JurnalPost.com - Pemerintah terus mendorong berbagai langkah strategis demi mencapai ketahanan pangan nasional. Salah satu langkah penting yang tengah dijalankan adalah rehabilitasi jaringan irigasi lahan rawa, termasuk di Kalimantan Barat yang memiliki potensi pertanian rawa cukup luas.
Lahan rawa yang selama ini kurang dioptimalkan bisa menjadi tumpuan baru produksi pangan nasional. Namun, tantangan utamanya adalah sistem irigasi yang sudah banyak rusak dan tak lagi mampu mengalirkan air secara efektif. Tanpa sistem air yang baik, lahan rawa tak ubahnya ladang tidur.
Di Kalimantan Barat, program rehabilitasi irigasi rawa akan mencakup enam kabupaten. Kabupaten Sambas mendapat porsi terbesar dengan luas 5.000 hektar, disusul Kabupaten Mempawah 4.720 hektar, Ketapang 1.400 hektar, Kayong Utara 318 hektar, Kubu Raya 118 hektar, dan Bengkayang 135 hektar.
Rehabilitasi ini jelas membawa harapan besar. Jika infrastruktur irigasi kembali berfungsi optimal, petani akan lebih mudah mengatur masa tanam, mendapatkan pasokan air secara teratur, dan meningkatkan produktivitas. Pada akhirnya, ini akan berdampak langsung pada kestabilan pasokan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani lokal.
Namun, di balik potensi itu, ada juga tantangan yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah gangguan masa tanam selama proses rehabilitasi berlangsung. Pengerjaan fisik di lapangan bisa memakan waktu berbulan-bulan dan berpotensi menghambat aliran air sementara waktu. Akibatnya, petani bisa kesulitan menjalankan pola tanam yang biasa, terutama di musim tanam pertama atau kedua tahun berjalan.
Jika hal ini tidak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin terjadi penurunan produksi sementara. Bahkan, petani bisa mengalami kerugian akibat tertundanya masa tanam atau gagal tanam karena tidak tersedia air dalam waktu kritis.
Oleh karena itu, koordinasi menjadi kunci. Pemerintah daerah dan pelaksana proyek harus menjalin komunikasi intensif dengan kelompok tani. Jadwal pengerjaan sebaiknya disesuaikan dengan kalender tanam, dan jika perlu, disiapkan pola tanam alternatif atau bantuan sarana air darurat selama proyek berlangsung.
Di sisi lain, rehabilitasi ini tetap harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Setelah selesai, manfaatnya akan sangat besar: pertanaman bisa ditingkatkan dari satu kali menjadi dua atau tiga kali setahun, efisiensi penggunaan air meningkat, dan produktivitas pangan lebih stabil.
Dengan pengelolaan yang cermat dan melibatkan semua pihak—pemerintah, petani, dan pelaksana teknis—rehabilitasi irigasi rawa di Kalimantan Barat bukan hanya soal pembangunan fisik. Ini adalah bagian dari strategi besar menjaga ketahanan pangan Indonesia dari ancaman krisis iklim dan fluktuasi global.
Penulis : Nurmala Sari, S.TP, M.Si Dosen Tetap PNS pada Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas – Padang, Sumatera Barat Pendidikan S1 (sarjana) : Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas, Padang (lulus tahun 2008) Pendidikan S2 (magister/master) : Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan, IPB Bogor, dan Jurusan Eau et Agriculture, SupAgro Montpellier, Prancis (lulus tahun 2015)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda