Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Kerja Keras Tak Lagi Cukup: Gen Z Kurang Produktif atau Sistem Kerja yang Bermasalah?

Kerja Keras Tak Lagi Cukup: Gen Z Kurang Produktif atau Sistem Kerja yang Bermasalah?

Foto profil Gilang Pamungkas
Editor: Gilang Pamungkas
02 Oktober 2026, 16.23 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Ilustrasi produktivitas kerja
Ilustrasi produktivitas kerja. Foto: Andreas Klassen/Unsplash

Destia Alifia Maharani, Divia Inggrit Aprilia
Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Negeri Malang

JurnalPost.com - Jika seorang lulusan sarjana bekerja lembur, tetapi penghasilannya masih sulit menutup kebutuhan hidup dasar, apakah yang salah dari dirinya atau dari sistem yang mempekerjakannya? Pertanyaan ini penting ketika publik membahas produktivitas Gen Z. padahal jawabannya dapat menentukan kemana arah kebijakan ketenagakerjaan kita ini seharusnya berjalan.

IKLAN

Narasi bahwa Gen Z kurang produktif memang mudah muncul karena kelompok ini menghadapi persoalan transisi dari pendidikan ke dunia kerja. Namun, data menunjukkan bahwa hambatan yang dihadapi tidak sederhana. BPS mencatat TPT nasional pada Februari 2025 sebesar 4,76 persen, sedangkan TPT kelompok usia 15-24 tahun mencapai 16,16 persen, tertinggi dibanding kelompok umur lainnya. Pada saat yang sama, data tahunan BPS sepanjang 2025 mencatat proporsi usia 15-24 tahun yang masuk kategori NEET sebesar 19,44 persen. Artinya, hampir satu dari lima anak muda berada di luar pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan.

Angka tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak muda tidak mau bekerja atau tidak produktif. TPT mengukur proporsi penganggur dalam angkatan kerja, sedangkan NEET menggambarkan anak muda yang tidak sedang bekerja, sekolah, atau mengikuti pelatihan. Keduanya lebih tepat dibaca sebagai indikator posisi anak muda dalam pasar kerja dan proses transisi menuju pekerjaan. Ketika TPT usia muda lebih dari tiga kali TPT nasional, pertanyaan yang relevan bukan hanya apakah mereka sudah berusaha, tetapi juga apakah pasar kerja mampu menyediakan pintu masuk yang cukup dan sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki.

Kerja Keras Gen Z
Ilustrasi suasana kerja di kantor. Foto: Alex Kotliarskyi/Unsplash

Masalah berikutnya adalah kualitas pekerjaan setelah seseorang berhasil masuk ke pasar kerja. Pada Februari 2025, BPS mencatat proporsi pekerja informal masih 59,40 persen. Struktur seperti ini penting karena status pekerjaan, kepastian pendapatan, perlindungan kerja, dan jalur pengembangan karier ikut menentukan apakah pekerjaan benar-benar menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi. Karena itu, keberhasilan penyerapan tenaga kerja tidak cukup dinilai dari bertambahnya jumlah orang yang bekerja. Kualitas dan keberlanjutan pekerjaan juga perlu dilihat.

IKLAN

Kondisi kerja juga perlu masuk dalam pembahasan produktivitas. Survei PwC Global Workforce Hopes and Fears 2025 yang mencakup 812 responden dari Indonesia menemukan bahwa 41 persen pekerja di Indonesia melaporkan mengalami kelelahan dan 25 persen merasa kewalahan oleh pekerjaan. Angka ini bukan ukuran khusus Gen Z dan tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh pekerja muda. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan produktivitas tidak hanya berada pada sisi pekerja. Cara pekerjaan dirancang, tuntutan yang diberikan, dukungan pengembangan keterampilan, serta kepastian karier juga menjadi bagian dari lingkungan kerja.

Di sisi lain, keluhan perusahaan terhadap kesiapan pekerja muda tetap perlu diperhatikan. Lulusan baru memang memasuki dunia kerja dengan pengalaman yang terbatas dan tidak selalu langsung memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Karena itu, masalahnya tidak tepat diletakkan hanya pada pekerja atau hanya pada perusahaan. Ada kesenjangan transisi yang perlu dijembatani. Pendidikan, pelatihan, perusahaan, dan kebijakan ketenagakerjaan harus bekerja dalam rantai yang lebih tersambung agar pencari kerja muda tidak terlalu lama berada di antara bangku pendidikan dan pekerjaan.

Dari sini, beberapa arah perbaikan dapat dipertimbangkan. Pertama, program magang dan pelatihan perlu lebih dekat dengan kebutuhan pekerjaan nyata, bukan sekadar memberikan sertifikat. Kedua, kebijakan pengupahan perlu terus dievaluasi berdasarkan tujuan penghidupan yang layak. PP Nomor 49 Tahun 2025 sendiri diterbitkan dengan mempertimbangkan daya beli pekerja, penghidupan yang layak, keberlangsungan usaha, dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023. Ketiga, perusahaan dapat memperkuat onboarding, mentoring, dan umpan balik bagi pekerja baru sehingga kesenjangan pengalaman tidak langsung diterjemahkan sebagai masalah etos kerja.

Pada akhirnya, istilah “Gen Z kurang produktif” perlu ditempatkan secara hati-hati. Pengangguran dan NEET menunjukkan adanya masalah dalam akses dan transisi ke pasar kerja, tetapi bukan bukti langsung bahwa satu generasi memiliki produktivitas yang rendah. Produktivitas harus dilihat dari hubungan antara hasil kerja dan sumber daya yang digunakan, sekaligus dari kondisi yang memungkinkan pekerja menghasilkan kinerja tersebut. Karena itu, pembahasan ketenagakerjaan anak muda akan lebih berguna jika tidak berhenti pada pertanyaan apakah Gen Z cukup bekerja keras, tetapi juga menilai apakah sistem pendidikan, pasar kerja, upah, dan tempat kerja memberi mereka kesempatan yang cukup untuk bekerja dan berkembang.

Sumber: BPS Sakernas 2025; BPS indikator NEET 2025; BPS Keadaan Ketenagakerjaan Februari 2025; PwC Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025; PP Nomor 49 Tahun 2025; Putusan MK Nomor 168/PUU-XXI/2023.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/kerja-keras-tak-lagi-cukup-gen-z-kurang-produktif-atau-sistem-kerja-yang-bermasalah/97957/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.49 WITA

  • #BPS
  • #Ekonomi
  • #Gen Z
  • #Ketenagakerjaan
  • #Mahasiswa
  • #Produktivitas
  • #pasar kerja
  • #pekerja informal

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Membuka Kesempatan Kerja di Tengah Tantangan Ekonomi, Menatap Masa Depan Ketenagakerjaan Indonesia

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Pilihan Editor

  1. 1 Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan
  2. 2

    Capek Kok Dibanggakan? Membaca Hustle Culture dalam Kacamata Sartre dan Han

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Beli Dimsum Kini Tinggal Scan QRIS BRI Bojonegoro, Pelaku UMKM dan Pembeli Rasakan Kemudahan Transaksi Digital

  5. 5

    Berawal dari Jualan Mango Sago, Rini Astuti Kembangkan Usaha Kuliner Berkat Dukungan KUR BRI Bojonegoro

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.