ingatlah bahwa kami tidak bergantung pada siapa pun kecuali Allah.”
Di tengah hari yang padat di Jakarta, yang dipenuhi dengan klakson dan deru kendaraan, John selalu bersedia untuk melayani kebutuhan para pelanggan. Rutinitas sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya, dimana setiap pelayanannya bukan hanya sekedar pelayanan tetapi juga cara untuk menjalankan keahlian yang sudah ditekuninya selama bertahun-tahun. Kisah Jhon bukan sekadar tentang terapi pijat, tetapi tentang perjuangan tanpa henti untuk mendobrak batasan yang sering kali membelenggu kaum disabilitas. Ia menegaskan bahwa meskipun hidup dalam kegelapan, seseorang tetap dapat menemukan kekuatan, keterampilan, dan bahkan harapan yang luar biasa.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda