Oleh: Ali Wafan, Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN Pontianak
JurnalPost.com - Di era digital, kita bukan lagi menebak keinginan konsumen tapi kita mengetahuinya lewat data. Setiap klik, pencarian, dan pembelian menjadi potongan informasi yang menyusun gambaran utuh tentang perilaku manusia. Dalam Marketing 5.0: Technology for Humanity, Philip Kotler bersama Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan menyebut fenomena ini sebagai data-driven marketing, pemasaran yang digerakkan oleh data. Ia bukan sekadar tren, melainkan fondasi baru dalam cara perusahaan memahami dan melayani pelanggan. Namun, di balik kecanggihan ini, terselip pertanyaan mendasar: masihkah manusia menjadi pusat dalam strategi pemasaran modern?
Kotler menjelaskan bahwa data-driven marketing adalah upaya membangun ekosistem data yang terintegrasi, mulai dari data internal perusahaan, perilaku digital pelanggan, hingga interaksi mereka di berbagai kanal. Tujuannya jelas: menyampaikan pesan yang tepat, kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Inilah pondasi dari predictive marketing, kemampuan memprediksi kebutuhan pelanggan bahkan sebelum mereka menyadarinya. Contoh paling sederhana bisa kita lihat di e-commerce yang menampilkan produk “yang mungkin Anda suka” sesaat setelah kita menelusuri barang serupa. Itu bukan kebetulan, itu hasil dari algoritma yang membaca pola perilaku kita.
Namun, di sinilah paradoksnya muncul. Semakin canggih data digunakan, semakin besar pula risiko hilangnya sentuhan manusia. Banyak perusahaan sibuk membangun sistem analitik canggih, tapi lupa bahwa di balik setiap data ada manusia dengan emosi dan harapan. Mereka memuja angka, tetapi mengabaikan empati. Padahal, sebagaimana ditekankan Kotler, teknologi hanyalah alat, tujuannya tetap untuk memanusiakan pemasaran, bukan mendatafikannya.
Memang, pemasaran berbasis data membawa efisiensi luar biasa. Dengan bantuan machine learning dan artificial intelligence, perusahaan bisa mengenali pola pembelian, mengoptimalkan anggaran iklan, hingga memprediksi tren pasar dengan presisi tinggi. Tetapi keputusan yang sepenuhnya diserahkan pada algoritma membawa risiko baru, bias dan kehilangan konteks. Mesin hanya belajar dari masa lalu, tanpa nilai moral atau intuisi sosial. Jika data yang digunakan sempit atau diskriminatif, maka hasilnya pun bisa meniru ketidakadilan yang sama.
Karena itu, Kotler menekankan pentingnya membangun ekosistem data yang etis dan aman. Bukan hanya tentang seberapa banyak data dikumpulkan, tapi bagaimana data itu dijaga, digunakan, dan memberi manfaat bagi konsumen. Prinsip data governance harus sejalan dengan nilai kemanusiaan, transparansi, keadilan, dan kepercayaan. Dalam kerangka Marketing 5.0, data seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, bukan sekadar instrumen untuk mengejar profit.
Lebih jauh lagi, Kotler memperkenalkan konsep fusion of human intuition and machine intelligence, perpaduan antara intuisi manusia dan kecerdasan mesin. Mesin membantu manusia dalam hal kecepatan dan akurasi, sedangkan manusia memberikan makna, konteks, dan nilai etika. Kolaborasi inilah yang membedakan pemasaran berbasis data yang canggih dari pemasaran yang benar-benar bermakna.
Opini saya, masa depan pemasaran bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki data, melainkan siapa yang paling bijak menggunakannya. Data memang mampu menebak perilaku, tetapi hanya empati yang bisa menyentuh hati. Tanpa empati, pesan pemasaran hanya akan terdengar seperti notifikasi dingin yang lewat di layar gawai. Sebaliknya, ketika data dipadukan dengan pemahaman manusia, pemasaran bisa menjadi jembatan yang menghubungkan nilai, emosi, dan kepercayaan.
Kotler mengingatkan kita bahwa Marketing 5.0 sejatinya adalah tentang “technology for humanity.” Artinya, di tengah laju teknologi yang serba cepat, tujuan akhirnya tetap satu: menjadikan manusia sebagai pusat. Karena pada akhirnya, kepercayaanlah yang diinginkan bukan algoritma yang menjadi mata uang paling berharga dalam dunia pemasaran.
*Ali Wafan Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN Pontianak yang tertarik pada isu pemasaran digital, perilaku konsumen, dan transformasi teknologi dalam bisnis.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda