Penulis: Auryn Keysha Aulia
JurnalPost.com - Di era modern ini, semakin banyak perempuan yang memilih untuk berkarier di luar rumah sebagai wujud kemandirian dan pemenuhan kebutuhan finansial. Namun, kondisi tersebut sering kali mengakibatkan berkurangnya waktu dalam pengasuhan anak, sehingga anak harus dititipkan kepada pihak lain. Fenomena ini menjadi semakin mengkhawatirkan setelah terungkapnya kasus kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha di Yogyakarta yang menjadi viral di media sosial. Oleh karena itu, permasalahan ini tidak hanya berkaitan dengan pilihan perempuan untuk berkarier, tetapi juga mencerminkan lemahnya sistem pengasuhan anak yang perlu mendapatkan evaluasi.
Di satu sisi, keberadaan wanita karier memberikan kontribusi yang signifikan bagi keluarga. Perempuan yang bekerja tidak hanya berperan dalam meningkatkan kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga membantu menciptakan stabilitas finansial yang lebih baik bagi masa depan anak. Selain itu, ibu yang berkarier dapat menjadi teladan dalam hal kemandirian, tanggung jawab, dan etos kerja. Nilai-nilai tersebut secara tidak langsung dapat membentuk karakter anak menjadi lebih disiplin dan mandiri.
Selain memberikan dampak ekonomi, wanita karier juga berperan dalam membentuk pola pikir anak yang lebih terbuka terhadap kesetaraan gender. Anak yang tumbuh dengan melihat ibunya bekerja cenderung memiliki pandangan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam kehidupan. Hal ini penting dalam membentuk generasi yang lebih adil dan tidak diskriminatif dalam memandang peran gender di masyarakat.
Namun demikian, peran ibu dalam pengasuhan anak tetap tidak dapat tergantikan. Kedekatan emosional antara ibu dan anak sangat penting dalam membentuk rasa aman, kepercayaan diri, serta perkembangan psikologis anak. Kurangnya interaksi langsung dapat menyebabkan anak merasa kurang diperhatikan, bahkan berpotensi mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi. Oleh karena itu, meskipun berkarier, ibu tetap perlu menjaga kualitas hubungan dengan anak.
Permasalahan utama justru terletak pada sistem pengasuhan anak yang belum sepenuhnya menjamin keselamatan dan mutu layanan. Banyak daycare belum memiliki standar operasional yang jelas serta pengawasan yang ketat. Hal ini menyebabkan kualitas pengasuhan menjadi tidak merata dan berpotensi membahayakan anak jika tidak dikelola dengan baik.
Kasus kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha di Yogyakarta menjadi bukti nyata dari lemahnya sistem pengawasan dan standar operasional lembaga penitipan anak. Tempat yang seharusnya menjadi lingkungan yang aman justru berubah menjadi ruang yang berisiko bagi anak. Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada orang tua, khususnya ibu, melainkan juga, kepada penyedia layanan dan pemerintah sebagai pihak pengawas. Tanpa adanya sistem yang ketat dan transparan, kepercayaan orang tua terhadap daycare justru dapat menjadi celah yang berpotensi membahayakan keselamatan anak.
Dengan demikian, meningkatnya jumlah wanita karier bukanlah penyebab utama munculnya permasalahan dalam pengasuhan anak, melainkan lebih disebabkan oleh lemahnya sistem dan pengawasan terhadap layanan pengasuhan anak. Kasus kekerasan di Daycare Little Aresha di Yogyakarta menjadi pengingat bahwa keselamatan anak tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada lembaga tanpa adanya pengawasan yang jelas. Meskipun demikian, peran ibu sebagai orang tua tetap tidak tergantikan dan tidak boleh hilang di tengah kesibukan bekerja. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan, disertai dengan meningkatkan kualitas sistem daycare melalui regulasi dan pengawasan yang lebih ketat. Dengan langkah tersebut, kebutuhan akan karier serta keamanan dan perkembangan anak dapat berjalan secara selaras.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda