Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Cerita yang TerNARAsi dalam Potongan yang Menyambungkan

  2. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  3. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  5. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Demokrasi Gimik dan Tantangan Attention Economy: Menakar Rasionalitas Pemilih Muda di Era Digital

Demokrasi Gimik dan Tantangan Attention Economy: Menakar Rasionalitas Pemilih Muda di Era Digital

N
Penulis: Nazwa Aulia Fajrin
16 Oktober 2026, 02.33 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Young Voters on Their Phones
Ilustrasi sejumlah mahasiswa menggunakan ponsel di lingkungan kampus, menggambarkan peran media sosial dalam membentuk pandangan politik generasi muda. Sumber: Ilustrasi AI.

JurnalPost.com -- Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk cara masyarakat mengenal, memahami, dan terlibat dalam politik. Jika sebelumnya informasi politik lebih banyak diperoleh melalui surat kabar, televisi, atau forum diskusi secara langsung, kini media sosial menjadi salah satu ruang utama bagi generasi muda untuk mengikuti berbagai isu politik.

Bagi Generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan internet, informasi politik dapat ditemukan dengan mudah melalui video pendek di TikTok, unggahan Instagram, hingga perdebatan di platform X. Konten politik tidak lagi selalu disampaikan melalui pidato formal atau pembahasan panjang, tetapi juga dikemas dalam bentuk hiburan, humor, dan tren digital yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

IKLAN

Perubahan tersebut berkaitan erat dengan fenomena attention economy atau ekonomi perhatian, yaitu kondisi ketika perhatian pengguna menjadi sesuatu yang bernilai dan diperebutkan dalam ekosistem digital. Dalam konteks politik, keberhasilan komunikasi tidak hanya diukur dari seberapa baik gagasan disampaikan, tetapi juga dari jumlah penonton, tanda suka, komentar, dan seberapa luas sebuah konten dibagikan.

Politician’s Social Media Spotlight
Baca Juga

Politisi sebagai Konten Kreator: Strategi Pencitraan Politik di Media Sosial dan Dampaknya bagi Pemilih

Situasi ini menghadirkan tantangan baru bagi demokrasi. Ketika popularitas digital menjadi ukuran keberhasilan komunikasi politik, muncul kekhawatiran bahwa penampilan dan kemampuan menarik perhatian justru lebih diutamakan dibandingkan kualitas gagasan yang ditawarkan kepada masyarakat.

Fenomena tersebut dapat disebut sebagai demokrasi gimik, yakni kecenderungan komunikasi politik yang lebih menonjolkan pencitraan, simbol, humor, dan unsur hiburan daripada pembahasan mengenai program maupun persoalan publik secara mendalam.

Dalam praktiknya, penggunaan gimik politik memang tidak selalu berdampak buruk. Konten yang ringan dan menghibur dapat menjadi cara efektif untuk memperkenalkan isu politik kepada anak muda yang sebelumnya kurang tertarik. Bahasa yang sederhana juga membantu mengurangi kesan bahwa politik merupakan sesuatu yang rumit dan hanya dapat dipahami oleh kelompok tertentu.

Namun, persoalan muncul ketika kemasan hiburan lebih mendominasi daripada substansi. Tokoh politik yang pandai mengikuti tren media sosial bisa memperoleh perhatian besar, sementara pembahasan mengenai kebijakan pendidikan, lapangan pekerjaan, lingkungan hidup, dan kesejahteraan masyarakat justru kurang mendapatkan ruang yang memadai.

Focused Café Co Working Moment
Baca Juga

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Soroti Tantangan Belajar di Era Digital: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kita?

Padahal, persoalan-persoalan tersebut memiliki hubungan langsung dengan masa depan generasi muda. Kesempatan memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, kenaikan biaya hidup, kualitas layanan publik, hingga perlindungan data pribadi merupakan isu yang membutuhkan pemahaman dan pertimbangan serius.

Dalam kajian ilmu politik, Miriam Budiardjo melalui bukunya Dasar-Dasar Ilmu Politik membahas pentingnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan politik. Partisipasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan penggunaan hak pilih, tetapi juga keterlibatan warga negara dalam berbagai proses politik yang memengaruhi kehidupan bersama.

Pemikiran ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan perilaku pemilih muda di era digital. Partisipasi politik seharusnya tidak berhenti pada tindakan mengikuti akun tokoh tertentu, memberikan tanda suka, atau membagikan konten yang sedang viral. Lebih dari itu, masyarakat perlu memahami gagasan, kebijakan, dan konsekuensi dari keputusan politik yang diambil.

Salah satu tantangan terbesar dalam membangun pemahaman tersebut adalah cara kerja algoritma media sosial. Berbagai platform digital cenderung menampilkan konten berdasarkan pola interaksi dan ketertarikan pengguna. Akibatnya, konten yang mengundang reaksi emosional, perdebatan, atau hiburan berpeluang mendapatkan perhatian luas.

UPN Jatim Edukasi Siswa SMA
Baca Juga

UPN Jatim Edukasi Siswa SMA Ta’miriyah Surabaya tentang Etika Berkomunikasi di Era Digital

Kondisi ini dapat memengaruhi cara masyarakat menilai seorang tokoh politik. Seseorang bisa dianggap menarik karena memiliki gaya komunikasi yang santai, mampu menciptakan suasana lucu, atau sering muncul dalam konten populer. Akan tetapi, popularitas tersebut belum tentu mencerminkan kemampuan dalam memahami persoalan masyarakat ataupun merumuskan kebijakan yang tepat.

Di sinilah rasionalitas pemilih muda menghadapi ujian. Ketika informasi politik hadir secara cepat dan terus-menerus, pengguna media sosial dituntut mampu membedakan antara pesan yang sekadar menarik perhatian dan informasi yang benar-benar memberikan pemahaman.

IKLAN

Kedekatan emosional dengan seorang tokoh politik tentu merupakan hal yang wajar. Namun, kedekatan itu perlu diimbangi dengan penilaian terhadap rekam jejak, konsistensi sikap, kemampuan kepemimpinan, serta kelayakan program yang ditawarkan.

Karena itu, peningkatan literasi politik dan literasi digital menjadi kebutuhan penting. Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks sebuah pernyataan, mengenali bentuk manipulasi opini, dan membandingkan berbagai sumber sebelum mengambil kesimpulan.

Literasi politik juga tidak cukup hanya dengan mengetahui nama lembaga negara, memahami proses pemilihan umum, atau mengenal tokoh-tokoh pemerintahan. Pemahaman politik yang lebih mendalam mencakup kemampuan menganalisis persoalan publik, menilai kebijakan pemerintah, serta mengetahui bagaimana keputusan politik dapat memengaruhi kehidupan masyarakat.

Upaya tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti kampus, organisasi mahasiswa, komunitas, dan forum diskusi publik. Ruang-ruang tersebut dapat dimanfaatkan untuk membicarakan persoalan politik secara terbuka dengan mengedepankan argumentasi, data, dan sikap saling menghargai.

Mahasiswa, misalnya, dapat membangun kebiasaan mendiskusikan isu pendidikan, ketenagakerjaan, lingkungan, maupun kebijakan ekonomi berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, pandangan politik tidak hanya terbentuk dari potongan video atau opini yang muncul berulang kali di beranda media sosial.

Di sisi lain, para aktor politik juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan komunikasi yang lebih berkualitas. Penggunaan media sosial semestinya tidak hanya bertujuan membangun citra dan meningkatkan popularitas, tetapi juga menjadi sarana untuk menjelaskan program, menyampaikan pertanggungjawaban, dan membuka ruang dialog dengan masyarakat.

Konten politik yang kreatif tetap diperlukan karena mampu menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas. Namun, kreativitas sebaiknya digunakan untuk menyederhanakan persoalan tanpa menghilangkan substansinya, bukan sekadar menciptakan kesan menarik yang tidak didukung gagasan yang jelas.

Perkembangan demokrasi digital pada akhirnya menuntut keseimbangan antara kemampuan menarik perhatian dan kualitas informasi yang disampaikan. Media sosial dapat membuka peluang partisipasi politik yang lebih luas, tetapi sekaligus membawa risiko apabila masyarakat terlalu bergantung pada popularitas dan penilaian sesaat.

Generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah perkembangan tersebut. Sebagai kelompok yang aktif menggunakan teknologi digital, anak muda bukan hanya menjadi sasaran komunikasi politik, tetapi juga dapat berperan sebagai pengawas, pengkritik, dan penggerak diskusi publik yang lebih sehat.

Sikap kritis tidak berarti harus menolak seluruh bentuk hiburan politik. Menikmati konten yang ringan merupakan hal yang wajar selama tidak menjadikannya satu-satunya dasar dalam menilai tokoh maupun menentukan pilihan politik.

Hal yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan untuk bertanya, memeriksa fakta, memahami persoalan, dan mempertimbangkan dampak sebuah kebijakan sebelum mengambil sikap.

Pada akhirnya, kualitas demokrasi tidak dapat ditentukan hanya oleh seberapa ramai percakapan politik di media sosial. Demokrasi yang sehat membutuhkan masyarakat yang mampu berpikir mandiri, menghargai perbedaan pendapat, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang masuk akal.

Di tengah kuatnya pengaruh attention economy, tantangan terbesar bagi pemilih muda bukan sekadar menghindari gimik politik, melainkan memastikan bahwa popularitas digital tidak menggantikan penilaian terhadap kualitas kepemimpinan dan kebijakan publik.

Demokrasi seharusnya tidak berhenti pada siapa yang paling menarik perhatian di layar, tetapi siapa yang mampu menghadirkan gagasan dan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/demokrasi-gimik-dan-tantangan-attention-economy-menakar-rasionalitas-pemilih-muda-di-era-digital/98207/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026, 00.46 WITA

  • #Era Digital
  • #attention economy
  • #demokrasi gimik
  • #komunikasi politik
  • #literasi politik
  • #media sosial
  • #pemilih muda
  • #politik digital

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Laba Naik, Arus Kas Turun: Ada Apa dengan Kinerja Keuangan Public Bank Berhad dan Maybank?

Dari Teori ke Praktik, Mahasiswa Hukum UNTAG Surabaya Dalami Dunia Legal Perusahaan Melalui Magang

Kejuaraan Tunas Juara Nasional 2026 Digelar di Tangerang, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pencak Silat Berprestasi

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Pilihan Editor

  1. 1 Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai
  2. 2

    UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

  3. 3

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  4. 4

    Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

  5. 5

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.