Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Anak Muda dan Politik: Jangan Hanya Memilih, tetapi Juga Berpikir Kritis

Anak Muda dan Politik: Jangan Hanya Memilih, tetapi Juga Berpikir Kritis

H
Penulis: Hani Hanifah
17 Oktober 2026, 17.01 WITA Editor: Shella Paramitha
8 menit baca
Mahasiswa di kampus
Dua mahasiswa berdiskusi di lingkungan kampus. Kemampuan berdiskusi dan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesadaran politik generasi muda.

JurnalPost.com - Politik sering kali dianggap sebagai urusan pejabat, partai politik, atau sesuatu yang hanya ramai dibicarakan menjelang pemilihan umum. Padahal, politik memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk kehidupan anak muda.

Mulai dari biaya pendidikan, kesempatan mendapatkan pekerjaan, harga kebutuhan pokok, hingga fasilitas umum, semuanya dapat dipengaruhi oleh kebijakan yang diambil pemerintah. Karena itu, menurut saya, anak muda perlu memahami politik dan tidak hanya menjadi penonton ketika berbagai keputusan yang menyangkut masa depan mereka dibuat.

IKLAN

Keterlibatan anak muda dalam politik bukan berarti harus bergabung dengan partai atau menjadi seorang politisi. Memahami persoalan yang terjadi, mengikuti perkembangan kebijakan, menyampaikan pendapat, dan menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab juga merupakan bentuk partisipasi politik.

Indonesian Community Dialogue and Unity
Baca Juga

Politik yang Merangkul, Bukan Memecah Belah Masyarakat

Penelitian Jayawinangun dan Nugroho (2025) menjelaskan bahwa media digital, termasuk internet dan media sosial, memiliki pengaruh positif terhadap pengetahuan dan kesadaran politik. Pengetahuan dan kesadaran tersebut turut berperan dalam mendorong partisipasi politik pemilih muda, baik secara daring maupun luring.

Hal ini menunjukkan bahwa memahami politik menjadi salah satu langkah penting agar generasi muda dapat terlibat secara lebih aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.

Generasi Muda Memiliki Peran Besar dalam Demokrasi

Besarnya peran anak muda dalam demokrasi Indonesia dapat dilihat dari komposisi pemilih pada Pemilu 2024.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), jumlah pemilih dari generasi milenial mencapai 66.822.389 orang, sedangkan pemilih Generasi Z berjumlah 46.800.161 orang.

Pensive Study Session by the Window
Baca Juga

Menjadi Diri Sendiri atau Mengikuti Tren? Krisis Identitas Anak Muda di Era FOMO

Jika digabungkan, kedua kelompok tersebut mencapai lebih dari 113 juta orang atau sekitar 55,5 persen dari total daftar pemilih tetap Pemilu 2024 yang berjumlah 204.807.222 orang.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa generasi muda merupakan bagian yang sangat besar dari masyarakat pemilih Indonesia. Namun, menurut saya, besarnya jumlah pemilih muda seharusnya juga diikuti dengan kesadaran untuk menentukan pilihan secara bijaksana.

Dalam menentukan pilihan politik, anak muda perlu mengetahui siapa calon pemimpin yang akan dipilih, bagaimana rekam jejaknya, serta program dan kebijakan apa yang ditawarkan kepada masyarakat.

Jangan sampai keputusan politik hanya didasarkan pada popularitas seseorang, pengaruh teman, pilihan keluarga, atau konten yang sedang ramai di media sosial.

Kepentingan Politik
Baca Juga

Antara Kepentingan Rakyat dan Kepentingan Politik: Untuk Siapa Sebenarnya Kekuasaan Bekerja?

Setiap orang tentu memiliki hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Akan tetapi, pilihan tersebut akan lebih bermakna apabila didasarkan pada pertimbangan yang matang dan informasi yang dapat dipercaya.

Partisipasi Politik Tidak Berhenti Setelah Pemilu

Menurut saya, salah satu hal yang perlu dipahami anak muda adalah bahwa partisipasi politik tidak berakhir setelah memberikan suara di tempat pemungutan suara.

Pemilihan umum memang menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk menentukan pemimpin. Namun, setelah pemimpin terpilih, masyarakat tetap memiliki peran untuk mengikuti dan mengawasi jalannya pemerintahan.

Misalnya, masyarakat dapat memperhatikan apakah janji kampanye mulai diwujudkan, apakah kebijakan yang dikeluarkan memberikan manfaat, serta bagaimana pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Anak muda juga perlu berani menyampaikan pendapat dan kritik terhadap kebijakan yang dianggap kurang tepat. Namun, kritik tersebut sebaiknya didasarkan pada fakta, disampaikan dengan alasan yang jelas, dan tidak sekadar mengikuti emosi.

Di sisi lain, ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, hal tersebut juga patut diapresiasi. Dengan demikian, penilaian terhadap pemerintah tidak hanya bergantung pada suka atau tidak suka terhadap tokoh tertentu.

Bagi saya, sikap kritis bukan berarti selalu menentang pemerintah, melainkan berusaha memahami persoalan secara objektif sebelum memberikan penilaian.

Media Sosial dan Tantangan Berpikir Kritis

Di era digital, media sosial telah menjadi salah satu tempat bagi anak muda untuk mendapatkan informasi, termasuk mengenai politik.

Berbagai informasi mengenai kebijakan pemerintah, perdebatan publik, hingga aktivitas tokoh politik dapat ditemukan dengan mudah melalui media sosial.

Penelitian Qalbuadi, Muhammad, dan Saad (2025) mengenai keterlibatan politik Generasi Z pada Pilkada Kabupaten Enrekang Tahun 2024 menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang penting bagi anak muda untuk mengekspresikan pandangan politik serta berpartisipasi dalam pembahasan isu publik.

Kehadiran media sosial tentu memberikan banyak kemudahan. Anak muda dapat memperoleh informasi dengan cepat, mengikuti perkembangan isu, serta menyampaikan pendapat tanpa harus terlibat langsung dalam kegiatan politik formal.

Namun, kemudahan tersebut juga memiliki tantangan. Tidak semua informasi yang beredar di media sosial benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ada informasi yang disampaikan tanpa konteks lengkap, ada pula opini yang dibuat seolah-olah merupakan fakta. Bahkan, sebuah unggahan dapat menjadi viral meskipun kebenarannya belum dipastikan.

Menurut saya, hal inilah yang membuat kemampuan berpikir kritis semakin penting bagi anak muda.

IKLAN

Sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi politik, kita perlu memeriksa sumbernya, membaca isi berita secara menyeluruh, dan membandingkannya dengan informasi dari sumber lain yang dapat dipercaya.

Anak muda juga harus mampu membedakan antara fakta, opini pribadi, dan informasi yang belum terverifikasi.

Jangan sampai media sosial yang seharusnya membantu masyarakat memperoleh pengetahuan justru membuat kita mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.

Menghargai Perbedaan Pilihan Politik

Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pilihan politik merupakan sesuatu yang wajar. Setiap orang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan pandangan yang berbeda dalam menilai calon pemimpin maupun kebijakan pemerintah.

Perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menghina atau merendahkan orang lain.

Menurut saya, anak muda perlu membiasakan diri untuk berdiskusi secara terbuka dan menghargai pendapat yang berbeda.

Ketika tidak setuju terhadap suatu pandangan, kita dapat menyampaikan alasan dan bukti yang mendukung pendapat sendiri tanpa harus menyerang pribadi orang lain.

Diskusi seperti ini justru dapat membantu kita memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.

Berpikir kritis juga berarti bersedia mendengarkan pendapat orang lain dan mempertimbangkan kembali pandangan sendiri apabila ditemukan informasi atau fakta yang lebih kuat.

Dengan sikap tersebut, perbedaan politik tidak harus menimbulkan permusuhan, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar.

Anak Muda Tidak Perlu Menjauhi Politik

Tidak dapat dimungkiri bahwa sebagian anak muda masih menganggap politik sebagai sesuatu yang rumit, penuh perdebatan, atau jauh dari kehidupan mereka.

Padahal, pemahaman politik dapat dimulai dari persoalan sederhana yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi mahasiswa, misalnya, isu mengenai biaya pendidikan, kesempatan magang, lapangan pekerjaan, dan kebijakan kampus dapat menjadi awal untuk memahami bagaimana suatu keputusan dibuat dan siapa saja pihak yang terlibat di dalamnya.

Begitu pula dengan persoalan lingkungan, transportasi umum, dan fasilitas masyarakat. Semua hal tersebut dapat menjadi bahan diskusi untuk memahami hubungan antara kebijakan publik dan kebutuhan warga.

Sekolah dan perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran politik generasi muda. Melalui pendidikan kewarganegaraan, kegiatan diskusi, dan organisasi mahasiswa, anak muda dapat belajar menyampaikan pendapat sekaligus menghargai pandangan orang lain.

Menurut saya, pendidikan politik tidak hanya perlu mengajarkan bagaimana menggunakan hak pilih, tetapi juga bagaimana memahami persoalan, menilai informasi, dan menyampaikan aspirasi dengan bertanggung jawab.

Menjadi Pemilih yang Cerdas dan Warga yang Peduli

Pada akhirnya, keterlibatan anak muda dalam politik bukan hanya persoalan siapa yang dipilih ketika pemilu berlangsung.

Lebih dari itu, partisipasi politik berkaitan dengan kesadaran untuk memahami keadaan masyarakat, memperhatikan kebijakan pemerintah, serta ikut menyampaikan pendapat mengenai persoalan yang berdampak pada kehidupan bersama.

Anak muda dapat memulainya dari langkah sederhana, seperti membaca informasi dari sumber tepercaya, memahami program calon pemimpin, mengikuti perkembangan kebijakan, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

Menurut saya, menjadi anak muda yang peduli terhadap politik bukan berarti harus selalu membicarakan politik atau terlibat dalam setiap perdebatan. Hal yang lebih penting adalah memiliki kemauan untuk belajar, memahami persoalan, dan menentukan sikap berdasarkan pertimbangan yang masuk akal.

Anak muda tidak cukup hanya datang ke tempat pemungutan suara dan menentukan pilihan. Kita juga perlu berpikir kritis, menghargai perbedaan, serta tetap peduli terhadap jalannya pemerintahan setelah pemilu selesai.

Dengan pengetahuan dan partisipasi yang bertanggung jawab, generasi muda dapat ikut menjaga kualitas demokrasi dan berkontribusi dalam membangun masa depan bangsa.

Daftar Pustaka

Badan Pengawas Pemilihan Umum. (2023, 3 Juli). Jadi Pemilih Paling Dominan, Bawaslu Ajak Generasi Muda Berpartisipasi Aktif di Pemilu 2024. Bawaslu Kabupaten Katingan.

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia. (2023, 2 Juli). DPT Pemilu 2024 Dalam Negeri dan Luar Negeri, 204,8 Juta Pemilih. KPU RI.

Jayawinangun, R., & Nugroho, D. R. (2025). Pengaruh media digital, kesadaran, dan pengetahuan politik terhadap partisipasi politik pemilih muda. Jurnal Studi Komunikasi dan Media, 29(1), 16–28. DOI: 10.56873/jskm.2025.5885.

Qalbuadi, G. Q., Muhammad, M., & Saad, M. (2025). Media sosial dan keterlibatan politik Generasi Z pada Pilkada Kabupaten Enrekang tahun 2024. Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial, 11(2), 575–586. DOI: 10.33506/jn.v11i2.5075

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/anak-muda-dan-politik-jangan-hanya-memilih-tetapi-juga-berpikir-kritis/98232/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.41 WITA

  • #Berpikir Kritis
  • #Demokrasi
  • #Generasi Z
  • #Milenial
  • #Politik
  • #anak muda
  • #media sosial
  • #pemilu

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Parkir Liar di Pinggir Jalan: Menjadi Kebiasaan atau Justru Sudah Menjadi Pola Hidup Masyarakat?

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Qatar Hubungi Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon, Perkuat Diplomasi untuk Redam Ketegangan Timur Tengah

Pilihan Editor

  1. 1 Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya
  2. 2

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Peran Teknologi Pangan dalam Menjaga Ketahanan dan Keamanan Pangan Nasional

  5. 5

    Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.