JABODETABEK, JurnalPost.com — Berjualan telur omega di pasar tradisional ternyata memiliki tantangan tersendiri. Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap makanan bernutrisi, para pedagang justru harus berhitung cermat sebelum menambah persediaan. Permintaan yang belum sebesar telur ayam biasa, harga relatif tinggi, serta kebijakan pemasok yang tidak menerima pengembalian barang menjadi pertimbangan utama.
Di sejumlah pasar tradisional Jabodetabek, telur omega umumnya dijual dalam jumlah terbatas. Produk telur yang dikenal memiliki kandungan asam lemak omega-3 lebih tinggi ini memang memiliki pembeli tersendiri. Namun, tidak semua pedagang berani menyediakan stok dalam jumlah besar.
Persoalan utamanya bukan sekadar kemampuan memperoleh barang dari pemasok, melainkan risiko kerugian ketika telur tidak terjual, pecah, atau mengalami penurunan kualitas.
Ani, pedagang di Pasar Raya Parung, Kabupaten Bogor, misalnya, memilih membatasi jumlah telur omega yang dijual setiap hari. Ketika persediaan telah tersimpan sekitar tiga hari, ia biasanya menurunkan harga agar barang lebih cepat terjual.
Strategi tersebut menjadi salah satu cara pedagang menjaga perputaran modal sekaligus mengurangi kemungkinan kerugian akibat telur yang terlalu lama disimpan.
Stok Terbatas karena Permintaan Belum Stabil
Hasil wawancara dengan sejumlah pedagang di Pasar Raya Parung, Rumpin, Parung Panjang, Pasar Pocong Bekasi, Pasar Malabar Tangerang, serta kawasan Gang Kancil Jakarta Barat memperlihatkan adanya perbedaan jumlah persediaan telur omega.
Di Pasar Raya Parung, Ani menyediakan sekitar 3–4 kilogram telur omega per hari. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan telur ayam biasa yang mencapai 10–15 kilogram.

Kondisi serupa ditemukan pada Adang, pedagang di Rumpin, yang menyediakan sekitar 4–5 kilogram. Sementara itu, Yeti, pedagang di Tangerang, hanya menyimpan sekitar satu kilogram telur omega.
Di Parung Panjang, Abdul memilih menyediakan satu peti telur omega untuk kebutuhan penjualan selama tiga hingga empat hari.
Berbeda dengan pedagang lainnya, Anto di Pasar Pocong, Bekasi, menyebut volume persediaannya dapat mencapai sekitar 1.000 kilogram dalam tiga hari. Angka tersebut merupakan keterangan responden yang menunjukkan adanya perbedaan skala usaha antarpenjual.
Jumlah pedagang telur omega di pasar yang diamati juga relatif sedikit, yakni sekitar dua hingga empat penjual di setiap lokasi.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa telur omega masih menempati segmen pasar yang lebih terbatas dibandingkan telur ayam biasa. Pedagang cenderung menyesuaikan persediaan dengan pola pembelian konsumen agar modal tidak terlalu lama tertahan dalam bentuk barang.
Harga Berbeda, Keuntungan Pedagang Relatif Tipis
Perbedaan harga menjadi faktor penting dalam keputusan konsumen membeli telur omega.
Di Pasar Pocong, Bekasi, telur omega dijual sekitar Rp28.000 per kilogram, sedangkan telur ayam biasa berada pada kisaran Rp26.000 per kilogram.
Sementara itu, berdasarkan pengamatan di sejumlah pasar lainnya, harga telur omega berkisar antara Rp27.000 hingga Rp33.000 per kilogram.
Perbedaan harga tersebut dipengaruhi oleh biaya pembelian dari pemasok, kondisi persaingan, lokasi pasar, serta kemampuan daya beli masyarakat.
Dari sisi pedagang, keuntungan yang diperoleh tidak selalu besar.

Ani, misalnya, menyebut harga pembelian satu peti telur sebesar Rp72.000 dan harga penjualannya mencapai Rp90.000. Dengan demikian, terdapat selisih harga kotor sekitar Rp18.000 sebelum memperhitungkan biaya operasional maupun risiko kerusakan.
Sementara itu, Abdul dan Yanti mengaku mengambil margin penjualan sekitar Rp1.000–Rp2.000 per kilogram.
Margin yang relatif kecil membuat pedagang harus memastikan barang dapat terjual sebelum kualitasnya menurun.
Kemudahan memperoleh pasokan juga berbeda. Pedagang yang bergantung pada agen, seperti Ani, membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari untuk mendapatkan tambahan barang.
Sebaliknya, Anto yang memiliki akses langsung ke sejumlah peternakan mengaku lebih mudah menambah persediaan ketika permintaan meningkat.
Pembeli Memiliki Pilihan, Telur Biasa Jadi Alternatif
Konsumen telur omega berasal dari berbagai kelompok, mulai dari ibu rumah tangga, keluarga dengan anak-anak, hingga pelaku usaha kuliner seperti pembuat kue.
Sebagian pembeli memilih telur omega karena mempertimbangkan kandungan nutrisi dan karakteristik produk. Namun, keputusan pembelian tetap dipengaruhi harga dan ketersediaan barang.
Ketika telur omega tidak tersedia atau harganya dianggap terlalu mahal, sejumlah konsumen memilih beralih ke telur ayam biasa.
Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini menggambarkan hubungan antara dua produk yang dapat berfungsi sebagai barang substitusi atau barang pengganti.
Meskipun demikian, tidak seluruh konsumen memiliki perilaku yang sama.
Sebagian pembeli tetap mencari telur omega di tempat lain karena merasa produk tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.
Penilaian mengenai rasa, tekstur, maupun manfaat yang dirasakan merupakan pengalaman subjektif konsumen, bukan kesimpulan dari pengujian laboratorium atau penelitian klinis.
Kecap Manis sebagai Barang Pelengkap
Selain barang substitusi, konsumsi telur juga dapat dikaitkan dengan konsep barang komplementer atau barang yang digunakan secara bersamaan.
Salah satu contohnya adalah kecap manis yang sering menjadi pelengkap berbagai olahan telur, seperti telur ceplok dan telur dadar.
Berdasarkan pengamatan harga, kecap manis dalam kemasan sachet dijual sekitar Rp1.000–Rp2.000, sedangkan kemasan botol kecil berukuran 135–189 mililiter berkisar Rp10.000–Rp12.000.
Secara teori ekonomi, kenaikan harga barang pelengkap dapat memengaruhi pola konsumsi produk yang digunakan bersamanya.
Namun, hubungan antara harga kecap dan permintaan telur omega tidak dapat disimpulkan secara langsung tanpa data tambahan. Pengaruhnya bergantung pada kebiasaan konsumsi, preferensi, serta daya beli masing-masing rumah tangga.
Kebijakan Tanpa Retur Membuat Pedagang Lebih Berhati-hati
Salah satu persoalan yang paling sering disampaikan pedagang adalah kebijakan pengembalian barang kepada pemasok.
Tidak semua pemasok bersedia menerima telur yang rusak setelah diterima pedagang.
Abdul menjelaskan bahwa telur pecah atau mengalami kerusakan selama berada di tempat penjualan menjadi tanggung jawab pedagang berdasarkan kesepakatan pembelian.
Anto juga menyampaikan bahwa pengembalian telur busuk hanya dapat dilakukan apabila kerusakan telah ditemukan ketika barang diterima dari pemasok.
Artinya, setelah transaksi penerimaan barang selesai, pedagang harus menanggung risiko yang muncul selama penyimpanan dan penjualan.
Keadaan tersebut membuat pengelolaan stok menjadi sangat penting. Menyediakan terlalu banyak telur dapat meningkatkan risiko barang tidak terjual, sedangkan persediaan yang terlalu sedikit berpotensi menyebabkan hilangnya kesempatan penjualan.
Karena itu, sebagian pedagang lebih memilih melakukan pembelian dalam jumlah kecil tetapi berulang dibandingkan menyimpan persediaan besar dalam waktu lama.
Cara Pedagang Meyakinkan Pembeli tentang Kualitas Telur
Tantangan lainnya muncul karena telur omega dan telur ayam biasa tidak selalu mudah dibedakan hanya melalui tampilan cangkang.
Untuk membantu konsumen mengenali produk, pedagang menggunakan beberapa cara sederhana.
Ani, misalnya, memperlihatkan contoh telur yang telah dipecahkan serta menunjukkan tanda atau stempel bertuliskan "OMEGA" pada kemasan.
Sementara itu, Adang menggunakan bantuan senter untuk memeriksa kondisi bagian dalam telur tanpa harus memecahkan cangkangnya.
Anto memilih memisahkan telur omega dari telur biasa dan memberikan label pada kardus penyimpanan.
Cara-cara tersebut membantu proses pemeriksaan fisik dan identifikasi produk. Namun, pemeriksaan visual saja tidak dapat memastikan kadar omega-3 dalam telur. Kepastian kandungan nutrisi tetap memerlukan informasi produk yang dapat dipertanggungjawabkan atau pengujian yang sesuai.
Dalam praktik penjualan, penjelasan pedagang mengenai asal barang, kondisi telur, dan perbedaan produk menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pembeli.
Sebagian besar pedagang juga menggunakan timbangan digital untuk memastikan berat barang yang dijual sesuai dengan jumlah pembelian.
Harga Pakan dan Kondisi Cuaca Berpotensi Memengaruhi Pasokan
Perdagangan telur omega tidak terlepas dari kondisi produksi di tingkat peternakan.
Jagung merupakan salah satu bahan utama pakan ayam petelur. Ketika produksi jagung terganggu akibat kondisi cuaca atau faktor pertanian lainnya, biaya pakan berpotensi meningkat.
Kenaikan biaya produksi tersebut dapat memengaruhi harga telur yang ditawarkan peternak maupun pemasok kepada pedagang pasar.
Selain faktor produksi, permintaan telur dari berbagai sektor juga perlu diperhatikan, termasuk kebutuhan rumah tangga, industri makanan, serta program penyediaan makanan bergizi.
Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi kebutuhan telur secara nasional. Meski demikian, pengaruh langsung program tersebut terhadap ketersediaan telur omega di lokasi penelitian belum dapat dipastikan berdasarkan wawancara yang dilakukan.
Bagi pedagang, perubahan harga dari pemasok menjadi pertimbangan sebelum menentukan jumlah pembelian dan harga jual kepada konsumen.
Kepercayaan Konsumen Menjadi Penentu Kelangsungan Usaha
Temuan dari sejumlah pasar tradisional Jabodetabek menunjukkan bahwa perdagangan telur omega memiliki karakteristik berbeda dibandingkan telur ayam biasa.
Harga yang relatif lebih tinggi, jumlah pembeli yang terbatas, serta risiko kerusakan tanpa jaminan pengembalian barang membuat pedagang harus lebih cermat dalam menentukan persediaan.
Dari sudut pandang ekonomi, keputusan penawaran tidak hanya dipengaruhi harga jual, tetapi juga biaya pembelian, kemudahan mendapatkan pasokan, perkiraan permintaan, serta risiko yang harus ditanggung penjual.
Sementara itu, dari sisi konsumen, harga dan preferensi terhadap kualitas produk menjadi faktor yang memengaruhi keputusan pembelian.
Kepercayaan menjadi unsur penting dalam mempertemukan kedua kepentingan tersebut. Pedagang perlu memberikan informasi produk secara jelas, memastikan kondisi barang tetap baik, dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan.
Pada akhirnya, keberhasilan penjualan telur omega bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya persediaan, melainkan juga kemampuan pedagang mengelola risiko dan memahami kebutuhan pasar.
Temuan ini menggambarkan pengalaman responden di beberapa pasar tradisional Jabodetabek dan tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh pedagang telur omega di wilayah tersebut.
Daftar Pustaka
Ifah, E. N., & Ramadhani, R. (2024). Pengaruh kualitas dan harga produk terhadap keputusan pembelian di pasar tradisional. Jurnal Minfo Polgan, 13(1), 657–667. https://doi.org/10.33395/jmp.v13i1.13772
Ijlal, M. N. N., & Handayani, L. (2022). Analisis pemasaran telur ayam ras di pasar tradisional Deli Tua Kabupaten Deli Serdang. ATHA: Jurnal Ilmu Pertanian, 1(2), 37–43. https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/atha/article/view/5931
Ilham, N., & Saptana. (2019). Fluktuasi harga telur ayam ras dan faktor penyebabnya. Analisis Kebijakan Pertanian, 17(1), 27–38. https://doi.org/10.21082/akp.v17n1.2019.27-38
Lestari, R. P., Haris, H., Fanani, M. Z., & Jumiono, A. (2021). Telur omega-3: Proses pembuatan, pengamatan kualitas, foodborne disease dan manfaat bagi kesehatan. Jurnal Pangan Halal, 3(2). https://ojs.unida.ac.id/JIPH/article/download/9707/3939/30312
Ramadhani, S., Ariski, M. D., Firhan, H., Alfin, & Panorama, M. (2026). Dampak pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis terhadap harga sembako dan kepuasan publik di Kota Palembang. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 13(7), 1897–1909. https://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/nusantara/article/download/25713/14784
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda