Oleh: dr. Aisyah, Sp.KFR
Fakultas Kedokteran, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA)
Surabaya — Nyeri punggung menjadi salah satu keluhan yang cukup sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Masalah ini dapat dipicu oleh berbagai kebiasaan sederhana yang kerap tidak disadari, mulai dari duduk terlalu lama, mempertahankan posisi tubuh yang kurang tepat, hingga mengangkat beban dengan cara yang keliru.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Pencegahan Risiko Nyeri Punggung Melalui Latihan Postur dan Penguatan Otot” yang digelar Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK UNUSA) di Kecamatan Wonocolo, Surabaya.

Kegiatan yang berlangsung pada 19 September 2026 tersebut diikuti oleh 50 kader kesehatan. Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga postur tubuh sekaligus mempraktikkan sejumlah latihan sederhana yang dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
dr. Aisyah, Sp.KFR yang menjadi narasumber menjelaskan bahwa posisi tubuh yang tidak tepat dapat meningkatkan beban pada otot maupun tulang belakang. Apabila kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, risiko munculnya keluhan nyeri punggung dapat meningkat.
Karena itu, menjaga posisi tubuh tidak hanya penting ketika seseorang sedang bekerja. Cara duduk, berdiri, berjalan, hingga mengangkat benda juga perlu diperhatikan agar beban pada tubuh dapat terdistribusi dengan lebih baik.
“Postur tubuh yang kurang tepat dapat meningkatkan beban pada otot dan tulang belakang. Karena itu, penting untuk membiasakan posisi tubuh yang baik saat duduk, berdiri, bekerja, maupun ketika mengangkat beban.”
Selain memahami postur yang tepat, peserta didorong untuk tetap aktif bergerak. Aktivitas fisik sederhana menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga fungsi otot dan menunjang kestabilan tubuh.

Dalam sesi praktik, para kader diperkenalkan dengan latihan postur dan penguatan otot yang dapat dilakukan selama sekitar 5–10 menit setiap hari. Latihan tersebut dirancang agar mudah diterapkan tanpa memerlukan perlengkapan khusus sehingga dapat dilakukan di rumah maupun di sela aktivitas.
Pesan yang ditekankan kepada peserta adalah tidak perlu takut untuk bergerak ketika ingin menjaga kesehatan punggung. Sebaliknya, tubuh perlu dibiasakan aktif secara terukur dengan memperhatikan kemampuan dan kondisi masing-masing.
Kader Diharapkan Menularkan Edukasi kepada Masyarakat
Kegiatan berlangsung interaktif. Para kader tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan mempraktikkan sejumlah gerakan sederhana untuk memperbaiki postur dan memperkuat otot.
Peran kader kesehatan dinilai penting karena mereka memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat diteruskan kepada keluarga maupun warga di lingkungan masing-masing.
Kegiatan juga dihadiri Camat Wonocolo Muslich Hariadi, S.Sos., M.M. serta Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran UNUSA dr. Hafid Algristian, Sp.KJ. Selain dosen, sejumlah mahasiswa dan asisten penelitian FK UNUSA turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut mempertemukan unsur perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, mahasiswa, dan kader kesehatan dalam satu kegiatan edukasi yang berorientasi pada kebiasaan praktis di masyarakat.

Nyeri punggung sendiri dapat berdampak pada kenyamanan seseorang dalam bekerja dan menjalankan aktivitas rutin. Karena itu, upaya pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Memperbaiki posisi duduk, menghindari postur yang sama terlalu lama, bergerak secara rutin, serta memperkuat otot menjadi langkah sederhana yang dapat mulai dilakukan.
Melalui edukasi tersebut, peserta diharapkan semakin memahami bahwa menjaga kesehatan punggung tidak selalu membutuhkan latihan yang rumit. Konsistensi dalam memperbaiki postur dan mempertahankan tubuh tetap aktif justru menjadi bagian penting untuk membantu menjaga kenyamanan saat beraktivitas.
Dengan tubuh yang lebih aktif dan postur yang lebih baik, risiko munculnya keluhan akibat kebiasaan sehari-hari dapat ditekan sekaligus membantu masyarakat menjalani aktivitas dengan lebih nyaman dan produktif.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda