Ditulis oleh Zidan Zakaria Zulfi, Universitas Internasional Semen Indonesia
JurnalPost.com - Tanpa kalian sadari bahwa hanya dari kebiasaan scrolling media sosial, menonton konten yang berdurasi tidak lebih dari 30 detik, dan menonton video meme secara berlebihan dapat membuat kualitas berpikir anda semakin menurun. Pernyataan ini bukan hanya dugaan semata, tetapi hingga membentuk istilah yang saat ini dikenal dengan nama “brainrot”. Brainrot sendiri secara harfiah dapat diartikan sebagai “pembusukan otak”. Istilah ini populer dan menjadi salah satu kata slang yang kerap menjadi perbincangan dan permasalahan generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha. Secara istilah brainrot merupakan kata yang digunakan untuk menggambarkan melemahnya kemampuan berpikir dan fungsi kognitif seseorang akibat terlalu sering mengonsumsi konten yang berdurasi cepat, dan berulang, khususnya yang berasal dari media sosial dan internet. Sederhananya, bayangkan otak kalian bekerja layaknya otot, jika otot tersebut hanya digunakan untuk beraktivitas dan mengangka beban yang ringan, maka lama kelamaan otat kita melemah karena tidak pernah berlatih dan sistem kerja otak juga hampir mirip seperti itu. Media sosial yang berpengaruh besar dalam fenomena ini adalah Tiktok, IG Reels, YT Shorts, Snack Video, Facebook, dan media sosial lainnya yang memiliki konsep scrolling
Sebagian besar dari kita pasti pernah mendengar istilah sigma, skibidi, tralalelo tralala, tung tung tung sahur dan kata-kata aneh serta tidak bermakna lainnya. Kata-kata ini biasanya terdapat dalam beberapa video meme berdurasi 10-20 detik dan telah tersebar luas di media sosial sehingga menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami brainrot. Kerusakan otak dari konten ini dikarenakan konten tersebut tidak memiliki arti yang mendalam bahkan cenderung tidak berguna. Hal lainnya yang dapat kita temui adalah banyak sekali berita hoax dari media abal-abal yang belum jelas kebenarannya. Informasi yang kita dapat dari media sosial seakan-akan bergerak cepat tanpa dibatasi ruang dan waktu. Kita pasti sering bosan jika melihat dan menyaksikan video panjang dan menganggap isi dari video tersebut terlalu bertele-tele. Hal ini dikarenakan durasi dari konten-konten yang biasa kita konsumsi tersebut sangatlah pendek dan menyebabkan otak kita terbiasa dengan itu. Hal ini mempengaruhi durasi fokus pada otak manusia.
Sebagai warga Indonesia, kita juga tidak akan lepas dari fenomena brainrot ini, karena ini adalah isu internasional yang sedang dipermasalahkan oleh semua negara. Banyak sekali solusi untuk mengatasi permasalahan ini, salah satunya dengan menjunjung kembali nilai-nilai yang ada dalam Pancasila. Pancasila dapat menjadi dasar dan tumpuan sistem etika dalam membentuk intelektual dan juga mengurangi brainrot. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki banyak sekali nilai-nilai etika serta moral yang menjadi pedoman warga Indonesia untuk bisa berpikir kritis serta mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Nilai-nilai dan aturan yang ada dalam setiap sila sangat bisa menjadi acuan dalam mengurangi fenomena ini.
Sila dua Pancasila yang berbunyi “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan sila keempat, yakni “kerakyatan yang dipimpin dalam permusyawaratan perwakilan” menjadi acuan dalam mengatasi fenomena pembusukan otak ini. nilai kemanusiaan dan juga kegiatan musyawarah mendorong kita untuk bisa berpikir secara sistematis dan juga kritis. Sifat empati dan juga pentingnya berdiskusi menjadi kunci utama agar kita bisa menjadikan Pancasila sebagai acuan moral dalam mengurangi fenomena ini. Hal ini secara jelas menjelaskan bahwa meskipun informasi dan berita sangat mudah untuk didapatkan, tetapi kita harus paham bahwa Pancasila menjadi pagar etika dan pengetahuan dalam bermedia sosial. Salah satunya adalah ketika kita sudah mulai kecanduan konten brainrot yang pendek dan tidak bermakna, maka harus ingat bahwa kita harus selalu berpegang teguh pada ilmu pengetahuan dan dilarang untuk menurunkan minat terhadap prilaku intelektual.
Pancasila juga memiliki makna bahwa kita untuk senantiasa ingat dan memahami bahwa pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa harus dimaksimalkan fungsinya, tidak terkecuali otak kita. Jika otak kita hanya digunakan untuk mengonsumsi berita-berita dan konten video yang tidak jelas serta tidak berguna, maka kemampuan otak kita akan melemah dan mengurangi rasa ingin tau dan berpikir kritis. Otak kita akan cepat lelah dan kesusahan untuk bisa memahami informasi yang panjang dan detail. Otak kita juga akan menjadi kecanduan dan terbiasa untuk meminta konten itu lagi dan lagi. Meskipun begitu, tidak ada kata terlambat untuk mengubah sesuatu hal bahkan hidup seseorang sekalipun. Kemauan dan kegigihan untuk selalu menjadi kritis menjadi kunci utama dalam menghindari fenomena barinrot ini
Kecepatan informasi dan komunikasi di masa sekarang memang sudah tidak dapat terelakkan dan dihindari lagi, terlebih lagi dengan dampak positif dan negatif yang ditimbulkan. Fenomena brainrot sejatinya akan terus ada dan bahkan sulit dihilangkan, tetapi kita sebagai masyarakat Indonesia harus tahu bahwa kita memiliki ideologi yang dapat menjadi acuan kita untuk tetap berpikir secara kritis. Selain kemauan dari kita untuk bisa menghindari fenomena ini, diperlukan juga peran pemerintah dalam mengontrol informasi yang masuk agar media sosial Indonesia menjadi lebih positif dan sehat. Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) harus berperan aktif dalam memilah dan menyaring konten-konten yang nantinya dapat melemahkan bahkan merusak otak generasi muda Indonesia. Jadikan Pancasila menjadi kompas dalam masa depan Indonesia yang cerah serta menuju Indonesia Emas 2045.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda