JurnalPost.com - Belakangan ini, media sosial ramai memperbincangkan isu mengenai melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Per-Mei 2026, nilai Rupiah mencapai kisaran Rp17.000-an per Dolar AS. Banyak yang menganggap persoalan ini hanya berdampak pada pelaku bisnis besar, masyarakat kota dan traveller yang sering kali keluar masuk negara. Padahal, pada kenyataannya masyarakat desa juga ikut merasakan dampak yang mulai dirasakan dalam kehidupan sehari hari. Dampaknya mungkin tidak terlihat dalam bentuk grafik ekonomi, tetapi terasa melalu harga kebutuhan yang terus naik sementara pendapatan di angka yang tetap.
Dampak pertama yang paling dirasakan yaitu pada sektor pertanian. Petani yang bekerja di sawah memerlukan pupuk, pestisida, serta alat alat pertanian untuk membantu menunjang pertumbuhan tanaman. Namun, pada kenyataannya kebutuhan pertanian masih menggunakan bahan baku impor. Ketika nilai tukar Rupiah melemah, harga kebutuhan pertanian ikut mengalami kenaaikan harga. Akibatnya, modal yang diperlukan oleh para petani semakin besar. Sayangnya, saat panen tiba seringkali harga hasil panen lebih kecil daripada modal awal yang mengakibatkan petani mengalami kerugian yang cukup besar.
Selain di bidang pertanian, hal tersebut juga terjadi di bidang peternakan. Harga pakan ternak sensitf terhadap nilai tukar rupiah karena sebagian bahan bakunya masih bergantung pada jagung dan bungkil kedelai berasal dari luar negeri. Ketika harga Dollar naik, harga pakan ternak ikut melonjak. Hal ini mengakibatkan harga jual daging dan telur ikut melonjak. Jika harga daging dan telur telur melonjak, maka daya beli masyarakat bisa menurun yang mengakibatkan kerugian pada para peternak.
Melemahnya Rupiah berdampak langsung pada kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari seperti tahu dan tempe. Tahu dan tempe merupakan lauk yang sangat sederhana dibandingkan dengan bahan pangan lainnya. Namun, pada kenyataannya bahan baku yang digunakan berasal dari kedelai impor. Saat harga kedelai impor naik, produsen tempe dan tahu terpaksa mengurangi ukuran bahkan menaikkan harga jual. Hal ini sudah dirasakan oleh banyak warga terutama yang berada di desa. Selain tempe dan tahu, terdapat beberapa bahan pangan lainnya yang mengalami hal serupa seperti tepung terigu dan mie instan yang menggunakan bahan berupa gandum impor. Hal ini mengakibatkan Masyarakat sulit mengatur keuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Melemahnya nilai tukar Rupiah juga berdampak pada bidang pendistribusian. Kenaikan harga BBM membuat ongkos pengeriman barang dari kota ke desa pun sebaliknya ikut melonjak. Akibatnya harga kebutuhan pokok, sembako, maupun kebutuhan lainnya ikut mengalami kenaikan harga. Bahkan barang lokal sekalipun ikut mengalami kenaikan harga dikarenakan tingginya biaya transportasi.
Salah satu pihak yang paling merasakan dampak melemahnya nilai tukar Rupiah yakni anak-anak perantauan. Pendapatan mereka yang terbatas harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus mengirim uang ke keluarga di desa. Ketika harga kebutuhan pokok di kota naik akibat inflasi, jumlah uang yang dikirimkan ke desa semakin sedikit demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Situasi ini membuat dilema para anak rantau, di satu sisi mereka perlu mecukupi kebutuhan hidup mereka sendiri yang mana harga kebutuhan pokok di kota lebih mahal dibandingkan di desa, disisi lain mereka ingin membantu mencukupi kebutuhan keluarganya. Tekanan ini membuat hidup anak rantau semakin berat, terutama mereka yang berpenghasilan minim.
Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya fokus stabilitas ekonomi di pasar keuangan saja tetapi juga harus melihat kondisi di kota maupun desa. Bank Indonesia memang memiliki tugas untuk menjaga kestabilan nilai mata uang Rupiah, namun pemerintah pusat maupun daerah juga perlu memastikan masyarakat kecil tetap terlindungi. Subsidi pupuk yang tepat sasaran, harga kebutuhan pokok yang perlu diawasi agar tetap stabil, serta sektor pangan tidak ambruk.
Pada akhirnya, melemahnya nilai tukar Rupiah merupakan permasalahan ekonomi global yang sulit dihindari. Namun, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh Masyarakat kota, pemerintah, selebriti, bahkan seorang traveller yang sering ke luar negeri. Dampak ini juga dirasakan oleh Masyarakat yang berada di pelosok desa. Oleh karena itu, menjaga nilai Rupiah bukan hanya menjaga citra ekonomi di mata dunia, melainkan untuk melindungi perekonomian rakyat kecil agar tetap bisa bertahan hidup.
Oleh: Nayla Syifa Salsabila Mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda