BOJONEGORO, JurnalPost.com – Berawal dari usaha kecil-kecilan pada 2010, Ariani berhasil mempertahankan bisnis katering jajanan di Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Selama sekitar 15 tahun menjalankan usahanya, ia terus berupaya menjaga kualitas produk dan kepercayaan pelanggan hingga mampu mencatatkan omzet kotor sekitar Rp14 juta.
Perjalanan Ariani membangun usaha kuliner tidak berlangsung secara instan. Sejak awal merintis, ia harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari memenuhi kebutuhan bahan baku, menjaga cita rasa jajanan, hingga mengatur modal agar kegiatan produksi tetap berjalan.
Usaha katering yang dikelolanya melayani beragam kebutuhan masyarakat, seperti acara keluarga, pertemuan, kegiatan lingkungan, dan berbagai acara lainnya. Pesanan tersebut menjadi salah satu sumber pemasukan yang membantu keberlangsungan bisnisnya.
Bagi Ariani, mempertahankan pelanggan merupakan bagian penting dalam menjalankan usaha. Persaingan bisnis kuliner menuntut pelaku usaha untuk konsisten menjaga kualitas makanan sekaligus memberikan pelayanan sesuai kebutuhan konsumen.
Dari Usaha Sederhana hingga Bertahan Lebih dari Satu Dekade
Memulai bisnis sejak 2010 memberikan banyak pengalaman bagi Ariani dalam memahami dinamika usaha kuliner. Ia menyadari bahwa menjalankan katering jajanan membutuhkan pengelolaan yang cermat, terutama ketika jumlah pesanan meningkat.
Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Setiap pesanan perlu dipersiapkan dengan baik agar produk dapat diterima pelanggan sesuai jadwal yang telah disepakati.
"Dalam menjalankan usaha kuliner, kebutuhan modal menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Terlebih, pelaku usaha harus memastikan bahan baku selalu tersedia agar pesanan pelanggan dapat dipenuhi sesuai waktu yang disepakati," ungkap Ariani.
Selain menjaga kelancaran produksi, pelaku usaha juga perlu memperhitungkan pengeluaran operasional agar bisnis tetap memiliki kemampuan untuk berkembang.
Pengalaman selama bertahun-tahun membuat Ariani terus beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan. Kepercayaan konsumen menjadi salah satu faktor yang membantunya mempertahankan usaha di tengah persaingan bisnis makanan.
Manfaatkan KUR BRI untuk Mendukung Permodalan
Dalam menjalankan usahanya, Ariani turut memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pembiayaan tersebut digunakan sebagai salah satu penunjang kebutuhan modal usaha.
Bagi pelaku usaha katering, modal kerja menjadi kebutuhan yang cukup penting. Pembelian bahan baku, pengadaan perlengkapan produksi, hingga pemenuhan pesanan memerlukan perencanaan keuangan yang baik.
Akses pembiayaan seperti KUR dapat menjadi alternatif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendukung aktivitas bisnis, sepanjang digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan pembayaran.
Selain memanfaatkan fasilitas pembiayaan, Ariani menggunakan rekening BRI untuk menunjang transaksi keuangan usahanya.
Ia juga memanfaatkan aplikasi BRImo yang memungkinkan sejumlah layanan perbankan diakses melalui telepon seluler.
Menurut Ariani, kehadiran layanan perbankan digital memberikan kemudahan karena transaksi dapat dilakukan tanpa harus selalu mendatangi kantor bank.
"Pemanfaatan layanan perbankan digital juga menjadi bagian dari adaptasi pelaku UMKM terhadap perkembangan teknologi. Kemudahan transaksi dapat membantu mendukung aktivitas usaha, terutama ketika harus mengelola pembayaran dan kebutuhan operasional," ujarnya.
Penggunaan layanan digital menjadi salah satu bentuk penyesuaian pelaku usaha terhadap perubahan kebiasaan transaksi masyarakat.
Pengelolaan Keuangan Jadi Bagian Penting dalam Usaha
Mampu mempertahankan bisnis selama sekitar 15 tahun menjadi pencapaian tersendiri bagi Ariani. Namun, keberlangsungan usaha tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pesanan yang diterima.
Pengelolaan pemasukan dan pengeluaran juga memiliki peran penting, terutama dalam bisnis katering yang membutuhkan pembelian bahan baku secara rutin.
Dengan omzet kotor sekitar Rp14 juta, usaha Ariani menjadi salah satu contoh bagaimana bisnis kuliner skala kecil dapat terus berjalan melalui ketekunan, pelayanan, serta pemanfaatan akses keuangan.
Meski demikian, omzet kotor tidak sama dengan keuntungan bersih. Pendapatan tersebut masih perlu dikurangi berbagai biaya operasional, termasuk pembelian bahan baku, kebutuhan produksi, dan pengeluaran usaha lainnya.
Karena itu, kemampuan mengelola modal dan menjaga arus kas menjadi aspek yang tidak kalah penting dalam mempertahankan bisnis.
Ariani berharap dukungan layanan keuangan dapat terus memberikan manfaat bagi pelaku usaha mikro yang ingin mempertahankan maupun mengembangkan usahanya.
"Dukungan akses pembiayaan dan layanan transaksi perbankan diharapkan dapat membantu pelaku usaha mikro terus berkembang," harapnya.
Kisah Ariani memperlihatkan bahwa bisnis yang dimulai dari skala sederhana tetap memiliki peluang untuk bertahan dalam jangka panjang.
Di tengah persaingan usaha kuliner yang terus berkembang, konsistensi menjaga kualitas, kepercayaan pelanggan, serta pengelolaan keuangan menjadi modal penting bagi pelaku UMKM.
Keberadaan usaha-usaha kecil seperti katering jajanan Ariani juga turut menggambarkan aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat kecamatan. Dengan akses pembiayaan yang sesuai dan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, pelaku UMKM memiliki peluang untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memperluas pasar mereka.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda