Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Berita
  3. Musik Keras Diciptakan Hanya Untuk Kaum Lelaki Saja? Memangnya Adil?

Musik Keras Diciptakan Hanya Untuk Kaum Lelaki Saja? Memangnya Adil?

Foto profil Fatimah
Editor: Fatimah
23 Oktober 2025, 12.45 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Musik Keras

Oleh : Ananda Velicia L. C. Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya.

JurnalPost.com - Berdasarkan pandangan banyak orang, citra musik keras seperti hardcore atau punk selalu di dominasi pada kaum laki-laki. Panggung yang gelap, keringat, teriakan, dan energi yang meledak-ledak sering kali di gambarkan secara khusus dengan kejantanan. Pandangan yang membatasi genre musik tertentu hanya untuk gender tertentu merupakan sebuah warisan usang yang perlu dipertanyakan ulang.

IKLAN

Ambil contoh dari foto diatas yang menunjukkan band Peach yang berasal dari Medan. Band ini dengan seluruh personil perempuannya, adalah bukti nyata bahwa talenta dan semangat dalam bermusik keras tidak mengenal batasan gender. Mereka berdiri di atas panggung yang sama, memainkan riff yang sama beratnya, dan menghasilkan energi yang setara, bahkan mungkin melebihi, rekan-rekan musisi laki-laki mereka. Kehadiran mereka menghancurkan narasi usang tentang siapa yang "berhak" mengisi ruang di skena musik keras.

Cancel Culture
Baca Juga

Fenomena Cancel Culture dan Kasus Rachel Vennya: Antara Tanggung Jawab dan Empati

"Ah... cewe fomo ini mah, so so an dengerin lagu keras dateng ke acara konser hardcore biar apa si?". Beberapa pendapat orang mungkin saat melihat teman-teman perempuan yang hadir diacara konser musik keras berpikir seperti itu. Diskriminasi gender di skena musik khususnya yang keras, seringkali berbentuk halus namun merusak. Para musisi perempuan sering kali harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang setara. Mereka mungkin selalu mendapatkan pertanyaan tentang "siapa yang menulis lagu" atau "apakah mereka benar-benar memainkan instrumen itu sendiri?", sebuah keraguan yang jarang ditujukan kepada band dengan personil laki-laki.

IKLAN

Kehadiran band seperti Peach tidak hanya sekadar mengisi kuota, tetapi juga berfungsi sebagai inspirasi yang kuat terutama kepada kaum perempuan. Mereka mengirimkan pesan yang jelas kepada generasi perempuan berikutnya bahwa tidak ada batasan dalam seni, dan bahwa mereka juga berhal memiliki tempat di moshpit, di studio rekaman, dan di belakang drum set atau gitar yang bising.

Tidak adil dan tidak benar untuk menuang fakta bahwa musik keras hanya diciptakan untuk laki-laki. Mitos tersebut sudah saatnya digusur oleh realitas yang semakin inklusif. Musik keras adalah milik mereka yang berani menyuarakan kebenaran mereka dengan lantang. Musik keras adalah tentang energi dan kreativitaa, bukan tentang fomo. Setiap teriakan, setiap pukulan drum yang keras, dan setiap power chord adalah milik siapa saja yang memiliki gairah untuk memainkannya.

Peach, dan banyak musisi perempuan lain di skena musik keras, adalah penanda zaman, bahwa panggung telah menjadi arena yang netral gender, di mana satu-satunya hal yang dihitung adalah kualitas musik dan transfer energi antara penampil dan penonton. Mari kita dukung keberagaman ini, karena dengan menghilangkan sekat gender, kita harus menjadikan musik keras sebagai genre yang lebih kaya, lebih relevan, dan yang terpenting lebih adil bagi semua gender.

Foto Besama TIM
Baca Juga

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Mereka menegaskan bahwa volume suara perempuan setara, legitimasi perlawanan mereka valid, dan energi yang mereka hasilkan di panggung memiliki dampak yang signifikan. Oleh karena itu, tanggung jawab kolektif kita sebagai partisipan dan penikmat skena ini adalah menjamin bahwa setiap alat musik dan mikrofon senantiasa tersedia bagi siapa pun yang memiliki keberanian artistik, terlepas dari konstruksi identitas gender mereka.

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/musik-keras-diciptakan-hanya-untuk-kaum-lelaki-saja-memangnya-adil/87230/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.46 WITA

  • #Musisi
  • #Opini Mahasiswa
  • #Untag Surabaya

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD
  2. 2

    UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  3. 3

    Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

  4. 4

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  5. 5

    Rp144,82 Miliar Raib dalam Hitungan Jam: Ada Apa di Balik Pembobolan Bank Jambi?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.