JAKARTA, JurnalPost.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jakarta I memperkuat kemampuan kader kesehatan dan pengetahuan masyarakat dalam mencegah serta mengendalikan hipertensi melalui program KOMUNITENSI di Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
KOMUNITENSI merupakan singkatan dari Kolaborasi Masyarakat melalui Integrasi Layanan Primer untuk Pengendalian Hipertensi dalam Mendukung Masyarakat Sehat Mandiri. Program tersebut melibatkan 40 kader kesehatan dan 40 warga dengan menggandeng Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu serta Pemerintah Kelurahan Kebagusan.
Kegiatan dilaksanakan dalam dua rangkaian pertemuan dengan sasaran dan materi yang berbeda. Pertemuan pertama pada 21 April 2026 difokuskan pada peningkatan kapasitas kader dalam melakukan deteksi dini hipertensi.
Kader Dilatih Lakukan Skrining Tekanan Darah
Dalam kegiatan tersebut, kader mendapatkan pembekalan mengenai prosedur pengukuran tekanan darah sesuai standar, membaca dan menafsirkan hasil pemeriksaan, mencatat hasil skrining, memberikan edukasi singkat kepada warga, hingga menentukan langkah rujukan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah memperoleh materi, para kader langsung mempraktikkan pengukuran tekanan darah dengan pendampingan tim pengabdian. Pelatihan ini diharapkan membuat proses deteksi dini hipertensi dapat dilakukan lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Pertemuan kedua digelar pada 3 Agustus 2026 dengan menyasar masyarakat. Warga mendapatkan edukasi mengenai pengertian hipertensi, faktor risiko, kemungkinan komplikasi, penerapan pola hidup sehat, kepatuhan mengonsumsi obat, serta pentingnya melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala.
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui ceramah, diskusi, tanya jawab, dan demonstrasi. Tim juga menyediakan modul dan leaflet yang dapat digunakan kembali oleh kader maupun masyarakat sebagai bahan edukasi.
Pengetahuan dan Keterampilan Kader Meningkat
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh aspek kemampuan kader setelah mengikuti program KOMUNITENSI. Rata-rata nilai pengetahuan kader meningkat dari 62,4 menjadi 88,7.
Pada aspek sikap, nilai rata-rata meningkat dari 70,8 menjadi 90,5. Sementara keterampilan kader mengalami peningkatan dari 58,6 menjadi 91,2.
Peningkatan juga terlihat pada kelompok masyarakat. Nilai rata-rata pengetahuan warga naik dari 47,3 menjadi 90,8, sedangkan nilai sikap meningkat dari 56,4 menjadi 89,7.
Berdasarkan hasil evaluasi, seluruh perubahan tersebut dinyatakan bermakna secara statistik dengan nilai p kurang dari 0,001.
Kader Jadi Penghubung Warga dengan Layanan Primer
Dalam pelaksanaan skrining, warga yang diketahui memiliki tekanan darah di atas normal memperoleh edukasi dan diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pendekatan tersebut menempatkan kader sebagai salah satu penghubung antara masyarakat dengan layanan kesehatan primer. Warga juga didorong untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin tanpa harus menunggu munculnya keluhan atau gejala tertentu.
Ketua tim pengabdian, Ressa Andriyani Utami, menjelaskan bahwa kemampuan kader tidak hanya diarahkan pada pengukuran tekanan darah. Kader juga diharapkan mampu melakukan pencatatan hasil pemeriksaan, memberikan edukasi sederhana, serta menghubungkan warga dengan fasilitas kesehatan ketika membutuhkan tindak lanjut.
Dengan penguatan kemampuan tersebut, proses deteksi dini hipertensi diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan menjadi bagian dari aktivitas kesehatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal.
Dorong Pengendalian Hipertensi Berkelanjutan
Keberlanjutan program KOMUNITENSI diarahkan melalui pemanfaatan keterampilan kader dalam berbagai kegiatan kesehatan masyarakat, termasuk pelaksanaan skrining dan edukasi secara berkala.
Modul, leaflet, serta video edukasi yang telah disiapkan juga diharapkan membantu kader menyampaikan informasi mengenai hipertensi secara konsisten kepada masyarakat.

Kolaborasi antara warga, kader kesehatan, pemerintah kelurahan, dan puskesmas diharapkan dapat memperkuat pengendalian hipertensi berbasis masyarakat sekaligus mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih sehat dan mandiri.
Penulis/Sumber: Ressa, Mumpuni, Emy, Hafidz.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda