JurnalPost.com, Surabaya - Magang adalah salah satu fase penting dalam perjalanan seorang mahasiswa. Bagi banyak orang, magang sering dianggap sebagai “pemanasan” sebelum benar-benar memasuki dunia kerja. Di balik definisi formal itu, sebenarnya magang menyimpan banyak cerita menarik: mulai dari menghadapi deadline yang menegangkan, secangkir kopi yang selalu setia menemani, hingga pengalaman-pengalaman unik yang tak tertulis di modul perkuliahan.
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menerapkan magang menjadi mata kuliah wajib dan salah satu syarat kelulusan mahasiswanya. Sherly Gracia Arshintawaty, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik program studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya adalah salah satunya. Sherly merupakan mahasiswa semester 7 UNTAG Surabaya.
Setiap mahasiswa yang menjalani magang pasti memiliki bayangan ideal. Ada yang berharap bisa terlibat dalam proyek besar, ada pula yang berangan-angan langsung bertemu dengan klien penting. Namun, realita di lapangan kadang tidak seindah harapan. Tugas pertama yang diterima bisa jadi bukan menulis laporan penting, melainkan membuat kopi untuk satu ruangan. Aneh? Tidak juga. Justru dari hal-hal sederhana itu mahasiswa belajar bahwa bekerja tidak hanya soal teori, tetapi juga soal kemampuan beradaptasi.
Deadline adalah kata sakral di dunia kerja. Bagi mahasiswa magang, deadline sering menjadi “tembok pertama” yang harus dihadapi. Pekerjaan yang terlihat sederhana bisa berubah menegangkan ketika harus selesai sebelum rapat dimulai. Di sinilah secangkir kopi berperan penting. Kopi bukan sekadar minuman, melainkan penyelamat ketika mata sudah berat tetapi laporan belum rampung. Ada mahasiswa yang akhirnya menjadikan kopi sachet sebagai sahabat karib selama magang.
“Kadang kopi itu bukan untuk bikin melek, tapi lebih untuk bikin tenang. Rasanya kayak punya teman yang setia nemenin di tengah deadline,” ujar Sherly
Magang pada akhirnya adalah miniatur dunia kerja. Ada deadline yang menuntut ketelitian, ada kopi yang menemani di sela penat, ada pengalaman kocak yang bisa jadi bahan cerita, dan tentu saja ada pelajaran hidup yang tidak diajarkan di kelas. Semua itu berpadu menjadi pengalaman nyata yang akan dikenang, bahkan setelah mahasiswa resmi menyandang status pekerja.
Karena itu, magang tidak sekadar formalitas akademik. Ia adalah ruang belajar tentang profesionalisme, kesabaran, kerja sama, sekaligus seni menemukan tawa di tengah kesibukan. Dan jika mahasiswa sudah bisa menaklukkan deadline sambil tetap tersenyum meski mesin fotokopi nge-jam, artinya ia benar-benar siap melangkah ke dunia kerja.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda