Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Jago Skill Saja Tidak Cukup, Kemal Mochtar Ungkap Pentingnya Kemampuan Berbicara untuk Karier

Jago Skill Saja Tidak Cukup, Kemal Mochtar Ungkap Pentingnya Kemampuan Berbicara untuk Karier

R
Penulis: RyG
12 Oktober 2026, 02.08 WITA Editor: Shella Paramitha
7 menit baca
Confident Speaker in a Modern Seminar

JurnalPost.com — Memiliki keahlian di bidang tertentu sering dianggap sebagai modal utama untuk meraih kesuksesan dalam dunia kerja. Seorang koki harus mampu memasak, arsitek harus memahami perancangan bangunan, sementara seorang barista dituntut menguasai teknik meracik kopi. Namun, apakah keahlian teknis saja sudah cukup untuk membuat seseorang berkembang dalam kariernya?

Menurut saya, jawabannya belum tentu. Ada satu keterampilan yang kerap dianggap sepele, padahal memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan karier seseorang, yaitu kemampuan berbicara atau speaking skill.

IKLAN

Pandangan serupa disampaikan Kemal Mochtar, seorang pelatih kemampuan berbicara, dalam podcast Suara Berkelas bersama Bilal. Dalam perbincangan tersebut, Kemal menjelaskan mengapa kemampuan berkomunikasi tidak semestinya hanya dikaitkan dengan profesi pembawa acara, penyiar radio, atau presenter televisi.

Public Speaking
Baca Juga

Public Speaking: Skill Wajib Mahasiswa Biar Makin Pede di Kehidupan Sehari-hari

Selama ini, istilah public speaking sering dipahami secara terbatas. Ketika seseorang disarankan mengikuti pelatihan public speaking, tidak sedikit yang langsung menolak karena merasa tidak memiliki keinginan menjadi seorang MC atau tampil di atas panggung.

Padahal, kemampuan berbicara jauh lebih luas daripada sekadar tampil di hadapan banyak orang.

Kemal kemudian memilih menggunakan istilah speaking skill untuk menjelaskan keterampilan tersebut. Menariknya, perubahan istilah membuat orang lebih terbuka untuk mempelajarinya, meskipun substansi keterampilan yang diajarkan tidak jauh berbeda.

Bagi saya, pendekatan ini menunjukkan bahwa cara menyampaikan suatu kebutuhan dapat memengaruhi bagaimana seseorang menerimanya. Terkadang, persoalannya bukan terletak pada manfaat keterampilan tersebut, melainkan pada persepsi yang telah terbentuk sebelumnya.

Collaborative Study Session at a Sunny Table
Baca Juga

Seleksi Talenta Bukan Hanya di Dunia Kerja, Belajar dari Pengalaman Kerja Kelompok

Keahlian Teknis Perlu Didukung Kemampuan Komunikasi

Kemampuan teknis memang menjadi dasar penting dalam setiap pekerjaan. Namun, keahlian tersebut akan sulit memberikan manfaat maksimal apabila seseorang tidak mampu menjelaskan gagasan, menyampaikan hasil pekerjaan, atau membangun komunikasi dengan orang lain.

Kemal memandang speaking skill sebagai salah satu keterampilan pendamping terpenting bagi berbagai profesi.

Seorang arsitek, misalnya, mungkin mampu menghasilkan rancangan bangunan yang sangat baik. Namun, ia tetap membutuhkan kemampuan menjelaskan konsepnya kepada klien agar gagasan tersebut dapat dipahami dan diterima.

Begitu pula seorang koki yang ingin mengembangkan usaha kuliner. Selain menghasilkan makanan berkualitas, ia perlu mampu memperkenalkan produknya, membangun hubungan dengan pelanggan, dan menyampaikan keunggulan usahanya.

capek kerja
Baca Juga

“Kok Kerja Terasa Begitu-Begitu Saja?” Kenali Tanda Kebosanan Sebelum Makin Parah

Menurut saya, kebutuhan tersebut tidak hanya berlaku bagi pekerja profesional yang sehari-hari beraktivitas di kantor.

Kurir, pengemudi, pelayan toko, hingga pekerja lapangan juga membutuhkan keterampilan komunikasi. Cara mereka menyapa, memberikan informasi, dan merespons pertanyaan pelanggan dapat memengaruhi tingkat kepercayaan terhadap pelayanan yang diberikan.

Mungkin pekerjaan mereka saat ini belum menuntut kemampuan presentasi di hadapan banyak orang. Namun, ketika memperoleh kesempatan menjadi koordinator, supervisor, atau pemimpin tim, keterampilan berbicara akan semakin dibutuhkan.

Karena itu, mempelajari kemampuan komunikasi sejak dini merupakan bentuk investasi dalam pengembangan diri.

Menunggu sampai keterampilan tersebut benar-benar dibutuhkan justru dapat membuat seseorang kesulitan ketika kesempatan datang.

Ide Bagus Bisa Gagal karena Cara Penyampaian

Hal menarik lainnya dari pembahasan Kemal adalah hubungan antara kualitas gagasan dan kemampuan menyampaikannya.

Seseorang bisa memiliki ide yang sangat baik, produk yang berkualitas, atau solusi yang bermanfaat. Namun, semua itu belum tentu memperoleh perhatian apabila tidak disampaikan dengan cara yang tepat.

Dalam dunia kerja, kemampuan menjelaskan ide sering menjadi faktor penting ketika seseorang mengikuti wawancara, menyampaikan usulan dalam rapat, atau mempresentasikan pekerjaan kepada atasan.

Bukan berarti orang yang pandai berbicara pasti lebih kompeten dibandingkan mereka yang memiliki kemampuan teknis tinggi.

Akan tetapi, komunikasi yang baik dapat membantu orang lain memahami kompetensi yang sebenarnya dimiliki seseorang.

Di sinilah kemampuan berbicara berfungsi sebagai penghubung antara pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan.

Keahlian memberi seseorang sesuatu yang bernilai untuk ditawarkan. Sementara itu, kemampuan komunikasi membantu nilai tersebut diketahui dan dipahami oleh orang lain.

Gugup Berbicara Bukan Berarti Tidak Mampu

Salah satu hambatan terbesar ketika seseorang ingin meningkatkan kemampuan berbicara adalah rasa gugup.

Banyak orang merasa percaya diri saat berbincang santai dengan teman atau keluarga, tetapi tiba-tiba kehilangan kelancaran ketika diminta berbicara dalam acara formal.

Dalam podcast tersebut, Bilal menceritakan pengalaman pamannya yang dikenal pandai mengobrol dengan siapa saja. Namun, ketika harus berbicara dalam acara pertunangan anggota keluarga, pamannya justru terlihat kaku.

Kemal menjelaskan bahwa keadaan semacam itu dapat terjadi karena seseorang belum terbiasa menghadapi situasi berbicara tertentu.

Artinya, rasa gugup tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak memiliki kemampuan komunikasi.

Seseorang yang terbiasa berbicara santai belum tentu memiliki pengalaman menyampaikan sambutan resmi. Sebaliknya, orang yang sering melakukan presentasi mungkin lebih mudah mengendalikan kegugupan karena telah memahami situasi yang dihadapinya.

Kemal juga menyinggung anggapan bahwa orang introvert tidak cocok berbicara di depan umum.

IKLAN

Menurut saya, anggapan tersebut perlu diluruskan. Kepribadian introvert tidak otomatis menentukan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi.

Seseorang mungkin lebih menyukai suasana tenang atau interaksi dalam kelompok kecil, tetapi tetap dapat mengembangkan keterampilan presentasi melalui latihan dan pengalaman.

Dengan demikian, kalimat seperti "saya introvert, jadi tidak bisa berbicara di depan umum" seharusnya tidak dijadikan alasan untuk berhenti mencoba.

Rasa gugup lebih tepat dipandang sebagai tantangan yang dapat dikelola, bukan sebagai batas kemampuan yang tidak mungkin dilampaui.

Speaking Skill Tidak Bisa Dikuasai dalam Semalam

Kemal mengibaratkan proses mempelajari kemampuan berbicara dengan belajar memasak.

Mengikuti pelatihan selama satu hari bersama seorang koki profesional tidak serta-merta membuat seseorang langsung mahir memasak.

Begitu pula dengan kemampuan berbicara. Mengetahui teori mengenai intonasi, artikulasi, bahasa tubuh, dan penyusunan pesan belum tentu membuat seseorang langsung percaya diri ketika tampil di hadapan orang lain.

Keterampilan tersebut membutuhkan latihan yang dilakukan secara berulang.

Seseorang mungkin masih terbata-bata ketika pertama kali melakukan presentasi. Ada pula yang kesulitan menyusun kalimat atau merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian.

Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Semakin sering seseorang berlatih dengan metode yang tepat, semakin besar peluangnya untuk memahami kelemahan dan memperbaiki cara berkomunikasi.

Meski demikian, latihan juga perlu dilakukan secara terarah. Pengalaman yang buruk tanpa evaluasi dan pendampingan dapat membuat seseorang semakin takut untuk mencoba.

Karena itu, ruang belajar yang mendukung dan memberikan masukan secara konstruktif sangat diperlukan.

Sekolah, kampus, dan tempat kerja seharusnya memberi lebih banyak kesempatan kepada individu untuk melatih keterampilan komunikasi.

Kegiatan seperti diskusi kelompok, presentasi, simulasi wawancara, dan penyampaian pendapat dapat menjadi sarana latihan yang sederhana tetapi bermanfaat.

Kemampuan Berbicara Merupakan Investasi Karier

Perkembangan dunia kerja membuat kebutuhan terhadap keterampilan komunikasi semakin luas.

Jika dahulu pelatihan public speaking sering dikaitkan dengan profesi penyiar, pembawa acara, atau pejabat, kini kemampuan tersebut juga relevan bagi mahasiswa, pelaku usaha, pekerja kreatif, hingga karyawan dari berbagai bidang.

Kemampuan menyampaikan gagasan bukan lagi sekadar keterampilan tambahan untuk orang-orang yang ingin tampil di depan umum.

Keterampilan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun relasi, menunjukkan kompetensi, dan membuka kesempatan pengembangan karier.

Kemal juga mengingatkan pentingnya memahami bagaimana keterampilan yang dimiliki dapat memberikan nilai ekonomi.

Menurut saya, pandangan ini menarik karena menghubungkan kemampuan berbicara dengan pengembangan potensi diri secara lebih luas.

Seseorang tidak harus menjadi pembawa acara profesional untuk memperoleh manfaat dari speaking skill. Kemampuan tersebut dapat membantu ketika menawarkan produk, bernegosiasi, membangun jaringan profesional, atau memperjuangkan suatu gagasan.

Namun, kemampuan berbicara juga tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti keahlian utama.

Komunikasi yang baik harus tetap didukung oleh pengetahuan, kompetensi, dan tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan.

Pada akhirnya, keahlian teknis dan kemampuan komunikasi bukanlah dua hal yang perlu dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling melengkapi.

Memiliki keterampilan yang baik membuat seseorang mampu menghasilkan pekerjaan berkualitas. Sementara itu, kemampuan berbicara membantu orang lain memahami hasil pekerjaan tersebut.

Karena itu, sudah saatnya kita berhenti menganggap kemampuan berbicara sebagai keterampilan yang hanya dibutuhkan oleh profesi tertentu.

Setiap orang memiliki alasan untuk mempelajarinya, terutama mereka yang ingin mengembangkan diri dan mempersiapkan kesempatan karier yang lebih luas.

Sebab, menjadi ahli dalam suatu bidang memang penting. Namun, kemampuan menjelaskan keahlian tersebut kepada orang lain juga menentukan sejauh mana potensi diri dapat berkembang.

Pertanyaannya sekarang, setelah menguasai keterampilan utama, apakah kita sudah memberikan perhatian yang sama terhadap kemampuan berkomunikasi?

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/jago-skill-saja-tidak-cukup-kemal-mochtar-ungkap-pentingnya-kemampuan-berbicara-untuk-karier/98114/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.51 WITA

  • #Dunia Kerja
  • #Public Speaking
  • #karier
  • #kemal mochtar
  • #kemampuan berbicara
  • #komunikasi
  • #pengembangan diri
  • #speaking skill

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Mini Bank SMK Plus An-Naba Jadi Sarana Praktik Nyata Siswa MPLB, Inspirasi bagi SMK di Indonesia

Makan Bergizi Gratis: Jangan Sampai Niat Menyehatkan Anak Justru Membahayakan Mereka

Pilihan Editor

  1. 1 Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP
  2. 2

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

  3. 3

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

  4. 4

    Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  5. 5

    Perpres Ojol: Benarkah Pengemudi Sudah Mendapat Perlindungan yang Adil?

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.