KLATEN, JurnalPost.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, mengembangkan produk sirup jeruk nipis serai sebagai bentuk pemanfaatan potensi lokal desa.
Program bertajuk “Inovasi Produk Sirup Jeruk Nipis Serai Berbasis Potensi Desa Paseban” tersebut memanfaatkan jeruk nipis yang selama ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat dan juga tersedia di kebun milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Paseban.
Pengembangan produk dilakukan sebagai alternatif pemanfaatan jeruk nipis, terutama ketika hasil panen meningkat. Melalui pengolahan menjadi sirup, jeruk nipis tidak hanya dimanfaatkan dalam kondisi segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah.
Dalam jangka panjang, sirup jeruk nipis serai tersebut juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk lokal yang dipasarkan di sekitar kawasan Makam Pandanaran. Kawasan tersebut menjadi salah satu titik yang berpotensi memperkenalkan produk olahan Desa Paseban kepada masyarakat maupun pengunjung dari luar daerah.
Program ini dilaksanakan kelompok KKN UNY yang dipimpin Aquilla Aleeazahra bersama sembilan anggota, yakni Novita Indah Sari, Anggie Riesmawati Ramelan, Ikrimah Andini Atmaranti, Audy Kirana, Ryan Hanafi Nurwahid, Muhammad Faiz Al Kamal, Rheza Renardi Pratama, Syechan Fawwas Abiyyu, dan Aril Muhammad Fasha.
Kegiatan dilaksanakan di Joglo Pandanaran 9 pada Senin (21/9/2026) dengan melibatkan masyarakat Desa Paseban. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN mendemonstrasikan proses pembuatan sirup sekaligus menjelaskan tahapan pengolahannya kepada peserta.
Melalui demonstrasi langsung, masyarakat diperkenalkan dengan cara mengolah jeruk nipis yang tersedia di lingkungan desa menjadi minuman dengan bentuk dan penyajian yang berbeda.

Jeruk nipis dipilih sebagai bahan utama karena ketersediaannya berkaitan langsung dengan kegiatan budidaya masyarakat serta kebun BUMDes Paseban. Pengolahan hasil budidaya menjadi produk minuman diharapkan dapat memberikan alternatif pemanfaatan ketika hasil panen tersedia dalam jumlah banyak.
Pemilihan Bahan hingga Proses Pengolahan
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga menjelaskan karakteristik jeruk nipis yang dinilai baik untuk digunakan sebagai bahan baku. Jeruk nipis yang digunakan sebaiknya memiliki kulit tipis dan licin, berwarna segar atau hijau kekuningan, mengandung cukup banyak air, memiliki aroma kuat, serta tidak mengalami kerusakan maupun berjamur.
Pemilihan bahan baku menjadi bagian penting karena kondisi jeruk dapat memengaruhi rasa, aroma, dan karakteristik produk yang dihasilkan.
Sirup dibuat menggunakan jeruk nipis, gula pasir, serai, air matang, serta carboxymethyl cellulose (CMC) sebagai bahan pengental.
Untuk menghasilkan sekitar 200 ml sirup, formulasi yang diperkenalkan terdiri atas lima buah jeruk nipis, 150 gram gula pasir, satu batang serai, 150 ml air matang, serta sekitar 1–1,5 sendok teh CMC.
Penambahan serai digunakan untuk memberikan aroma dan karakter rasa tambahan sehingga menghasilkan variasi olahan berbeda dibandingkan pemanfaatan jeruk nipis secara langsung.
Proses pengolahan diperkenalkan menggunakan peralatan yang relatif sederhana, seperti panci, kompor, alat pemeras jeruk, pisau dan talenan, sendok teh, timbangan digital, sarung tangan, hingga botol berukuran 200 ml.
Penggunaan peralatan yang mudah ditemukan tersebut memberikan gambaran bahwa proses pembuatan sirup dapat dicoba kembali oleh masyarakat dengan sarana yang relatif sederhana.
Mahasiswa KKN juga memperkenalkan karakter produk yang dikembangkan sebagai minuman berbahan dasar jeruk nipis dan serai. Dalam materi kegiatan, kedua bahan tersebut turut diperkenalkan berkaitan dengan kandungan antioksidan serta pemanfaatannya sebagai bahan minuman.
Perhitungan Biaya Produksi
Selain aspek pengolahan, kegiatan juga membahas perhitungan sederhana mengenai biaya produksi dan potensi penjualan.
Berdasarkan perhitungan kelompok KKN, kebutuhan bahan baku untuk menghasilkan 30 botol sirup berukuran 200 ml mencapai Rp366.600. Sementara biaya operasional diperkirakan sebesar Rp59.000.
Dengan demikian, total biaya produksi yang tercantum dalam materi kegiatan mencapai sekitar Rp425.600.
Perhitungan tersebut digunakan untuk memberikan gambaran mengenai sejumlah komponen biaya yang perlu diperhatikan apabila produk nantinya dikembangkan untuk tujuan usaha.
Dalam simulasi kelompok KKN, produk diproyeksikan dijual dengan harga Rp20.000 per botol dengan target margin sekitar 40 persen. Dari perhitungan tersebut, laba diperkirakan berada di kisaran Rp5.500 per botol.
Simulasi itu menjadi gambaran awal bagi masyarakat untuk memperhitungkan kebutuhan bahan baku, biaya produksi, kemasan, hingga penetapan harga jual apabila sirup jeruk nipis serai dikembangkan secara komersial.
Produk berukuran 200 ml juga dinilai cukup praktis untuk dikembangkan sebagai salah satu pilihan produk lokal di kawasan perdagangan sekitar Makam Pandanaran.
Apabila dapat diproduksi secara berkelanjutan, sirup jeruk nipis serai berpotensi dikembangkan sebagai salah satu alternatif oleh-oleh sekaligus produk yang memperkenalkan potensi lokal Desa Paseban kepada pengunjung.
Masih Membutuhkan Pengembangan Lanjutan
Meski demikian, pengembangan sirup jeruk nipis serai menjadi produk komersial masih membutuhkan sejumlah tahapan lanjutan.
Konsistensi rasa dan kualitas produk, informasi dan desain kemasan, pengelolaan proses produksi, penentuan harga, strategi pemasaran, hingga pemenuhan ketentuan keamanan pangan perlu diperhatikan apabila produk tersebut akan diproduksi dan dipasarkan secara berkelanjutan.
Tahapan tersebut menjadi penting apabila masyarakat maupun kelompok usaha di Desa Paseban berencana melanjutkan pengembangan produk setelah program KKN selesai.
Kegiatan di Joglo Pandanaran 9 sekaligus menjadi ruang berbagi pengetahuan antara mahasiswa dan masyarakat terkait pemanfaatan hasil budidaya lokal.
Melalui praktik langsung, masyarakat memperoleh gambaran mengenai peluang mengolah bahan yang tersedia di lingkungan desa menjadi produk dengan bentuk pemanfaatan baru.
Program “Inovasi Produk Sirup Jeruk Nipis Serai Berbasis Potensi Desa Paseban” diharapkan dapat menjadi salah satu contoh diversifikasi produk berbasis sumber daya lokal.
Pemanfaatan jeruk nipis hasil budidaya masyarakat dan kebun BUMDes tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai guna yang lebih luas.
Inovasi tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan produk lain sesuai dengan potensi yang tersedia di Desa Paseban. Dengan pengolahan yang tepat dan pengembangan usaha secara bertahap, potensi lokal desa dapat diarahkan menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat identitas Desa Paseban.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda