Nanchang, JurnalPost.com — Moksibusi sensitif panas atau Para pakar Indonesia yang mengikuti forum tersebut berharap dapat mempelajari lebih jauh teknik moksibusi sensitif panas dan sejumlah terapi dalam pengobatan tradisional Tiongkok atau traditional Chinese medicine (TCM).
Mereka juga melihat peluang pengembangan kerja sama antara TCM dan pengobatan tradisional Indonesia, termasuk melalui pendidikan dan penelitian bersama.
Ketua Perkumpulan Pendidikan Tinggi Kesehatan Tradisional Indonesia (PPTKTI) sekaligus profesor di Universitas Airlangga, Maya Septriana Tjin, mengatakan moksibusi sensitif panas menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatiannya selama forum.
“Hal yang paling mengesankan bagi saya dalam forum ini adalah moksibusi sensitif panas.”
Menurut Maya, teknik tersebut belum banyak dikenal masyarakat Indonesia.
“Saya ingin mempelajari moksibusi sensitif panas dan membawa teknik pengobatan tersebut kembali ke Indonesia,” ujarnya.
Maya memiliki pengalaman panjang mempelajari pengobatan tradisional Tiongkok. Pada 1996, dia pergi ke Beijing untuk mendalami TCM dan akupunktur.
Dia kemudian datang ke Jiangxi pada 2023 untuk menempuh pendidikan doktoral. Forum Pengobatan Tradisional SCO 2026 menjadi forum pertama sejenis yang diikutinya.
Dalam rangkaian kunjungannya di Jiangxi, Maya bersama tim juga mengunjungi Universitas Pengobatan Tiongkok Jiangxi (Jiangxi University of Chinese Medicine) serta rumah sakit afiliasinya.
Maya mengatakan perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam praktik pengobatan tradisional Tiongkok dibandingkan ketika dirinya pertama kali mempelajari akupunktur sekitar tiga dekade lalu.
“Ketika saya mempelajari akupunktur 30 tahun lalu, yang ada hanya akupunktur konvensional. Kali ini, saya mengenal teknik-teknik baru seperti dermal needling, embedded needling, moksibusi sensitif panas, serta diagnosis dan TCM berbasis AI, dan saya benar-benar merasakan pencapaian modern dalam TCM.”
Dorong Kerja Sama Indonesia-Tiongkok
Direktur TCM Service Center di Institut Nalanda Indonesia, dokter Willie Japaries, juga melihat forum tersebut sebagai kesempatan memperluas pemahaman sekaligus kerja sama di bidang pengobatan tradisional.
“Saya merasa sangat terhormat diundang ke forum ini. Saya percaya forum ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pemahaman mengenai TCM dan mendorong kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok di bidang TCM,” katanya.
Willie yang sebelumnya berpraktik dalam pengobatan konvensional menilai pendekatan pengobatan tradisional dapat dipelajari sebagai bagian dari terapi integratif.
Ia mencontohkan penggunaan akupunktur dan tuina dalam penanganan kondisi tertentu. Pernyataan mengenai manfaat terapi tersebut disampaikan Willie berdasarkan pengalaman dan perspektifnya sebagai praktisi.
Menurut Willie, Indonesia juga memiliki potensi besar dalam pengembangan pengobatan tradisional karena mempunyai sumber daya tanaman herbal yang melimpah.
“TCM dapat dikombinasikan dan diintegrasikan secara harmonis dengan pengobatan tradisional Indonesia, sehingga kedua negara dan masyarakat kedua negara dapat memperoleh manfaat dari kerja sama Indonesia dan Tiongkok di bidang pengobatan tradisional.”
Namun, menurut dia, sistem pengetahuan dan pendidikan pengobatan tradisional di Indonesia masih perlu dikembangkan.
Willie mengatakan pendidikan tinggi di bidang pengobatan tradisional di Indonesia telah berlangsung sekitar 30 tahun, tetapi perguruan tinggi yang menawarkan program bergelar di bidang tersebut masih terbatas.
“Kami tidak memiliki rumah sakit yang mengkhususkan diri pada pengobatan tradisional seperti di Tiongkok. Indonesia dapat belajar dari model Tiongkok untuk mengembangkan diagnosis dan pengobatan terpadu yang menggabungkan TCM dan pengobatan konvensional,” tuturnya.
Riset Fatty Liver dan Osteoartritis Lutut
Kerja sama antara kedua negara tidak hanya diarahkan pada pertukaran pengetahuan.
Willie mengungkapkan Institut Nalanda Indonesia saat ini sedang membahas rencana kerja sama penelitian di bidang pengobatan tradisional dengan Universitas Pengobatan Tiongkok Jiangxi.
Penelitian tersebut direncanakan berfokus pada kombinasi moksibusi sensitif panas, obat herbal Tiongkok, dan tanaman herbal asli Indonesia.
Penyakit hati berlemak atau fatty liver serta osteoartritis lutut dipilih sebagai sasaran penelitian bersama.
“Ini merupakan proyek kerja sama Indonesia dan Tiongkok yang nyata, saling menguntungkan, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak,” kata Willie.
Forum Pengobatan Tradisional SCO 2026 menjadi salah satu wadah pertemuan para praktisi dan akademisi untuk membahas perkembangan, penelitian, serta peluang kerja sama internasional dalam bidang pengobatan tradisional.
(Kantor Berita China/Xinhua)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda