Cuaca buruk, gangguan pasokan dari daerah penghasil, hingga persaingan belanja online menjadi tantangan bagi pedagang bawang merah di pasar tradisional Jabodetabek. Meski harga berfluktuasi, masyarakat tetap membeli karena bawang merah menjadi salah satu kebutuhan utama dapur.
Reporter: Tim Kelompok 2, Mahasiswa Universitas Pamulang
JAKARTA, JurnalPost.com — Harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mengalami fluktuasi. Di tengah perubahan harga yang dipengaruhi kondisi cuaca dan pasokan, permintaan masyarakat terhadap komoditas ini masih bertahan.
Hasil pengamatan dan wawancara lapangan mahasiswa Universitas Pamulang menunjukkan harga bawang merah di sejumlah pasar berada pada kisaran Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Bahkan, salah satu pedagang mengaku harga komoditas tersebut sempat mencapai Rp65.000 per kilogram pada bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut ditemukan di sejumlah pasar, antara lain Pasar Pondok Labu, Ciputat, Cimanggis, Lenteng Agung, dan Kelapa Gading. Masing-masing pasar memiliki harga jual yang berbeda, bergantung pada kualitas bawang, ketersediaan pasokan, serta kondisi perdagangan setempat.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia yang dihimpun dalam laporan ini menunjukkan harga bawang merah ukuran sedang di pasar tradisional Jakarta berada pada angka Rp37.950 per kilogram pada 9 September 2026.
Meskipun harga sempat menunjukkan kecenderungan menurun, pedagang menilai kondisi tersebut belum tentu bertahan lama. Perubahan cuaca, distribusi, dan tingkat permintaan dapat kembali memengaruhi harga dalam waktu singkat.
Temuan ini diperoleh melalui wawancara terhadap lima pedagang pasar tradisional dan seorang konsumen, kemudian dilengkapi dengan data harga serta kajian literatur mengenai perilaku permintaan bawang merah.
Harga Bawang Merah Berbeda di Setiap Pasar
Di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, pedagang bernama Erik Irwandi menjual bawang merah dengan harga Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Erik mengungkapkan bahwa harga sebelumnya sempat melonjak hingga Rp65.000 per kilogram akibat terbatasnya pasokan dari daerah penghasil di Pulau Jawa.
Sementara itu, di Pasar Ciputat, pedagang bernama Bang Idrus menawarkan bawang merah berdasarkan ukuran. Bawang merah berukuran besar dijual Rp40.000 per kilogram, sedangkan ukuran kecil Rp35.000 per kilogram.
Harga tersebut mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, ketika bawang merah berukuran besar masih dijual Rp35.000 dan ukuran kecil Rp30.000 per kilogram.
Situasi berbeda ditemukan di Pasar Cimanggis. Seorang pedagang bernama Sarip menyebut harga bawang merah justru turun dari Rp40.000 menjadi Rp30.000 per kilogram.

Di Pasar Lenteng Agung, pedagang bernama Pujiati menjual bawang merah sekitar Rp40.000 per kilogram, sedikit lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Adapun di Pasar Kelapa Gading, pedagang bernama Nila mencatat harga bawang merah berada pada kisaran Rp44.000 hingga Rp50.000 per kilogram dan cenderung mengalami kenaikan.
Menurut Nila, harga dapat berubah hampir setiap hari. Perubahan tersebut dipengaruhi jenis dan kualitas bawang, kondisi cuaca, serta harga yang berlaku di Pasar Induk Kramat Jati.
Perbedaan harga juga terlihat dalam catatan periode sebelumnya. Pada April 2026, harga bawang merah di Pasar Minggu tercatat Rp50.000 per kilogram. Sementara pada Februari 2026, harga di Pasar Rumput sempat mencapai Rp55.000 hingga Rp65.000 per kilogram.
Cuaca Buruk dan Gangguan Pasokan Memengaruhi Harga
Cuaca menjadi salah satu faktor yang paling sering disebut pedagang sebagai penyebab kenaikan harga bawang merah.
Curah hujan tinggi dapat mengganggu proses penanaman, meningkatkan risiko serangan hama, hingga menurunkan hasil panen di sentra produksi. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap jumlah bawang merah yang tersedia di pasar.
Selain persoalan produksi, hambatan distribusi dari daerah penghasil menuju pasar induk juga dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman barang.
Sejumlah pedagang menyebut pasokan dari Brebes, Jawa Tengah, menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketersediaan bawang merah di pasar tradisional Jabodetabek.
Ketika pengiriman dari daerah tersebut berkurang, pedagang harus menyesuaikan pembelian stok dan harga jual kepada konsumen.
Faktor musiman turut memengaruhi pergerakan harga. Menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, kebutuhan masyarakat terhadap berbagai bahan pangan, termasuk bawang merah, umumnya meningkat.
Dalam kondisi tertentu, kenaikan permintaan yang tidak diimbangi pasokan dapat mendorong harga naik lebih tinggi.
Di sisi produksi, mahalnya harga benih juga menjadi persoalan bagi petani. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan petani dalam menentukan komoditas yang akan ditanam.

Harga Naik, Pembeli Mengurangi Jumlah Belanja
Fluktuasi harga bawang merah tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga memengaruhi kebiasaan belanja masyarakat.
Para pedagang mengungkapkan bahwa ketika harga meningkat tajam, sebagian konsumen memilih mengurangi jumlah pembelian.
Pembeli yang biasanya membeli satu kilogram bawang merah dapat menyesuaikan belanja menjadi setengah kilogram atau membeli sesuai kebutuhan harian.
Bagi pedagang, kondisi tersebut memengaruhi perputaran modal. Harga pembelian dari pemasok yang semakin tinggi membuat mereka harus mengeluarkan modal lebih besar, sementara jumlah pembelian konsumen cenderung menurun.
Meski demikian, kenaikan harga tidak serta-merta membuat masyarakat berhenti membeli bawang merah.
Salah seorang konsumen sekaligus pelaku usaha, Ros, mengaku tetap membeli bawang merah sekitar satu kilogram setiap minggu melalui dua kali pembelian.
Menurutnya, harga Rp45.000 per kilogram sudah tergolong mahal. Namun, bawang merah tetap harus dibeli karena menjadi bahan penting dalam kegiatan memasak sehari-hari.
Ia memilih menyesuaikan jumlah pembelian daripada mengganti bawang merah dengan bahan lain.
Bahkan, ketika harga melampaui Rp50.000 per kilogram menjelang Ramadan atau Lebaran, kebutuhan terhadap bawang merah masih sulit dihindari.
Perilaku tersebut menggambarkan kecenderungan permintaan yang relatif tidak elastis. Artinya, kenaikan harga tidak selalu menyebabkan penurunan jumlah pembelian dalam proporsi yang sama.
Meski begitu, tingkat elastisitas permintaan secara pasti tetap memerlukan pengukuran menggunakan data harga dan volume pembelian yang lebih luas.
Bawang Merah Brebes Masih Menjadi Pilihan Pedagang
Bawang merah asal Brebes, Jawa Tengah, menjadi salah satu jenis yang banyak disebut dalam wawancara lapangan.
Sejumlah pedagang dan konsumen menilai bawang merah Brebes memiliki kualitas baik, ukuran yang relatif besar, serta karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan memasak.
Selain Brebes, pasokan bawang merah di sejumlah pasar juga berasal dari Wonogiri, Dieng, dan Sukabumi.
Rantai distribusi umumnya dimulai dari petani di daerah sentra produksi. Hasil panen kemudian dikirim kepada pedagang besar atau distributor sebelum masuk ke pasar induk.
Dari pasar induk, bawang merah didistribusikan kepada pedagang eceran dan selanjutnya dijual kepada konsumen rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner.
Dalam wawancara lapangan, pedagang di Pasar Pondok Labu, Cimanggis, dan Kelapa Gading menyebut jumlah stok yang dikelola berkisar 10 hingga 25 kilogram per hari.
Sementara itu, pedagang di Pasar Ciputat mencatat kebutuhan stok sekitar 50 hingga 70 kilogram per minggu.
Jumlah tersebut tidak selalu tetap karena pedagang menyesuaikannya dengan harga pembelian, kondisi pasar, dan perkiraan permintaan.
Ketika harga relatif murah, pedagang cenderung menambah stok. Sebaliknya, saat harga meningkat, pembelian stok dilakukan lebih hati-hati untuk mengurangi risiko kerugian.
Risiko Bawang Busuk Menambah Beban Pedagang
Selain menghadapi perubahan harga, pedagang bawang merah juga harus memperhatikan kualitas barang selama penyimpanan.
Bawang merah merupakan komoditas yang rentan mengalami penurunan kualitas, terutama apabila disimpan dalam kondisi lembap atau memiliki sirkulasi udara yang buruk.
Pada musim hujan, risiko kerusakan menjadi semakin besar karena kelembapan udara meningkat.
Sejumlah pedagang mengatasi persoalan tersebut dengan menghamparkan bawang merah di tempat kering yang memiliki sirkulasi udara memadai.
Penyimpanan juga perlu memperhatikan kondisi bawang agar tidak terlalu lembap dan mengalami pembusukan.
Bawang merah yang mulai mengalami penurunan kualitas terkadang diolah menjadi bawang kupas, bumbu halus, atau bawang goreng selama masih layak dikonsumsi.
Cara tersebut menjadi salah satu upaya pedagang untuk mengurangi kerugian akibat barang yang tidak dapat dijual dalam kondisi segar.
Persaingan Belanja Online Mulai Dirasakan
Tantangan pedagang pasar tradisional tidak hanya berasal dari perubahan harga dan pasokan. Perkembangan perdagangan digital juga mulai memengaruhi persaingan usaha.
Seorang pedagang di Pasar Lenteng Agung mengaku merasakan perubahan jumlah pembeli seiring semakin banyaknya pilihan berbelanja melalui platform online.
Menurut pengamatannya, penawaran harga yang lebih murah di platform seperti TikTok Shop menjadi salah satu daya tarik bagi sebagian konsumen.
Perubahan kebiasaan belanja tersebut dinilai dapat menjadi tantangan tambahan bagi pedagang tradisional, terutama mereka yang masih mengandalkan transaksi langsung di pasar.
Meski demikian, temuan wawancara ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa belanja online menjadi penyebab utama berkurangnya pengunjung pasar.
Faktor harga, lokasi, kenyamanan, dan daya beli masyarakat juga dapat memengaruhi keputusan konsumen dalam menentukan tempat berbelanja.
Di sisi lain, bawang merah segar masih memiliki pasar tersendiri karena konsumen dapat melihat langsung kualitas, ukuran, dan kondisi barang sebelum membeli.
Bawang Giling Jadi Alternatif, tetapi Belum Sepenuhnya Menggantikan
Di tengah fluktuasi harga, sejumlah konsumen mulai mempertimbangkan penggunaan bahan alternatif yang lebih praktis.
Salah satunya adalah bawang giling yang dalam hasil pengamatan lapangan disebut dijual sekitar Rp30.000 per kilogram.
Bawang giling menawarkan kemudahan karena dapat langsung digunakan sebagai bumbu masakan tanpa perlu dikupas dan dihaluskan kembali.
Namun, sebagian konsumen tetap memilih bawang merah segar karena dapat menentukan sendiri kualitas dan jumlah bahan yang digunakan.
Bawang merah juga sering dibeli bersamaan dengan bawang putih dan kebutuhan dapur lainnya.
Pedagang di Pasar Pondok Labu dan Lenteng Agung mengamati bahwa perubahan harga kedua komoditas tersebut tidak selalu bergerak searah.
Dalam salah satu pengamatan, bawang putih dijual Rp48.000 per kilogram ketika harga bawang merah berada pada angka Rp40.000 per kilogram.
Karena kedua bahan sering digunakan secara bersamaan, kenaikan harga salah satunya tetap dapat meningkatkan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan bumbu dapur.
Stabilisasi Harga dan Kebutuhan Informasi Konsumen
Upaya menjaga stabilitas harga pangan menjadi penting, terutama ketika kenaikan harga mulai memengaruhi daya beli masyarakat.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait memiliki peran dalam memantau ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan menyelenggarakan program pangan dengan harga terjangkau.
Dalam bahan penelitian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) disebut berkoordinasi dengan Perumda Pasar Jaya terkait pelaksanaan pasar murah.
Program semacam ini bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau sekaligus meredam tekanan kenaikan harga.
Namun, salah seorang konsumen yang diwawancarai mengaku belum banyak mengetahui informasi mengenai program tersebut.
Hal ini menunjukkan pentingnya penyebarluasan informasi agar masyarakat dapat mengetahui lokasi, jadwal, dan jenis bahan pangan yang tersedia melalui program stabilisasi harga.
Permintaan Bertahan di Tengah Ketidakpastian Harga
Hasil pengamatan di sejumlah pasar tradisional Jabodetabek memperlihatkan bahwa bawang merah tetap menjadi kebutuhan yang sulit ditinggalkan masyarakat.
Walaupun harga bergerak naik dan turun, konsumen cenderung menyesuaikan jumlah belanja daripada menghentikan pembelian sepenuhnya.
Bagi pedagang, perubahan harga menjadi tantangan tersendiri karena memengaruhi kebutuhan modal, pengelolaan stok, dan keuntungan usaha.
Sementara bagi konsumen, kenaikan harga mengharuskan mereka mengatur pengeluaran rumah tangga dengan lebih cermat.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas harga bawang merah tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi, tetapi juga dipengaruhi kelancaran distribusi, kondisi cuaca, pola konsumsi, dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, penguatan pasokan dari daerah penghasil, pengelolaan distribusi yang lebih baik, serta keterbukaan informasi harga menjadi hal penting untuk menjaga keseimbangan pasar.
Selama bawang merah masih menjadi bahan utama dalam berbagai masakan masyarakat Indonesia, permintaannya diperkirakan tetap bertahan. Namun, perubahan harga akan terus menjadi perhatian, baik bagi pedagang maupun konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Bank Indonesia. (2026). Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS): Informasi harga pangan antar daerah. https://www.bi.go.id/hargapangan/home/index/widget
Ernawati, L., Setiadi, A., & Handayani, M. (2026). Analisis permintaan produk bawang merah pada konsumen rumah tangga di pasar tradisional Kabupaten Blora. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, 12(2). https://doi.org/10.25157/ma.v12i2.23503
Hafizhah, P. U. (2026). Determinan dan elastisitas permintaan bawang merah di Indonesia [Skripsi sarjana, IPB University]. Repository IPB University. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178539
Tim Kelompok 2. (2026). Hasil wawancara lapangan mengenai harga dan permintaan bawang merah di pasar tradisional Jabodetabek [Data primer tidak dipublikasikan]. Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda