JAKARTA, JurnalPost.com — Ketersediaan ikan tuna segar di pasar modern wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ikan yang berhasil ditangkap nelayan. Kondisi cuaca, biaya distribusi, teknologi penyimpanan, hingga kemampuan pemasok menjadi faktor yang turut memengaruhi jumlah tuna yang tersedia di rak penjualan.
Sebagai salah satu komoditas perikanan unggulan Indonesia, tuna memiliki pasar yang cukup luas, mulai dari kebutuhan rumah tangga, restoran, hingga industri pengolahan dan ekspor. Namun, perjalanan ikan dari lokasi penangkapan menuju konsumen membutuhkan sistem distribusi yang mampu menjaga kesegaran dan kualitas produk.
Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola ritel modern. Di satu sisi, konsumen mengharapkan tuna segar dengan kualitas baik dan harga terjangkau. Di sisi lain, penjual harus memperhitungkan biaya operasional serta ketidakpastian pasokan dari pemasok.
Produksi Tuna Indonesia dan Tantangan Pasokan
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil tuna terbesar di dunia. Dalam bahan kajian mengenai penawaran tuna, produksi nasional disebut mencapai sekitar 1,1 juta ton per tahun.
Meski memiliki potensi perikanan yang besar, keberlanjutan pasokan tuna menghadapi sejumlah persoalan. Rangkuman kajian yang mengutip Indonesia Tuna Consortium menyebut adanya penurunan tangkapan sekitar 20–30 persen dalam beberapa tahun terakhir, yang dikaitkan dengan penangkapan berlebihan atau overfishing serta perubahan iklim.
Angka tersebut masih memerlukan penelusuran terhadap laporan primer dan periode pengamatannya. Kendati demikian, isu keberlanjutan sumber daya ikan menjadi perhatian penting dalam menjaga ketersediaan tuna bagi pasar domestik.
Penelitian Zahra dan rekan-rekannya pada 2022 juga membahas tingkat pemanfaatan tuna mata besar (Thunnus obesus) yang mencapai 69 persen dari potensi lestarinya.
Sementara itu, penelitian Nursya'ban dan rekan-rekannya pada 2024 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam perdagangan tuna, khususnya tuna sirip kuning (Thunnus albacares) dan tuna mata besar.
Keunggulan tersebut perlu didukung pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan agar kebutuhan pasar dalam negeri dan ekspor dapat terpenuhi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap populasi ikan.
Cuaca Laut Memengaruhi Ketersediaan Tuna di Superindo
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan yang dirangkum dalam kajian penawaran ikan tuna besar di gerai Superindo, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap ketersediaan produk.
Ketika musim angin barat atau gelombang tinggi terjadi, aktivitas penangkapan ikan dapat terganggu. Akibatnya, jumlah tuna yang dikirim oleh pemasok mengalami penurunan.
Situasi tersebut memengaruhi stok tuna segar yang dapat ditampilkan pada area penjualan ikan. Dalam kondisi tertentu, gerai menyesuaikan jumlah produk yang dipajang atau menawarkan alternatif berupa tuna beku.
Penyesuaian juga dilakukan ketika harga tuna mengalami kenaikan. Konsumen dapat beralih ke sumber protein lain yang dinilai lebih terjangkau, seperti ikan kembung, gurame, atau daging ayam.
Sebaliknya, ketika gerai mengadakan promosi atau potongan harga, jumlah persediaan dapat ditambah untuk mengantisipasi peningkatan pembelian.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa penawaran tuna di pasar modern dipengaruhi hubungan antara ketersediaan barang, harga jual, dan perilaku konsumen.
Biaya Rantai Dingin Menjadi Faktor Penting
Selain cuaca, biaya penyimpanan dan pengangkutan menjadi pertimbangan utama dalam distribusi tuna segar.
Ikan merupakan komoditas yang mudah mengalami penurunan mutu apabila tidak ditangani dengan baik. Karena itu, distribusinya memerlukan sistem rantai dingin atau cold chain untuk mempertahankan suhu produk sejak dari pemasok hingga sampai ke gerai.
Sistem tersebut mencakup penggunaan es, kendaraan berpendingin, ruang penyimpanan dingin, serta fasilitas penanganan produk perikanan.

Semakin panjang jalur distribusi, semakin besar pula kebutuhan biaya yang harus ditanggung pelaku usaha. Kenaikan biaya energi dan transportasi dapat meningkatkan ongkos pengadaan ikan, sehingga memengaruhi jumlah produk yang ditawarkan kepada konsumen.
Namun, perkembangan teknologi juga memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi distribusi.
Penggunaan fasilitas chill storage membantu mempertahankan suhu penyimpanan ikan segar, sedangkan teknologi blast freezing memungkinkan produk dibekukan dengan cepat untuk menjaga kualitas selama penyimpanan beku.
Sistem manajemen persediaan yang terintegrasi juga dapat membantu pengelola gerai memperkirakan kebutuhan stok, mengurangi produk yang terbuang, dan menyesuaikan pengadaan dengan pola pembelian konsumen.
Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi pendinginan dapat membantu menjaga kontinuitas pasokan meskipun distribusi menghadapi berbagai kendala.
Perbandingan Harga Tuna di Pasar Modern dan Online
Harga tuna di pasar modern tidak selalu sama karena dipengaruhi jenis potongan, ukuran, kualitas, proses penyimpanan, serta jalur distribusinya.
Berdasarkan data pengamatan yang tercantum dalam bahan kajian, tuna segar dalam bentuk fillet atau steak ukuran besar di Superindo berada pada kisaran Rp13.000 hingga Rp18.000 per 100 gram.

Apabila dikonversi ke satu kilogram, harga tersebut setara dengan sekitar Rp130.000 hingga Rp180.000.
Sementara itu, harga yang tercantum dalam bahan kajian untuk sejumlah produk di platform perdagangan online menunjukkan variasi sebagai berikut.
| Jenis Produk | Berat | Harga |
|---|---|---|
| Tuna segar fillet/steak di Superindo | 100 gram | Rp13.000–Rp18.000 |
| Tuna saku fillet beku | 1 kg | Rp111.000 |
| Tuna potong segar | 1 kg | Rp90.000 |
| Tuna cube premium | 475 gram | Rp38.500 |
Perbedaan harga tersebut menunjukkan adanya segmentasi pasar berdasarkan bentuk produk dan kebutuhan konsumen.
Tuna segar yang dijual melalui gerai modern memiliki karakteristik berbeda dibandingkan tuna beku atau produk yang telah dipotong dalam ukuran tertentu.
Karena itu, perbandingan harga perlu mempertimbangkan kualitas, kesegaran, ukuran kemasan, dan layanan distribusi yang diberikan masing-masing penjual.
Perlu diketahui, data harga dalam kajian tidak mencantumkan tanggal pengamatan sehingga tidak dapat dijadikan acuan harga terbaru di pasaran.
Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Tuna
Dalam ilmu ekonomi, keseimbangan pasar terjadi ketika jumlah barang yang ditawarkan sejalan dengan jumlah yang diminta pada tingkat harga tertentu.
Prinsip ini juga berlaku dalam penjualan tuna di pasar modern.
Ketika harga tuna terlalu tinggi, sebagian konsumen dapat mengurangi pembelian atau memilih produk pengganti. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan persediaan tidak habis terjual.
Bagi pengelola gerai, penumpukan ikan segar menjadi persoalan karena produk memiliki masa simpan terbatas.
Untuk mengurangi risiko kerugian, penjual dapat menerapkan potongan harga menjelang akhir masa penjualan atau menyesuaikan jumlah stok pada pengadaan berikutnya.
Sebaliknya, ketika harga tuna turun akibat promosi, permintaan konsumen berpotensi meningkat. Jika persediaan terbatas, produk dapat habis sebelum waktu operasional gerai berakhir.
Oleh karena itu, pengelola ritel harus mampu memperkirakan jumlah pembelian dan menentukan alokasi stok yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Mengapa Penawaran Tuna Cenderung Inelastis?
Salah satu konsep ekonomi yang dapat digunakan untuk memahami perdagangan tuna adalah elastisitas penawaran.
Elastisitas penawaran menggambarkan seberapa besar perubahan jumlah barang yang ditawarkan ketika terjadi perubahan harga.
Dalam jangka pendek, penawaran tuna segar cenderung bersifat inelastis. Artinya, kenaikan harga tidak serta-merta membuat penjual mampu menambah jumlah tuna dalam waktu singkat.
Hal ini terjadi karena pasokan bergantung pada hasil tangkapan nelayan, kondisi cuaca, jadwal pengiriman, dan kapasitas penyimpanan.
Sebagai contoh, ketika harga tuna naik akibat tingginya permintaan, pengelola supermarket tidak dapat langsung menambah stok apabila pemasok belum memiliki ikan yang siap didistribusikan.
Namun, dalam jangka panjang, kemampuan penawaran dapat menjadi lebih fleksibel melalui penambahan pemasok, peningkatan kapasitas penyimpanan, dan perbaikan jaringan distribusi.
Dengan demikian, investasi pada infrastruktur rantai dingin dan sistem logistik menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan pasar memenuhi kebutuhan konsumen.
Penguatan Distribusi dan Keberlanjutan Perikanan
Pengembangan perdagangan tuna Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan besarnya potensi hasil laut.
Penelitian Cristy dan rekan-rekannya pada 2024 menyoroti peluang penguatan daya saing tuna melalui perdagangan internasional, inovasi teknologi, dan digitalisasi rantai pasok.
Bagi pasar domestik, peningkatan efisiensi distribusi dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus menjaga kualitas produk sampai kepada konsumen.
Di sisi lain, pemerintah dan pelaku industri perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya melalui pengaturan penangkapan, pengawasan kegiatan perikanan, serta penerapan standar mutu produk.
Kapasitas pemasok juga harus diperkuat agar pasar modern tidak terlalu bergantung pada pasokan dari sejumlah distributor tertentu.
Ketersediaan tuna segar di Jabodetabek pada akhirnya mencerminkan hubungan yang erat antara aktivitas perikanan di laut dan kegiatan perdagangan di darat.
Kesimpulan
Penawaran ikan tuna segar di pasar modern Jabodetabek dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi alam, jumlah hasil tangkapan, biaya rantai dingin, hingga perkembangan teknologi penyimpanan.
Dalam jangka pendek, pasokan relatif sulit ditingkatkan secara cepat karena bergantung pada aktivitas penangkapan dan proses distribusi. Sementara dalam jangka panjang, peningkatan kapasitas logistik, pemanfaatan teknologi, dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dapat membantu menciptakan pasar yang lebih stabil.
Melalui penguatan rantai pasok dan pengelolaan perikanan yang tepat, ketersediaan tuna di pasar modern diharapkan dapat tetap terjaga dengan kualitas yang baik serta harga yang lebih kompetitif bagi konsumen.
Daftar Pustakan
Nursya'ban dkk. (2024). Kajian keunggulan komparatif tuna Indonesia melalui pendekatan Revealed Comparative Advantage.
Sidik dkk. (2013). Penelitian mengenai mutu, harga, dan pendaratan tuna di PPS Nizam Zachman dan PPS Benoa.
Zahra dkk. (2022). Kajian tingkat pemanfaatan tuna mata besar.
Cristy dkk. (2024). Kajian perdagangan bebas dan digitalisasi rantai pasok tuna.
Laporan pengamatan lapangan mengenai penawaran ikan tuna besar di gerai Superindo.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda